Majalah Gaiya

FIGUR YOSEP SEBAGAI BAPA YANG BAIK HATI

Fr. Yosep Riki Yatipai

Pendahuluan

Yosep adalah seorang tukang kayu sederhana dari Nazaret yang taat dan rendah hati. Sebagai seorang tukang kayu yang sederhana, ia juga telah diam-diam jatuh hati kepada seorang gadis desa yang penuh keanggunan, bernama Maria. Hubungan mereka begitu harmonis dan damai selaras dengan kehidupan pedesaan yang murni. Pada ketinggian gunung Nazaret sekitar 320-488 di atas pemukaan laut Galilea, mereka saling memadu kasih dan berjanji untuk hidup bersama. Begitu indah dan pekatnya cinta akan kesetiaan yang terjalin di antara mereka berdua, sehingga Yosep merasa sangat bertanggungjawab atas Maria.

Keromantisan Yosep dan Maria begitu murni dan seirama dengan panggilan ilahi untuk menikahi Maria sebagai istrinya. Awalnya Yosep merasa bingung dengan keadaan Maria yang sudah hamil, tetapi ia diberikan keyakinan melalui mimpi oleh malaikat untuk mengambil Maria sebagai istrinya.  Sekalipun dilematis, Yosep adalah seorang yang saleh dan hidup berdasarkan petunjuk Tuhan. Maria pun seorang yang lemah lembut dan penuh kasih, ia sangat yakin dan memberikan dirinya kepada Tuhan untuk siap melaksanakan misteri inkarnasi dalam dirinya.

Bukti Yosep sangat mencintai Maria adalah ketika Yosep membatalkan niatnya untuk meceraikan Maria karena hamil di luar nikah. Menurut tradisi mereka, seorang perempuan yang hamil di luar nikah, akan dihukum dengan rajam atau dilempari batu sampai mati. Tetapi, Yosep dengan bantuan ilahi berani mengambil konsekuensi dan tetap menjadikan Maria sebagai istrinya. Sebab, Yosep tahu bahwa Maria juga adalah seorang saleh dan taat pada perintah Tuhan. Dengan itu, mereka diuji cintanya dan siap melaksanakan rencana Tuhan. Sikap kesetiaan dan ketaan ini menjadi tanda bahwa Yosep dan Maria memenuhi syarat dihadapan Tuhan dalam melaksanakan Karya Agung-Nya.

Yesus adalah anak Allah, sehingga posisi Yosep adalah orang tua angkat dari Yesus. Sebab, Maria mengandung Yesus tanpa proses biologis, melainkan secara ajaib. Maka itu, Yosep adalah Bapa asuh Yesus selama hidupnya. Sekalipun Yosep hanya seorang bapa asuh, ia sangat bertanggung jawab atas Yesus. Yosep banyak mengajarkan Yesus tentang pertukangan dan menjadi seorang pekerja keras. Yosep memiliki peranan penting dalam misteri penyelamatan. Yosep memiliki darah daud secara genetik, sehingga posisi yosep sangat penting dalam penggenapan keselamatan Tuhan yang dijanjikan. Figur Yosep sebagai bapa Yesus bukan sebuah kebetulan, namun ada dalam rencana besar Tuhan dalam melaksanakan kehendak-Nya.

Santo Yosef, figur bapa baik hati yang penuh kasih dan kerendahan hati, menjadi teladan abadi dalam tradisi Kristen sebagai pelindung Keluarga Kudus. Cerita panjang ini menguraikan perjalanan hidupnya secara mendetail, terinspirasi dari Injil Matius dan Lukas serta ajaran Gereja, dengan fokus pada kebaikan hatinya yang lembut namun teguh.​

Si’ Muda Yosep di Nazaret yang Damai

Di lereng bukit Nazaret, sebuah kota kecil di Galilea utara Israel sekitar tahun 6-4 SM, hidup seorang pemuda bernama Yosep. Ia adalah keturunan Raja Daud, garis silsilah yang mulia, tapi memilih hidup sederhana sebagai tukang kayu atau pengrajin kayu teknon dalam bahasa Yunani yang merujuk pada pekerjaan tangan yang terampil. Nazaret, dengan ketinggian 320-488 meter di atas laut, dikelilingi kebun zaitun dan bukit-bukit hijau, adalah tempat Yosep menghabiskan hari-harinya mengukir kayu menjadi perabot rumah tangga, pintu, dan alat-alat sehari-hari untuk warga desa. Pagi-pagi buta, ia bangun, berdoa dengan sederhana menghadap timur sambil menatap lembah yang subur, lalu berjalan ke bengkel kecilnya. Kebaikan hatinya sudah terlihat sejak muda: ia tak pernah menagih berlebih pada pelanggan miskin, sering memberi kayu gratis untuk peti mati anak yatim, dan selalu tersenyum ramah pada tetangga. Yosep bukan orang berisik; ia pendiam, tapi matanya penuh kehangatan, mencerminkan hati yang peka terhadap penderitaan orang lain.​

