Hujan Lebat, Gema “Sapusa Alam”
Subuh ini, Sabtu, 31 Oktober 2026 cuaca sudah begitu dingin dan suara hujan begitu deras membasahi bumi Nabire. Isugiapa, sebuah kompleks perumahan warga Migani-Moni begitu dingin menusuk tulang. Curah hujan yang terus turun tanpa henti, hawa dingin yang kian membuat tubuh sulit beranjak dari pembaringan tidak menjadi penghambat pesta iman hari ini, yakni Pemberkatan, Peresmian, dan Pemberian Nama Goa Maria Stasi St. Stefanus Isugiapa.
Panitia dan umat Stasi St. Stefanus Isugiapa, Paroki St. Antonius Padua Bumiwonorejo membelah hujan, menembus dingin, menuju Asugua Au Dota Sonowi Mina, sebuah nama adat dalam bahasa Migani-Moni bagi Goa Maria Ratu Damai.
Bagi umat dan panitia, hujan lebat dan suhu dingin sejak subuh bukanlah tanda petaka, melainkan sebaliknya ini adalah tanda rahmat, hujan lebat bagi mereka adalah representasi dari rasa syukur dan sukacita alam, artinya hujan besar subuh ini tidak lain adalah “tarian sapusa alam”, mereka (pasukan alam) seakan mau mengatakan bahwa “sudah dua-tiga hari belakangan ini, kalian manusia, umat Isugiapa, sudah bersukacita dan sapusa, tapi kini, hari ini, adalah giliran kami untuk sapusa”.
Sabtu, 31 2026 umat Stasi St. Stefanus Isugiapa, melangsungkan Perayaan Pemberkatan, Peresmian, Pemberian Nama, dan Misa Syukur atas berdirinya Goa Maria Ratu Damai yang dalam bahasa Migani mereka namakan Asugua Au Dota Sonowi Mina. Perayaan Peresmian dan Pemberkatan Goa Maria Ratu Damai dipimpin oleh Pastor Bennyamin Sugiatanggu Magai Pr, Rekan Pastor Paroki Katedral Tiga Raja Timika, didampingi tiga imam lainnya, yakni Pastor Oktovianus Taena Pr, selaku Pastor Paroki St. Antonius Padua Bumiwonorejo, Pastor Stefanus Yogi Pr, Direktur TOR St. Paulus, dan Pastor Hendrik Endi Pr, formator Seminari TOR, serta dihadiri oleh para petinggi pemerintahan asal Intan Jaya, serta ratusan umat Katolik dari Pusat Paroki Bumiwonorejo, Stasi Topo, dan umat Stasi Isugiapa sendiri.
Cuplikan Perjalanan Pembangunan Goa Maria Ratu Damai

Jika diringkas, perjalanan pembangunan Asugua Au Dota Sonowi Mina (Goa Maria Ratu Damai) bisa kita babak ke dalam beberapa tahap: pembentukan panitia, pencarian dana, proses pembangunan, penyelesaian, dan misa syukur.
Umat Stasi St. Stefanus Isugiapa begitu antusias menyiapkan segala sesuatunya dalam rangka menyukseskan kegiatan pemberkatan dan peresmian Asugua Au Dota Sonowi Mina. Selama empat tahun panitia bekerja, penuh dinamika manis-pahit, ada cerita jatuh-bangun. Dari keterbatasan finansial dan sumber daya, dengan bermodalkan tekad, kerja keras, doa, dan harapan, perlahan-lahan panitia bersama umat mampu membangun sebuah rumah doa bagi Maria Ratu Damai. Mereka bersaksi bahwa Bunda Maria beserta kuasa ilahi dari surga senantiasa membersamai mereka dalam proses pembangunan.
Dengan bekal niat dan doa yang tulus, mama-mama Stasi Isugiapa mampu mencari dan mengumpulkan dana awal senilai 111.000.000 rupiah (seratus sebelas juta rupiah). Dengan dana ini, proses pembangunan mulai bergerak, bentuk rumah sang ratu damai mulai tampak. Awalnya umat memesan dan membeli patung Bunda Maria dari luar wilayah Papua dengan total biayanya 20 juta. Patung ini sempat beberapa tahun disimpan di pusat Paroki seraya umat Jayanti merampungkan proses pembangunan Goa.
