ENGELBERT MVENG DAN WARISAN ARSITEKTUR HISTORIOGRAFI DEKOLONISASI
Menalar Konsep Dekolonisasi Sejarah menurut E. Mveng, SJ
Prolog: Sejarah sebagai “GEN” dan “DNA” Bangsa
Pastor Engelbert Mveng Sj adalah seorang pemikir multidisipliner, ia menguasai banyak bidang ilmu pengetahuan mulai dari antropologi, teologo, filsafat, seni, sastra, dan lainnya. Keberasan, keluasaan, dan kedalaman pemikiran Mveng ini tentu teroihat dari semua karya yang ia hasilkan. Sebagai seorang pemikir yang menaruh minat pada ragam disiplin ilmu pengetahuan, tentu bukan suatu kewajaran yang terjadi. Sebagai pemikir atau intelektual awal bangsa Afrika, Mveng dan generasi pemikir Afrika sejamannya melihat banyak hal yang telah, tengah, dan terus dimanipulasi dan dimonopoli secara sistemik oleu resim penjajah demi meloloskan visi-misnya. Mveng dan generasi pemikir sejamannya melihat penting sekali bagi Afrika untuk membangun kembali identitas, karakter, dan mentalitasnya sebagai sebuah bangsa merdeka dan berdaulat. Sudah saatnya Afrika keluar dari bayang-bayang kolonial Eropa. Maka jalan terbaik yang Mveng dan generasi pemikir sejamannya lihat untuk melakukan semua ini dalah pengetahuan. Bagi mereka penjajah menjajah bangsa jajahannya secara alok, sebab sudah sejak lampau kesadaran bangsa jajahannya telah ia dicekoki dan dicangkok dengan pengetahuan-pengetahuan palsu ala kolonial. Setelah kesadaran bangsa jajahan mengalami kelumpuhan total untuk berpikir secara wajar dan kritis, ia tentu tidak akan mampu menyelami semua strategi dan taktik penjajahan. Ia akan dengan mudah dan bodoh mau menerima semua paket proyek penjajahan yang terjadi di atas tanahnya. Untuk itu sekali lagi, bagi Mveng dan genarasi pemikir sejamannya ilmu pengetahuan menjadi senjata ampuh bagi bangsa jajahan untuk sadar, bersatu, bangkit, dan melawan.
Engelbert Mveng kemudian menaruh minat akademik yang besar di bidang sejarah. Ia dikenal luas oleh komunitas pencinta studi Afrika sebagai seorang sejarawan yang besar dan hebat. Ia menjadi sejarawan yang besar sebab hampir sebagai besar hidupnya ia curahkan bagi studi dekolonisasi sejarah Afrika. Ia banyak menghasilkan buku dan tulisan-tulisan lepas yang kaya tentang sejarah Afrika. Karya-karya ini kemudian akan punya kontribusi yang besar bagi pembagunan dan penataan historiografi bangsa Afrika. Salah satu hal menarik yang selalu muncul di balik karya-karyanya ialah perjuangannya untuk menata ulang perjalanan sejarah bangsa Afrika yang telah dimiringkan secara sengaja oleh penguasa penjajah. Mveng menemukan ada sesuatu yang para sarjana historian Eropa hilangkan dan semnbunyikan sejak lama, dari generasi ke genarasi secara sistemik, terstruktur, dan masif dalam sejarah bangsa Afrika, yaitu posisi strategis Afrika dalam sejarah dan peradaban dunia. Bangsa Eropa memutuskan dan menghilangkan relasi-relasi bangsa Afrika dengan bangsa-bengsa besar di belahan bumi. Afrika dibuat terisolir, terkucilkan, dan tidak ada dalam sejarah dunia. Afrika adalah bangsa yang tidak pernah terlibat dalam sejarah dunia. Eropa dengan segala cara dan sumber dayanya berupaya mengerdilkan dan mengucilkan sejarah bangsa Afrika. Eropa berupaya meyakinkan dunia bahwa Afrika adalah bangsa buangan, bangsa terbelakang, bangsa primitif, suatu komunitas yang jauh dari kata beradab dan berdaulat. Bukti-bukti yang menunjukkan masa-masa kejayaan Afrika secara tahu, mau, dan sadar dimusnahkan oleh para historian Eropa. Mereka secara sengaja membelokkan arah dan jalannya penulisan sejarah bangsa Afrika yang sesungguhnya. Bangsa Afrika mereka produksi dalam naskah-naskah sejarahnya sebagai suatu bangsa yang kerdil. Bangsa Afrika dibuat jauh dan tidak mengenal silsilahnya, mereka dipisahkan secara paksa dari kehidupan masa lalunya yang penuh kekuatan dan kedigdayaan.
