Majalah Gaiya

MARRIAGE ENCOUNTER: LAHIR DARI KEPRIHATINAN, BERTUMBUH MENJADI GERAKAN PEMBINAAN KELUARGA KATOLIK DI TIMIKA

KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi keluarga-keluarga Katolik dewasa ini, Komunitas Marriage Encounter (ME) hadir sebagai salah satu sarana pembinaan yang membantu pasangan suami istri membangun relasi yang sehat, mendalam, dan berakar pada iman. Gerakan yang kini berkembang di Keuskupan Timika ini memiliki sejarah panjang yang berawal dari sebuah keprihatinan seorang imam muda di Spanyol.

Marriage Encounter lahir di Spanyol pada tahun 1952 atas prakarsa Pastor Gabriel Calvo, seorang imam diosesan yang saat itu bertugas sebagai pembimbing rohani di sebuah sekolah menengah atas. Dalam pelayanannya, Pastor Calvo sering menjumpai berbagai bentuk kenakalan remaja, mulai dari malas belajar, terlambat datang ke sekolah, berkelahi, melawan guru, hingga perilaku menyimpang dan penyalahgunaan minuman keras.

Keadaan tersebut mendorongnya untuk mencari akar persoalan yang dialami para remaja itu. Ia kemudian mulai mengundang para orang tua siswa untuk berdialog mengenai perkembangan anak-anak mereka. Dalam setiap pertemuan, Pastor Calvo memberikan sejumlah pertanyaan untuk didiskusikan kembali oleh pasangan suami istri di rumah. Tanpa disadari, cara sederhana ini justru membantu banyak pasangan memperbaiki komunikasi dan relasi dalam keluarga.

Dari pengalaman tersebut, pada tahun 1962 Pastor Gabriel Calvo menyelenggarakan retret akhir pekan pertama bagi 28 pasangan suami istri di Barcelona dengan nama Encuentro Conjugal. Retret inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya gerakan Marriage Encounter yang kini telah berkembang ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia sejak tahun 1975.

Di Keuskupan Timika, Marriage Encounter mulai hadir pada tahun 2023 dan terus berupaya memperkenalkan nilai-nilai luhur Sakramen Perkawinan kepada umat.

Gerakan Awam yang Mendukung Kesucian Hidup Keluarga

Marriage Encounter bukanlah sebuah organisasi, melainkan sebuah gerakan awam dalam Gereja Katolik yang bertujuan membantu pasangan suami istri menghayati panggilan hidup perkawinan secara lebih mendalam. Gerakan ini juga memberikan ruang bagi para imam serta kaum religius untuk memperdalam pengenalan diri dan meningkatkan kualitas relasi melalui dialog yang sehat.

Secara internasional, Marriage Encounter telah berkembang di berbagai belahan dunia dan memiliki enam sekretariat regional, yakni Asia, Afrika, Eropa, Pasifik, Amerika Utara, dan Amerika Latin.

Pengakuan resmi Gereja terhadap gerakan ini semakin ditegaskan ketika pada tahun 2018 Marriage Encounter diterima dan diapresiasi oleh Paus Fransiskus serta masuk dalam lingkup pelayanan keluarga di Vatikan. Dengan demikian, Worldwide Marriage Encounter secara resmi diakui sebagai salah satu gerakan Gereja Katolik yang berkontribusi dalam pembinaan keluarga dan kehidupan menggereja.

Proses Pembinaan yang Berkelanjutan

Meskipun bukan organisasi formal, Marriage Encounter memiliki struktur pelayanan yang tertata mulai dari tingkat internasional hingga komunitas lokal. Di Indonesia terdapat Koordinator Nasional (Kornas), Koordinator Wilayah (Korwil), Koordinator Distrik (Kordis), dan Koordinator Satelit (Korsat). Saat ini, Timika berstatus sebagai Koordinator Satelit.

