Majalah Gaiya

LINGKUNGAN HIDUP: WARISAN BERSAMA DAN TANGGUNG JAWAB IMAN

Oleh: Fr. Agustinus Sarkol

Kepedulian terhadap lingkungan hidup merupakan tantangan bagi seluruh umat manusia. Hal ini adalah kewajiban bersama dan universal, yakni soal menghormati harta milik bersama (Kompendium Ajaran Sosial Gereja 466 – Centesimus Annus).

Tanggung jawab terhadap lingkungan hidup, warisan bersama umat manusia, tidak hanya mencakup kebutuhan-kebutuhan saat ini, tetapi juga kebutuhan-kebutuhan di masa depan (Kompendium ASG 467).

Program-program pengembangan ekonomi harus secara saksama memperhatikan “perlunya menghormati keutuhan serta irama-irama alam,” sebab sumber daya alam terbatas dan sebagian tidak dapat diperbarui (Kompendium ASG 470). Sebuah ekonomi yang menghormati lingkungan hidup tidak akan menempatkan maksimalisasi keuntungan sebagai tujuan satu-satunya, karena perlindungan lingkungan hidup tidak dapat dijamin hanya dengan perhitungan finansial mengenai biaya dan laba.

Hubungan suku-suku pribumi dengan tanah serta sumber daya mereka layak mendapat perhatian khusus, sebab hubungan itu merupakan ungkapan hakiki tentang jati diri mereka (Kompendium ASG 471; bdk. Yohanes Paulus II, Amanat kepada para peserta Simposium Fisika, 8 Desember 1982: Insegnamenti di Giovanni Paolo II, V, 3 (1982), 1631-1634).

Sikap yang harus mencirikan cara manusia bertindak terhadap ciptaan pada hakikatnya adalah rasa syukur serta penghargaan. Dunia sesungguhnya menyingkapkan rahasia Allah yang menciptakan dan menopangnya. Apabila relasi dengan Allah disingkirkan, maka alam akan dilucuti dari makna dasarnya dan dipermiskin.

Jika di satu pihak alam ditemukan kembali seturut hakikat ciptaannya, maka saluran-saluran komunikasi dengannya dapat dibangun, makna yang kaya dan simbolis dapat dipahami, seraya mengizinkan kita masuk ke dalam rahasianya. Ranah ini membuka jalan manusia kepada Allah, Sang Pencipta langit dan bumi. Dunia menampilkan dirinya di hadapan manusia sebagai kesaksian tentang Allah, tempat di mana daya kreatif-Nya, penyelenggaraan ilahi-Nya, serta kuasa penebusan-Nya dinyatakan (Kompendium ASG 487).

Ensiklik Laudato Si’ menawarkan hal-hal berikut:

Ekologi manusia dan kesejahteraan umum
Ekologi manusia tidak terlepas dari gagasan kesejahteraan umum, prinsip yang memainkan peran sentral dan pemersatu dalam etika sosial. Kesejahteraan umum adalah keseluruhan kondisi masyarakat yang memungkinkan kelompok maupun individu mencapai kesempurnaan mereka secara lebih penuh dan lebih mudah (LS 156).

Saat ini, demi kesejahteraan umum, ada kebutuhan mendesak agar politik dan ekonomi, dalam dialog, mengabdikan diri kepada kehidupan, terutama kehidupan manusia (LS 189). Politik dan ekonomi sering saling menyalahkan atas kemiskinan dan kerusakan lingkungan, tetapi diharapkan keduanya mengakui kesalahannya sendiri dan menemukan bentuk interaksi yang mengarah pada kesejahteraan umum (LS 198).

Perubahan manusia
Banyak hal perlu diarahkan kembali, namun yang terutama adalah perubahan manusia itu sendiri. Yang dibutuhkan adalah kesadaran akan asal-usul kita bersama, rasa saling memiliki, dan masa depan yang harus dibagi dengan semua makhluk.

Kesadaran ini dapat menumbuhkan keyakinan, sikap, dan bentuk kehidupan baru. Dengan demikian, kita berhadapan dengan tantangan budaya, spiritual, dan pendidikan yang besar, yang akan membutuhkan proses pembaruan panjang (LS 202).

Dimensi iman
Keyakinan iman yang dikembangkan di awal ensiklik ini memperkaya makna pertobatan ekologis. Misalnya:

  • kesadaran bahwa setiap makhluk mencerminkan sesuatu dari Allah dan membawa pesan untuk kita renungkan;
  • keyakinan bahwa Kristus telah mengenakan dunia materiil ini pada diri-Nya dan sebagai Yang Bangkit hadir dalam setiap makhluk, melingkupinya dengan kasih sayang-Nya serta menembusinya dengan cahaya-Nya;
  • keyakinan bahwa Allah menciptakan dunia dengan menuliskan di dalamnya tata tertib dan dinamisme, yang tidak boleh diabaikan manusia.

Injil juga mengingatkan, “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Namun seekor pun dari padanya tidak dilupakan Allah” (Luk 12:6). Jika demikian, masihkah kita berani menganiaya atau merugikannya? (LS 221).

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button