Strategi “Pemiskinan Antropologis” sebagai Opium Spiritsida
Fenomena semacam ini Mveng sebut sebagai “kemiskinan antropologis”. Kemiskinan antropologis sendiri adalah kondisi di mana eksistensi dan identitas manusia Afrika tergerus oleh sistem penindasan yang berlangsung selama berabad-abad, mulai dari perdagangan budak hingga kolonialisme dan bentuk ketergantungan baru pasca-kolonial. Bagi Mveng, perdagangan budak menyebabkan “kematian antropologis” sebagai bentuk penolakan terhadap kemanusiaan orang Afrika, sementara kolonialisme merupakan sistem “paupérisation anthropologique” (pemiskinan antropologis) yang menciptakan ketergantungan. Pasca-kemerdekaan, kondisi ini berlanjut melalui “neo-sistem ketergantungan” yang menyembunyikan diri di balik kerja sama internasional. Tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi dan sosial, tetapi juga menghancurkan bahasa, sejarah, tradisi, seni, struktur sosial, dan nilai-nilai spiritual yang menjadi akar identitas orang Afrika, membuat mereka kehilangan arah dalam menghadapi dinamika sejarah kontemporer yang berbelik. Pemiskinan antropologis ini berkaitan juga dengan kemiskinan ekonomi dan sosiologis yang dialami orang Afrika adalah hasil dari alienasi akibat kekuatan eksploitasi dan penindasan. Selama lima abad terakhir, manusia Afrika bahkan menjadi simbol kaum miskin, lemah, dan tertekan. Kondisi ini membuat manusia dalam keadaan yang tidak pasti dan rapuh, serta mempengaruhi semua aspek kehidupan manusia secara menyeluruh.
Kami sendiri menamakan kondisi “pemiskinan antropologis” tersebut sebagai “spiritsida” atau “pemusnahan mental-spiritual”. Apa itu spiritsida dan bagaimana cara kerjanya? Spiritsida ini punya andil strategis dalam kerja-kerja penjajahan. Spiritsida sendiri artinya pemusnahan mental dan spiritual, dalam sebuah operasi penjajahan, salah satu pekerjaan besar dan pekerjaan awal sebuah imperium ialah menjajah mental dan spirit bangsa jajahannya. Bangsa jajahan harus dipisahkan, dijauhkan, diasingkan, dan dialiebasikan daru akar-akar eksistensi dan esensinya, yaitu sumber-sumber energi spiritualnya yang bersumber langsung dalam sejarah, budaya, adat-istiadat, agama lokal, roh para leluhur dan tete-nene moyang, mantra-mantra adat, ritual-ritual adat, dan lain sebagainya. Manusia jajahan harus dicabut keluar dari segala macam ikatan dab kelekatan kultural dan spiritual, kemudian ia ditempatkan di suatu ruang hampa, kosong tanpa arti dan makna. Tugas kolonial adalah memberikan arti dab makna ulang kepadanya. Bangsa penjajah memuat bangsa jajahannya itu merasa kosong, tidak berdaya, tidak percaya diri, tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk tidak tunduk dan bangkit melawan. Bangsa Eropa tentu paham dan tahu tentang sejarah masa lalu bangsa Afrika yang besar, sejarah masa lalu Afrika yang penuh dengan kejayaan dan keemasan. Afrika di masa lalu adalah bangsa yang memiliki prestise dan popularitas yanh disegani. Secara mental dan spritual, Afrika merupakan sebuah bangsa yang tangguh, kuat, tak terkalahkan. Ia tidak mudah ditahlukhkan oleh kekuasaan dari luar. Ada kekuatan-‘kekuatan spiritual dan kharisma-kharisma khusus yang dimiliki oleha para pembesar, pemimpin, dan pendekar di masa lalunya.
