Majalah Gaiya

MAKNA TUNGKU API KEHIDUPAN: PERSPEKTIF SOSIO-KULTURAL

Oleh. I. Musa

Pengantar

Tungku api adalah sesuatu yang sederhana: ia ada di rumah, di kebun, di kampung, dan bahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pada umumnya, terutama di Papua. Orang menyalakan api untuk memasak, merebus air, menyiapkan makanan, dan memenuhi kebutuhan hidup. Tetapi, tungku tidak hanya berbicara tentang api. Di sekitar tungku, orang duduk bersama. Ada cerita, percakapan, canda, tawa, nasihat, bahkan keputusan tentang kehidupan. Karena itu, tungku bukan sekadar benda. Tungku adalah ruang kehidupan itu sendiri. Di sana manusia bertemu dengan manusia, keluarga bertemu dengan keluarga, dan pengalaman hidup diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Hala tersebut digambarkan oleh Jan Boelaars dalam bukunya Manusia Irian: Dahulu, Sekarang, Masa Depan (1986) menempatkan kehidupan sehari-hari dan pandangan hidup sebagai bagian penting untuk memahami manusia Irian/Papua. Karena itu, kita mesti melihat tungku bukan hanya sebagai benda, tetapi sebagai bagian dari cara hidup masyarakat.

Ditegakan pula oleh Clifford Geertz, ia seorang antropolog ulung dalam bukunya The Interpretation of Cultures mengajak untuk melihat bahwa kebudayaan harus dibaca sebagai jaringan makna yang dihidupi manusia. Dengan cara pandang itu, tungku tidak cukup dilihat sebagai tiga batu, kayu bakar, dan api. Tungku mempunyai makna karena berada dalam kehidupan manusia. Ia berbicara tentang keluarga, makanan, kebersamaan, kerja, tanah, kebudayaan, dan masa depan. Dalam hal ini, sosiolog klasik Émile Durkheim dalam bukunya The Division of Labour in Society juga menunjukkan bahwa kehidupan sosial manusia dibangun oleh ikatan solidaritas. Manusia tidak hidup sendirian sebagai individu, tetapi terhubung melalui nilai, kebiasaan, dan kesadaran bersama sebagai makhluk sosial. Maka, ketika orang duduk bersama di sekitar tungku, yang terjadi bukan sekadar aktivitas makan, tetapi juga pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial antara individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok, dan kelompok dengan masyarakat sekitarnya. Itulah yang disebut dengan faktor sosial.

Dalam konteks Keuskupan Timika, makna tersebut memperoleh bentuk pastoral melalui gagasan atau pemikiran Mgr. John Philip Saklil, Pr, Uskup pertama Keuskupan Timika. Dalam kajian Sebastianus Ture Liwu dan Ignasius Samson Sudirman Refo, “Kepemimpinan Mgr. John Philip Saklil sebagai Gembala yang Baik di Keuskupan Timika Periode 2004–2019 dalam Terang Kepemimpinan Anthoni D’Souza”, JUMPA – Jurnal Masalah Pastoral, Vol. 11 No. 2 (2023), hlm. 70–95, Gagasan dan Gerakan Tungku Api Kehidupan ditempatkan dalam konteks kepemimpinan pastoral Mgr. Saklil. Gagasan tersebut kemudian tampak dalam seruan sekaligus sebagai gerakan pastoral oleh Mgr. John Saklil tentang: Biarkan Tungku Api Tetap Menyala: Gerakan Melindungi dan Mengelola Sumber Hak Hidup Ekonomi Masyarakat Adat Papua (2017), dan Gerakan Tungku Api Kehidupan: Mengakarkan Injil, Membangun Peradaban Gereja Lokal di Tanah Papua (2018). Karena itu, Tungku Api Kehidupan bukan sekadar simbol. Ia adalah cara pastoral untuk berbicara tentang sumber kehidupan, masyarakat adat, kebudayaan, tanah, ekonomi, lingkungan, dan masa depan Papua.

Tungku Api sebagai Sumber Kehidupan

Tungku adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Orang datang ke tungku karena membutuhkan makanan, untuk berjemur badan, dan untuk mengelola hidup dan kehidupan. Tetapi, setelah berada di sana, kehidupan sosial ikut bergerak dan berjalan. Ada yang memasak, mencari kayu, membawa hasil kebun, menjaga anak, berbicara, dan membantu serta berbagi kisah kasih di sana. Anak-anak melihat apa yang dilakukan orang tua dan belajar dari pengalaman itu tersebut.

Di sinilah gagasan Boelaars menjadi relevan: manusia Papua perlu dipahami melalui kehidupan sehari-hari dan kebudayaannya, bukan hanya melalui kategori yang dibuat atau didatangkan dari luar. Tungku menjadi ruang tempat kebutuhan fisik dan hubungan sosial bertemu. Api memberi panas, makanan memberi kehidupan, dan perjumpaan memberi kekuatan sosial yang terhubung antara satu sama lain sebagai makhluk sosial.

