Majalah Gaiya

TEMU MODERDA VIII REGIO PAPUA: MENJADI SAHABAT KRISTUS DALAM KEBERAGAMAN

KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Para moderator Gerakan Kharismatik Katolik dari lima keuskupan di Papua mengikuti Temu Moderator Daerah (Temu Moderda) VIII yang berlangsung di Bell Hotel, Merauke, pada 15–17 September 2026. Pertemuan yang dilaksanakan secara rutin setiap tiga tahun ini mengangkat tema “Menjadi Sahabat Kristus dalam Keberagaman.”

Temu Moderda VIII sekaligus dirangkaikan dengan Konvenda (Konvensi Daerah) Gerakan Kharismatik Katolik. Kegiatan tersebut dihadiri tiga uskup dan 18 imam dari lima keuskupan, yakni Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Agats, Keuskupan Manokwari-Sorong, Keuskupan Jayapura, dan Keuskupan Timika. Selain para uskup dan pastor moderator dari lima keuskupan, hadir pula Moderator Kharismatik Nasional, Pater Yustinus Hilman, Pr.

Temu Moderda dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Pastor Simon, moderator Gerakan Kharismatik Katolik Keuskupan Agung Merauke selaku tuan rumah. Dalam homilinya, ia menyampaikan keyakinan bahwa Gerakan Kharismatik Katolik akan terus berkembang karena mendapat dukungan dan pendampingan dari para uskup, pastor vikep atau deken, serta para imam. Menurutnya, Gereja senantiasa membutuhkan penyegaran rohani dalam perjalanan iman umat.

Selama dua hari kegiatan, para peserta mengikuti Perayaan Ekaristi, doa bersama, adorasi, sharing pengalaman, serta pengajaran sejumlah tema. Salah satu pengajaran disampaikan Pater Yustinus Hilman dengan tema “Tinggal dalam Kasih, Berbuah dalam Pelayanan.”

Dalam pengajaran tersebut, Pater Hilman mengajak peserta melihat berbagai situasi kehidupan yang tidak ideal, baik yang berasal dari diri sendiri maupun akibat tindakan orang lain. Ia menggunakan istilah “tujuh roh jahat” untuk menggambarkan berbagai godaan manusia, antara lain kesombongan, ketamakan, kejahatan seksual, kemarahan, kerakusan, iri hati dan fitnah, serta kemalasan.

Pater Hilman juga menyampaikan kisah Archie Williams sebagai contoh seseorang yang mengalami penderitaan akibat tuduhan yang kemudian terbukti tidak benar. Dari pengalaman tersebut, peserta diajak untuk tidak terbelenggu oleh keadaan, tetapi tetap memelihara harapan, berdoa, dan mengandalkan Tuhan.

“Jangan berfokus pada penjara dan segala keadaannya, tetapi berfokuslah pada harapan,” demikian pesan yang disampaikan dalam materi tersebut. Peserta juga diajak untuk tidak hanya meminta agar Tuhan mengambil salib kehidupan, tetapi memohon kekuatan untuk menjalaninya. Ketekunan dalam doa dan Ekaristi dipandang sebagai jalan untuk terus diperbarui dalam roh dan pikiran.

Pada sesi lainnya, Pater Hilman menyampaikan tema “Imam yang Siap Memberi Roti dan Menjadi Roti.” Dalam materi tersebut, ia mengingatkan bahwa Gerakan Kharismatik merupakan gerakan awam, tetapi tetap membutuhkan moderator imam yang memiliki kualitas relasi yang mendalam dengan Yesus.

Mengacu pada Yohanes 15:15, para imam diajak menyadari bahwa Yesus mengangkat mereka menjadi sahabat-Nya. Karena itu, seorang imam diharapkan mampu membangun kesetaraan dan persatuan dalam kasih tanpa membedakan usia, gender, etnis, maupun karakter. Imam juga dipanggil untuk menjadi “garam” yang membawa damai, tidak mencari kepentingan diri, siap berkorban, tidak mudah menghakimi, mampu mengampuni, dan tidak menyimpan sakit hati.

Sementara itu, Ibu Teresa Ivone Chow memperkenalkan metode evangelisasi Alpha. Metode yang bermula dari Gereja di Inggris tersebut kemudian berkembang di berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satu cirinya adalah evangelisasi dalam kelompok kecil yang beranggotakan tidak lebih dari 12 orang, disertai makan dan minum bersama, menyaksikan video pendek mengenai kehidupan nyata, berdiskusi dalam suasana santai, serta mendalami Sabda dan doa.

Metode Alpha, menurut materi yang disampaikan, dapat dilaksanakan di berbagai tempat dan ditujukan bagi siapa saja. Impiannya adalah menghadirkan evangelisasi bagi seluruh bangsa, revitalisasi kehidupan menggereja, serta transformasi sosial.

Pengajaran berikutnya disampaikan Pastor Al. John Bunay, Pr., dengan tema “Gembala yang Hadir: Suka Mendengar, Tergerak dan Action.” Para peserta diajak menyadari panggilan mereka sebagai gembala umat di Papua yang berhadapan dengan berbagai situasi kehidupan, termasuk konflik, kemiskinan, ketidakpastian, ketakutan, serta pengalaman keterpinggiran dan marginalisasi.

Dalam refleksinya, Pastor John mengajak para imam bertanya mengenai identitas dan panggilan mereka: siapa dirinya, untuk apa diciptakan, mengapa dipanggil menjadi imam, dan mengapa Tuhan menempatkannya di Papua. Pertanyaan tersebut diarahkan pada kesadaran bahwa setiap pribadi dicintai, dikenal, mulia, dan berharga di hadapan Allah.

Sebagai gembala di tanah Papua, imam dipanggil menjadi tanda kasih Allah yang konkret bagi umat. Kehadiran tersebut diwujudkan dengan mendengarkan mereka yang mengalami penderitaan, mendamaikan pihak-pihak yang berkonflik, memberi harapan kepada mereka yang mengalami ketidakpastian, serta meneguhkan mereka yang diliputi ketakutan.

Pastor John juga menekankan pentingnya komitmen membela kebenaran dan berjalan bersama umat Papua. Menurut materi yang disampaikannya, membela kebenaran berarti menyuarakan fakta dan data, tidak membenarkan kekerasan, konsisten dalam perutusan Yesus, serta bersedia mendengarkan semua pihak.

Ia menjelaskan bahwa kebenaran sejati memiliki empat pilar, yakni fakta yang benar, terciptanya keadilan sosial, menjaga keutuhan ciptaan, serta terus membangun jembatan dialog dan rekonsiliasi.

Selain pengajaran, salah satu bagian yang mendapat perhatian peserta ialah sharing antarimam, saling mendoakan, serta pengalaman penyembuhan dalam Adorasi. Rangkaian tersebut menjadi ruang bagi para peserta untuk memperdalam persaudaraan, saling menguatkan, dan merefleksikan kembali panggilan pelayanan mereka.

Temu Moderda VIII dan Konvenda Gerakan Kharismatik Katolik Regio Papua menjadi ruang perjumpaan bagi para moderator dari lima keuskupan untuk memperkuat persaudaraan, memperkaya pengalaman pelayanan, dan memperdalam panggilan untuk menghadirkan Kristus di tengah keberagaman umat di Papua. *** Y. HARYOTO SCJ

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button