Sebagai seorang sejarawan yang menaruh minat pada peradaban-‘peradaban tua, Mveng menemukan sesuatu yang hilang selama ini dalam naskah-naskah sejarah Afrika hasil karya historian penjajah Eropa, yaitu posisi strategis Afrika dan andilnya dalam sejarah dunia. Rupanya, di masa lalu ada banyak kerajaan-‘kerajaan Afrika yang membawa kejayaan Afrika hingga sampai pada puncak keemasan. Fakta ini kemudian memanggil Mveng untuk menuliskan sejarah bangsanya berdasarkan determinasi dirinya sebagai manusia Afrila yang sejati. Ia merasa terpanggil untuk menelanjangi dan membongkar semua jenis kemunafikan dan kebohongan yang penjajah Eropa masukan dalam jalannya sejarah bangsa Afrika. Lewat karya-karya pustaka Mveng di bidang sejarah, orang-orang Afrika mulai sadar. Mereka mulai mengenal diri mereka sendiri. Selama ini dari generasi ke generasi mereka telah ditipu secara sistematis oleh penjajah dengan narasi sejarah Afrika yang telah mereka reduksi dan bias penjajah. Karya-karya Mveng menjadi bahasa rakyat Afrika sendiri yang menentang narasi penjajaj. Karya-karyanya menjadi ekspresi perlawanan historiografi Afrika yang mumpuni. Ia bahkan mendirikan satu departemen khusus untuk mengali sejarah Afrika. Ia mengajak mahasiswanya untuk menulis ulang sejarah Afrika menggunakan perspektif Afrika sendiri tanpa terpengaruh dengan dominasi dan hegemoni epistemik para historian Eropa.
Ketika sejarah sudah diluruskan, bangsa Afrika mulai mengenal genealogi dan DNA dirinya sendiri sebagai suatu bangsa yang besar, bebas, merdeka, dan berdaulat. Mereka mulai paham dari mana mereka datang? Kemana mereka akan pergi? Apa yang harus mereka buat? Apa saja nilai-nilai instrinsik mereka? Mereka mulai menemukan kembali harkat dan martabat yang selama ini dimusnahkan oleh bangsa Eropa secara sistematis. Dengan kesadaran akan asal dan tujuan hidup seperti ini, maka secara otomatis mental dan spiritual bangsa Afrika tertata kembali. Dengan mental dan spiritual yang tertata kembali ini Afrika mulai melawan menuntut hal-hak asasi mereka sebagai suatu bangsa yang berdaulat sejak lampau, yang kini kedaulatan itu telah direbut oleh penjajah.
Membedah Buku Mveng
Ada dua karya pustaka utama Mveng yang membahas tentang sejarah Afrika dari perspektif dekolonisasi, yaitu: Histoire du Cameroun; dan, Greek Sources of African History: From Homer to Strabo.
Pertama, buku “Histoire du Cameroun” karyanya yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1963 dan mengalami revisi lengkap pada edisi kedua tahun 1984-1985. Dalam buku ini Mveng membuktikan bahwa Kamerun memiliki akar sejarah yang kaya jauh sebelum kedatangan Eropa. Ia membahas asal-usul manusia di Afrika, perkembangan budaya Sao di wilayah sekitar Danau Tchad, serta peradaban kerajaan lokal seperti Bamum, Tikar, dan Mandara. Selain itu, ia juga mengungkapkan adanya perdagangan lintas benua yang telah terjadi sejak abad ke-6 SM, seperti kunjungan penjelajah Kartago Hanno yang menyebut Gunung Kamerun sebagai “Kereta Dewa”.
Buku ini juga mencakup periode kedatangan Eropa, mulai dari kunjungan pertama ekspedisi Portugis pada abad ke-15, hingga penjajahan oleh Jerman, Prancis, dan Inggris. Ia mengkritik pembagian wilayah Kamerun yang memisahkan masyarakat dengan budaya yang sama serta dampak negatif kolonialisme terhadap kehidupan politik, sosial, dan budaya lokal. Mveng tidak hanya menggunakan sumber tulisan Eropa, tetapi juga menggali sumber lokal seperti tradisi lisan, legenda suku, seni, dan catatan sejarah masyarakat pribumi untuk menyajikan narasi yang lebih komprehensif dan objektif.
Ia menentang pandangan yang memposisikan Afrika sebagai “terbelakang” dan menyoroti kontribusi serta keberadaan peradaban lokal yang mandiri. Melalui buku ini, ia berusaha mendekolonisasi sejarah Kamerun dengan mengembalikan narasi yang berakar pada budaya dan pengalaman bangsa itu sendiri, serta membangun identitas nasional yang kuat berdasarkan warisan sejarah lokal, (Mveng, 1963: 17-27).