Setelah separuh Goa Maria selesai dan dirasa Patung Maria bisa ditahtakan, maka di tahun lalu, 2025, panitia bersama seluruh umat mengarak Patung Maria tersebut dari pusat Paroki menuju kediaman sesungguhnya di Gereja Katolik Stasi St. Stefanus, Isugiapa, Jayanti. Akhirnya, memasuki penghujung Oktober 2026, tepatnya Sabtu, 31 Oktober 20226 Goa Maria Ratu Damai benar-benar siap diberkati dan diresmikan.
Misa Pemberkatan dan Peresmian Asugua Au Dota Sonowi Mina

Perayaan Misa Syukur Pemberkatan, Peresmian, dan Pemberian Nama Asugua Au Dota Sonowi Mina (Goa Maria Ratu Damai) di Stasi St. Stefanus, Isugiapa, Paroki St. Antonius Padua, Dekenat Teluk Cenderawasih, Keuskupan Timika berlangsung penuh hikmah dan partsipatif. Misa dipimpin oleh empat imam: RD. Bennyamin Magai Pr, RD. Ockto Taena Pr, RD. Stefanus Yogi Pr, dan RD. Hendrik Endi Pr.
Sepekan sebelum perayaan puncak, umat Isugiapa sebagai “tuan rumah yang baik” mempersiapkan diri, tempat, dan lingkungannya secara matang, baik dari sisi jasmani dan rohaninya. Sebagai bagian dari umat yang berdomisili di Stasi Isugiapa, kami sendiri menyaksikan betapa “sibuknya” umat mempersiapkan diri. Beberapa kali pertemuan tingkat dewan pengurus, panitia, dan umat dilakukan. Semua umat terlibat aktif dan antusias, mulai dari para tetua, mama-mama, Orang Muda Katolik (OMK), misdinar, dan sekami.
Setiap sore, lingkungan Gereja Stasi dipadati umat. Memasuki 3-H, umat Isugiapa, sudah berdandan dengan busana khas adatnya. Mulai dari orangtua, muda-mudi, anak-anak yang selama ini jarang memakai busana adat, semuanya sudah siap lengkap dengan busana dan riasan adat. Sahut-sahutan gema suara nyanyian adat (sapusa) membangunkan atmosfer Isugiapa yang tertidur sunyi. Alunan musik sapusa khas Intan Jaya berbunyi dengan volume dan sound yang jelas membuat kami yang berada di seminari TOR St. Paulus ikut bergirang. Inilah kebiasaan umat, rupanya mereka sedang menunggu uluran belas kasih, rasa kekeluargaan dan persaudaraan dalam ikatan iman dan cinta kasih. Memasuki H-2 dan H-1, pusat Stasi yang menjadi begitu padat massa umat yang lengkap dengan riasan adat.
Prosesi Perayaan Pemberkatan, Peresmian, Pemberian Nama, dan Misa

Sejak pagi Pukul 08.30 WP umat, kelompok penari, dan panitia sudah menanti para imam dan tamu undangan. Sehabis hujan, cuaca sudah berangsur teduh, umat seiman, para imam, dan tamu undangan mulai berdatangan. Kami, rombongan Seminari TOR mulai bergegas saat memasuki Pukul 08.40-an WP. Setibanya kami di halaman depan Gereja, rombongan Pastor Paroki, Dewan Pastoral Paroki, dan Pastor Benny Magai memasuki halaman Gereja. Kami sempat menunggu 30 menit, sebab panitia hendak menimbun areal Goa yang becek akibat hujan dengan material pasir.
Setelah areal Goa sudah ditimbun, perarakan pembuka mulai berlangsung, rombongan imam diarak dengan begitu sakral oleh kelompok tari yang adalah mama-mama Stasi St. Stefanus Isugiapa sendiri. Sambil menyanyikan lagu adat disertai sahutan-sahutan khas rombongan imam memasuki area Goa. Di hadapan Goa, perayaan diawali terlebih dahulu dengan pemberkatan dan peresmian Goa Maria. Perayaan ini dipandu langsung oleh Sekretaris Dewan Stasi Isugiapa, Bapak Willem Murib. Sebelum prosesi pemberkatan ada satu prosesi lagi, yaitu pemotongan pita dan pembukaan tirai.