Ketika Mgr. John Saklil berbicara tentang “Biarkan Tungku Api Tetap Menyala”.  Ini bukan slogan biasa tanpa arti dan makna sebagai caption yang memasang via wa maupun media sosial lainnya. Yang dimaksud bukan pula  sekadar menjaga api agar tetap menyala. Yang hendak dijaga adalah sumber hak hidup masyarakat. Tanah menjadi bagian penting dari sumber kehidupan itu untuk mengelola dan merawat atau menjaga. Bagi masyarakat adat Papua, tanah bukan hanya komoditas ekonomi. Tanah berhubungan dengan sejarah, leluhur, identitas, kebun, hutan, sungai, makanan, dan masa depan bagi generasi penerus.

Oleh karena itu, Laudato Si’ Paus Fransiskus memberi terang yang kuat, seperti dalam artikel 49, Paus Fransiskus menghubungkan krisis lingkungan dengan penderitaan kaum miskin dan menegaskan bahwa jeritan bumi berkaitan dengan jeritan orang-orang yang menderita. Dalam artikel 139, ia lanjut menjelaskan dan sekaligus menegaskan tentang gagasan ekologi integral, bahwa persoalan lingkungan, ekonomi, sosial, dan budaya tidak dapat dipisahkan. Dengan perspektif ini, ketika hutan rusak, sungai tercemar, tanah kehilangan kesuburan, dan sumber pangan masyarakat hilang, yang terancam bukan hanya ekonomi, tetapi akan kehilangan ruang hidup atau keseluruhan kehidupan.

Tungku Api dan Solidaritas Sosial

Tungku adalah tempat orang berkumpul. Di sana orang tidak hanya makan, tetapi juga berbicara, mendengar, berbagi, membuat rencana, dan saling membantu antara satu sama lainnya. Durkheim, menjelaskan bahwa solidaritas menjadi salah satu dasar yang mengikat manusia dalam kehidupan bersama. Dalam pembahasannya tentang solidaritas mekanik, ia menunjukkan bagaimana kesamaan nilai dan kesadaran bersama dapat menjadi kekuatan yang menjaga kelompok. Dalam konteks Papua, tungku dapat dibaca sebagai ruang sederhana tempat solidaritas itu dirawat, dijaga dan dipelihara. Apa yang dilakukan di sekitar tungku mungkin terlihat kecil, tetapi dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah terbentuk hubungan sosial dibangun.

Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam The Social Construction of Reality menjelaskan bahwa kehidupan sosial dibentuk melalui interaksi sehari-hari. Kebiasaan yang terus menerus dilakukan dapat menjadi pola kehidupan bersama. Dalam konteks tungku, duduk bersama, berbagi makanan, mendengar cerita orang tua, membantu keluarga, dan menerima orang yang datang bukan hanya kebiasaan biasa. Di dalamnya terdapat proses pewarisan nilai. Yulia Sugandi dalam tulisannya Orang-Orang Hubula: Makna Martabat Kolektif Suku Hubula di Lembah Balim Papua juga memperlihatkan pentingnya hubungan antara identitas kolektif, kehidupan sosial, kebudayaan, dan lingkungan dalam memahami masyarakat Papua. Karena itu, tungku dapat menjadi ruang pendidikan kehidupan yang tidak selalu berlangsung di sekolah. Tetapi, itu tercipta di dalam rumah maupun di luar ruangan.

Makna kebersamaan tersebut mempunyai hubungan kuat dengan Fratelli Tutti. Dalam artikel 8, Paus Fransiskus menegaskan pentingnya kehidupan yang tidak dijalani sendirian dan perlunya manusia membangun hubungan yang saling menopang. Dalam artikel 94, ia menekankan bahwa persaudaraan bukan hanya hubungan pribadi, tetapi mempunyai dimensi sosial. Dalam konteks makna tungku, makanan tidak hanya untuk diri sendiri. Api tidak hanya untuk satu orang. Tungku mengajarkan bahwa kehidupan mempunyai ruang untuk berbagi. Karena itu, Tungku Api Kehidupan dapat dibaca sebagai bahasa sederhana tentang solidaritas, persaudaraan, dan persahabatan sosial.

Tungku Api di Tengah Perubahan Zaman

Papua tidak tetap seperti dulu. Papua sedang berubah secara cepat dan tepat. Kota berkembang, teknologi masuk sampai ke kampung, pola ekonomi berubah, dan anak-anak semakin banyak mengenal dunia melalui ruang digital. Perubahan itu tidak semuanya buruk. Papua membutuhkan pendidikan, teknologi, pembangunan, dan kemajuan ekonomi. Tetapi, perubahan juga membawa pertanyaan: kehidupan seperti apa yang sebenarnya sedang kita bangun? Oleh karena itu, pentingnya bagi pembahasan ini adalah bagaimana masyarakat menghadapi perubahan dan membayangkan kehidupan yang lebih baik.

