Warta Paroki

YESUS MERATAPI MARIA

Selamat Jalan Bunda Maria dari Kombas Yohanes Pemandi Paroki Kristus Raja Nabire

KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Rabu, 10 September 2025 di tengah malam yang suntuk sekitar Pukul 22:00 WP Mama Agustina Ukaho, umat Kombas St. Yohanes Pemandi, Paroki Kristus Raja Nabire menghembuskan nafas terakhirnya karena sakit gula yang sudah lama ia derita di kediamannya yang sederhana di Kompleks KPR Siriwini Nabire.

Sosok Mama Agustina Ukago dalam pandangan warga KPR, umat Kambas Yohanes Pemandi dan unat Paroki Kristus Raja (KR) Nabire bukanlah sosok yang asing dan bukan pula sosok perempuan biasa, ia wanita hebat yang merangkul dwitugas dalam keluarganya selepas meninggalnya suaminya, Bapa Pekey, seorang pensiunan tentara nasional Indonesia (TNI) yang lama bertugas di Manokwari, Papua Barat kemudian hijrah ke Nabire dan menetap di KPR Siriwini sampai ajal menjemput.

Pagi-pagi sebelum fajar timur benar-benar menyinari raut bumi KPR Siriwini yang terkenal rawan itu, sebelum unggas-unggas alam dan manusia kebanyakan memulai rutinitas hariannya, Mama Ukago akan keluar rumah, membawa parang dan sekop yang ia isi dalam nokennya yang besar. Ada sekitar 2 kilometer lebih jarak yang ia tempu dengan jalan kaki kosong untuk sampai di kebunnya yang terletak di belakang bangunan Sekolah Dasar Bakti Mandala, Nabire. Ini adalah dunianya, tempatnya memastikan nafas hidup dan masa depan layak anak-cucunya tetap ada, sebuah kebun kangkungnya, selain tanaman kangkung tentu ada juga tanaman lainnya, seperti singkong, pisang, mangga, jambu, dan lainnya.

Di kebun, sebagai seorang petani ia yang akan bertani, membersihkan kebunnya, membuat bedeng, menanam bibit baru, dan memanen hasil. Setelah menunaikan semuanya ia akan pulang ke rumah, menyiapkan makan siang bagi tiga orang anaknya, paginya biasa ia siapkan beberapa rebusan ubi atau pisang atau meninggalkan beberapa lembar uang jajan bagi ketiga anaknya. Mama Ukago dan Bapa Pekey dikaruniai banyak orang anak yang hebat dan gagah, anak-anaknya yang pertama sudah berkeluarga dan hidup di luar kota Nabire, ada juga yang di Nabire namun karena jarak membentang jauh jadi hanya sesekali saja mereka berjumpa dan bersua. Tidak setiap hari anak-mama ini berkumpul bersama, hanya di waktu-waktu tertentu saja, dan tentu itulah momen yang dinanti-nantikan mama Ukago.

Sore harinya mama Ukago bersama mama-mama yang lain akan membawa hasil kebun ke pasar sore. Mereka akan menjajakan hasil kebunnya di tepi jalan beralaskan tikar bekas, karung atau pelastik bekas. Ada sekitar 3 sampai empat jam mereka habiskan untuk berjualan di pasar sore tanpa menghiraukan rasa kantuk, sakit, lapar, haus, terik mentari dan dinginnya hujan. Bagi mama Ukago dan rekan-rekannya semua itu adalah sahabat penopang kehidupan.

Sekitar Pukul 18:00 WP mama Ukago dan mama-mama pasar yang lain akan berkemas, menyimpan barang jualan lalu pulang. Beberapa rupiah dari hasil jualan tadi akan mereka sulap di kios menjadi satu-dua kilo beras dan lauk-pauk yang seadanya demi menemani makan malam mereka bersama keluarga. Inilah gambaran kehidupan dan mama-mama pasar jika sejenak kita intip.

