SATU HATI DALAM SYUKUR, SATU MISI DALAM KOLABORASI: PARA IMAM SCJ MENSYUKURI 25 TAHUN PERUTUSAN DI PAPUA
KEUSKUPAN TIMIKA.ORG – Para imam dari Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ) yang berkarya di Papua mengikuti retret tahunan selama enam hari di Pertapaan Puteri Karmel, Tampusu, Manado. Retret yang berlangsung pada 1–8 Agustus 2026 ini menjadi momentum istimewa karena sekaligus menjadi ungkapan syukur atas 25 tahun perutusan SCJ di Tanah Papua.
Retret tahunan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan religius para imam SCJ. Selama sepekan, mereka meninggalkan rutinitas pelayanan pastoral untuk memasuki suasana hening, doa, refleksi, dan pembaruan diri di hadapan Tuhan.
Bertempat di kawasan pegunungan dengan udara yang sejuk dan tenang, para peserta diajak untuk kembali menyegarkan panggilan hidup serta memperdalam relasi pribadi dengan Kristus sebagai sumber pelayanan.
Retret tahun ini dibimbing oleh P. FX Marmidi, SCJ, dosen Kitab Suci pada Seminari Tinggi Pematangsiantar, Sumatera Utara. Ia mengangkat tema “Satu Hati dalam Syukur, Satu Misi dalam Kolaborasi: Mensyukuri 25 Tahun Perutusan SCJ di Papua.”
Pada hari pertama, para peserta diajak merenungkan Mazmur 139 yang mengingatkan bahwa setiap pribadi telah dikenal, dikasihi, dibentuk, dan dipilih Allah sejak dalam kandungan.
Melalui refleksi tersebut, para imam diajak menyadari bahwa seluruh perjalanan panggilan merupakan buah kasih Allah yang selalu setia menyertai hidup manusia.
Hari kedua mengangkat kisah dua murid yang berjalan menuju Emaus (Luk. 24:13–35). Melalui kisah itu, para peserta diajak menyadari bahwa Kristus selalu hadir dan berjalan bersama umat-Nya, bahkan ketika mereka diliputi kebingungan, kekecewaan, atau kehilangan harapan.
Perjumpaan dengan Kristus yang bangkit menuntun para murid untuk membaca kembali pengalaman hidup mereka hingga hati mereka berkobar-kobar dan akhirnya mengenali Yesus dalam pemecahan roti.
Refleksi ini menjadi ajakan bagi setiap imam untuk terus berdialog dengan Tuhan dan memusatkan hidup pada Kristus agar iman dan panggilan terus bertumbuh.
Pada hari ketiga, pembimbing mengajak peserta merenungkan kisah Yesus yang menyembuhkan anak perempuan dari seorang wanita Siro-Fenesia (Mrk. 7:24–30).
Perjumpaan tersebut menunjukkan bahwa kasih Kristus melampaui segala batas suku, bangsa, maupun latar belakang. Para imam diajak membuka hati dan belajar mencintai semua orang tanpa sekat-sekat, sebagaimana Hati Kudus Yesus mengasihi seluruh umat manusia.
Hari keempat berpusat pada kisah Bartimeus, pengemis buta yang berseru memohon belas kasihan Yesus (Mrk. 10:46–52).
Dalam refleksi ini, peserta diajak melihat bahwa setiap orang memiliki “kebutaan” yang dapat menghalangi perjalanan iman dan pelayanan.
Seperti Bartimeus yang meninggalkan jubahnya lalu mengikuti Yesus, para imam pun diajak berani melepaskan segala penghalang yang menghambat mereka untuk semakin dekat dengan Tuhan.
Permohonan Bartimeus, “Rabuni, supaya aku dapat melihat,” menjadi doa setiap peserta agar senantiasa memiliki mata iman yang jernih dalam menjalankan perutusan.
Pada hari kelima, permenungan diambil dari kisah Yesus yang menampakkan diri kepada para murid di tepi Danau Tiberias (Yoh. 21:1–14).
Melalui kisah penangkapan ikan yang melimpah, para peserta diajak menyadari bahwa sebuah komunitas hanya akan hidup apabila anggotanya mau mendengarkan suara Tuhan, melaksanakan kehendak-Nya, serta semakin mengenal pribadi Yesus.
Semangat mendengarkan dan bekerja bersama inilah yang menjadi dasar kolaborasi dalam kehidupan religius maupun karya pastoral.
Pada hari terakhir retret, pembimbing mengajak peserta merenungkan pengalaman Yesus dimuliakan di Gunung Tabor (Mat. 17:1–9) serta panggilan para murid pertama (Luk. 5:1–11).
Puncak refleksi terletak pada sabda Bapa:
“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi… dengarkanlah Dia.”
Sikap mendengarkan Yesus dipandang sebagai keutamaan yang harus terus dipelihara dalam kehidupan sehari-hari.
Para imam juga diingatkan bahwa mereka dipanggil bukan menjadi “pemancing”, melainkan “penjala manusia”, yaitu menghadirkan keselamatan dan mengumpulkan umat agar semakin dekat dengan Allah.
Retret ditutup pada hari keenam dengan Perayaan Ekaristi bersama yang didahului pertemuan komunitas karya dan wilayah.
Setelah enam hari menjalani suasana hening (silentium), para imam menikmati waktu rekreasi bersama dengan melakukan snorkeling di Taman Laut Bunaken sebagai ungkapan syukur atas keindahan ciptaan Tuhan sekaligus mempererat persaudaraan.
Pada hari kedelapan, seluruh peserta kembali ke tempat perutusan masing-masing di Papua dengan hati yang diperbarui, semangat yang diteguhkan, dan komitmen yang semakin kuat untuk terus melayani Gereja.
Momentum syukur 25 tahun perutusan SCJ di Papua menjadi pengingat bahwa karya pewartaan Injil hanya dapat terus berkembang apabila dijalankan dalam semangat syukur, persaudaraan, dan kolaborasi.
Dengan hati yang terus dibentuk oleh Sabda Allah dan spiritualitas Hati Kudus Yesus, para imam SCJ diharapkan semakin setia menjadi pelayan kasih yang menghadirkan harapan, damai, dan sukacita bagi umat yang mereka layani. *** Y. HARYOTO, SCJ (DISUNTING)