Tungku Api Kehidupan tidak boleh disamakan dengan hal lainnya. Tungku bukan gerakan menunggu kekayaan atau barang dari luar. Tungku justru berbicara tentang bagaimana kehidupan dibangun dari sumber yang dimiliki masyarakat sendiri: tanah, kebun, hutan, laut, keluarga, kerja, kebudayaan, dan solidaritas. Ibrahim Peyon dalam artikel “Kargoisme dan Messianik Politik Etik Ero-Amerika”, Cenderawasih: Jurnal Antropologi Papua, Vol. 2 No. 1 (2021), hlm. 1–18, mengajak Papua tidak boleh terus-menerus menjadi objek yang dibaca dari luar. Papua juga mempunyai bahasa sendiri untuk membaca kehidupannya. Dalam konteks inilah Tungku Api Kehidupan menjadi penting: ia mengajak masyarakat bukan untuk menunggu, tetapi untuk menjaga, mengelola, dan mempertahankan sumber kehidupan yang sudah dimiliki.

Tungku Api dan Ajaran Sosial Gereja

Tungku Api Kehidupan mempunyai hubungan erat dengan Ajaran Sosial Gereja. Martabat manusia, kebaikan bersama, solidaritas, subsidiaritas (atau kata lain bantuan penyelesaian), keterlibatan, keberpihakan kepada yang dimiskinkan oleh sistem, serta keutuhan ciptaan semuanya dapat ditemukan dalam makna tungku. Manusia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai angka pembangunan, bukalah pula urusan angka statistik. Masyarakat adat tidak boleh hanya menjadi penerima  kebijakan yang sebagai pelaku subjek sejarah kehidupan.

Karena itu, prinsip kebaikan bersama mengajukan pertanyaan sederhana tetapi penting: apakah pembangunan membuat manusia semakin hidup di tengah perubahan zaman yang semakin cepat dan tepat? Apakah masyarakat mempunyai tanah, makanan, pendidikan, kesehatan, ruang budaya, dan masa depan?

Prinsip subsidiaritas juga mengingatkan bahwa masyarakat lokal harus mempunyai ruang untuk mengambil bagian dalam keputusan yang menyangkut kehidupan mereka sendiri. Tungku, dalam konteks ini, menjadi simbol kehidupan yang dibangun bersama dari bawah, bukan hanya ditentukan dari atas.

Di sinilah warisan pastoral Mgr. Saklil memperoleh makna yang lebih luas. Liwu dan Refo (2023, hlm. 70–95) menunjukkan bahwa konteks kepemimpinan Mgr. John Philip Saklil sebagai gembala Keuskupan Timika tidak dapat dilepaskan dari realitas sosial, budaya, dan kehidupan umat Papua yang terus mengalami perubahan. Kepemimpinannya hadir bukan hanya dalam dimensi pastoral, tetapi juga sebagai upaya membaca realitas masyarakat dan menghadirkan Gereja yang dekat dengan kehidupan umat.

Ricky Carol Yeuyanan kemudian membaca dalam artikel jurnal Gerakan Tungku Api Kehidupan di Paroki Modio sebagai gerakan bersama masyarakat dan Gereja dalam menghadapi perubahan sosial melalui pendekatan teologi kontekstual-antropologis. Yeuyanan mengulas bahwa gerakan tersebut memperlihatkan bagaimana iman, budaya, kehidupan sosial, dan pengalaman masyarakat setempat dapat menjadi ruang bersama untuk membangun daya hidup, solidaritas, serta ketahanan komunitas di tengah perubahan zaman. Dengan demikian, Tungku Api Kehidupan bukan sekadar program pastoral, melainkan gerakan kontekstual yang bertumbuh dari kehidupan nyata masyarakat dan berusaha menjawab perubahan dengan kekuatan budaya serta iman yang hidup di tengah komunitas.

Sementara itu, gagasan tentang GERTAK sebagai teologi yang berakar pada pengalaman konkret masyarakat menunjukkan bahwa Gereja tidak harus berbicara dengan bahasa yang jauh dari kehidupan umat. Dalam terang akara sosial Gereja menjaga tungku berarti menjaga rumah bersama, membangun persaudaraan, melindungi yang rentan, dan memastikan bahwa pembangunan tidak mematikan sumber kehidupan sebagai ditegakan oleh Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si dan Fratelli Tutti. Mgr. John Saklil telah tiada, tetapi semangat, motivasi, dan ajaran pastoralnya tetap dapat menjadi api yang menerangi perjalanan Gereja dan masyarakat di Tanah Papua.

Api Yang Jangan Sampai Padam: Sebab selama tungku masih menyala, kehidupan masih mempunyai harapan. Dan selama api kehidupan masih dijaga, Papua masih mempunyai masa depan.*)

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button