Majalah Gaiya

25 IMAM DIOSESAN TIMIKA AKAN RETRET DI KEI

TIMIKA, KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Sebanyak 25 imam projo/diosesan Keuskupan Timika akan mengikuti retret tahunan di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, yang dikenal luas sebagai “tanah para martir” sekaligus salah satu pusat sejarah penting perkembangan Gereja Katolik di Indonesia Timur dan Papua.

Rombongan para imam dijadwalkan berangkat dari Timika menggunakan kapal laut pada Minggu, 9 Agustus 2026, dan diperkirakan tiba di Kei pada Senin, 10 Agustus 2026. Kegiatan akan berlangsung hingga 15 Agustus 2026 dengan pendamping rohani Pastor Agus Ulahai, Pr.

Retret tahun ini mengusung tema “Suka Duka Pelayanan Para Imam Diosesan”, sebuah tema yang hendak mengajak para imam merefleksikan perjalanan panggilan, tantangan pastoral, luka dan harapan, serta kesetiaan dalam melayani umat Allah di Tanah Papua.

P. Bryan Gwijangge, Pr. salah satu pengurus Unio Keuskupan TImika ketikadiwawancarai di Timika, 7/8/2026. (Foto: Jimmy Rahadat).

Salah satu pengurus Unio Keuskupan Timika, Pastor Bryan Gwijangge, Pr, mengatakan bahwa retret ini merupakan agenda tahunan para imam projo yang menjadi ruang untuk memperbarui semangat pelayanan dan mempererat persaudaraan imamat.

“Retret ini adalah agenda tahunan para imam projo/diosesan Timika. Kami berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan lancar dan menjadi kesempatan bagi para imam untuk memperoleh semangat baru dalam menata masa depan pelayanan,” ujar Pastor Bryan.

Retret, Napak Tilas Sejarah, Live In dan Rekreasi Bersama

Berbeda dari retret biasa, kegiatan di Kei akan dipadukan dengan beberapa agenda pastoral dan persaudaraan. Selain sesi retret dan pendalaman rohani, para imam juga akan melakukan napak tilas sejarah Gereja Katolik di Kei dan Papua, live in bersama umat, rekreasi bersama, serta rapat evaluasi Unio Imam Diosesan Timika.

Napak tilas sejarah ini dipandang penting karena Kei memiliki hubungan yang sangat erat dengan sejarah awal misi Katolik di Papua. Berdasarkan catatan sejarah Keuskupan Timika, setelah Prefektur Apostolik Nederland Nieuw Guinea dipercayakan kepada para misionaris MSC pada tahun 1902, Langgur di Kepulauan Kei menjadi pusat misi yang menjangkau Papua. Dari basis misi inilah kemudian lahir berbagai karya pewartaan yang akhirnya mencapai wilayah Mimika dan pedalaman Papua.

Sejarah Keuskupan Timika mencatat bahwa pada 9 Mei 1927, Mgr. J. Aerts, MSC bersama para misionaris dan guru-guru asal Kei mendarat di Kokonao, Mimika, menandai babak penting perkembangan Gereja Katolik di wilayah yang kini menjadi Keuskupan Timika. Peran orang-orang Kei dalam pendidikan, katekese, dan pelayanan awal di Papua menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah iman umat di Tanah Papua.

Melanjutkan Tradisi Retret di Kei, Tanah Para Martir dan Tulang Punggung Gereja Timur

Dalam tradisi Gereja Indonesia Timur, Kepulauan Kei sering dikenang sebagai tanah yang subur oleh kesaksian iman dan pengorbanan para pewarta Injil. Wilayah Kei bersama Tanimbar dan Maluku Tenggara juga dikenal sebagai salah satu basis Katolik tertua dan terkuat di Indonesia. Keuskupantimika.org dalam refleksi sejarahnya menyebutkan bahwa wilayah timur Nusantara, termasuk Kei, menjadi tulang punggung pertumbuhan Gereja Katolik Indonesia dan memainkan peranan besar dalam perkembangan misi ke Papua.

Karena itu, memilih Kei sebagai tempat retret bukan sekadar mencari suasana tenang, tetapi juga sebuah ziarah rohani ke akar sejarah Gereja Papua—tempat di mana jejak para misionaris, guru, katekis, dan umat sederhana pernah menyalakan terang Injil yang kemudian menjangkau Mimika, Paniai, Kamuu-Mapia, Asmat, dan berbagai wilayah lain di Tanah Papua.

Rencana retret tahun ini juga melanjutkan tradisi yang sudah dibangun sebelumnya. Pada tahun sebelumnya, ADIOS (Asosiasi Imam Diosesan) Keuskupan Timika juga melaksanakan retret di Kepulauan Kei. Pengalaman tersebut dinilai memberi dampak positif bagi kehidupan rohani dan persaudaraan para imam, sehingga Kei kembali dipilih sebagai tempat perjumpaan, refleksi, dan pembaruan.

Di tengah dinamika pelayanan Gereja di Papua yang penuh tantangan—mulai dari luasnya wilayah pastoral, keterbatasan sarana, hingga pergumulan sosial masyarakat—retret ini diharapkan menjadi ruang hening untuk mendengarkan kembali suara Tuhan.

Selama enam hari di Kei, para imam akan berjalan dari keheningan retret menuju perjumpaan dengan umat, dari sejarah menuju refleksi masa depan, dan dari persaudaraan menuju pembaruan pelayanan.

Semoga ziarah rohani para imam diosesan Timika di tanah para martir ini menjadi sumber rahmat baru bagi para gembala dan bagi seluruh umat Keuskupan Timika, agar pelayanan Gereja di Tanah Papua terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih.(JIM)

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button