Suatu hari, melalui tradisi pertunangan Yahudi, Yosep bertemu Maria, gadis remaja dari keluarga saleh yang tinggal tak jauh. Maria, dengan rambut hitam panjang dan mata penuh rahmat, adalah perawan yang telah memilih hidup kudus. Pertunangan mereka bukan sekadar adat, tapi panggilan ilahi yang perlahan terungkap. Yosep mencintai Maria dengan murni, melihat di dalamnya keindahan rohani yang luar biasa. Ia sering membawa bunga liar dari bukit sebagai tanda perhatian, dan mereka berbagi mimpi tentang masa depan yang tenang. Namun, rahasia besar menanti: Maria mengandung oleh kuasa Roh Kudus, seperti diwahyukan malaikat Gabriel. Saat Yosef mengetahui ini, hatinya teriris. Bukan karena marah, tapi karena khawatir pada aib yang bisa menimpa Maria. Sebagai pria benar (tsaddiq), ia berencana melepaskannya secara diam-diam, agar Maria tak dihukum batu menurut hukum Taurat. Ini adalah kebaikan hati pertamanya yang mencolok: memilih belas kasih daripada keadilan formal.​

Wahyu Malam dan Penerimaan Penuh Kasih

Malam itu, di bawah langit Nazaret yang bertabur bintang, Yosep tertidur lelap setelah hari kerja panjang. Dalam mimpi, malaikat Tuhan muncul: “Yosep, hai anak Daud, janganlah takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab Anak yang dikandungnya adalah dari Roh Kudus. Ia akan disebut Imanuel, Allah beserta kita.” Yosep terbangun dengan hati bergetar, air mata mengalir di pipinya. Bukan keraguan lagi, tapi sukacita yang meluap. Pagi harinya, ia segera pergi ke rumah Maria, memeluknya dengan lembut, dan berkata, “Aku percaya. Kita hadapi ini bersama.” Pernikahan mereka sederhana, tanpa pesta mewah Yosep hanya menyediakan meja kayu buatannya sendiri sebagai hadiah. Sejak itu, kebiasaannya berubah: ia lebih sering berdoa malam hari, mendengarkan kehendak Tuhan, dan melindungi Maria dengan segala cara. Ia membangun rumah kecil yang kokoh, mengukir ayunan kayu untuk bayi yang akan lahir, dan memastikan Maria tak kekurangan makanan segar dari pasar Nazaret.​

Sembilan bulan kemudian, sensus Romawi memaksa mereka ke Betlehem, kota kelahiran Daud, sekitar 140 km dari Nazaret. Perjalanan itu melelahkan: Maria menunggangi keledai, Yosep berjalan kaki sambil membawa perbekalan. Hujan deras mengguyur, tapi Yosep tak mengeluh. Ia menghibur Maria dengan lagu-lagu Mazmur, berbagi roti kering, dan berhenti di gua-gua untuk istirahat. Di Betlehem yang ramai, tak ada kamar penginapan; Yosep menemukan kandang ternak di lereng bukit. Di sana, Yesus lahir pada malam Natal. Yosep membalut bayi dalam kain lenan, meletakkannya di palang kayu yang ia buat sendiri, dan menjaga pintu agar gembala-gembala tak mengganggu. Kebaikan hatinya bersinar saat ia membiarkan Maria menyusui tenang, sambil berdoa syukur. Tiga hari kemudian, ia membawa Yesus ke Bait Allah Yerusalem untuk upacara sunat dan persembahan burung merpati tanda kemiskinan mereka yang Yosep terima dengan rendah hati.​