Kedua, buku buku “Greek Sources of African History: From Homer to Strabo” karya Engelbert Mveng yang pertama kali diterbitkan dalam bahasa Prancis tahun 1972 dengan judul Les sources grecques de l’histoire négro-africaine: depuis Homère jusqu’à Strabon, kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris pada tahun 2005.
Buku ini mengkaji sumber-sumber sejarah Afrika dari tulisan-tulisan Yunani kuno mulai dari Homer (abad ke-8 SM) hingga Strabo (abad ke-1 SM), dengan fokus pada informasi tentang orang Afrika yang tidak tinggal di wilayah utara Afrika dan Mesir. Tujuannya adalah untuk memberikan representasi ilmiah tentang kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan agama orang Afrika kuno melalui analisis terhadap warisan sastra dan studi ilmiah Yunani.
Mveng membahas bagaimana Homer dalam Iliad dan Odyssey menyebutkan “Ethiopia” sebagai wilayah yang dihormati dan bahkan menjadi tempat perayaan para dewa. Ia juga mengkaji karya-karya penulis Yunani lainnya seperti Herodotus, yang memberikan deskripsi tentang kondisi geografis, adat istiadat, dan sistem pemerintahan masyarakat Afrika kuno.
Ia menentang pandangan yang sering menyederhanakan atau memarginalkan informasi tentang Afrika dalam sumber Yunani, serta menunjukkan bahwa sumber-sumber ini dapat digunakan untuk membuktikan adanya peradaban Afrika kuno yang maju dan memiliki hubungan dengan dunia Yunani jauh sebelum masa kolonial.
Buku ini juga mengungkapkan adanya pertukaran budaya, perdagangan, dan kontak antara orang Yunani dan Afrika kuno, serta bagaimana hal ini berkontribusi pada perkembangan kedua peradaban tersebut. Melalui buku ini, Mveng berusaha mendekolonisasi pandangan tentang sejarah Afrika dengan menggunakan sumber-sumber kuno yang objektif, serta menunjukkan bahwa Afrika memiliki sejarah yang kaya dan penting dalam konteks sejarah dunia.
Apa yang Bisa Papua Pelajari dan Warisi?
Apa yang bisa bangsa Papua pelajari dan warisi dari perjuangan dan pemikiran Engelbert Mveng Sj?
Pemikiran Engelbert Mveng tentu memiliki relevansi yang signifikan bagi Papua, terutama di bidang sejarah, dalam rangka memahami dampak kolonialisme dan dinamika pasca-kolonial terhadap kehidupan masyarakat adat Papua.
Pertama, memahami dampak kolonialisme sebagai “pemiskinan antropologis”. Sebagaimana yang telah kita tengok bersama sejenak Mveng mengemukakan bahwa kolonialisme tidak hanya menyebabkan kemiskinan ekonomi dan sosial, tetapi juga menghancurkan identitas budaya, nilai-nilai, bahasa, dan struktur sosial masyarakat yang dijajah (diperintah). Di Papua, masa kolonial Belanda dan kemudian integrasi dengan Indonesia telah menyebabkan perubahan mendasar dalam kehidupan masyarakat adat. Banyak sistem sosial-politik tradisional yang diabaikan, tanah dan sumber daya alam dieksploitasi, serta bahasa dan tradisi lokal terancam hilang. Hal ini sesuai dengan konsep “kemiskinan antropologis” yang digambarkan Mveng, di mana eksistensi dan martabat manusia tergerus.
Kedua, menyoroti fenomena “kematian antropologis” dalam konteks Papua. Konsep “kematian antropologis” Mveng yang merujuk pada penolakan terhadap kemanusiaan orang Afrika selama perdagangan budak juga dapat diaplikasikan untuk memahami pengalaman masyarakat Papua. Sejarah menunjukkan bahwa masyarakat adat Papua telah mengalami berbagai bentuk penindasan, termasuk pelecehan hak asasi manusia, marginalisasi, dan upaya untuk menghilangkan identitas budaya mereka. Contohnya adalah kasus Arnold Ap, seorang antropolog dan musisi Papua yang membangkitkan kesadaran budaya tetapi kemudian dibunuh karena dicurigai membangkitkan nasionalisme Papua. Hal ini dapat dilihat sebagai bentuk dari “kematian antropologis” di mana upaya untuk mempertahankan identitas budaya dihadapkan dengan kekerasan dan penindasan.
