Majalah Gaiya

EL NINO: AKAL BUDI SEMESTA DAN BMKG DI PAPUA

Fr. Yosep Riki Yatipai

Apa yang mau dikatakan oleh alam?

Adakah seseorang yang mengatakan bahwa alam itu diam saja dan tidak berbuat apa pun? Atau adakah yang bertanya mengapa semua perubahan itu terjadi?. Rasanya, alam tidak benar-benar diam atas segala perubahan yang terjadi di Papua. Ia berbicara dengan caranya sendiri, melalui hujan yang turun, sungai yang mengalir, tanah yang mengering, danau dan laut yang menyusut, tumbuhan yang berubah, angin yang berhembus, petir yang menyambar, serta perilaku hewan-hewan yang berubah. Pertanyaannya adalah apakah kita sudah, sedang, dan akan bisa mendengarkan suara alam tersebut?.

Pertanyaan ini menjadi begitu penting ketika kita dihadapkan dengan fenomena El Nino di Papua. Pada 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat penguatan fenomena El Nino. Pada Agustus 2026, nilai anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 mencapai 2,99°C, yang dikategorikan sebagai El Nino dengan intensitas yang sangat kuat. Pada saat yang sama, BMKG juga memberikan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk sejumlah wilayah, termasuk bagian selatan Papua.

Situasi ini memberitahu kita bahwa El Nino bukan hanya sebuah istilah yang ada dalam laporan klimatologi semata. El Nino ini mempunyai konsekuensi nyata bagi kehidupan masyarakat, seperti ketersediaan air, pangan, pertanian, kesehatan, transportasi, bahkan keberlangsungan ekosistem yang ada. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana orang Papua membaca perubahan alam tersebut? Jauh sebelum masyarakat mengenal istilah El Nino Southern Oscillation (ENSO), sea surface temperature anomaly, atau indeks Nino 3.4, masyarakat Papua telah hidup bersama dengan alam dan mengembangkan pengetahuan untuk membaca perubahan lingkungan. Orang Papua membaca musim melalui pengalaman, mengenali tanda-tanda perubahan cuaca melalui lingkungan sekitar serta membangun aturan adat untuk menjaga keseimbangan antara alam dan manusia. Cara membaca alam yang demikian dapat disebut sebagai akal budi semesta, suatu cara pandang yang menempatkan manusia bukan sebagai penguasa yang berdiri di luar dari alam, tetapi sebagai bagian dari suatu kesatuan hidup. Di sinilah BMKG dan akal budi semesta menemukan titik perjumpaan. BMKG membaca alam melalui data dan teknologi, sedangkan orang Papua membacanya melalui pengetahuan ekologis dan pengetahuan turun-temurun. Keduanya menggunakan bahasa yang berbeda, tetapi berbicara tentang realitas yang sama, yaitu alam dan perubahan yang terjadi di dalamnya.

Apa itu El Nino?

Istilah El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang secara harfiah berarti “anak laki-laki”. Dalam konteks sejarah penggunaannya, istilah ini berkaitan dengan sebutan El Nino Jesus, yang berarti “Anak Yesus” atau “Kanak-kanak Yesus”. Istilah tersebut muncul dari pengalaman para nelayan di sepanjang pesisir Peru dan Ekuador yang sejak dahulu mengamati adanya perubahan kondisi laut di sekitar wilayah mereka. Pada waktu-waktu tertentu, khususnya menjelang atau sekitar perayaan Natal, mereka menemukan bahwa suhu permukaan laut menjadi lebih hangat daripada biasanya. Karena kemunculan fenomena tersebut sering bertepatan dengan masa Natal, masyarakat setempat kemudian menghubungkannya dengan El Nino Jesus.

Pada mulanya, El Nino merupakan istilah yang lahir dari pengalaman empiris masyarakat pesisir dalam membaca perubahan alam. Para nelayan tidak mengenal fenomena tersebut melalui teori meteorologi atau pengukuran ilmiah sebagaimana dikenal sekarang, melainkan melalui pengamatan langsung terhadap laut, musim, hasil tangkapan ikan, dan perubahan lingkungan tempat mereka hidup. Dengan demikian, sejarah istilah El Nino memperlihatkan bahwa pengetahuan mengenai perubahan alam pada awalnya berkembang melalui relasi yang erat antara manusia dan lingkungannya. Pengamatan masyarakat lokal terhadap gejala alam tersebut kemudian berkembang menjadi perhatian ilmiah dalam bidang oseanografi dan meteorologi.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, pengertian El Nino mengalami perluasan. El Nino tidak lagi semata-mata dipahami sebagai fenomena menghangatnya perairan di sepanjang pantai Peru dan Ekuador, tetapi sebagai suatu fenomena iklim yang berkaitan dengan pemanasan anomali suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik ekuatorial. Fenomena ini merupakan bagian dari suatu sistem interaksi antara atmosfer dan lautan yang dikenal dengan istilah El Nino–Southern Oscillation (ENSO). Oleh karena itu, El Nino tidak dapat dipahami hanya sebagai perubahan suhu laut, tetapi harus dilihat sebagai bagian dari dinamika sistem iklim global.

