Majalah Gaiya

MAMA THERESIA SONDEGAU, FONDASI GEREJA MIGANI YANG KINI PULANG KE RUMAH BAPA

Perempuan pertama Suku Migani yang menjadi pewarta dikenang sebagai penerjemah Sabda, penjaga budaya, dan pelayan pendidikan bagi umat Bilogai.

KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Gereja Katolik Paroki Missael Kammarer Bilogai, Keuskupan Timika, berduka. Mama Theresia Sondegau, pensiunan Pewarta Paroki dan perempuan pertama dari Suku Migani yang menjadi Pewarta, telah dipanggil Tuhan tadi malam dari RS Karitas Timika, dalam usia sekitar 80 tahun.

Kepergian Mama Theresia bukan hanya kehilangan seorang pribadi. Ini adalah perpisahan dengan sebuah “fondasi”. Fondasi iman, bahasa, budaya, dan pendidikan bagi Suku Migani.

Penjembatan Sabda dan Budaya

Sebelum tahun 1999 hingga 2000-an, Mama Theresia setia mendampingi para Pastor dalam setiap perayaan di Paroki Bilogai. Tugasnya bukan sekadar membaca.

Ia adalah penerjemah Sabda. Setiap homili para Pastor diterjemahkannya ke dalam bahasa Migani, agar Sabda Allah tidak hanya didengar, tetapi dimengerti dan dihidupi oleh umatnya.

Sebagai koordinator para pewarta, ia juga menggali kearifan lokal. Ia menata lagu-lagu tradisi Migani dan doa-doa dengan konteks budaya Migani untuk digunakan dalam Liturgi. Kini, warisan itu telah menjadi kekayaan Liturgi Gereja di tanah Migani.

Bagi Mama Theresia, Injil tidak pernah datang untuk menghapus budaya. Injil datang untuk menggenapinya.

Filsafat Hidup: Doa, Sosial, dan Pendidikan

Dua hal yang selalu melekat pada diri Mama Theresia: hidup doa yang luar biasa baik dan hidup sosial yang luar biasa baik.

Dari dua akar itulah tumbuh buah-buahnya. Ia mendidik banyak anak dengan kasih. Tidak ada pilih kasih. Ia menolong begitu banyak orang tanpa pamrih.

Buktinya nyata hari ini: anak-anak yang ia didik, ia dampingi, dan ia kirim sekolah, kini berhasil dalam studi dan menjadi orang-orang hebat. Salah satu kesaksiannya datang dari Hendrika Bagau, yang dikirim ke Kupang sejak SD Kelas 4. Lewat sepucuk surat “dari kampung ke kampung… sampai ke tangan anakku di Kupang”, Mama Theresia terus menanamkan pesan:  “Harus pulang bawa ijazah”.

Bagi Mama Theresia, pendidikan adalah jalan keselamatan kedua setelah iman.

Warisan yang Perlu Diteladani

Apa yang bisa kita teladani dari Mama Theresia?

  1. Kesetiaan dalam perkara kecil. Menjadi pewarta, katekis, penerjemah, penata lagu, semua ia lakukan dengan setia, tanpa mencari nama.
  2. Inkarnasi Injil. Ia membuktikan bahwa menjadi Katolik tidak berarti meninggalkan jati diri sebagai orang Migani. Justru iman membuat budaya semakin bermartabat.
  3. Ibu bagi semua. Ia dikenal dan dicintai oleh semua petugas Gereja yang pernah bertugas di Bilogai karena kebaikan, kedekatan, dan pertolongannya.

Penutup: Pulang ke Rumah Bapa

Tadi malam, Sang Gembala memanggil pulang domba-Nya. Seorang perempuan sederhana yang telah menjadi guru, ibu, penerjemah, dan “fondasi” bagi Gereja Migani.

Terima kasih Mama Theresia Sondegau atas teladan iman, cinta, dan pelayananmu. Karya dan doamu akan terus hidup dalam denyut Gereja Migani.

“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” (Yoh 11:25).

Beristirahatlah dalam damai di pangkuan Sang Pencipta.*** P.YESKIEL BELAU,PR

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button