USKUP TIMIKA AJAK UMAT UGAPUGA MENJADI “YOHANES-YOHANES BARU” BAGI PAPUA
Bapa Uskup Bernardus Serukan Pembaruan Iman dan Moral
UGAPUGA, KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Perayaan syukur 75 tahun pewartaan Injil di Paroki Santo Yohanes Pemandi Ugapuga tidak hanya menjadi momentum mengenang sejarah masuknya iman Katolik, tetapi juga menjadi kesempatan bagi umat untuk memperbarui komitmen hidup beriman. Dalam homilinya pada Misa Syukur dan Pemberkatan Gereja Baru Paroki Santo Yohanes Pemandi Ugapuga, Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, mengajak umat untuk meneladani semangat Santo Yohanes Pembaptis sebagai pewarta kebenaran dan pelopor pertobatan.
Mengawali homilinya dalam misa syukur injil masuk di Ugapuga dan Pemberkatan Gedung Gereja Baru, Rabu (24/6/2026), Uskup Bernardus menegaskan bahwa kehadiran para misionaris di Tanah Papua bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari rencana keselamatan Allah bagi masyarakat Papua, khususnya orang Mee dan seluruh umat yang kini menikmati buah pewartaan Injil.
“Hari ini adalah perayaan iman, perayaan cinta kasih, dan perayaan pengharapan,” ujar Uskup di hadapan ribuan umat yang memadati gereja baru Paroki Ugapuga.
Pada kesempatan tersebut, Uskup juga menyampaikan gagasannya agar tanggal 22 Mei dikenang sebagai Hari Misi Katolik Masuk Tanah Papua. Menurutnya, tanggal tersebut merupakan momentum penting untuk mengenang jasa para misionaris yang telah mempersembahkan hidup mereka demi pewartaan Injil di Papua.
Setiap Orang Diutus untuk Sebuah Misi
Mengangkat teladan Santo Yohanes Pembaptis, Uskup Bernardus mengingatkan bahwa kelahiran Yohanes merupakan bagian dari rencana Allah. Karena itu, setiap manusia juga hadir di dunia bukan karena kebetulan, melainkan karena memiliki panggilan dan tugas khusus dari Tuhan.
“Kita yang hadir di sini bukanlah kebetulan. Kita lahir dan diutus oleh Tuhan untuk sebuah misi tertentu,” katanya.
Bertolak dari keyakinan tersebut, Uskup mengajak umat untuk menghormati dan menjaga kehidupan manusia sejak dalam kandungan. Kehidupan, katanya, merupakan anugerah Allah yang harus dilindungi dan dihargai sejak awal keberadaannya.
Tidak Ada yang Mustahil bagi Allah
Uskup juga mengajak umat merenungkan kisah Elisabet dan Bunda Maria yang menjadi bagian dari sejarah keselamatan. Kehamilan Elisabet pada usia lanjut serta Maria yang mengandung karena kuasa Roh Kudus menunjukkan bahwa Allah mampu melakukan hal-hal yang melampaui logika manusia.
Menurutnya, mukjizat Allah sering kali lahir dari ketekunan dan kesetiaan umat dalam berdoa. Karena itu, umat diajak untuk tidak hanya sibuk mengejar kebutuhan material, tetapi juga memberi ruang yang cukup bagi kehidupan rohani.
“Dunia saat ini penuh dengan berbagai tantangan, godaan, dan pengaruh yang dapat menjauhkan manusia dari Tuhan. Karena itu kita harus kembali kepada doa,” tegasnya.
Membangun Gereja yang Hidup
Dalam homilinya, Uskup Bernardus memberikan penekanan khusus pada pentingnya membangun iman umat. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan membangun gedung gereja yang megah harus diimbangi dengan pembangunan kualitas iman umat.
“Gedung gereja dan pastoran bisa dibangun dengan baik, tetapi membangun manusia beriman jauh lebih sulit,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak umat untuk memperkuat kehidupan doa melalui Rosario, Adorasi Sakramen Mahakudus, Doa Kerahiman Ilahi, serta berbagai bentuk devosi yang membantu umat semakin dekat dengan Tuhan.
Secara khusus, Uskup mengundang kaum muda untuk menjadi generasi yang mencintai doa dan menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupan mereka.
Saatnya Menyalakan Api Doa
Melihat berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini, Uskup mengajak umat membangun kelompok-kelompok doa di lingkungan dan keluarga. Menurutnya, pembaruan hidup umat tidak dapat terjadi tanpa kehidupan doa yang kuat.
Ia berharap setiap keluarga Katolik menjadikan rumah mereka sebagai tempat doa yang hidup, bukan hanya mengandalkan perayaan Minggu di gereja.
“Api doa harus terus menyala di tengah umat. Jika umat tekun berdoa, maka akan lahir pembaruan hidup dan harapan baru bagi Papua,” katanya.
Selain itu, Uskup juga meminta agar pelayanan Sakramen Tobat dilaksanakan secara rutin di seluruh paroki sehingga umat memiliki kesempatan untuk mengalami pertobatan dan pembaruan hidup secara terus-menerus.
Berani Menyuarakan Kebenaran
Pada bagian akhir homilinya, Uskup Bernardus mengangkat keberanian Santo Yohanes Pembaptis yang menegur Raja Herodes karena hidup dalam dosa. Menurutnya, teladan Yohanes tetap relevan di tengah berbagai persoalan moral yang dihadapi masyarakat saat ini.
Ia mengajak umat untuk tidak diam terhadap berbagai bentuk kejahatan, kekerasan, pelanggaran moral, maupun tindakan yang merusak martabat manusia.
“Kita dipanggil menjadi Yohanes-Yohanes yang baru. Berani menyuarakan kebenaran, hidup sederhana, setia kepada Tuhan, dan menjadi tanda harapan bagi sesama,” tegasnya.
Melalui perayaan syukur 75 tahun pewartaan Injil di Ugapuga, Uskup Timika berharap umat tidak hanya mengenang jasa para misionaris, tetapi juga melanjutkan semangat pewartaan yang telah diwariskan. Dengan meneladani Santo Yohanes Pembaptis, umat diajak menjadi saksi Kristus yang berani, setia, dan membawa terang Injil bagi Tanah Papua.(JIMMY RAHADAT).