Secara alamiah, El Nino berkaitan erat dengan perubahan kekuatan angin pasat dan distribusi massa air hangat di Samudra Pasifik. Dalam kondisi normal, angin pasat bertiup dari arah timur menuju barat dan mendorong massa air hangat ke kawasan Pasifik barat, termasuk wilayah Indonesia dan Australia. Akibatnya, wilayah Pasifik barat cenderung memiliki perairan yang lebih hangat dan kondisi atmosfer yang mendukung pembentukan awan serta curah hujan yang relatif tinggi. Namun, ketika angin pasat mengalami pelemahan, massa air hangat yang biasanya tertumpuk di bagian barat Pasifik dapat bergerak kembali ke arah tengah dan timur Pasifik. Pergerakan massa air hangat tersebut menyebabkan peningkatan suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur dan menjadi salah satu ciri utama terjadinya El Nino.

El Nino sendiri bukanlah fenomena baru yang hanya muncul pada zaman modern. Berbagai penelitian sejarah iklim dan paleoklimat menunjukkan bahwa variasi iklim yang menyerupai El Nino telah terjadi sejak masa lampau, bahkan jauh sebelum manusia memiliki instrumen modern untuk mengamati atmosfer dan lautan. Hal ini menunjukkan bahwa El Nino merupakan bagian dari dinamika alam dan sistem iklim bumi yang telah berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang. Perkembangan ilmu pengetahuan modern memungkinkan manusia untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan memprediksi fenomena tersebut secara lebih sistematis.

Dampak El Nino tidak hanya dirasakan di kawasan Samudra Pasifik, tetapi dapat menjalar ke berbagai wilayah dunia melalui perubahan pola sirkulasi atmosfer. Dampaknya dapat berupa perubahan pola curah hujan, peningkatan suhu, kekeringan, perubahan musim, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan di wilayah tertentu. Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat dipengaruhi oleh dinamika ENSO. Pada saat El Nino berlangsung, Indonesia pada umumnya mengalami penurunan curah hujan, meskipun tingkat dan waktunya dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Kondisi tersebut dapat berdampak pada pertanian, ketersediaan air, kesehatan masyarakat, ekosistem, serta kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Akal Budi Semesta sebagai Panduan Alam bagi Orang Papua

Hampir kebanyakan orang Papua, alam itu bukan hanya ruang geografis yang menyediakan sumber daya, tetapi alam adalah bagian dari kehidupan, identitas, kebudayaan, dan relasi sosial. Hutan bukan hanya kumpulan pohon. Sungai bukan hanya aliran air. Danau bukan sekadar bentang alam. Tanah bukan hanya komoditas ekonomi. Dalam pandangan ekologis masyarakat tradisional, manusia memiliki hubungan timbal balik dengan lingkungan hidupnya. Apa yang dilakukan manusia terhadap alam pada akhirnya akan kembali kepada kehidupan manusia sendiri. Karena itu, masyarakat mengembangkan berbagai bentuk pengetahuan untuk memahami lingkungan. Pengetahuan tersebut diwariskan melalui cerita, pengalaman, praktik bertani, berburu, menangkap ikan, mengelola hutan, menjaga sumber air, serta berbagai aturan adat lainnya.

Masyarakat yang hidup dekat sungai dapat mengenali perubahan debit air. Masyarakat yang hidup di sekitar danau dapat melihat perubahan permukaan air. Petani dapat membaca perubahan musim melalui kondisi tanah, tumbuhan, dan curah hujan. Nelayan dapat membaca kondisi laut melalui arah angin, gelombang, arus, serta perubahan perilaku ikan. Pengetahuan semacam ini dalam kajian lingkungan sering disebut sebagai local ecological knowledge atau pengetahuan ekologis lokal.