Tidak ada wajah susah, wajah cemas, wajah sedih, tidak ada juga protes, atau kritikan juga makian pedas yang mereka lontarkan kepada pemerintah. Sebaliknya mama-mama ini ceria, tidak ada beban yang mereka ceritakan. Rupanya perjuangan panjang dan melelahkan ini sudah menjadi bagian hakiki dari kehidupan mereka sebagai single mother, sebagai mama sekaligus bapa dalam keluarga.

Jika hari Kamis, yaitu hari yang masuk sebagai jadwal ibadah keluarga di Kombas Yohanes Pemandi, mama Ugako dan beberapa mama yang saya kenal baik ini akan menitipkan barang jualannya ke beberapa mama lain yang beragama lain di pasar.

“Mama, seperti biasa ini hari Kamis, dari Gereja ada ibadah keluarga jadi tolong titip jualan ee…Nanti selesai ibadah kami akan datang lihat cepat ke sini” demikian kata-kata permohonan yang selalu Mama Ukago dan mama-mama pasar sekaligus mama-mama kombas ini sampaikan.

Setelah barang jualan aman di pasar, mama Ukago dan mama-mama yang lain akan bergabung bersama umat Kombas yang lain. Mereka sudah tahu jadwal ibadah keluarga bertempat di keluarga mana. Ironi memang, di jadwal tertulis ibadah di kediaman keluarga bapa ini, tapi yang hadir dan melayani adalah mama dan anak-anaknya. Ya inilah perawakan kehidupan doa bapa-bapa kombas kita.

Setelah ibadah usai mama Ukago dan mama-mama kombas yang lain pamit lebih dulu karena harus memantau kembali hasil jualannya. Entah laku atau tidak mereka tidak peduli, yang penting batin mereka sudah tenang dan dikuatkan melalui doa. Mama Ukago dan mama-mama pasar ini benar-benar 100% menyerahkan seluruh nasib hidupnya ke dalam otoritas penyelenggara ilahi, ke pangkuan tangan kehendak Tuhan.

Selain ibadah kombas, tentu banyak  kegiatan kombas yang tidak pernah mama Ukago lewatkan. Misalnya latihan koor saat Kombas Yohanes Pemandi mendapatkan tugas penanggung jawab liturgi di Paroki Kristus Raja Nabire. Mama Ukago dan mama-mama lain selalu terlibat aktif.

Sabtu pagi sebelum ke kebun, mama Ukago dan mama-mam Kombas yang lain akan ke halaman Gereja, mereka akan membersihkan seluruh tubuh Gereja mulai dari halaman depan sampai belakang, sisi kiri sampai sisi kanan, beda dengan kombas lain yang mungkin hanya membersihkan bagian dalam gedung Gereja dan teras luarnya. Mama Ukago dan mama-mama Kombas Yohanes Pamandi akan mencurahkan seluruh tenaga terbaik yang mereka miliki untuk memperindah wajah rumah dan halaman Tuhan. Sesekali ada beberapa mama yang mengumbar humornya (kihai mana), membuat mama-mama yang ada tertawa sekeras- kerasnya meramaikan halaman rumah Tuhan. Tidak ketinggalan kami anak-anak kecil yang hadir pun ikut tertawa melihat mama-mama kami tertawa gembira, sungguh suasana yang luar biasa. Saya melihat ada sikap sense to belong dari dalam jiwa mama-mama ini yang begitu kuat, rumah Tuhan mereka lihat dan jaga dengan rasa cinta yang melebihi cinta mereka akan rumah mereka sendiri.

Usai kerja membersihkan dan memperindah segala sesuatunya pengurus Kombas bapa Linus Pekey, kaka ibu Theresia M. Dogomo dan kawan-kawannya akan menyiapkan beberapa minuman dingin dan snack. Semua berkumpul, berdoa bersama, istirahat sejenak bersama sambil memulihkan kembali tenaga yang baru saja dipersembahkan bagi keindahan rumah Tuhan.

Sekitar Pukul 10:00 WP mama Ukago dan mama-mama yang lain tidak langsung ke rumah, mereka melanjutkan beberapa pekerjaan mereka di kebun masing-masing yang masih tersisa. Mama Ukago sejauh yang saya tahu punya dua lahan kebun, satu terletak di belakang SD Bakti Mandala, satunya lagi berada tepat di Gunung Buton (sebab ada beberapa orang Buton yang juga punya lahan luas di gunung ini). Mama Ukago akan menyiapkan jualannya.

