MENGAPA DAERAH TROPIS SEPERTI PAPUA SULIT SEJAHTERA?
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Mengapa daerah yang kaya akan sumber daya alam, seperti Papua dan wilayah tropis lainnya, seringkali masih terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan kerusakan lingkungan? Pertanyaan besar ini menjadi sorotan utama dalam hari kedua Lokakarya Pendidikan yang digelar di Hotel Swiss Belinn, Timika, Rabu (15/4).
Hadir sebagai pembicara pertama, Dr. Bernardus Renwarin membedah akar persoalan tersebut dengan lugas. Ia menyoroti bagaimana sistem global yang hegemonik beroperasi, sekaligus mematahkan berbagai hipotesis lama yang cenderung menyudutkan masyarakat di daerah tropis.
Menurut Dr. Bernardus, ketimpangan yang terjadi saat ini tidak lepas dari peran perusahaan multinasional yang bergerak dalam sistem yang masif, mulai dari sistem negara transnasional (Trans National State System/TNSs), sistem korporasi (Trans National Corporation
System/TNCs), hingga sistem pengetahuan (Trans National Knowlegde system/TNKs). Sayangnya, kehadiran lembaga-lembaga ini sering kali bersifat ekstraktif (mengeruk habis) dan eksploitatif. Dampaknya bukan main-main. Mulai dari deforestasi, perubahan iklim, hingga kerusakan sosial.
“Aktivitas ini berujung pada ancaman serius: ekosida (penghancuran ekosistem) dan genosida,” tegasnya.
Lantas, mengapa kesenjangan ini seolah “dipelihara”? Dr. Bernardus memaparkan tiga sudut pandang atau hipotesis yang selama ini digunakan untuk menjelaskan mengapa suatu daerah tetap miskin:
- 1. Hipotesis Geografis: Benarkah Orang Tropis Malas?
Sejak abad ke-18, muncul anggapan dari tokoh seperti Montesquieu bahwa orang yang tinggal di iklim tropis cenderung malas dan enggan berinovasi. Bahkan, pakar modern seperti Jeffrey D. Sachs mengaitkan kemiskinan dengan penyakit tropis seperti malaria, sementara Jared Diamond menyoroti rendahnya produktivitas pertanian di wilayah khatulistiwa.
Faktanya: Dr. Bernardus menekankan bahwa hipotesis ini tidak pernah terbukti kebenarannya. Geografi bukanlah takdir yang menentukan kemiskinan.
- 2. Hipotesis Kebudayaan: Etos Kerja vs Sihir
Pandangan ini mengaitkan kemakmuran dengan budaya atau agama tertentu (seperti Etika Protestan). Sebaliknya, bangsa-bangsa di Afrika sering dicap sulit maju karena percaya sihir, atau Amerika Latin dianggap miskin karena gaya hidup boros.
Catatannya: Hipotesis ini sangat bisa diperdebatkan. Menurutnya, kesuksesan sebuah bangsa jauh lebih kompleks daripada sekadar urusan budaya atau kebiasaan sehari- hari.
- 3. Hipotesis Kebodohan: Salah Urus Kebijakan
Hipotesis ketiga, yang merujuk pada pemikiran Acemoglu & Robinson (2012), menyatakan bahwa kemiskinan terjadi karena penguasa tidak tahu cara memakmurkan rakyatnya. Negara miskin sering kali menjadi korban “gagal pasar”, sementara negara kaya adalah mereka yang berhasil membuat kebijakan untuk mengatasinya.
Melalui lokakarya ini, Dr. Bernardus mengajak peserta untuk kritis melihat bahwa persoalan di Papua bukan masalah “geografis” atau “budaya”. Ada sistem besar yang sedang mengeruk kekayaan alam tanpa memikirkan keberlanjutan hidup masyarakat lokal.
Pendidikan di Papua diharapkan mampu membuka mata generasi muda agar tidak terjebak dalam stigma-stigma negatif tersebut, sekaligus mampu menghadapi tantangan sistem ekonomi global yang eksploitatif.
“Kita harus paham akarnya, agar tidak hanya menjadi penonton di tengah kekayaan alam yang sedang dikuras habis,” pungkasnya. (***)