Pengetahuan ekologis masyarakat Papua bukan sekadar pengetahuan praktis. Ia juga mengandung dimensi etis. Masyarakat tidak hanya bertanya, “Bagaimana alam dapat dimanfaatkan?”, tetapi juga “Bagaimana alam harus diperlakukan agar tetap memberikan kehidupan?”. Contoh yang jelas dapat ditemukan dalam berbagai praktik pengelolaan sumber daya berbasis adat. Penelitian mengenai Tiaytiki pada masyarakat Yepase di Kabupaten Jayapura menunjukkan bahwa praktik adat tersebut mengandung mekanisme zonasi, larangan eksploitasi berlebihan, sanksi adat, tanggung jawab kolektif, solidaritas sosial, serta kesadaran spiritual untuk hidup harmonis dengan alam.

Demikian pula penelitian mengenai sasi laut dan pengelolaan dusun sagu di Papua menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi dasar bagi tata kelola ekologis dan bahkan menjadi sumber inovasi kebijakan lingkungan. Artinya, ketika berbicara tentang akal budi semesta, kita tidak sedang berbicara tentang sesuatu yang mistis atau irasional. Kita sedang berbicara mengenai cara masyarakat memahami relasi manusia, alam, dan kehidupan berdasarkan pengalaman ekologis yang panjang.

El Nino di antara BMKG dan Akal Budi Semesta

Ketika orang Papua membaca alam melalui pengalaman langsung, BMKG membaca alam melalui instrumen ilmiah. BMKG menggunakan data atmosfer dan laut, observasi stasiun meteorologi, satelit, serta berbagai indikator iklim untuk memantau dinamika atmosfer dan memprediksi perkembangan cuaca dan iklim. Dalam membaca El Nino, salah satu indikator penting adalah kondisi suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 di Samudra Pasifik.

Satu hal penting yang perlu dipahami ialah El Nino tidak berarti seluruh wilayah Papua otomatis mengalami kekeringan dengan intensitas yang sama. Papua memiliki kondisi geografis dan klimatologis yang sangat kompleks. Pegunungan, lembah, pesisir, kepulauan, hutan hujan, rawa, dan dataran rendah memiliki karakteristik cuaca yang berbeda. Bahkan ketika El Nino berlangsung kuat, hujan tetap dapat terjadi di wilayah tertentu. BMKG mencatat bahwa pada pertengahan Agustus 2026, hujan dengan intensitas sedang masih terjadi di Papua Pegunungan akibat interaksi berbagai dinamika atmosfer regional.

Hal ini memperlihatkan bahwa membaca cuaca Papua tidak dapat dilakukan dengan logika sederhana: Kalau terjadi El Nino, maka tidak ada hujan. Realitas atmosfer jauh lebih kompleks. Justru di sinilah kekuatan ilmu meteorologi terlihat. BMKG membantu masyarakat memahami bahwa perubahan cuaca merupakan hasil interaksi berbagai faktor, bukan hanya satu fenomena tunggal.

Pertanyaan pentingnya kemudian adalah apakah pengetahuan masyarakat Papua harus berhadapan dengan BMKG? Jawabannya adalah tidak. Keduanya justru perlu dipertemukan. Ilmu meteorologi memiliki kekuatan dalam membaca fenomena pada skala regional dan global. Satelit dapat memberikan gambaran yang tidak mungkin diperoleh hanya melalui pengamatan manusia. Model iklim dapat membantu memperkirakan kecenderungan cuaca. Data historis dapat digunakan untuk membandingkan perubahan dari waktu ke waktu. Namun, ilmu pengetahuan modern juga memiliki keterbatasan. Sebuah model iklim dapat mengatakan bahwa suatu wilayah memiliki kemungkinan mengalami kekeringan, tetapi masyarakat di kampunglah yang mengetahui apakah mata air tertentu benar-benar mulai mengering, apakah kebun sudah mengalami kekurangan air, atau apakah ikan mulai berkurang di sungai.

Sebaliknya, pengetahuan lokal memiliki kekuatan pada pengalaman ekologis yang sangat spesifik dan kontekstual. Tetapi pengetahuan lokal juga tidak selalu dapat menjelaskan mekanisme global yang menyebabkan perubahan tersebut. Karena itu, yang dibutuhkan bukanlah pertarungan antara “tradisi versus sains”, tetapi dialog pengetahuan. BMKG dapat memberikan data ilmiah. Masyarakat memberikan informasi lapangan. Pemerintah menghubungkan informasi tersebut dengan kebijakan. Akademisi melakukan penelitian dan dokumentasi. Lembaga adat menjaga pengetahuan ekologis. Gereja dan lembaga keagamaan dapat membangun kesadaran ekologis. Dengan cara demikian, masyarakat tidak hanya menjadi objek yang menerima informasi dari pusat, tetapi menjadi subjek dalam sistem pengetahuan dan mitigasi bencana.

