SELAMATKAN MASYARAKAT ADAT: SEBUAH DISKUSI DARI PAROKI OBANO UNTUK PAPUA
Oleh: Pastor Pinggiran, RD. Sebastianus T. Liwu

Usai merayakan Hari Raya Natal pada 25 Desember 2024, sekelompok mahasiswa/i dari Paniai Barat yang dipelopori oleh Marselino Pigai mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memaknai suasana Natal dengan membangun kesadaran, mengubah mentalitas, dan cara berpikir yang baru. Mereka mengadakan seminar bertajuk “Masyarakat Adat: Berpijak dari Kehidupan Leluhur, Melihat Hari Ini, Menentukan Masa Depan”.
Seminar ini diselenggarakan oleh Koalisi Selamatkan Tanah & Manusia Wilayah Barat Paniai Papua di aula Paroki St. Fransiskus Asisi, Obano. Acara berlangsung selama dua hari, dimulai pada Jumat, 27 Desember 2024 pukul 18.00-21.00 WP dengan nonton bareng video tentang Salib Merah dan Alkinemokiye. Kegiatan dilanjutkan pada Sabtu, 28 Desember 2024 pukul 10.00-14.00 WP dengan pemaparan materi dan diskusi.
Beberapa tokoh yang diundang untuk memberikan materi antara lain kepala suku Paniai Barat, perwakilan kaum intelektual, perwakilan kaum perempuan, serta tokoh agama dari Kingmi dan Katolik.
Seminar ini diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya serta tanah adat mereka, sekaligus mempersiapkan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Setiap pemateri menyampaikan pandangan mereka masing-masing mengenai topik tentang masyarakat adat. RD. Sebastianus Ture Liwu, Pastor Rekan Paroki Obano, memberikan beberapa pandangan terkait masyarakat adat, yaitu:
A. Pandangan Kitab Suci tentang Adat
- Kejadian 31:35: Ayat ini menceritakan kisah Yakub yang melarikan diri dari rumah mertuanya, Laban, setelah bekerja selama 20 tahun. Yakub membawa istri-istrinya, Lea dan Rahel, serta anak-anak dan ternaknya. Sebelum pergi, Rahel mencuri terafim (patung dewa rumah tangga) milik ayahnya, Laban. Ketika Laban mengejar dan mencari terafim tersebut, Rahel menyembunyikannya di bawah pelana unta dan duduk di atasnya. Rahel beralasan bahwa ia sedang haid, sehingga Laban tidak menemukan terafim itu. Alasan yang diberikan Rahel menunjukkan nilai adat dan budaya pada masa itu, di mana wanita yang sedang haid dianggap tidak bersih dan tidak boleh disentuh atau diganggu.
- Hakim-hakim 11:39: Ayat ini adalah bagian dari kisah Yefta, seorang hakim di Israel yang membuat nazar kepada Tuhan sebelum berperang melawan bani Amon. Yefta berjanji bahwa jika Tuhan memberinya kemenangan, ia akan mempersembahkan sebagai korban bakaran siapa pun yang pertama kali keluar dari rumahnya untuk menyambutnya saat ia kembali. Setelah Yefta menang, putrinya yang satu-satunya adalah orang pertama yang keluar menyambutnya. Ayat ini menunjukkan bagaimana kisah-kisah tragis dapat membentuk tradisi dan budaya suatu bangsa. Kisah Yefta mengajarkan pentingnya berhati-hati dalam membuat janji kepada Tuhan dan memahami konsekuensi dari tindakan kita, serta nilai pengorbanan dan ketaatan dalam iman.
- 1 Samuel 2:13: Ayat ini menggambarkan kebobrokan moral anak-anak Eli, Hofni dan Pinehas, yang adalah imam di Israel. Mereka menyalahgunakan jabatan mereka dengan mengambil bagian terbaik dari persembahan korban untuk diri mereka sendiri, melanggar hukum Tuhan. Ayat ini menjelaskan praktik mereka di mana pelayan imam akan datang dengan garpu bergigi tiga dan mengambil daging yang sedang dimasak untuk korban, tanpa mengikuti aturan yang telah ditetapkan.
