Majalah Gaiya

PERINTAH TUHAN DAN UPAH SEORANG MURID

Sebuah Refleksi dari Frater Yanius Tipagau

KEUSKUPANTIMIKA.ORG Bacaan kitab suci hari ini sangat kursial bagi pengikut Kristus. Bacaan pertama; 1 Petrus 1:10-16 dan Bacaan Injil Markus 10:28-31. Dalam kedua bacaan ini menekankan tetang perintah dan upah. Dalam bacaan pertama berbicara tetang perintah yang amat signifikan bila dikontekskan dengan kehidupan di era perkembangan teknologi yang pesat saat ini. Sedangkan dalam bacaan Injil berkaitan dengan upah seorang murid Kristus.

Perintah dalam bacaan pertama yang kursial adalah “siapkanlah akal budimu dan jangan menuruti hawa nafsu”. Sedangkan Dalam bacaan Injil upah seorang murid yakni “berlipatganda dari apa yang ditinggalkan dan keselamatan”. Saya merefleksikan perintah dan upah tersebut dalam ranah kehidupan seorang imam, biarawan, biarawati dan frater dalam konteks saat ini yang berhadapan dengan tatangan perkembangan teknologi yang mungkin saja merepresentasikan kemampuan manusia dan masih saja terikat dengan tawaran dunia.

Pertanyaan mendasar adalah apakah kita siapkan akal budi? Apakah kita menuruti hawa nafsu? Masihkah kita terikat dengan relasi biologis, harta kekayaan dan tawaran dunia? dan apa itu keselamatan yang dimaksud? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi alat untuk memilah dan meyoroti berdasarkan konteks kita saat ini yang berasimilasi dengan perkembangan teknologi dan kehidupan sebagai murid-murid Kristus.

Perintah pertama, “Siapkan akal budi” (lih. 1 Ptrs 1:13). Perintah ini amat krusial konteks kita saat ini. Dalam perkembangan teknologi secara khusus AI (artificial intelligent) menjadi tantanngan dalam pertumbuhan iman, pewartaan dan menjadi sarana melemahkan akal budi manusia. Semakin manusia mengunakan kemampuan AI semakin manusia kehilangan identitas diri sebagai manusia. Ketika murid Kristus mewartakan Injil kepada orang lain berdasarkan pekerjaan AI tentunya tidak ada pertumbuhan iman. Mewartakan bukan menceritakan apa yang dimaksudkan AI tetapi lebih dari itu menyampaikan apa yang dimaksud Tuhan melalui pengalaman hidup. Ketika seseorang menyampaikan pesan injil di mibar, pangun, dan didepan khlayak bukan hasil refleksi yang berasal dari hati maka, akan tidak menyentuh hati dan menumbuhkan iman pendengar. Berbicara tetang Tuhan berarti ungkapkan dari hati ke hati. Konsep ini mengajarkan untuk melihat pentingnya kontak batin bukan kontak mata dalam mewartakan Injil dan mengunakan kemampuan manusia. Untuk itu yang penting dalam bacaan pertama ini menegaskan pentingnya menyiapkan “akal budi”. Akal budi menjadi krusial untuk memahami, mendalami, dan mengkontekskan pengalam hidup sehingga akan menjadi buah iman.

Perintah Kedua, “Jangan hidup menuruti hawa nafsu” (lih. 1Ptrs 1:14). Hawa nafsu merupakan kekuatan batin yang tidak kontrol. Keinginan untuk memenuhi harta dan kekayaan, keinginan untuk mendominasi orang lain, keinginan untuk kesenangan yang semu dan ternyaman dengan diri sendiri sehingga mengesampingkan hal yang menjadi penting. Kenyaman yang tidak dikontrol adalah penghalang antar saya, kamu dan kita. Keinginan untuk memiliki sesuatu adalah pedang untuk membunuh diri sendiri (kill alone) dan orang lain (kill others). Maka yang krusial adalah discernment agar tidak jatuh dalam hawa nafsu tetapi memilih yang dikehendaki Tuhan. Discernment menjadi cara menyadarkan kita dari dorongan-dorongan yang tidak kontrol.

Upah pertama, melipatgandakan apa yang sudah ditinggalkan (lih. Mrk 10:28-30). Kadang seorang pengikut Kristus atau murid Tuhan menoleh kebelakang. Melihat kebelakang berarti melihat ikatan kekeluargaan, harta kekayaan atau terikat dengan dunia sekuler. Maka upah yang Tuhan sediakan bagi setiap murid kristus adalah lebih dari apa yang ditinggalkan. Upah yang dimaksud Tuhan bukan sesuatu yang pasti bagi murid Kristus melainkan janji yang perlu diperjuangkan. Bukan saja janji yang harus diperjuangkan tetapi juga menjadi harapan bila tidak terwujud di dunia ini.

Upah Kedua, “hidup kekal” (lih. Mrk 10:28). Kehidupan berarti dimana manusia melihat dan merasakan fenomena-fenomena atau penampakan-penampakan sesuatu dari drinya sendiri dan berasimilasi dengan kehidupan. Kehidupan yang dimaksud dalam konteks ini adalah kehidupan setelah kematian. Kadang orang salah memahami kehidupan kekal hanya kehidupan yang akan dialami oleh roh. Pandangan itu salah karena pengorbanan Kristus bukan hanya menyelamatkan Roh melainkan keselamatan secara utuh baik badan maupun Roh. Maka pengikut Kristus harus bahagia setiap hari.***

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button