Kesalahan terbesar dalam memahami El Nino adalah menganggapnya hanya sebagai persoalan cuaca. El Nino memang merupakan fenomena klimatologis, tetapi dampaknya bersifat sosial. Ketika hujan berkurang, persoalannya bukan hanya angka milimeter curah hujan. Persoalannya adalah: dari mana masyarakat memperoleh air? Ketika kebun mengalami kekeringan, persoalannya bukan hanya kelembapan tanah. Persoalannya adalah: apa yang akan dimakan keluarga beberapa bulan kemudian?Ketika sungai dan danau mengalami penyusutan, persoalannya bukan hanya perubahan hidrologis. Persoalannya adalah: bagaimana kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber air tersebut?

Karena itu, El Nino berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, ketahanan air, kesehatan masyarakat, ekonomi lokal, dan keberlanjutan ekosistem. BMKG sendiri pada Juni 2026 telah mengingatkan bahwa puncak musim kemarau 2026 perlu diantisipasi dengan memperkuat kesiapan ketersediaan air, kesehatan, dan kebutuhan multisektor. BMKG memprediksi sebagian besar Pulau Papua memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026, sementara Papua Pegunungan bagian tengah diprediksi mengalami puncak kemarau pada September.

Persoalan ini menjadi semakin penting karena masyarakat Papua memiliki tingkat ketergantungan yang relatif tinggi terhadap sumber daya alam. Kehidupan pertanian, perikanan, perburuan, pengumpulan hasil hutan, dan berbagai bentuk ekonomi lokal sangat dipengaruhi oleh kondisi ekologis. Karena itu, perubahan iklim dan fenomena El Nino harus dibaca dalam perspektif keadilan ekologis. Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama untuk menghadapi kekeringan. Masyarakat yang memiliki akses terhadap air bersih, teknologi, transportasi, pasar, dan sumber pangan alternatif akan memiliki daya tahan yang berbeda dengan masyarakat yang kehidupannya sangat bergantung pada lingkungan sekitar. Dengan demikian, membicarakan El Nino di Papua berarti juga membicarakan ketimpangan, kerentanan, dan keadilan sosial.

Dari Informasi Menuju Kesadaran Ekologis

Informasi BMKG sangat penting. Namun, informasi saja tidak cukup. Peringatan mengenai potensi kekeringan harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Jika BMKG memberikan peringatan mengenai kemungkinan kekeringan, pemerintah daerah perlu bertanya: apakah cadangan air masyarakat cukup? Ketika ada potensi kekeringan panjang, apakah masyarakat sudah mempersiapkan pangan? Ketika risiko kebakaran hutan meningkat, apakah sistem pengawasan berbasis masyarakat sudah berjalan?

Ketika sumber air mengalami penyusutan, siapa yang bertanggung jawab melakukan perlindungan dan pemulihan? Di sinilah diperlukan sistem peringatan dini berbasis masyarakat. Masyarakat kampung tidak boleh hanya menjadi penerima pesan: “Waspada El Niño.” Mereka harus dilibatkan untuk menentukan apa yang harus dilakukan setelah peringatan tersebut diterima. Pengetahuan lokal dapat menjadi bagian dari sistem tersebut. Orang tua yang memahami tanda-tanda perubahan musim dapat berbagi pengetahuan dengan generasi muda. Petani dapat mencatat perubahan pola tanam. Nelayan dapat mendokumentasikan perubahan kondisi laut. Masyarakat adat dapat memetakan sumber air, hutan, dan wilayah yang rentan terhadap kekeringan.

Dengan demikian, teknologi modern dan pengetahuan tradisional dapat bekerja bersama. Hal ini juga sejalan dengan gagasan ekologi integral yang dikembangkan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’. Ekologi tidak dapat dipisahkan dari dimensi sosial, ekonomi, dan kehidupan manusia karena segala sesuatu saling berkaitan. Dalam konteks Papua, kesadaran ekologis berarti menyadari bahwa merawat hutan berarti merawat air; merawat air berarti merawat pangan; merawat pangan berarti merawat kehidupan; dan merawat kehidupan berarti menjaga masa depan manusia. Karena itu, pendidikan ekologis harus dimulai dari keluarga, sekolah, kampung, gereja, komunitas adat, hingga perguruan tinggi.

