MEMPERBARUI KOMITMEN HIDUP BAKTI MENJADI PRIBADI YANG BAHAGIA, MENGINSPIRASI, DAN MENYEJAHTERAKAN
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Sebanyak 22 Suster SRM mengikuti retret tahunan yang berlangsung selama 12–16 Agustus 2026 di Rumah Retret KSED, Semarang. Retret yang dipimpin oleh Romo Aleksander Erwin Santoso, MSF ini menjadi kesempatan istimewa bagi para suster untuk memperdalam relasi dengan Tuhan, memperbarui semangat panggilan hidup bakti, sekaligus mempersiapkan empat suster yang akan memperbarui kaul dan tiga suster yang akan mengikrarkan kaul kekal.

Mengangkat tema “Pribadi yang Bahagia Menginspirasi dan Menyejahterakan”, seluruh rangkaian retret mengajak para peserta kembali menemukan sumber kebahagiaan sejati dalam kasih Allah. Melalui refleksi, doa, Ekaristi, dan keheningan, para suster diajak menjadi pribadi yang semakin dewasa secara rohani sehingga mampu menghadirkan sukacita, inspirasi, dan harapan bagi sesama dalam karya pelayanan.
Hari pertama retret mengangkat tema “Aku Dicintai” dengan dasar Sabda Tuhan dari Yeremia 31:3:
“Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal.”
Kebahagiaan sejati tidak bergantung pada harta benda, perhatian manusia, ataupun keadaan hidup yang selalu menyenangkan. Kebahagiaan yang sejati lahir dari relasi yang mendalam dengan Tuhan yang senantiasa mengasihi manusia tanpa syarat.
Kasih Allah tidak pernah berubah meskipun manusia mengalami kelemahan, kegagalan, kekecewaan, maupun kesendirian. Kesadaran sebagai pribadi yang lebih dahulu dicintai Allah menjadi dasar bagi setiap religius untuk tetap bersyukur, berharap, dan mengasihi sesama dengan tulus.
Melalui doa, perayaan Ekaristi, dan refleksi, para peserta diajak menemukan kembali sukacita hidup sebagai pribadi yang tinggal dalam kasih Tuhan.

Pada hari kedua, mengangkat tema “Aku Pribadi Utuh: Berdamai dengan Diri Sendiri.”
Perjalanan hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Setiap orang memiliki pengalaman kegagalan, kehilangan, luka, maupun berbagai kenyataan hidup yang harus diterima dengan iman.
Berdamai dengan diri sendiri bukan berarti menyetujui semua pengalaman masa lalu, melainkan memilih untuk tidak lagi hidup dalam penyesalan dan terus-menerus diperbudak oleh luka batin.
Para suster diajak menerima diri secara utuh dengan segala kelebihan dan keterbatasan, sambil mempercayakan seluruh perjalanan hidup kepada penyelenggaraan Tuhan. Kesadaran bahwa Allah tetap mengasihi manusia apa adanya menjadi kekuatan untuk mengampuni diri sendiri, meninggalkan masa lalu, serta melangkah menuju masa depan dengan hati yang damai.

Memasuki hari ketiga, retret berfokus pada tema “Tiga Kaul, Satu Hati”, yang mengajak untuk memperdalam makna hidup bakti melalui tiga kaul religius.
Dalam permenungan tersebut ditegaskan bahwa kaul kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan bukanlah tiga bentuk kehilangan, melainkan tiga jalan menuju kebebasan sejati dalam mengikuti Kristus.
Kaul kemurnian dipahami sebagai panggilan untuk mencintai dengan hati yang lebih luas tanpa memiliki. Kaul kemiskinan mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada kepemilikan harta, melainkan pada Tuhan sebagai sumber kecukupan hidup. Sementara itu, kaul ketaatan menjadi jalan untuk menemukan kebebasan sejati melalui penyerahan kehendak pribadi kepada kehendak Allah.
Melalui ketiga kaul tersebut, para suster diajak mempersembahkan seluruh hidup mereka kepada Tuhan dengan sukacita sehingga semakin menyerupai Kristus yang datang untuk melayani.
Retret tahunan ini menjadi momentum pembaruan hidup rohani bagi seluruh peserta. Selain memperdalam kehidupan doa dan refleksi Kitab Suci, retret juga menjadi persiapan batin bagi empat suster yang akan memperbarui kaul serta tiga suster yang akan mengikrarkan kaul kekal sebagai ungkapan penyerahan diri secara total kepada Tuhan.
Melalui keheningan, doa pribadi, perayaan Ekaristi, dan pendalaman spiritualitas, para peserta diharapkan semakin diteguhkan dalam panggilan religius untuk hidup setia kepada Kristus dan melayani Gereja dengan penuh sukacita.
Dengan hati yang terus diperbarui oleh kasih Allah, para Suster SRM dipanggil menjadi pribadi-pribadi yang bahagia, mampu menginspirasi sesama, serta menghadirkan kesejahteraan melalui pelayanan kasih di tengah Gereja dan masyarakat. *** SR. AGNITA DEGEI, SRM