Ketiga, pentingnya inkulturasi agama dan pemulihan identitas budaya. Sebagai sejarawan, teolog, dan antropolog Mveng menekankan pentingnya agama Kristen yang berakar pada budaya lokal untuk membangkitkan kembali makna kehidupan dan mengembalikan martabat manusia. Di Papua, masuknya agama Kristen juga memiliki dampak yang kompleks. Meskipun dalam beberapa kasus agama tersebut digunakan sebagai alat kolonial, namun banyak juga upaya untuk menginkulturasi ajaran agama dengan nilai-nilai budaya lokal. Misalnya, dalam peringatan 70 tahun injil masuk di Wamena, terdapat pesan untuk menghormati tanah dan sesama manusia yang selaras dengan nilai-nilai tradisional Papua. Pemikiran Mveng mengingatkan akan pentingnya mengembangkan bentuk keagamaan yang menghargai dan memelihara identitas budaya lokal, bukan menghapusnya.
Keempat, menanggapi ketergantungan pasca-kolonial. Mveng juga membahas tentang “neo-sistem ketergantungan” pasca-kolonial yang menyembunyikan diri di balik kerja sama internasional. Di Papua, meskipun telah mendapatkan otonomi khusus, namun masih banyak masalah yang terkait dengan ketergantungan pada pusat dan eksploitasi sumber daya alam oleh pihak luar. Pemikiran Mveng mengingatkan akan pentingnya menangani akar masalah ketergantungan ini dan membangun pembangunan yang berbasis pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat lokal Papua.
Epilog: Membangun Studi Historiografi Papua yang Membebaskan
Dengan demikian, bertolak dari pemikiran dan perjuangan akademik Mveng di bidang sejarah. Tentu tidak bisa kita pungkiri bahwa sudah ada paruh sarjana asli Papua di bidang sejarah, teologi, dan antropologi yang telah, tengah, dan terus menulis tentang Papua dengan menggunakan perspektif Papua itu sendiri. Kami menilai rupanya apa yang dipikirkan dan diperjuangkan oleh Pastor Engelbert Mveng Sj memiliki kemiripan dengan apa yang sudah, sedang, dan senantiasa dilakukan oleh beberapa sarjana asli Papua sekurang-kurangnya pasca Pdt. Dr. Benny Giyai, Pastor Dr. Neles Kebadabi Tebay (+), Drs. Agus Alue Alua (+), Dr. Bernadus Bofitwos Baru OSA (kini Uskup Keuskupan Timika), Dr. John Mansoben (+), Arnold Clemens Ap (+), Alfons Theo van Nunen OFM (+), Van Baal MSC (+), dan banyak deretan nama lagi. Tokoh-tokoh ini walaupun tidak berkarya dalam konteks satu komando, mereka terpanggil untuk mengangkat harkat dan martabat orang asli Papua lewat jalan pena. Lewat karya-karya anumerta yang mereka hasilkan kita dapat menemukan corak dasar perjuangan menegakkan harga diri dan menentukan nasib bangsa. Mereka bersuara lantang dan berjuang gigih lewat karya-karya pustaka yang akan nilai, pengetahuan, dan pengalaman yang tidak saja mencerahkan dan menyadarkan, tapi juga memprovokasi dan merangsang diri untuk merebut kembali kendali atas kehidupan dan kedaulatan yang selama ini dimonopoli oleh pihak luar dan pihak asing yang menindas, menjajah. Tentu apa yang para tokoh cerdik-pandai ini buat adalah bahan pelajaran dan warisan nilai perjuangan yang mahal bagi manusia Papua kini dan mendatang. Papua membutuhkan banyak sarjana di segala bidang dan disiplin ilmu guna memulai suatu babak baru perjuangan epistemik yang membebaskan. Kami membayangkan, ada banyak lembaga studi di bidang filsafat, teologi, antropologi, sejarah, sosiologi, sastra, politik, ekonomi, dan lainnya di bumi Papua yang memfokuskan kerja-kerjanya pada semangat dekolonisasi, emansipasi, dan revolusi. Kami yakin, dengan jalan dan cara perjuangan semacam ini, di hari depan sana ada masa depan Papua yang bercahaya, Papua ada bangkit dan berdiri bersama terang “bintang pagi” sebagai suatu bangsa dengan harkat dan martabat yang jaya, dengan sejarah dan peradabannya besar dalam lintasan historiografi dunia. (*)
PENULIS: FR. SIORUS EWAINAIBI DEGEI
Pustaka:
Mveng, Engelbert. 1963. Histoire du Cameron. Presence Africaine: Paris.
——— 2005. Greek Sources of African History: From Homer to Strabo. Karnak House: London.