- Ezra 3:4: Ayat ini menceritakan kembalinya bangsa Israel dari pembuangan di Babilonia dan usaha mereka untuk memulihkan ibadah kepada Tuhan di Yerusalem. Setelah kembali, mereka mulai membangun mezbah Tuhan dan mempersembahkan korban bakaran sesuai dengan hukum Musa. Hari Raya Pondok Daun (Sukkot) adalah salah satu dari tiga hari raya besar yang dirayakan oleh bangsa Israel, di mana mereka tinggal di pondok-pondok untuk mengingat perjalanan mereka di padang gurun setelah keluar dari Mesir. Ayat ini menekankan pentingnya tradisi keagamaan. Merayakan Hari Raya Pondok Daun membantu bangsa Israel mengingat dan menghargai sejarah mereka serta penyertaan Tuhan dalam perjalanan mereka. Tradisi keagamaan dapat memperkuat iman dan komunitas.
- Konteks Ezra 4:13: Ayat ini menceritakan tantangan yang dihadapi bangsa Israel saat mereka berusaha membangun kembali Bait Allah di Yerusalem setelah kembali dari pembuangan di Babilonia. Musuh-musuh mereka, termasuk orang-orang Samaria, mencoba menghalangi pembangunan tersebut dengan berbagai cara, termasuk mengirim surat kepada Raja Artahsasta dari Persia. Dalam surat itu, mereka memperingatkan raja bahwa jika Yerusalem dibangun kembali dan tembok-temboknya selesai, kota itu tidak akan lagi membayar pajak, upeti, atau bea, yang akan merugikan kerajaan. Ayat ini menunjukkan bahwa pekerjaan Tuhan sering kali menghadapi oposisi dan tantangan. Musuh-musuh Israel menggunakan taktik politik untuk menghentikan pembangunan Bait Allah, mengingatkan kita bahwa pelayanan kepada Tuhan tidak selalu berjalan mulus. Mereka khawatir bahwa pembangunan kembali Yerusalem akan mengurangi pengaruh dan keuntungan mereka. Meskipun ada ancaman dan tantangan, bangsa Israel tetap berusaha untuk memulihkan ibadah kepada Tuhan. Kisah ini juga mengajarkan pentingnya kebijaksanaan dan strategi dalam menghadapi oposisi. Bangsa Israel harus mencari cara untuk melanjutkan pekerjaan mereka meskipun ada tekanan dari luar.
- Konteks Lukas 2:42: Ayat ini berada dalam kisah Yesus yang berusia dua belas tahun, yang pergi ke Yerusalem bersama orang tuanya, Maria dan Yusuf, untuk merayakan Paskah. Pada usia dua belas tahun, seorang anak Yahudi dianggap hampir dewasa dan mulai bertanggung jawab atas ketaatan mereka terhadap hukum Taurat. Perjalanan ke Yerusalem untuk merayakan Paskah adalah bagian dari tradisi keagamaan yang penting bagi keluarga Yahudi. Ayat ini menunjukkan ketaatan Yesus dan keluarganya pada tradisi keagamaan Yahudi. Mereka melakukan perjalanan jauh ke Yerusalem untuk merayakan Paskah, yang menunjukkan komitmen mereka terhadap hukum dan perayaan keagamaan. Pendidikan agama sangat penting karena pada usia dua belas tahun, Yesus mulai mengambil bagian yang lebih aktif dalam kehidupan keagamaan. Ini mengajarkan kita tentang pentingnya pendidikan agama sejak dini dan bagaimana orang tua dapat membimbing anak-anak mereka dalam iman. Teks ini menekankan bahwa meskipun masih muda, Yesus menunjukkan ketaatan dan keseriusan dalam menjalankan kewajiban agamanya. Ini mengingatkan kita bahwa usia bukanlah penghalang untuk menjalani kehidupan yang taat dan berkomitmen kepada Tuhan. Selain itu, kisah ini juga menyoroti pentingnya keluarga dalam menjalankan ibadah bersama. Maria dan Yusuf membawa Yesus ke Yerusalem, menunjukkan bahwa keluarga dapat menjadi unit yang kuat dalam mendukung dan membimbing satu sama lain dalam iman. Konteks Injil Lukas 2:42 mengajarkan kepada kita tentang pentingnya ketaatan pada tradisi keagamaan, pentingnya pendidikan agama sejak dini, dan peran keluarga dalam membimbing anak-anak dalam iman.