Pemandu mengundang Pastor Benny, Pastor Ockto, Ketua Panitia, Pewarta Senior, dan Bapak Yulius Wandagau selaku tokoh pemerintah untuk tampil kedepan bersama-sama memotong pita dan membuka tirai. Pita dan tirai akhirnya dibuka, umat menyambut momen ini dengan gelombang tepuk tangan, isak tangis, dan gema sahutan adat.
Setelah prosesi pemotongan pita dan pembukaan tirai, selanjutnya perayaan dilanjutkan dengan pemberkatan. Pastor Benny memberkati Goa beserta atribut secara menyeluruh dengan air berkat. Usai pemberkatan, prosesi diteruskan lagi dengan prosesi penantangan pada prasasti yang dilakukan oleh Pastor Paroki, RD. Ockto Taena dan Ketua Panitia, Bapak Emiel Dendengau.
Ujung dari acara pemotongan pita-tirai, pemberkatan, dan peresmian, ditutup dengan upacara pemberian nama kepada Goa Maria yang baru saja diberkati dan diresmikan. Pemandu, memanggil Bapak Makarius Belau, salah satu pewarta senior Stasi Isugiapa untuk memberikan nama. Pewarta Belau dengan perawakan khas rambut dan jenggot putih ini kemudian membagikan sedikit pergumulan dan pengalaman umat di balik Goa Maria yang baru saja berdiri ini sekalian memberikan nama.
Sejarah Berdirinya Asugua Au Dota Sonowi Mina

Dalam penyampaian latar belakang berdirinya Goa Maria, Bapak Makarius Belau, pewarta senior Stasi St. Stefanus Isugiapa menyampakain bahwa Goa Maria ini lahir dari adanya kerinduan mendalam dari mama-mama akan adanya kedamaian. Seperti yang diketahui bersama bahwa Stasi Isugiapa merupakan salah satu zona evakuasi pengungsi internal asal Intan Jaya. Isugiapa menjadi tempat pelarian dan persembunyian bagi umat Intan Jaya yang hidup dalam trauma operasi militer, perang, senjata, dan bom.
Untuk itu, sejak dulu, umat Katolik yang mendiami Stasi Isugiapa sangat mendambakan kedamaian. Hal ini wajar terjadi, sebab umat Stasi Isugiapa mayoritas berasal dari Suku Migani-Moni yang bermukim di Intan Jaya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Intan Jaya adalah salah satu wilayah konflik paling aktif di Tanah Papua. Konflik Intan Jaya pecah sejak 2018 hingga detik ini (2026), terhitung sudah 9 tahun lebih mendekati 10 tahun. Konflik ini mengakibatkan jatuhnya korban yang tidak sedikit, banyak nyawa melayang, baik di kalangan kombatan bersenjata (TNI-POLRI, TPNPB-OPM) maupun warga sipil.
Selain itu, gelombang pengungsian internal pun begitu masif. Meratapi situasi semacam ini, umat Isugiapa, terutama mama-mama, terpanggil untuk berdoa dan berdevosi kepada Bunda Maria guna memohon damai bagi keluarga dan rumahnya di Intan Jaya. Mereka harus menempuh jarak yang jauh menuju Legari 04 untuk berdoa bersama Bunda di Goa Maria Degli Angeli Legari 04. Mereka juga naik turun gunung mencari tempat sepi untuk berdevosi kepada Bunda Maria, kadang mereka pergi ke pinggiran pantai mencari nuansa kontemplatif untuk mendaraskan doa kepada Bunda Penolong Abadi, Maria.
Kerinduan dan harapan memiliki Goa Maria, tempat berdoa sendiri mulai menemukan titik terangnya ketika Quasi St. Antonius Padua Bumiwonorejo berubah status menjadi Paroki dan pertama kali dikepalai oleh Pastor Benny Magay Pr, seorang imam diosesan dan anak asli Migani-Moni. Mama-mama dari Stasi Isugiapa membawa kerinduan dan harapan pendirian Goa Maria kepada Pastor Paroki. Pastor Benny menyambut hangat niat baik umat Isugiapa mendirikan Goa Maria. Akhirnya, Panitia dibentuk pada Mei 2021.
