Majalah Gaiya

ZIARAH MERAWAT AKAR DAN MEMBURU FAJAR BUDI DI PENJARA TANPA PAGAR

Kabar gembira datang dari Kuil Fajar Timur di Bukit Hening Padang Bulan, Jayapura-Papua. Senin, 26 Mei 2026 Frater Yulianus Kadepa Pr kembali menghadirkan bacaan menarik dalam bukunya yang berjudul “MERAWAT AKAR, MENJEMPUT FAJAR: Rekam Jejak Empat Tahun Mencintai Papua Melalui Kata dan Pena” (Beta, 2026). Frater Yulianus Kadepa adalah adik tingkat saya sejak di Seminari Menengah St. Fransiskus Asisi Waena-Jayapura hingga Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur (STFT FT), Abepura, Jayapura-Papua. Saya mengenalnya sebagai sosok dengan rasa mau maju yang gigih.

Sejak dulu ia sangat dekat dengan saya. Dan, saya sangat bersyukur memiliki saudara sepanggilan sepertinya, yang dengan kerendahan hati, mau memberikan diri dibentuk oleh segala macam bentuk tempaan, proses, dan waktu yang berliku. Akhirnya, sebagian kecil dari proses penempaan yang panjang  itu berhasil ia abadikan dalam bukunya kali ini.

Saya tentu sangat mengapresiasi kegigihan Frater Kadepa dan menyambut hangat kehadiran buku keempatnya ini.  Dan saya pun meletakkan buku-buku Frater Kadepa sebagai narasi perjuangan intelektual muda Papua merebut kembali kendali atas hak kekayaan intelektual Papua.  Frater Kadepa menulis dalam disposisi batinya sebagai orang asli Papua yang mengalami segala bentuk perundungan sistemik negara dan kroni-kroninya. Kemudian ia mulai mengambil langkah kritis untuk membentangkan dan mengekspresikan gelora nalar dan nuraninya yang tak henti-hentinya memberontak itu lewat litani literasi yang mencerahkan.

Sinopsis Buku

Judul:  MERAWAT AKAR, MENJEMPUT FAJAR

Penulis: Yulianus Kebadabi Kadepa

Kata Pengantar: Frater Siorus Ewanaibi Degei, S.S

Sambutan: Ben Senang Galus

Penerbit: BETA, Yogyakarta

Cetakan tiga: Oktober 2023

Tebal: 239 halaman

Harga: Rp. 100.000

Garis Besar Isi Buku

Buku ini berisi tujuh bagian besar (BAB). Setiap bab berisi tulisan refleksi penulis di bidang teologis, pastoral, sosial, ekonomi, dan politik. Sehingga buku ini berwujud “antologi reflektif dan puisi” penulis.

Bagian pertama (BAB I) Memori dan Akar Pengabdian. Bab ini menyajikan sejumlah refleksi dan opini penulis terkait pengalaman hidup, pendidikan, pembentukan karakter, dan kesadaran sosial di Papua, khususnya dalam konteks seminari dan kehidupan sehari-hari.

Bagian kedua (BAB II) GERTAK (Gerakan Tungku Api Kehidupan): Kedaulatan dan Pangan. Bab ini membahas Gerakan Tungku Api (GERTAK) sebagai model pastoral kontekstual yang berakar pada praktik “kerja kebun” serta pewarisan nilai-nilai ekologis dan kultural di lingkungan Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru (STIYB). Gerakan (Tungku Api) ini tidak hanya dipahami sebagai program ketahanan pangan, tetapi sebagai spiritualitas hidup yang menyatukan iman, budaya, dan tanggung jawab ekologis dalam konteks Gereja lokal Papua.

Bagian ketiga (BAB III) Teologi Pembebasan dan Jeritan Papua. Bab ini memuat sejumlah opini, artikel, refleksi teologis, dan karya ilmiah yang berupaya membaca realitas penderitaan dan perjuangan orang Papua secara multidisipliner dalam terang Kitab Suci, teologi kontekstual, filsafat, humaniora, hingga refleksi sosial-politik. Keseluruhan tulisan dalam bab ini menempatkan penderitaan bukan sekadar fakta historis, tetapi sebagai locus theologicus, yakni ruang perjumpaan antara iman, keadilan, dan tanggung jawab moral.

Bagian keempat (BAB IV) Pena Perdamaian: Mengenang Pastor Dr. Neles Kebadabi Tebay Pr. Pada bagian ini, penulis berupaya menelusuri serta mendalami jejak pemikiran dan perjuangan Pastor Neles Kebadabi Tebay, khususnya gagasannya tentang dialog antara Jakarta dan Papua (Papua-Jakarta dan Jakarta-Papua) sebagai jalan etis dan bermartabat menuju perdamaian. Sebagai imam, intelektual, dan pejuang kemanusiaan, Pater Neles menempatkan dialog sebagai fondasi transformasi sosial-politik di Tanah Papua.

Bagian kelima (BAB V)  Gembala di Tengah Konflik: Sosok Pastor Yance Wadogoubi Yogi Pr.

Bab ini menguraikan refleksi teologis dan pastoral mengenai sosok Pastor Yanuarius Wadogoubi Yogi sebagai Imam Dekan Dekenat Moni-Puncak. Fokus pembahasan bab ini  menyoroti pengalaman pewartaan, keberanian pastoral, serta makna teologis pelayanannya di wilayah konflik, khususnya di Intan Jaya.

Bagian keenam (BAB VI) Misi Kemanusiaan di Arso 06 Keerom.  Bab ini menguraikan pengalaman penulis selama masa pembentukan rohani dalam asistensi dan penelitian di Arso 6, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, khususnya di Biara Susteran PRR. Fokus pembahasan mencakup dinamika pendampingan pastoral, pelayanan kemanusiaan, serta refleksi kritis atas situasi sosial yang dihadapi para pengungsi asal Intan Jaya.

Bagian ketujuh (BAB VII) Kidung dari Tanah Suci (Kumpulan Puisi). Pada bagian ini, penulis menghimpun sejumlah puisi yang merefleksikan pengalaman iman, pergulatan sosial, serta realitas kemanusiaan di Tanah Papua. Puisi-puisi ini tidak hanya bersifat ekspresif dan kontemplatif, tetapi juga memuat dimensi profetis sebagai suara nurani atas situasi Gereja dan masyarakat.

Demikian barangkali cuplikan singkat dari ziarah intelektual Frater Yulianus Kadepa dalam karya pustakanya yang kesekian kalinya ini. Ia berusaha merawat akar intelektualitas dan terus berjuang meraih fajar akal budi yang mencerahkan dan membebaskan tidak saja dirinya, tetapi sesamanya, tanah pusaka, dan alam tercintanya Papua. Semoga Frater Kadepa selalu sehat jasmani-rohani seraya terus produktif menghasilkan bacaan-bacaan penting bagi manusia dan tanah Papua. (*)

PENULIS: FR. SIORUS EWAINAIBI DEGEI

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button