Sekitar Pukul 14:30 WP atau 15:00 WP mama Ukago dan mama-mama yang lain dari rumah, usai sedikit istirahat siang akan bergegas menuju pasar sore sambil membawa hasil kebun dan mereka titip kepada mama-mama pasar yang lain. Dari pasar mereka langsung menuju ke Gereja untuk geladi resik. Ada yang bertugas sebagai penyayi koor, lektor, pemazmur, keamanan, dan pembawa persembahan. Tentu beberapa hasil kebun mama Ukago dan rekan-rekannya mereka persembahkan kepada Tuhan, misalnya ubi jalar, keladi, pepaya, jagung, nanas, pisang, dan hasil kebun lainnya dengan kualitas pilihan dan terbaik itu mama Ukago dan rekan-rekannya persembahkan kepada Tuhan. Anda bayangkan padahal jika berpikir ekonomis-kapitalistik, hasil-hasil kebun dengan kualitas terbaik ini bisa datangkan trofit atau keuntungan di atas rata-rata, namun rupanya mama Ukago dan rekan-rekannya tidak berpikir ekonomis-kapitalistik dan memang itu bukan tipe mereka, bagi mereka yang ada pada mereka bukan harta-benda mewah, yang ada pada mereka dan itu adalah yang paling bernilai tidak lain dan tidak bukan adalah hasil kebun, mereka punya iman bahwa sumber hasil kebun sampai mereka bisa hasilkan hasil-hasil yang terbaik itu bukan kemampuan mereka, sehingga hasil kebun yang terbaik itu bukan bagian manusia, melainkan bagian Tuhan jadi itu mereka persembahkan seutuhnya dan seluruhnya bagi Tuhan di hari sucinya ketika mereka berkesempatan menghadap altarnya kudusnya. Inilah logika ekonomi-religius ala mama-mama pasar seperti mama Ukago dan rekan-rekannya ini.

Sekitar Pukul 17:40 WP usai latihan lagu dan geladi resik di Gereja Paroki Kristus Raja Nabire, mama Ukago dan mama yang lain akan pamit lebih dulu menyeberang jalan menuju pasar sore, kebetulan jarak Gereja Paroki dan lokasi pasar sore relatif berdekatan sehingga hanya berjalan beberapa meter saja mereka segera sampai.

Besok pagi, Minggu sekitar Pukul 06:50 WP sampai 07:00 WP mama Ukago dan umat Kombas Yohanes Pemandi yang lain akan lebih dulu mengisi kursi petugas koor. Dengan corak liturgi inkulturatif yang teramat kental mereka selalu sukses melaksanakan tugas mereka dengan baik, misa berlangsung penuh hikmah.

Pengalaman lain yang juga membekas dalam memori kolektif umat Kombas Yohanes Pemandi akan sosok mama Ukago adalah bahwa beliau adalah sosok yang paling kami idolakan saat ajang perlombaan antar Kombas di Gereja Paroki saat jelang HUT Paroki, BKNS, Bulan Maria, Paskah, Natal, dan iven-iven umat lainnya. Misalnya saat lomba tarik tambang. Mama Ukago adalah kapten tim, postur tubuhnya yang tinggi, kekar dan kuat kadang membuat lawan dari Kombas lain ketar-ketir. Mama Ukago muda adalah sosok wanita tangguh, beberapa anaknya pun ia warisi fisik yang bugar ini.

