PAROKI MISI DOMESTIK KAJ BOMOMANI: MENYEMAI SEMANGAT LITURGI DI TANAH MISI
BOMOMANI, KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Pada hari Sabtu, 31 Oktober 2026, Paroki Bomomani menyelenggarakan pertemuan katekese umat dengan tema “Sosialisasi Tata Perayaan Ekaristi (TPE) 2020”. Bagi umat di perkotaan, sosialisasi ini mungkin dapat dianggap terlambat. Akan tetapi, bagi umat di pedalaman, kegiatan ini merupakan sebuah tanda kemajuan dalam kehidupan iman. Sosialisasi tersebut diikuti oleh para katai (katekis) dari hampir seluruh stasi serta umat yang memiliki ketertarikan terhadap liturgi. Sebagai pastor paroki, Rm. Pras berusaha menjelaskan kepada umat berbagai hal yang mengalami perubahan dalam TPE dibandingkan dengan tata perayaan sebelumnya.
Dalam pemaparannya, Rm. Pras memberikan sebuah perumpamaan yang sangat indah tentang Perayaan Ekaristi. Ia mengibaratkan Ekaristi sebagai sebuah ‘tungku api’. Istilah tungku api sangat dikenal oleh umat di Keuskupan Timika. Biasanya, tungku api terletak di bagian tengah rumah umat, terutama bagi mereka yang masih tinggal di rumah tradisional. Ketika malam tiba dan suasana menjadi gelap, mereka berkumpul bersama sebagai satu keluarga mengelilingi tungku api. Sambil menanti makanan yang dimasak, orang tua menyampaikan nasihat kepada anak-anak, menceritakan berbagai kisah pada malam hari, kemudian mengakhiri kebersamaan tersebut dengan doa dan makan malam bersama. Demikian pula halnya dengan Perayaan Ekaristi! Ekaristi menjadi momen ketika umat berkumpul bersama mengelilingi meja perjamuan Tuhan dan mendengarkan nasihat melalui Sabda Allah. Perayaan Ekaristi merupakan kesempatan bagi kita untuk berhimpun sebagai satu keluarga Allah. Oleh karena itu, keseragaman dalam merayakan Ekaristi menjadi tanda persatuan kita sebagai satu keluarga Allah.
Kegiatan sosialisasi ini diakhiri dengan sesi tanya jawab serta pertemuan antara pastor paroki dan para katai.
Pada hari yang sama, tepatnya pada sore hari, Fr. Rian turut memberikan pembinaan liturgi kepada para misdinar. Dalam kesempatan tersebut, Fr. Rian berusaha memperkenalkan berbagai perlengkapan dan busana liturgi yang menjadi pengetahuan dasar dan wajib dipahami oleh para misdinar. Kegiatan ini tidak hanya diperuntukkan bagi para misdinar yang telah dilantik, tetapi juga menjadi pembekalan pertama bagi para calon misdinar yang dalam waktu dekat akan dilantik. Melalui pembinaan ini, seluruh misdinar diharapkan mempunyai pemahaman yang memadai mengenai pelayanan yang mereka jalankan dalam Perayaan Ekaristi.

Pada penghujung pertemuan bersama para misdinar, Fr. Rian menayangkan sebuah video singkat tentang Mukjizat Ekaristi. Penayangan video tersebut bertujuan untuk menyadarkan para misdinar bahwa tugas yang mereka jalankan bukanlah sesuatu yang sederhana. Pelayanan mereka sungguh luhur karena mereka melayani “misteri yang agung ketika Surga dan dunia bertemu”. Para misdinar merupakan pelayan dari misteri yang agung tersebut! Oleh sebab itu, tugas sebagai misdinar tidak sesederhana seperti yang tampak oleh mata jasmani, melainkan memiliki keluhuran yang besar apabila dipandang melalui mata iman. Fr. Rian juga meyakini bahwa keterlibatan dalam organisasi misdinar bukan sekadar menjadi bagian dari kelompok orang yang ingin mengenakan jubah dan melayani di altar. Sebaliknya, bergabung dalam organisasi misdinar juga merupakan sebuah panggilan untuk bersedia dibina dan dididik dalam iman. Dengan demikian, kegiatan misdinar sekaligus menjadi sarana pendidikan iman. Melalui keikutsertaan dalam organisasi ini, para misdinar diharapkan semakin berkembang dalam kehidupan iman mereka.
Menjelang akhir pertemuan, Fr. Rian mengadakan kuis bagi para misdinar yang hadir. Apabila mereka berhasil menjawab pertanyaan dengan benar, Fr. Rian akan memberikan hadiah sederhana yang dapat menunjang pendidikan mereka di sekolah.
Pada akhirnya, marilah kita kembali merenungkan warisan Konsili Vatikan II bagi kita semua. Para Bapa Konsili menyatakan bahwa “dalam Liturgi di dunia ini kita ikut mencicipi Liturgi Surgawi, yang dirayakan di kota suci Yerusalem, tujuan peziarahan kita” (SC art. 8). Melalui perayaan liturgi, khususnya Ekaristi, sesungguhnya kita telah mencicipi kehidupan yang akan kita alami kelak, yakni kebahagiaan abadi bersama Bapa di Surga. Oleh karena itu, marilah kita merayakan dan melayani Ekaristi dengan penuh semangat karena di sanalah kita melayani Pribadi yang merupakan sumber sekaligus tujuan hidup kita. *** Rm. I. Prasetya H. W., Pr (Pastor Paroki Bomomani)




