Warta Paroki

MISA SYUKUR DAN NAMA ADAT: PASTOR YOHANES KAYAME DIANUGERAHI GELAR AWEGADA WIYAI

KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Di bawah langit yang semula mendung, namun kemudian merekah oleh cahaya mentari yang hangat, umat Katolik dari berbagai penjuru Dekenat Paniai berkumpul dalam satu sukacita iman: merayakan Misa Perdana Pastor Yohanes Kayame, Pr, pada Minggu, 26 Oktober 2025.

Sekitar 300 umat memadati halaman Gereja Santo Antonius Padua Yagai, menyambut imam baru dengan tarian adat suku Mee yang menggema penuh semangat dan haru.

Perayaan ini bukan sekadar seremoni liturgis, melainkan pesta iman yang menyatukan langit dan bumi, tradisi dan sakramen, leluhur dan generasi kini.

Di antara para imam yang hadir tampak Pastor Sebastianus Maipai Wiyai, Pr, Pastor Fransiskus Madagai Uti, Pr, Pastor Yuvensius Auki Iyabi Tekege, Pr, Pastor Yohanes Gada Wiyai Kayame, Pr dan Pastor Sebastian T. Liwu, Pr. Mereka semua bersatu dalam doa dan syukur atas rahmat tahbisan imam baru yang menjadi berkat bagi Gereja lokal.

Namun, momen yang paling menyentuh hati terjadi saat pemberian nama adat oleh keluarga besar Kayame dan Tekege. Di hadapan umat dan para imam, Bapak Lukas Kayame, ayah sang yubilaris, berdiri dengan penuh syukur. Dengan suara bergetar namun tegas, ia menyerahkan nama adat kepada putranya: Awegada Wiyai, yang berarti “pemikir-terang yang ulung.”

Kata “Awe” berarti terang, sementara “Gada Wiyai” menunjuk pada pemikir yang bijak dan bercahaya. Nama ini bukan sekadar gelar, melainkan panggilan jiwa yang lahir dari mimpi suci.

Dalam kisah yang diceritakan Bapak Lukas, suatu malam ia bermimpi melihat seorang perempuan berdiri di atas atap gereja sambil menggendong bayi yang dibalut kain tua. Dari langit terdengar suara lembut berkata, “Berikan nama Awegada Wiyai kepada anak ini.” Saat nama itu diumumkan dalam Misa, langit yang semula kelabu seketika memancarkan sinar Mentari seolah alam dan para leluhur turut mengamini rahmat tersebut.

Dalam homilinya, Pastor Yohanes Awegada Wiyai Kayame mengajak umat untuk meneladani kerendahan hati.

“Tuhan melihat hati yang rendah dan memberkati mereka yang menjaga tungku api kehidupan dengan setia,” tuturnya, mengacu pada tungku api sebagai simbol kehangatan, iman, dan persatuan keluarga.

Sementara itu, Pastor Dekan Dekenat Paniai menegaskan,

“Terang yang baik bukan hanya menerangi diri sendiri, tetapi juga keluarga dan tanah Papua. Di tengah luka dan tantangan, Allah tetap memilih putra terbaik-Nya untuk menggembalakan umat.”

Dalam sambutannya, kepala suku dan ketua Dewan Paroki Yagai menyuarakan kerinduan umat akan kehadiran imam yang menetap.

“Kami seperti anak tiri,” ujarnya, menggambarkan dahaga rohani yang selama ini dirasakan umat di pelosok.

Usai perayaan Ekaristi, umat larut dalam sukacita resepsi dan ebamukai (alas tikar bersama), yang menjadi ruang perjumpaan, syukur, dan harapan. Di atas tikar itu, tidak hanya uang yang dipersembahkan, tetapi juga cerita, cinta, tawa, dan tekad untuk terus menyalakan terang iman di tanah Mee.

Dengan nama yang lahir dari langit dan panggilan yang tumbuh dari bumi, Pastor Yohanes Awegada Wiyai Kayame, Pr, kini melangkah sebagai cahaya baru bagi umatnya seorang pemikir-terang yang ulung, imam yang lahir dari doa, mimpi, dan cinta tanah Papua. *** RD. MUSAFIR KAMPUNG

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button