DIPANGGIL DAN DIUTUS UNTUK MENJADI SAKSI KRISTUS DI TENGAH DUNIA ZAMAN INI
Oleh: Fr. Yuven Migani Belau
Seiring perkembangan zaman ini, kita semua dipanggil dan diutus untuk menjadi penyampai Misi Tuhan di dunia dengan hati yang terbuka dan penuh solidaritas. Solidaritas dalam menyampaikan misi Allah melalui kehidupan sehari-hari, karena tidak ada panggilan yang lebih berarti daripada panggilan untuk mencintai Tuhan dan sesama. Panggilan untuk mencintai secara nyata dan menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat, serta menghadirkan kebahagiaan sejati bagi orang lain yang merindukan kehadiran Tuhan dalam hidup mereka di era ini.
Dalam konteks tulisan ini, berdasarkan Injil Yohanes, panggilan ini bukan hanya sekadar tugas, namun merupakan respon terhadap ajakan kasih dari Kristus untuk masing-masing dari kita, seperti yang tertulis: “Sebagaimana Bapa mengutus Aku, begitu juga Aku mengutus kamu” (lih. Yoh 20:21). Pesan dari Injil ini menunjukkan bahwa panggilan dan pengutusan kita dalam kehidupan ini adalah panggilan yang dalam, yaitu membangun cinta satu sama lain demi kasih Allah yang lebih dulu mencintai kita di masa ini. Ini berarti kita semua dipanggil untuk menyampaikan dan membawa sukacita kasih Allah di dunia serta menjadi saksi kasih Kristus bagi orang-orang di sekitar kita yang merindukan sapaan serta kasih sayang Tuhan dalam perjalanan hidup kita semua.
Panggilan dan Inisiatif Cinta dari Tuhan
Dalam pembahasan ini, berdasarkan Injil Yohanes, di mana Yesus menyatakan kepada kita, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku yang memilihmu” (lih. Yoh 15:16). Pesan yang terkandung dalam Injil ini merupakan seruan dari Tuhan untuk kita semua dalam menyebarkan Injil dan memberikan kesaksian akan kebahagiaan dan sukacita kepada orang lain di era ini. Panggilan untuk menyebarkan misi-Nya ditujukan dengan semangat kasih, yang mengundang dan mengutus setiap individu untuk menjadi perantaran-Nya di dunia. Ini menunjukkan bahwa panggilan kita tidak muncul karena keinginan pribadi, tetapi merupakan hasil dari pertemuan dengan Kristus yang hidup di dalam diri kita. Dengan kata lain, dalam pertemuan itu kita dapat mendengar panggilan-Nya, bukan karena kita layak, tetapi karena Dia telah terlebih dahulu mengasihi kita dalam kehidupan ini.
Dalam konteks ini, Paus Fransiskus dalam Pesannya untuk Hari Doa Panggilan Sedunia 2020 menekankan bahwa: Panggilan adalah hasil pertemuan antara cinta Tuhan dan hati manusia. Pesan dari Paus ini menunjukkan kerinduan kita untuk berada di dekat-Nya, merasakan dan mendengarkan sesama; itulah kerinduan sejati jiwa kita. Maka, panggilan kita memiliki dua tanggung jawab utama yaitu mengabarkan anugerah dan menjadi alat untuk mendampingi. Mengabarkan anugerah berarti menjawab panggilan untuk menyampaikan kebaikan cinta Tuhan kepada sesama kita, dan senantiasa memberitakan Injil sambil menjalankan panggilan kita sesuai dengan kehendak-Nya dalam menyampaikan misi Allah dalam hidup bersama sebagai satu kesatuan dalam Kristus yang sejati.
Oleh karena itu, kita semua menyadari bahwa setiap langkah sebagai pelaku Injil bukanlah kebetulan, melainkan respon terhadap cinta yang telah hadir lebih dahulu dalam diri kita di dunia ini. Tuhan memanggil kita semua untuk menghidupi cinta-Nya di tengah masyarakat yang Dia cintai secara khusus melalui kasih dan pelayanan yang diberikan kepada setiap orang. Oleh sebab itu, kita semua diundang dan diutus (lih. Mrk 3:13-19) untuk menyebarkan sukacita cinta dan kebahagiaan dalam kehidupan bersama. Inilah misi dan tujuan utama panggilan kita untuk tinggal dan hidup bersama-Nya.
