PEKERJAAN ADALAH KEPERCAYAAN: MELAYANI DENGAN HATI DI TANAH PAPUA
Oleh: RD. Benny Magay
Pekerjaan dan kepercayaan merupakan dua hal yang berbeda, tetapi keduanya saling berkaitan. Apabila pekerjaan dihayati sebagai sebuah kepercayaan dan dijalankan dengan kesetiaan, pekerjaan itu akan menjadi sesuatu yang mulia. Kesetiaan dalam bekerja tidak hanya memberikan kontribusi positif bagi pribadi yang menjalankannya, tetapi juga membawa manfaat bagi orang-orang yang menerima pelayanan.
Papua telah menjadi tanah idaman dan tanah yang memiliki daya tarik tersendiri bagi banyak kalangan, termasuk pemerintah dan para pencari kerja. Tanah ini dipandang menjanjikan kesejahteraan, bahkan sering diibaratkan sebagai tanah yang berlimpah susu dan madu. Berbagai peluang kerja dan kebijakan pembangunan, termasuk Otonomi Khusus, turut membuka ruang bagi banyak orang untuk berkarya dan mengembangkan kehidupan di Papua.
Namun, dalam kenyataannya, tidak semua orang memandang pekerjaan dengan cara yang sama. Ada yang datang ke Papua dengan melihat pekerjaan terutama sebagai kesempatan memperoleh penghasilan. Sebaliknya, ada pula yang memandang pekerjaan sebagai kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk mengembangkan potensi, kemampuan, dan memberikan pelayanan kepada sesama. Perbedaan cara pandang ini penting untuk direnungkan, sebab pekerjaan bukan hanya tentang apa yang diperoleh, melainkan juga tentang apa yang dapat diberikan.
Di sisi lain, kebijakan Otonomi Khusus memberikan ruang dan kesempatan bagi Orang Asli Papua (OAP) untuk terlibat dalam pembangunan dan memperoleh peran di tanahnya sendiri. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat berbagai persoalan dan ketidakjelasan. Situasi ini menimbulkan kebingungan, terutama ketika masyarakat Papua masih merasa bahwa kesempatan dan kepercayaan yang seharusnya diberikan kepada mereka belum sepenuhnya terwujud. Karena itu, pekerjaan dan jabatan perlu dipahami bukan semata-mata sebagai kedudukan, melainkan sebagai tanggung jawab untuk membangun dan melayani masyarakat.
Dari dua cara pandang tersebut, setiap orang yang bekerja di tanah Papua, baik OAP maupun non-OAP, diajak untuk melakukan refleksi diri. Pekerjaan hendaknya dijalankan dengan hati yang tulus dan semangat melayani. Apabila orientasi utama hanya tertuju pada keuntungan ekonomi, pelayanan kepada masyarakat dapat kehilangan sentuhan kemanusiaannya. Padahal, pekerjaan yang dipercayakan kepada seseorang semestinya menghadirkan kebaikan, terutama bagi mereka yang membutuhkan perhatian dan pelayanan.
Di enam provinsi serta berbagai kota dan kabupaten di Tanah Papua, masih terdapat kesan bahwa Papua lebih sering dipandang sebagai tempat mencari penghasilan daripada ruang pengabdian. Ketika uang dan kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada pelayanan, masyarakat dapat merasa diabaikan. Situasi semacam ini berpotensi menimbulkan ketegangan dan konflik, serta membuat Orang Asli Papua belum sepenuhnya merasakan manfaat dari pekerjaan dan pelayanan yang dilakukan oleh mereka yang diberi kepercayaan dan tanggung jawab.
Oleh karena itu, saya menawarkan tiga hal untuk direnungkan bersama:
- Bekerjalah dengan hati. Siapa pun yang bekerja dengan hati tulus di Bumi Cenderawasih akan menghadirkan berkat, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi sesama. Kebaikan yang dilakukan dengan ketulusan akan meninggalkan warisan nilai bagi generasi berikutnya.
- Pandanglah pekerjaan sebagai kepercayaan. Orang yang melihat pekerjaannya sebagai kepercayaan akan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Ia tidak hanya mengejar kedudukan atau keuntungan, tetapi berusaha menjadi pribadi yang berguna bagi masyarakat dan alam. Pekerjaan adalah kesempatan untuk melayani, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan perhatian.
- Jalankan tanggung jawab dengan tulus di mana pun berada. Baik di lingkungan pemerintahan, swasta, maupun bidang pekerjaan lainnya, setiap orang dipanggil untuk memberikan pelayanan terbaik. Ketulusan dan tanggung jawab dalam bekerja akan mendapat penghargaan dari Tuhan, alam, dan masyarakat, termasuk Orang Asli Papua, baik terhadap sesama OAP maupun non-OAP.
Pada akhirnya, pekerjaan dan kepercayaan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan hati tulus. Kepercayaan yang diberikan oleh mereka yang memiliki wewenang harus dijawab dengan tanggung jawab, sedangkan masyarakat yang dilayani harus merasakan manfaat nyata dari pekerjaan tersebut. Dengan demikian, siapa pun yang bekerja di tanah Papua tidak hanya hadir untuk mencari nafkah, tetapi juga untuk membangun kehidupan bersama, merawat alam, dan menghadirkan kesejahteraan bagi semua.*)