Pelarian Dramatis ke Mesir

Bahaya datang tiba-tiba. Raja Herodes, mendengar ramalan tentang Raja Yahudi baru dari orang Majus, memerintahkan pembunuhan bayi laki-laki di Betlehem. Malaikat kembali muncul dalam mimpi Yosep: “Bangunlah, ambillah anak itu dan ibunya, lari ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu.” Jam dua pagi, Yosep membangunkan Maria dengan suara pelan, “Kita harus pergi sekarang.” Mereka mengikat barang ke keledai, meninggalkan Betlehem dalam gelap, dikejar bayang-bayang kematian. Perjalanan 400 km ke Mesir melewati padang pasir Sinai yang terik, sungai Nil yang banjir, dan bandit gurun. Yosep berjalan di depan, tongkat kayunya siap bertahan, memberi air terakhirnya pada Maria dan Yesus yang rewel. Di Delta Nil, ia menemukan desa kecil, membangun bengkel kayu baru, dan bekerja siang malam membuat gerobak dan pintu untuk orang Mesir. Pendapatannya cukup untuk sewa rumah sederhana; ia bahkan berbagi makanan dengan pengungsi Yahudi lain. Yesus kecil belajar langkah pertamanya di halaman berdebu itu, sementara Yosep mengajarinya mengukir kayu kecil-kecil, sambil bercerita tentang tanah air mereka.​

Tahun-tahun di Mesir membentuk kebaikan hati Yosep lebih dalam. Ia tak pernah mengeluh atas pengorbanan, malah sering berlutut berdoa di sungai Nil, memohon perlindungan Tuhan. Maria melihat suaminya sebagai pilar tak tergoyahkan; Yosep, baginya, adalah pria yang “berbicara lebih banyak dengan tindakan daripada kata.” Setelah Herodes mati, malaikat memerintahkan pulang, tapi bukan ke Yudea karena Archelaus berkuasa. Mereka kembali ke Nazaret, di mana Yosep melanjutkan pekerjaan lamanya dengan semangat baru.​

Kehidupan Keluarga Kudus di Nazaret

Kembali ke rumah kayu yang dulu, Yosep membesarkan Yesus hingga dewasa. Pagi hari, ia membawa Yesus ke bengkel: “Lihat, Anakku, kayu ini dari pohon zaitun tua seperti iman kita, harus diukir dengan sabar.” Yesus belajar menjadi tukang kayu, membuat bangku dan pintu bersama ayah asuhnya. Yosep mengajarkan nilai-nilai: kerja jujur tak peduli upah, berbagi dengan tetangga miskin, dan berdoa sebelum makan roti, ikan kering, dan zaitun dari kebun mereka. Sabtu, mereka naik ke bukit untuk Sabat, membaca Taurat di sinagoga Nazaret. Yosep pendiam tapi bijaksana; warga desa menghormatinya sebagai pria adil yang menyelesaikan sengketa dengan adil.

Insiden Yesus hilang saat usia 12 tahun menguji hati Yosep. Setelah Paskah di Yerusalem, mereka sadar Yesus tertinggal. Tiga hari pencarian panik: dari pasar ke Bait Allah, Yosep bertanya pada setiap orang dengan suara gemetar. Temukan Yesus berdebat dengan guru-guru, Yosep memeluknya erat, mata basah: “Anakku, mengapa Engkau lakukan ini? Ibu-Mu dan Aku mencari dengan cemas.” Yesus menjawab tentang rumah Bapa-Nya, tapi taat pulang. Ini menguatkan ikatan mereka; Yosef belajar melepaskan dengan kasih.​

Warisan Bapa Baik Hati yang Abadi

Yosef kemungkinan meninggal sebelum pelayanan Yesus dewasa, sekitar usia 50-an, dalam pelukan Yesus dan Maria kematian bahagia yang langka. Tak disebut lagi di Injil setelah itu, tapi warisannya hidup: Paus Pius IX tahun 1870 menggelarnya Pelindung Gereja Universal; Paus Fransiskus di Patris Corde (2021) puji sebagai “bapa kreatif, pekerja, dan pelindung.” Kebaikan hatinya ketaatan diam, kasih pelindung, kerja rendah hati inspirasi bagi bapa modern. Di dunia penuh kekerasan, Yosep ajarkan: kebaikan sejati lahir dari mendengar Tuhan, melindungi yang lemah, dan mengukir hidup seperti kayu halus. Hari raya 19 Maret dan 1 Mei, umat berdoa novena, memohon syafaatnya. Yosep, bapa baik hati, tetap relevan: teladan bagi keluarga, pekerja, dan semua yang mencari damai dalam kesederhanaan.

 

Daftar Pustaka

Fransiskus. Patris Corde: Apostolik Surat tentang Tahun Santo Yosef. Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 2021.​

Halter, Marek. Mary of Nazareth. New York: Crown Publishers, 2006.​

Alkitab: Terjemahan Baru. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1974. (Lihat khususnya Matius 1-2 dan Lukas 2 untuk kisah Yosep).

Santo Yoseph dari Nazareth, Ayah Yesus (19 Maret).” St. Andreas Kedoya, March 17, 2025.

“Yusuf, Ayah Yesus Di Bumi – Bio-Kristi.” SABDA.org, November 1, 2016.

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button