Diutus Menjadi Saksi-Nya Secara Nyata
Setiap individu mendapatkan panggilan dan tugas untuk melayani serta menjadi saksi dengan menyebarkan kasih dan kebahagiaan secara ikhlas. Kedermawanan untuk melayani secara sukarela adalah hal yang utama. Dalam hal ini, dalam suratnya kepada Filemon, Paulus menyebutkan hal yang mirip dengan apa yang tertera dalam satu Petrus bab 5, di mana ia menegaskan: saya tidak ingin melakukan sesuatu sehingga tindakan baik itu terpaksa kamu jalani, melainkan harus dengan sukahati (lihat Flm 14). Pelayanan kasih akan berkembang ketika cinta dari firman-Nya harus menjadi terlihat, dan kasih-Nya terlihat dalam setiap aksi nyata dari kehidupan manusia.
Panggilan dan misi kita tidak hanya tentang mendiskusikan Kristus, melainkan juga membawa kehadiran-Nya dalam dunia yang dipenuhi berbagai tantangan seperti hati yang gelap, ketakutan, kecemasan, kebencian, kemarahan, penindasan, penderitaan, kemiskinan, rasa dengki, dikucilkan, diabaikan, dijauhi, dan dimusuhi, sembari terus mengabdikan diri atas kasih-Nya dan memberikan layanan dengan senyum penuh kasih dan pengorbanan. Dalam konteks ini, Injil Markus menekankan arti penting dari panggilan dan misi kita semua melalui baptisan, di mana kita mendapatkan perintah yang sama untuk: Pergilah ke seluruh penjuru bumi, sampaikanlah Injil kepada setiap makhluk (lihat Mrk 16:15), dan cobalah menjadi sumber cahaya bagi semua orang di dunia ini, dengan penuh kebijaksanaan dan kerendahan hati dalam mewartakan kasih-Nya.
Berdasarkan pesan Injil di atas, Paus Fransiskus (2013) dalam ensiklik Evangelii Gaudium menegaskan bahwa: Setiap orang Kristen, dengan martabatnya sebagai pembaptis, terpanggil untuk menjadi misionaris dan murid yang ditugaskan. Pesan Paus ini mengandung arti untuk menebarkan kebahagiaan Injil dan memenuhi hati serta kehidupan setiap orang yang berjumpa dengan Yesus (lihat EG 1), serta menjadi saksi sukacita Injil dalam keluarga, komunitas, dan masyarakat tanpa rasa takut untuk menyuarakan keadilan dan mendampingi yang marginal serta miskin di zaman ini. Oleh karena itu, panggilan dan misi merupakan tugas yang terus-menerus berhadapan dengan tantangan dalam menyebarkan sukacita Injil dan menjadi ladang tempat kita dipanggil untuk menjadi gandum dan roti yang hidup bagi sesama demi kasih Allah yang beroperasi dalam kehidupan kita semua.
Menjadi Saksi Dalam Kehidupan Bersama
Menghadirkan diri sebagai saksi dalam kehidupan bersama tidak hanya terbatas pada ucapan, melainkan juga merupakan misi dan perutusan yang diemban oleh kita semua untuk mengalami kasih dalam karya dan pelayanan selama perjalanan hidup bersama kita. Dalam konteks ini, ada sebuah panggilan untuk menyatukan setiap individu sebagai bagian dari keluarga Kristus yang sejati. Misi dan perutusan kita berfungsi sebagai sarana dan sakramen persatuan dengan Tuhan, yang menjadi sumber dan tujuan dari kehidupan kita. Kesaksian hidup yang nyata sebagai saksi Kristus ditunjukkan melalui cara kita mencintai orang lain, mendengarkan mereka yang sedang menderita, dan berkomitmen pada hal-hal kecil.
Dalam hal ini, Injil Matius menekankan dengan jelas bahwa: Terangmu harus bersinar di depan orang lain, sehingga mereka dapat melihat amal baikmu dan memuliakan Bapamu yang ada di surga (lihat Mat 5:16). Selain itu, Paus Fransiskus dalam ensiklik Christus Vivit menyatakan bahwa: Kita harus tidak hanya menyampaikan kebenaran iman, tetapi juga memberikannya dengan penuh kasih (lih. CV 211). Ini menekankan pentingnya cara menyampaikan iman bukan hanya kebenarannya, tetapi juga bagaimana kita membagikannya, sukacita kasih dan rasa empati kepada sesama. Ini menunjukkan bahwa kita diajak untuk menjadi pribadi yang mencerminkan cahaya Kristus, bahkan ketika tidak ada orang lain yang melihat.