Dalam kesaksian, Ketua Panitia Pembangunan, Bapak Emiel Dendegau, beliau menyampaikan bahwa dalam keterbatasan dana dan sumber daya, dirinya dan jajarannya menyanggupi mandat umat dan Pastor Paroki untuk mendirikan Goa Maria. Dan akhirnya, tepat Sabtu, 31 Oktober 2026 Goa Maria Ratu Damai, berdiri di pusat Stasi Isugiapa.
Usia membagikan sedikit pengalaman umat Isugiapa, perayaan dilanjutkan dengan Misa Syukur. Dalam homilinya yang bertolak dari (Luk. 14.1: 7-11) Pastor Benny menggiatkan umat belajar dari rendah hati dari dua orang kudus besar, yaitu Santo Paulus dan Santa Maria. Keduanya, mendapatkan kemuliaan yang besar dari Allah, sebab selama hidup dan berkarya mereka selalu memilih untuk rendah hati, tidak sombong, tidak ego, dan tidak “makan puji”.
Habis Misa, acara dilanjutkan dengan penyampaian sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Panitia, Bapak Emiel Dendegau. Sambutan kedua disampaikan oleh Ketua Dewan Stasi, Bapak Kris Zonggenau, sambutan ketiga oleh perwakilan pemerintah, disampaikan oleh Bapak Yoakim Mujijau, dan sambutan keempat atau terakhir disampaikan oleh Pastor Benny Magai. Sebelum mengakhiri sambutannya, Pastor Benny mengajak umat untuk ebamukai (alas tikar adat) guna membeli persediaan Gua yang kurang juga sebagai penambahan modal bagi panitia untuk menyelesaikan pekerjaan sisa yang belum selesai. Kegiatan diakhiri dengan doa makan dan ramah-tama bersama, dan pesta umat (sapusa dan wissi bersama di halaman Gereja).
Harapan dan Prospek Kedepan

Pembangunan Goa Maria Ratu Damai di Stasi St. Stefanus Isugiapa belum usai. Bangunan fisiknya tentu sudah berdiri megah, menurut Panitia dan umat, masih ada beberapa pekerjaan lainnya menuju proses finishing yang permanen, yaitu pagar, taman, serambi doa, bukit Kalvari, dan rumah singgah. Goa Maria Ratu Damai, sudah berdiri, namun untuk melindungi bangunan indah ini dari gangguan binatang liar dan pihak-pihak yang tidak bertanggung-jawab, panitia dan umat masih punya PR lanjutan, yaitu pembangunan pagar. Letak Asugua Au Dota Sonowi Mina berada di dekat sebuah padang rumput nun hijau segar. Padang rumput ini menjadi tempat para gembala sapi menggembalakan ternak gembalaannya.
Dengan begitu, amat riskan Goa tersebut diganggu ternak sapi. Berikut, panitia dan umat juga berniat membuat taman doa di sekitar Goa Maria Ratu Damai. Sebagaimana pesona Goa Maria pada umumnya yang selalu menyajikan panorama menawan, umat dan panitia sudah mendesain sebuah konsep taman doa yang bersih, indah, dan rapi. Panitia dan umat juga berniat membangun sebuah serambi doa, di mana ada kursi-kursi panjang dengan atap permanen bagi umat yang berkunjung. Panitia dan umat juga akan membangun sebuah bukit Kalvari bersebelahan dengan Gua Maria Ratu Damai, Bukit Kalvari ini akan menjadi perhentian terakhir dalam prosesi ibadah jalan salib setiap kali memasuki masa prapaskah dan paskah. Terakhir, umat dan panitia akan membangun rumah singgah untuk peziarah yang datang dari tempat jauh. Singkatnya, dalam bayangan panitia dan umat, Isugiapa sesuai namanya sendiri, yaitu tempat menerima dan membagi, kelak kompleks Isugiapa akan menjadi tempat kudus bagi mereka yang berharap menerima berkat dari Tuhan dan membagikannya, dengan kata lain suatu saat dalam rentang waktu yang tidak lama, Isugiapa beserta Goa Maria Ratu Damai, Bukit Kalvari, Seminari TOR, dan destinasi rohani lainnya akan menjadi tempat ziarah iman yang dari umat akan menerima banyak berkat dan mampu membagikannya kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.
Penulis: Fr. Siorus Ewainaibi Degei Pr (Frater yang sedang menjalani Masa Tahun Orientasi Karya (TOK) di Seminari TOR St. Paulus Nabire).