B. Pandangan Gereja Katolik Terhadap Alam dan Masyarakat Adat
Paus Fransiskus memiliki perhatian yang mendalam terhadap alam dan masyarakat adat. Beliau menekankan pentingnya menjaga lingkungan dan mengatasi perubahan iklim. Dalam ensikliknya, ‘Laudato Si’, Paus mengajak semua orang untuk merawat “rumah kita bersama” dan menekankan bahwa kerusakan lingkungan berdampak buruk terutama pada masyarakat miskin dan rentan.
Paus juga mengakui peran penting masyarakat adat dalam melindungi planet ini. Beliau menyatakan bahwa masyarakat adat memiliki kearifan lokal yang sangat berharga dalam menjaga keanekaragaman hayati dan memerangi perubahan iklim. Paus menekankan bahwa budaya, bahasa, tradisi, dan spiritualitas masyarakat adat harus dihormati.
Selain itu, Paus Fransiskus sering berbicara tentang pentingnya menghormati hak-hak masyarakat adat. Beliau mengkritik praktik-praktik yang merugikan masyarakat adat, seperti penambangan yang merusak lingkungan dan penggundulan hutan. Paus juga menyerukan perubahan dalam struktur kekuasaan yang sering mengabaikan atau mendiskriminasi masyarakat adat.
Bapa Suci juga mempromosikan konsep ekologi integral, yang menghubungkan kesejahteraan manusia dengan kesehatan lingkungan. Beliau percaya bahwa masyarakat adat dapat menjadi teladan dalam mempraktikkan ekologi integral, yang merupakan bagian dari pewartaan Injil Penciptaan.
Paus menekankan perlunya kerja sama dengan masyarakat adat untuk mengatasi tantangan lingkungan yang kita hadapi saat ini. Mendengarkan dan belajar dari kearifan masyarakat adat adalah langkah penting dalam merawat bumi dan memperbaiki planet tempat kita hidup.
C. Uskup John dan GERTAK di Keuskupan Timika
Di Keuskupan Timika, banyak perusahaan besar seperti PT Freeport, penebangan, perkebunan kelapa sawit, dan penangkapan ikan ilegal telah berkembang sebagai bagian dari ekspansi terhadap masyarakat adat. Konflik berkepanjangan sering terjadi, baik antara investor dan pemilik hak ulayat maupun antara masyarakat dengan negara. Orang asli Papua menyadari bahwa pembangunan besar-besaran dapat mengakibatkan lingkungan yang kurang harmonis, sehingga konflik ini dapat muncul. Mereka juga tidak ingin ditipu oleh pemerintah yang hanya mementingkan kesejahteraan ekonomi elit politik, dan tidak ingin identitas, nilai tanah adat, kearifan lokal, atau nyawa orang miskin dikorbankan demi keuntungan besar.
Dalam surat pastoral, khotbah, dan kampanye, Uskup John Philip Saklil sering menyatakan bahwa penyebaran alkohol secara besar-besaran oleh elit negara memperburuk karakter generasi Orang Asli Papua (OAP). Karena ini adalah proyek yang direncanakan dengan baik di dalam lembaga negara, menghentikan penyebaran alkohol menjadi tugas yang sulit. Sayangnya, anggota TNI, Polri, dan Brimob terlibat sebagai pengusaha dan pelaku ekonomi, sehingga keuntungan dari proyek ini terpotong. Mentalitas, karakter, dan martabat OAP juga terancam oleh tindakan aparat keamanan yang menunjukkan kepemimpinan yang buruk. Mereka juga dikritik karena membuat kota Timika jadi kotor.