Selain itu mama Ukago juga hampir sering diminta oleh panitia Ibadah Jalan Salib Hidup saat perayaan Jumat Agung jelang Paskah untuk memerankan peran Maria. Mama Ukago selalu sukses memerankan peran Bunda Maria ini. Ia kharismatik sekali, ia tidak butuh bungkusan akting untuk membuat dirinya terlihat sedih, ia tampil benar-benar memosisikan dirinya sendiri sebagai Bunda Maria yang meratapi bilur-bilur luka putranya di setiap sudut lorong jalan penderitaan salib (via dolorosa). Mama Ukago benar-benar menghayati peranya sebagai Bunda Maria sungguhan, ia membawa peran dalam drama tablo jalan salib hidup ke dalam drama kehidupannya yang nyata, peran sebagai Maria itu ia hayati dalam kehidupan keluarganya, bahkan sudah jauh sebelumnya sejak ia ditinggal pergi oleh suami tercintanya ia sudah selalu menjadikan Bunda Maria sebagai role model dan panutan hidupnya. Tidak heran banyak umat Paroki KR yang menyapanya dengan sebutan “Mama Maria” tatkala berjumpa dengannya di Gereja saat hari Minggu atau ketika belanja sayur di pasar sore.

Saya sendiri hampir sering terlibat dalam tablo jalan salib hidup di Gereja Paroki, dan dari dekat saya sendiri melihat bahwa mama Ukago benar-benar berduka, ia benar-benar menjerit nestapa dan tangis, air matanya bukanlah air mata paksaan apalagi buatan, melainkan air mata sungguhan yang lahir dari rasa sedih seorang wanita yang menyaksikan putra tunggalnya yang ia kandung selama 09 bulan dalam rahim perawannya itu menderita sengsara dan wafat secara tidak manusiawi di bawah kaki salib. Lantaran peran mama Ukago yang total ini, hampir semua umat yang menyaksikannya pun ikut hancur-lulu dalam kesedihan dan ratapan Bunda Maria yang terjadi 2000 tahun silam itu. Saya juga sempat meneteskan air mata.

Tidak sadar waktu terus berjalan, mama Ukago, Maria dari Kombas Yohanes Pemandi dan Paroki Kristus Raja Nabire itu telah berusia senja, banyak sakit mulai menaklukkan tubuhnya yang dulu kuat itu, tubuh yang selalu membawa nama Kombas Yohanes Pemandi selalu keluar sebagai juara umum dalam hampir semua lomba yang diadakan di lingkungan Gereja. Mama Ukago tidak lagi intens dan aktif ke kebun seperti dulu, ia juga beberapa kali tidak duduk di tempat jualannya di pasar sore lantaran sakit gula dan beberapa sakit lainnya. Kemarin lalu, tepatnya pada Rabu malam, saya melihat stori Wa di beranda Wa saya ada tulisan “Mama minta maaf” dengan emoji “sedih” atas sebuah gambaran lilin yang menerangi tubuh seorang wanita tangguh, saya tidak tahu apa maksud foto, tulisan, dan emoji itu, tidak berselang lama, nomor dari akun yang memosting itu mengirim pesan seperti ini ke saya “Kaka Merina Pekey

Punya mama meninggal. Tadi malam jam 10”. Saya tertegun dalam diam yang panjang, mama yang ramah dan selalu memanggil semua anak-anak ‘nakal’ di kompleks dengan panggilan ‘anak’ itu telah pergi. Saya membalas pesan itu dengan doa, “Sayang…sayang…Mamaku. Mama dia orang baik. Tuhan pasti terima arwahnya malam ini juga. Saya juga pasti akan mendoakannya”.

Selamat jalan mama Ukago, mama Merina, nene Jepri. Mama sudah tidak sakit lagi. Kami umat Kombas Yohanes Pemandi dan umat Paroki KR yakin sekarang mama sudah bertemu langsung dengan Bunda Maria di Surga, mama juga sudah bertemu dengan Tuhan Yesus, dan kami yakin Tuhan Yesus juga sudah minta banyak terima kasih kepada mama karena sudah menjadi pemeran Maria yang sungguh dari tablo sampai kehidupan nyata, dan tentunya mama juga sudah ketemu dengan bapa tentara Pekey di sana, jadilah pendoa bagi anak-anak, cucu, dan keluarga, bagi umat Kombas dan umat Paroki, dan bagi siapa saja. Selamat jalan Mamaku, Mariaku. *** FRATER SIORUS DEGEI (FRATER TOPER DI PAROKI ST. PETRUS MAUWA)

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button