Tahap awal pembinaan dalam Marriage Encounter adalah mengikuti Weekend ME, yakni pertemuan intensif selama tiga hari pada akhir pekan. Dalam kegiatan ini peserta diajak untuk semakin mengenal diri sendiri, memahami pasangan, serta belajar membangun komunikasi yang jujur dan mendalam.

Selain itu, peserta memperoleh pendalaman mengenai prinsip-prinsip hidup perkawinan Katolik, seperti memahami bahwa cinta bukan hanya soal perasaan, melainkan sebuah keputusan untuk setia dan bertumbuh bersama. Relasi yang sehat juga dibangun atas dasar kepercayaan, keterbukaan, dan keberanian untuk mengambil risiko dalam kasih.

Salah satu nilai utama yang ditekankan dalam pembinaan ME adalah menjadikan dialog sebagai way of life, yaitu cara hidup sehari-hari dalam relasi suami istri maupun dalam kehidupan bersama.

Setelah mengikuti Weekend ME, peserta tetap mendapatkan pendampingan dan pembinaan lanjutan melalui komunitas-komunitas yang dibentuk di paroki masing-masing. Pertemuan rutin dan latihan dialog menjadi sarana untuk menjaga pertumbuhan relasi yang telah dibangun.

Siapa Saja yang Dapat Mengikuti Marriage Encounter?

Sasaran utama Marriage Encounter adalah pasangan suami istri Katolik yang telah menjalani kehidupan perkawinan sekurang-kurangnya tiga tahun. Selain itu, para imam, biarawan, dan biarawati yang telah menjalani hidup imamat atau kaul kekal selama minimal tiga tahun juga dapat mengikuti program ini.

Pasangan non-Katolik tetap diperkenankan mengikuti Weekend ME dengan ketentuan bahwa mayoritas peserta berasal dari kalangan Katolik.

Keterlibatan para imam dan kaum religius dalam Marriage Encounter menunjukkan bahwa perjalanan menuju kekudusan merupakan panggilan bersama seluruh anggota Gereja. Keluarga, imam, dan kaum religius dipanggil untuk saling mendukung dalam membangun Gereja yang hidup dan penuh kasih.

Menjadi Berkat bagi Gereja dan Masyarakat

Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa pembinaan dalam Marriage Encounter tidak hanya membantu mempererat hubungan suami istri, tetapi juga berdampak pada kehidupan keluarga secara keseluruhan. Relasi antara orang tua dan anak menjadi lebih sehat, komunikasi semakin terbuka, dan anggota keluarga belajar menyelesaikan persoalan tanpa saling melukai.

Di sisi lain, banyak anggota Marriage Encounter yang kemudian menjadi pelayan Gereja maupun tokoh masyarakat yang mampu memberikan teladan dalam kehidupan sosial dan pastoral.

Meski demikian, tantangan terbesar yang masih dihadapi adalah memperkenalkan gerakan ini kepada lebih banyak umat. Hingga kini, mencari peserta untuk setiap Weekend ME masih menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Pada pelaksanaan Weekend ME angkatan keenam di Timika, misalnya, kegiatan tersebut diikuti oleh dua imam dan enam pasangan suami istri.

Karena itu, diharapkan para imam, pengurus paroki, dan seluruh umat Katolik semakin mengenal serta memanfaatkan Marriage Encounter sebagai salah satu sarana pembinaan iman dan kaderisasi umat. Gerakan ini dapat menjadi jalan yang membantu keluarga-keluarga Katolik bertumbuh dalam kasih, dialog, dan kesetiaan, sehingga mampu menjadi saksi Kristus di tengah Gereja dan masyarakat.

Semoga semakin banyak pasangan suami istri membuka hati untuk mengalami keindahan relasi perkawinan melalui pembinaan Marriage Encounter, sebuah pintu yang terbuka bagi mereka yang ingin membangun keluarga yang kokoh, bahagia, dan berakar dalam iman. *** Y.HARYOTO, SCJ

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button