Majalah Gaiya

KONFLIK MEE–MIMIKAWE KEMBALI MEMANAS DI KAPIRAYA, TOKOH AGAMA SERUKAN PERDAMAIAN DAN DESAK PEMERINTAH BERTINDAK CEPAT

KEUSKUPANTIMIKA.ORG — Konflik horizontal antara suku Mee dan suku Mimikawe kembali pecah di wilayah Kapiraya, memicu keprihatinan luas dari berbagai kalangan. Para tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan intelektual muda mendesak pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten terkait untuk segera mengambil langkah cepat, tepat, dan adil guna mencegah meluasnya konflik serta menghindari jatuhnya korban jiwa.

Ketegangan antara kedua kelompok masyarakat adat tersebut diduga dipicu oleh sengketa tapal batas hak ulayat yang hingga kini belum terselesaikan secara tuntas. Selain itu, wilayah Kapiraya diketahui memiliki potensi sumber daya alam berupa tambang emas yang diduga turut memperkuat klaim kepemilikan dan memperbesar ketegangan. Situasi semakin kompleks dengan adanya dugaan keterlibatan pihak ketiga yang memanfaatkan konflik demi kepentingan tertentu, sehingga memperkeruh suasana dan meningkatkan potensi eskalasi konflik di tengah masyarakat.

Tokoh agama Katolik Keuskupan Timika, Pastor Benny Awetopeai Magay, Pr., menegaskan pentingnya kedua belah pihak untuk menahan diri dan tidak menyelesaikan persoalan melalui tindakan kekerasan, seperti perang maupun pembakaran rumah warga. Ia menekankan bahwa dialog damai merupakan jalan terbaik dan bermartabat untuk menyelesaikan konflik yang telah mengganggu stabilitas kehidupan masyarakat.

“Nyawa manusia tidak dapat digantikan dengan apa pun. Karena itu, kami mengajak semua pihak untuk menjaga kehidupan, menghentikan kekerasan, dan mengedepankan dialog serta perdamaian,” tegas Pastor Benny.

Ia juga meminta pemerintah segera mengambil peran aktif sebagai mediator dengan memfasilitasi penyelesaian sengketa, baik terkait hak ulayat maupun batas wilayah administratif. Menurutnya, keterlibatan tokoh adat dan masyarakat setempat sangat penting agar proses penyelesaian berlangsung secara adil, transparan, dan dapat diterima oleh semua pihak.

Selain itu, pemerintah diminta bertindak cepat dan tegas untuk mencegah konflik semakin meluas dan menimbulkan dampak sosial yang lebih besar, seperti korban jiwa, pengungsian warga, serta kerusakan rumah dan fasilitas umum. Pastor Benny juga mengingatkan agar tidak ada pihak luar yang memanfaatkan situasi demi kepentingan tertentu yang justru dapat memperburuk kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat.

Ia berharap suku Mee dan suku Mimikawe, bersama pemerintah dan lembaga adat, dapat duduk bersama dalam semangat persaudaraan untuk mencari solusi damai. Menurutnya, perdamaian merupakan fondasi utama bagi terciptanya keamanan, ketertiban, dan masa depan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat Kapiraya.

Seruan perdamaian ini menjadi harapan bersama seluruh elemen masyarakat agar konflik segera berakhir, sehingga kehidupan sosial dapat kembali pulih dan masyarakat Kapiraya dapat melanjutkan pembangunan dalam suasana aman, damai, dan penuh persaudaraan. *** P. BENNY MAGAY, PR

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button