Menurut Uskup Saklil, persoalan mendasar OAP adalah persoalan tanah. Provinsi, daerah, kota, dan sebagainya semakin berkembang. Dengan bertambahnya jumlah penduduk perkotaan dan masuknya investor asing yang menuntut agar pemilik hak ulayat menyerahkan tanahnya atas nama pembangunan, terbuka peluang bagi bisnis besar untuk masuk. Perkembangan ini tidak akan berdampak positif; sebaliknya, itu akan berubah menjadi “bom waktu” yang pada akhirnya akan menimbulkan bencana.
Gereja sungguh membutuhkan program pastoral sosio-ekonomi baru oleh karena itu, Mgr. John mencetuskan Gerakan Tungku Kehidupan (GERTAK) yang dimulai sejak 2017. Gerakan ini bertujuan untuk menjaga dan mengelola sumber daya alam agar keluarga dan masyarakat dengan hak tradisional dapat menikmati manfaat kehidupan. Para pemikir menekankan pentingnya menjaga kekayaan dan mengelola dusun sebagai cara untuk menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan menghormati harkat dan martabat manusia. Menurut Saklil (2017), lebih baik menjaga dusun dan mengelola lahan agar rumah tetap berasap daripada menjual lahan untuk keuntungan finansial sementara.
Sebagai gerakan komunal untuk pembangunan sosial ekonomi pastoral, GERTAK mengajak semua orang untuk bekerja sama mencapai cita-cita luhur, mempersiapkan jalan Tuhan, dan menjadi sakramen keselamatan sedunia. Keuskupan menyediakan fasilitas yang diperlukan untuk mengelola dusun dan memberikan pemahaman kepada umat serta mengundang mereka kembali ke dusun. Pada pertemuan Munas KWI tahun 2017, Gaiyabi, Ketua PSE-KWI, aktif mensosialisasikan gerakan ini di tingkat nasional (Loke, 2019). Ia berharap perlindungan dan pengelolaan sumber hak ekonomi masyarakat lokal menjadi bagian mendesak dari gerakan kerasulan baru PSE-KWI (Saklil, 2018b).
Keuskupan Timika mengajak semua pimpinan untuk berdiskusi tentang pembangunan gereja lokal dengan menggunakan Alkitab (Touye Manaa) dan arahan Roh Kudus (Yimu Beu Puye) untuk mendirikan gereja misionaris yang mandiri. Masyarakat dianggap sebagai anak, Gereja sebagai ibu, dan pemerintah sebagai ayah. Melalui pertimbangan damai, setiap individu dari jemaat berkumpul untuk mengkaji segala persoalan dari setiap aspek kehidupan.
Muspas VI diadakan di Paroki Damabagata-Kristus Kebangkitan Kita pada 18 Februari 2020, dengan topik tanah sebagai sumber Tungku Kehidupan. Diskusi bertema “Kembali ke Tanah Suciku” mengajak pemerintah, gereja, dan masyarakat untuk mendorong Gerakan Tungku Api dalam melindungi dan mengelola lahan bersama-sama. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, diperlukan kerja sama dan penyatuan orang-orang dari berbagai latar belakang untuk membangun Emawati, oda-owada, serta melakukan pemetaan tanah dan manusia agar tungku api kehidupan keluarga tetap menyala.
Beberapa pemikiran brilian dari para pemateri memantik diskusi yang akhirnya menghasilkan beberapa rekomendasi yang terus diperjuangkan bersama, yaitu:
- Penetapan Pemerintah Adat
- Pemetaan Tanah Wilayah Adat
- Pembangunan Emawaa di setiap kampung
- Pembangunan Pagar






