Majalah Gaiya

MERINDUKAN KEDAMAIAN DI TAHUN YANG BARU

Oleh: Fr. Yuven Migani Belau

Awal tahun yang baru, setiap manusia merindukan kedamaian di tengah berbagai aspek kehidupan. Tahun baru merupakan harapan dan impian semua orang untuk dirayakan dengan berbagai cara, yaitu kembang api, saling memaafkan, berdoa, memohon pengampunan, dan bertobat atas semua perbuatan di tahun yang lalu untuk mengalami dan merasakan perubahan. Tahun baru adalah saat di mana semua orang merindukan kedamaian sejati di awal tahun yang baru dan perubahan di tengah situasi ketidaksetaraan. Luka emosional tetap ada, begitu pula ketidakadilan, penindasan, pengungsian, kemiskinan, kesepian, kegelisahan, ketakutan, dan ketidakpastian hidup, yang jelas merupakan akibat perubahan zaman yang ditandai oleh kekerasan dan konflik di tanah Papua khususnya, dan umumnya di Indonesia serta di dunia, disertai luka lama. Oleh karena itu, di awal tahun baru ini, setiap orang merindukan perdamaian sejati yang menguatkan semua untuk mencapai tujuan yang sama, yaitu kesejahteraan dan keselamatan yang menjunjung tinggi nilai keadilan dan perdamaian (Magay 2020: 98).

Di tengah kehidupan yang merindukan kedamaian dan keadilan, adalah harapan setiap insan untuk membangun hidup yang damai dalam terang Injil yang dipenuhi sukacita dan kasih, untuk menciptakan kedamaian sejati dan pemulihan atas hidup di zaman ini. Sehubungan dengan itu, Kitab Suci Perjanjian Lama (PL) memberikan penekanan bahwa kedamaian sejati bukanlah suatu hasil dari kesempatan di dunia politik, melainkan merupakan hasil dari membangun hubungan yang dipulihkan dengan Tuhan Allah, sebagaimana yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya, yaitu, “Seorang anak telah dilahirkan untuk kita… dan Ia dikenal sebagai Raja Damai” (lih. Yes. 9:5). Kutipan Nabi Yesaya ini menggambarkan bahwa keberadaan Yesus Kristus yang membawa kedamaian bukanlah sekadar slogan, tetapi merupakan kehadiran pribadi yang diliputi sumber kasih dan kedamaian di tengah dunia yang retak dan terluka akibat ketidakadilan hidup yang semakin meningkat.

Di dalam konteks pembahasan di atas, lebih jauh ditegaskan oleh Kitab Suci Perjanjian Baru (PB) melalui Injil Yohanes, di mana Yesus sendiri dapat mengubah pandangan sederhana tentang dimensi perdamaian, yaitu, “Damai sejahtera Kutinggalkan untukmu… bukan seperti yang diberikan oleh dunia” (lih. Yoh 14:27). Artinya, damai yang berasal dari Yesus Kristus bukanlah damai yang merupakan pelarian dari kesedihan, dukacita, kegelisahan, dan ketakutan, melainkan damai yang diliputi oleh kekuatan kasih untuk mencintai, menghormati, dan menghargai nilai martabat manusia di tengah situasi penderitaan hidup. Nilai kedamaian yang diperjuangkan oleh Yesus Kristus adalah kedamaian yang rela berkorban dan memberikan diri-Nya secara total dengan memikul salib demi nilai keselamatan dan pembebasan serta pertobatan sejati bagi dunia dan manusia.

