BIARLAH YANG LEBIH BERKERINGAT JUARA KALI INI

KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Sepak bolah fair play ala kosmis kali ini demikian. Sepak bola akan menjadi sangat spektakuler dan kosmik jika finalnya adalah Belanda melawan Portugal. Demikian, argumen ‘mencoba bijakku’ pada fans-fans sepakbola di kelas kami. Meski, yang lain menimpaliku dengan, “Oh tidak bisa!!!
Percobaan bijak ini tentu tak bijak juga karena ia menindas elemen utama sepak bola: kompetisi. Siapa yang berjuang, siapa yang membangun kolektivitas bertahan dan menyerah serta penetrasi ke mulut gawang adalah yang pantas menang. Walaupun demikian, perasaan kita kerap ditindas oleh bundarnya bola yang menyimpan ketakterdugaan yang melawan arus pengalaman dan segala kalkulasi statistik.
Harapan final di atas mungkin tak adil untuk kebrilianan kolektif, kegeniusan individu dan kolektivitas par excellence dari Jepang. Ini juga mungkin sedikit meremehkan kolektivitas, kedisplinan passing dan penetrasi yang nyaris sempurna dari Prancis. Juga ini tak fair dengan Argentina dan sihir mistisnya Messi.
Namun, yang kunantikan adalah sepak bola menyerang bersama yang sangat antusias, atraktif, penetrative, lugas dan right to the goal dari Portugal dan Belanda. Selain demi alasan pure sepak bola, Alasan lainku adalah keadilan kosmis. Ini keadilan di luar untuk disebut melampaui keadilan hukum. Alam hanya adil jika kerja keras yang luar biasa plus bakat yang diwakili Ronaldo mendapat tempat hingga penghujung laga. Messi dan Argentina sudah mewakili bakat yang luar biasa plus kerja keras. Alam hanya adil jika Belanda yang telah enam kali masuk final bisa menjuarinya pula.
Namun jika Portugal masuk final, ia mewakili keharusan kosmis bahwa bakat dan kerja keras adalah unsur penting kehidupan. Bakat saja tak cukup. Kerja keras saja juga tak cukup. Jika Messi perwakilan bakat telah menjadi juara dunia, apakah sebuah permintaan jujur tak boleh dialamatkan pada semesta agar ini waktunya bagi kerja keras. Kemudian, jika Belanda masuk final, ia mewakili penggenapan asa yang diperjuangkan tanpa dihardik oleh kegagalan yang berentet. Ia memberi pukulan nasib yang kerap menghantui kehidupan. Kehidupan itu bervariasi dan pada waktunya asa tergenapkan.
Akan tetapi bola dari sepak bola di mata kalayak pada umumnya tetap dan selamanya bulat, bukan lonjong. Namun sejarah bercerita dan sebagian masih menyaksikan bahwa sepakbola itu tak hanya bersandar pada bundarnya bola. Dirty invisible hands selalu juga berpartisipasi di dalamnya. Hidup itu kerap tak adil dan nyaris absurd bagi yang kerap berakhir kalah ala Holland dan Portugal di piala dunia (upps maaf). Tak heran definisi hidup untuk sebagian adalah kegagalan tetapi untuk sebagian yang tak hidup benar adalah kesuksesan. Ketidakadilan kosmis demikian juga tetap menjadi salah satu mimpi yang kadang menghampiri perjalanan hidup. Hidup terkadang tragis hingga hayat berpulang pada sebagian, yang penjelasan filsafati yang paling dalam pun tak pernah membuka pintu maaf padanya.
Namun sepak bola mengajarkan asa yang nyaris tak memiliki rasa malu. Holland dan Portugal yang belum dipihaki alam semesta di world cup akan fight to the end of world soccer. Indonesia yang bukan ‘ras’ dan ‘gen’ (hahahaha) sepak bola tanpa malu mengajukan pertanyaan kapan kita masuk piala dunia sepak bola. Asa kerap bermata dua: tahu diri ala Holland dan Portugal dan tak tahu diri ala si pungguk kita ini. Namun asa itu adalah asa kehidupan. Ia adalah asa yang dititipkan semesta. Ia adalah asa yang tak pantas dilabeli skala moral-psikologis itu.
Sepakbola adalah cerminan passion dan interest yang harus diperjuangkan. Ia adalah cerminan dari bakat dan skill yang perlu diasa dan diasa. Apakah semua ini akan bermuara pada keberhasilan? Hasil kerap tak adil entah karena ketidakberuntungan, nasib atau perbuatan kotor.
Namun sepakbola modern dengan kolektivitas dari kesatuan bakat dan kerja keras menyimpan mimpi kita bersama. Jika ia menjadi mimpi bersama maka, mimpinya adalah berikan giliran pada kerja keras plus bakat, bukan untuk bakat plus kerja keras. Inilah permintaan giliran yang bukan tanpa alasan dan perjuangan pada sang semesta.
Impian mendalam adalah sesuatu yang amat mendasar, yakni agar kita terus dititipkan sebuah kebijaksanaan hidup. Tak ada hidup tanpa perjuangan dari sebuah kerinduan yang menitipkan kecerdasan psikomotoris pada DNA manusia. Tak ada hidup yang bermakna dari sebuah kerja pribadi tanpa mengindahkan kerja keras dan bakat sesama.
Pada titik ini sepakbola mengajarkan tentang perjuangan bersama meraih kesuksesan. Jangan individualisme bakat dan daya mengabsenkan peran yang lain meski diremehkan dengan ketidakbermaknaan anggapan kita. Kita sudah lama terjerambah dalam egoisme dan superiotas kultural, ras, geografis serta kuasa yang melembaga dalam psikis dan institusi. Darinya kita bukan sesame. Kita terbagi dalam kelas yang mentradisi, melembaga hingga membentuk kesadaran yang tinggal ditaati oleh lidah tak bertulang mulut kita untuk cerobong merendahkan yang lain.
Seperti sepakbola adalah bersama berlari, bersama memenangkan pertandingan dan bersama membiarkan yang paling tepat untuk menciptakan goal. Sepak bola juga adalah penjagaan bersama pada titik yang paling rapuh agar darinya kekalahan team tak terbuka lebar. Di sini maknanya meluas dan mendasar ke kehidupan secara umum. Bukankah kehidupan bersama adalah mengangkat kebersamaan pada sebuah kesuksesaan dan menjaga kebersamaan dari sebuah kejatuhan akibat tak diperhatikan yang rentan, lemah dan rapuh? Bukankah hidup bersama adalah mengapresiasi yang telah berkeringat dan yang berkemampuan brilian? Bukankah hidup bersama, yang kalah tak boleh diinjak dan yang menang tak boleh didewakan, yang berbuat salah tak boleh ditindas dan yang menang bukan yang ilahi?
Jadi, biarlah juara sepakbola kali ini adalah yang lebih mengandalkan keringat. Kali lain adalah yang mengandalkan bakat. Bukankah akan indah bahwa semuanya bersinar pada waktunya. Jika sang waktu belum bergeser ke zona keinginan luhur ini, maka biarlah asa tak dipadamkan waktu hingga nasar kosmik terbayar. Walahualam…Waaa….