Kita dipanggil untuk mengambil bagian dalam dunia yang penuh tantangan, dengan misi untuk menciptakan suasana yang harmonis dan terpadu dalam menjalani hidup kasih dan pelayanan. Dengan menjalani panggilan untuk hidup dengan sederhana melalui kunjungan kasih terhadap sesama umat Kristus dan membuka diri untuk menjadi Gereja yang menyambut orang lain dalam rangka membangun iman Kristus yang sejati.
Harapan Hidup di Tengah Tantangan Zaman
Setiap individu memiliki harapan dalam menjalani misi dan panggilannya, yaitu untuk menyebarkan kebaikan dan kasih sayang Allah di dunia yang dipenuhi oleh beragam tantangan. Menghadapi rintangan dalam hidup adalah panggilan untuk memikul beban kehidupan, sebagaimana yang dinyatakan dalam Injil Matius; Siapa yang tidak membawa salibnya dan mengikuti Aku, tidak layak bagi-Ku (lihat Mat 10:38). Dalam konteks ini, Paus Benediktus XVI menegaskan dalam homilinya pada acara Misa Inagurasi Kepausannya pada 24 April 2005: Jangan ragu akan sesuatu; Kristus tidak akan pernah mengecewakan. Ia menantimu dengan tangan terbuka. Pesan ini sangat berarti dalam panggilan dan misi kita untuk tidak merasa takut atau ragu dalam mewartakan Yesus sebagai sumber hidup dan keselamatan bagi orang lain di zaman sekarang.
Paus mengingatkan kita semua untuk senantiasa membuka diri kepada orang lain dan menjadi pelaksana yang setia serta mematuhi perintah kasih Allah di tengah dunia yang selalu berubah ini. Oleh karena itu, panggilan dan misi merupakan harapan Gereja untuk menyebarkan sukacita dan belas kasih Allah kepada sesama di dunia ini. Ini juga menjadi panggilan untuk mengabarkan misi-Nya agar hidup kita menjadi alat dan tanda kasih Allah bagi mereka yang mendambakan keadilan, kedamaian, kesejahteraan, dan keselamatan, serta menjadi cahaya bagi sesama manusia di era ini. Harapan hidup kita bersandar pada panggilan dari kasih karunia Allah yang bertindak sesuai dengan kehendak-Nya, untuk membangun komunitas iman di tengah masyarakat, dan menghadirkan sukacita Kristus.
Kristus adalah harapan yang menjadi landasan utama Gereja dan menjadi sosok yang senantiasa bersamanya. Setiap aspek kehidupan kita adalah berkah yang diberikan Tuhan kepada kita melalui panggilan-Nya dan setiap misi kita di dunia saat ini, karena “Allah akan selalu menyertai kita hingga akhir zaman” (lihat Mat 28:20). Ini berarti bahwa dalam setiap hidup dan panggilan kita, kita diharapkan menjadi saksi Kristus yang mewartakan karya penyelamatan Allah dengan roh dan kebenaran serta mematuhi ketentuan dan perintah-Nya yaitu hidup dengan jujur, rendah hati, mengasihi, memaafkan, menolong, menjadi teladan bagi orang lain, serta membuka hati dan diri untuk mendengarkan sesama. Itulah harapan kita bersama dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia saat ini.
Penutup
Menjawab pada akhir tulisan ini, istilah panggilan dan utusan adalah dua kata yang mewakili inti dari misi kita semua di dunia ini. Kita diberi panggilan dan diutus bukan hanya untuk memahami makna hidup yang lebih dalam, tetapi juga untuk belajar menjadi pengikut dan penyebar kasih kepada sesama di era ini dengan terbuka. Oleh karena itu, kita semua diajak untuk mencintai panggilan-Nya, melangkah keluar dari kenyamanan kita, dan menjangkau seluruh umat manusia dengan cahaya Injil (lihat EG 20).
Ini adalah tanggung jawab kita dalam kehidupan, karena kita adalah milik Allah, dan misi kita adalah untuk menghidupkan semangat misi di tengah masyarakat saat ini. Dalam konteks ini, Kitab Suci Yesaya menegaskan: inilah aku, kirimlah aku (lihat Yes 6:8). Pesan dari Kitab Suci ini menyoroti pentingnya panggilan dan pengutusan kita ke tempat yang Dia cintai demi memuliakan nama Allah di zaman sekarang. Melalui Gereja, kita diajak untuk menghormati martabat hati nurani sebagai tempat suci di mana suara Allah terdengar dalam kehidupan bersama sebagai satu keluarga-Nya di dunia ini.