Generasi muda Papua perlu belajar membaca data BMKG sekaligus belajar membaca lingkungan hidupnya sendiri. Mereka perlu memahami apa itu ENSO, tetapi juga memahami kapan sungai di kampung mereka mulai berubah. Mereka perlu mengetahui perubahan iklim secara global, tetapi juga memahami bagaimana perubahan tersebut memengaruhi kebun, hutan, dan sumber air di tempat mereka tinggal.

Membaca Alam dengan Data dan Kebijaksanaan

Pada akhirnya, El Nino bukanlah sekadar persoalan tentang panas dan hujan. Ia merupakan ujian bagi kemampuan manusia untuk membaca, memahami, dan merawat rumah bersama yang disebut alam. BMKG memberikan sesuatu yang sangat penting: data, analisis, prediksi, dan peringatan dini. orang Papua memiliki sesuatu yang tidak kalah penting: pengalaman, ingatan ekologis, kearifan lokal, dan hubungan langsung dengan alam. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Justru Papua membutuhkan keduanya. BMKG membantu kita membaca alam melalui angka. Akal budi semesta membantu kita membaca alam melalui pengalaman. Data memberitahukan bahwa El Nino sedang menguat. Alam di kampung-kampung Papua menunjukkan bagaimana penguatan itu dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, masa depan mitigasi perubahan iklim di Papua tidak boleh hanya dibangun dari atas ke bawah. Ia harus dibangun melalui dialog antara lembaga ilmiah dan masyarakat yang hidup langsung bersama alam. Kita membutuhkan BMKG yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendengarkan pengalaman masyarakat. Kita membutuhkan masyarakat yang tidak hanya mempertahankan pengetahuan leluhur, tetapi juga terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Kita membutuhkan pemerintah yang tidak hanya mengeluarkan kebijakan, tetapi mampu menerjemahkan peringatan ilmiah menjadi tindakan konkret. Dan kita membutuhkan generasi muda Papua yang mampu berdiri di antara dua dunia: dunia data dan dunia kebijaksanaan.

Sebab alam tidak membedakan antara pengetahuan modern dan pengetahuan tradisional. Ketika hutan terbakar, ia tidak bertanya apakah manusia memiliki satelit. Ketika sungai mengering, ia tidak bertanya apakah manusia memiliki teori iklim. Ketika kebun gagal menghasilkan, ia tidak bertanya apakah manusia memahami ENSO. Alam hanya memberikan konsekuensi. Karena itu, tugas manusia bukan sekadar menaklukkan alam dengan teknologi, tetapi belajar hidup dalam relasi yang benar dengannya. El Nino boleh dibaca melalui satelit, indeks Nino 3.4, model atmosfer, dan data BMKG. Tetapi ia juga harus dibaca melalui sungai yang mulai surut, tanah yang mengering, kebun yang berubah, dan suara masyarakat yang hidup paling dekat dengan alam.

Di antara data dan pengalaman, antara sains dan kebijaksanaan, antara BMKG dan akal budi semesta, Papua memiliki kesempatan untuk membangun sebuah cara baru dalam menghadapi perubahan iklim. Bukan dengan memilih salah satunya. Melainkan dengan mempertemukan keduanya demi kehidupan.

 

Daftar Pustaka

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. 2026. Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian II Agustus 2026. Jakarta: BMKG.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. 2026. Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I Agustus 2026. Jakarta: BMKG.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. 2026. Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Juli 2026. Jakarta: BMKG.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. 2026. Climate Early Warning System (CEWS): El Niño, La Niña, dan Informasi Iklim Indonesia. Jakarta: BMKG.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. 2026. Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan. Jakarta: BMKG.

Badan Riset dan Inovasi Nasional. 2023. Teknologi dan Kearifan Lokal untuk Adaptasi Perubahan Iklim. Jakarta: Penerbit BRIN.

Heryani, Nani, Popi Rejekiningrum, Budi Kartiwa, dan Hendri Sosiawan. 2023. “Teknologi dan Kearifan Lokal untuk Adaptasi Perubahan Iklim pada Sumber Daya Air.” Dalam Teknologi dan Kearifan Lokal untuk Adaptasi Perubahan Iklim, 139–171. Jakarta: Penerbit BRIN.

MampioPER, John Herman. 2009. Kearifan Lokal Masyarakat dalam Konservasi Sumber Air pada Cagar Alam Pegunungan Cycloop di Kabupaten Jayapura. Tesis Magister Pengelolaan Sumber Daya Air. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Paus Fransiskus. 2015. Laudato Si’: Ensiklik tentang Perawatan Rumah Kita Bersama. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia.

 

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button