Tahun baru adalah tahun untuk melahirkan kehidupan baru, melahirkan sikap dan sifat spiritual yang baru untuk berjalan bersama membangun kehidupan yang berlandaskan pada nilai kasih dan perdamaian. Nilai kasih dan perdamaian berlandaskan pada dimensi kesadaran iman dengan tulus, tekun, dan setia membaca tanda-tanda zaman di tengah situasi kehidupan manusia yang ditandai oleh berbagai macam kondisi kekerasan di lingkungan masyarakat. Dengan demikian, dokumen Konsili Vatikan II melalui Gaudium et Spes dapat menegaskan bahwa selama umat manusia masih berbuat dosa, menimbulkan ancaman, dan melakukan kekerasan, setiap manusia dipanggil untuk menghadirkan perdamaian, yang harus dan selalu diupayakan (lih. GS 78) di tengah kehidupan manusia yang kompleks demi nilai kebaikan bersama. Perdamaian sejati merupakan sebuah proses yang membutuhkan rekonsiliasi diri secara kelompok maupun pribadi demi nilai dan perubahan sosial yang mengarah pada perdamaian dan pengampunan yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, memperjuangkan nilai perdamaian adalah tugas bersama dengan melibatkan diri untuk membangun nilai keadilan dan cinta kasih. Berdasarkan pembahasan ini, dalam konteks pengampunan Paus St. Yohanes Paulus II, 1 Januari 2002, dalam “Pesan Hari Perdamaian Sedunia di Vatikan” menegaskan bahwa tidak ada perdamaian tanpa keadilan, dan tidak ada keadilan tanpa pengampunan. Hal ini adalah suatu pengajaran Gereja yang menekankan bahwa perdamaian bukanlah sebuah konsep ideal, tetapi suatu panggilan yang nyata bagi semua orang beriman untuk berani keluar memaafkan sesama dengan membangun dunia yang penuh damai dan merajut kembali dengan keberadaan iman di tahun yang baru ini. Tahun baru adalah tahun di mana kita melepaskan semua beban hidup, dendam, permusuhan, penderitaan, penindasan, kemiskinan, dan kesenjangan sosial dalam kehidupan bersama untuk memulai dan menghidupi semangat solidaritas demi menegakkan keadilan dan kebaikan bersama. Hal senada ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam ensikliknya Fratelli Tutti, artikel 217-218, yang menekankan bahwa perdamaian yang sejati memerlukan lebih dari sekadar kesepakatan; ia membutuhkan hati yang bisa menciptakan persaudaraan sosial. Artinya, di tengah dunia yang dipengaruhi oleh berbagai macam ketidakadilan dan penderitaan serta konflik sosial yang disertai dengan kekerasan ini, semua orang dipanggil untuk memperbaiki nilai persaudaraan secara bersama-sama untuk mewujudkan keadilan, kebenaran, dan perdamaian dengan hati yang terbuka di tahun yang baru ini.

Di akhir tulisan ini, setiap manusia dipanggil dan diajak untuk membangun perdamaian sejati di tengah dunia, serta menyambut tahun baru dengan penuh cinta kasih. Ini adalah harapan untuk menciptakan perdamaian sebagai jalan baru di awal tahun ini. Ini merupakan sebuah harapan dan doa bagi dunia yang terluka, sehingga dunia dapat menemukan keadilan, kedamaian, dan cahaya terang perdamaian. Mengapa? Karena perdamaian sejati tidak datang seiring perubahan kalender, melainkan perubahan dan perdamaian akan hadir dan hidup ketika setiap manusia bersedia membangun, mengubah gaya dan cara pandang dalam hidup dengan penuh kerendahan hati dan bijaksana, serta menjunjung tinggi nilai sukacita Injil dengan kasih Kristus sejati. Semoga di tahun yang baru ini, kita penting membangun dan memberkati kehidupan pribadi, keluarga, komunitas, dan lingkungan masyarakat dengan saling memaafkan, menyembuhkan luka, dan berani membawa serta menghadirkan perdamaian, sesuai dengan ajaran Kristus yang mendasar dalam Injil Matius, yakni: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (lih. Mat 5:9). Kutipan Injil ini adalah harapan dan kerinduan bagi kita semua di tengah dunia di tahun baru ini.

Allo
Author: Allo

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button