KEUSKUPAN TIMIKA DAN FREEPORT SATUKAN LANGKAH TINDAK LANJUTI HASIL LOKAKARYA PENDIDIKAN
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Keuskupan Timika terus bergerak menindaklanjuti hasil Lokakarya Pendidikan Dasar dan Menengah yang digelar pada 14–16 April 2026 lalu. Dalam pertemuan evaluasi bersama PT. Freeport Indonesia di Aula Transit Bobaigo, Kamis (11/6/2026), Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, menegaskan komitmen Keuskupan untuk membangun kembali pendidikan Katolik di Tanah Papua melalui kolaborasi dengan pemerintah dan PT Freeport Indonesia.
Mgr. Bernardus menyampaikan apresiasi kepada PT Freeport Indonesia atas dukungan dan berbagai masukan yang diberikan selama proses lokakarya berlangsung. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada panitia yang telah bekerja menyukseskan kegiatan tersebut.
Sebagai langkah konkret, Keuskupan Timika telah membentuk tim khusus (task force) yang bertugas menindaklanjuti hasil-hasil lokakarya dan menjadi penghubung dengan berbagai pihak terkait. Tim tersebut telah ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) dan mulai bekerja melaksanakan sejumlah program prioritas.
“Tugas pertama tim adalah membukukan seluruh hasil lokakarya. Selanjutnya, tim akan mengembangkan program beasiswa yang dikoordinasikan oleh Ibu Katy dan melakukan koordinasi lanjutan pada akhir September 2026,” ujar Mgr. Bernardus.
Menurutnya, pengembangan pendidikan di wilayah Keuskupan Timika harus dilakukan secara sinergis bersama pemerintah dan PT Freeport Indonesia melalui Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK). Program beasiswa yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada bantuan biaya pendidikan, tetapi juga mencakup pendampingan bagi para penerima manfaat.
Keuskupan Timika juga tengah menyiapkan kerja sama dengan PT Freeport Indonesia, Pemerintah Kabupaten Mimika, dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah untuk pengembangan beasiswa pendidikan tinggi. Program tersebut akan memprioritaskan masyarakat Amungme, Kamoro, serta suku-suku Papua lainnya yang berada di wilayah Keuskupan Timika.
Selain itu, Keuskupan berencana merekrut tenaga guru dan staf administrasi serta membangun pusat-pusat pendidikan dasar yang dilengkapi asrama di sejumlah wilayah strategis.
“Disiplin, komitmen, dan pendidikan karakter harus menjadi kekuatan sekolah-sekolah Katolik. Ini adalah waktu Tuhan bagi kita, sebuah masa rahmat untuk membangkitkan kembali pendidikan Katolik di Keuskupan Timika,” tegas Uskup Bernardus.

Komitmen Freeport Indonesia
Manager Tata Kelola dan Kepatuhan Program Sosial PT Freeport Indonesia, Resa Sofian, menegaskan bahwa perusahaan memiliki komitmen kuat dalam mendukung pengembangan pendidikan di Papua, khususnya di Kabupaten Mimika dan wilayah sekitar area operasional perusahaan.
Menurut Resa, PT Freeport Indonesia menyambut baik gagasan Keuskupan Timika untuk meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah pelayanan keuskupan. Selama ini, pendidikan juga menjadi salah satu portofolio terbesar program sosial yang dijalankan perusahaan bersama YPMAK.
“Kami merasa Freeport perlu berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan, khususnya Keuskupan Timika, agar tujuan pengembangan pendidikan dapat berjalan searah dengan pemerintah daerah dan gereja,” ujarnya.
Resa menjelaskan bahwa PT Freeport Indonesia telah terlibat dalam proses lokakarya dan berharap berbagai target serta rencana yang telah dirumuskan dapat diimplementasikan secara bersama-sama demi masa depan anak-anak Papua.
Dalam pertemuan bersama Uskup Timika, lanjutnya, sejumlah program prioritas telah dibahas, termasuk pengembangan beasiswa, penguatan pendidikan dasar, dan berbagai upaya peningkatan kualitas pendidikan lainnya.
“Secara umum kami mendukung program-program yang telah dirancang. Selanjutnya kami akan mendiskusikan bentuk dukungan konkret PT Freeport Indonesia terhadap berbagai rencana yang dihasilkan dari lokakarya tersebut,” katanya.

Fokus pada Tindak Lanjut
Sementara itu, Ketua Panitia Lokakarya Pendidikan Keuskupan Timika, Pastor Johanes Sudrijanta, SJ, mengatakan bahwa lokakarya dapat terlaksana dengan sangat baik berkat dukungan berbagai pihak, terutama Pemerintah Kabupaten Mimika dan PT Freeport Indonesia.
“Kini saatnya memasuki tahap tindak lanjut. Bapa Uskup telah membentuk tim task force dan dalam waktu dekat kami akan mengadakan berbagai pertemuan untuk memastikan rekomendasi lokakarya dapat diwujudkan,” ujarnya.
Pastor Johanes menjelaskan bahwa salah satu prioritas yang telah disampaikan Uskup Timika adalah pengembangan pusat-pusat pendidikan berasrama di beberapa wilayah, seperti Ilaga, Wagete, Nabire, dan Kokonao. Sejumlah fasilitas yang sudah ada akan dioptimalkan kembali untuk menjadi pusat pendidikan yang mampu menjangkau anak-anak dari berbagai daerah.
Selain itu, Keuskupan juga berupaya memastikan seluruh sekolah Katolik di Kabupaten Mimika dapat berjalan secara efektif, baik di wilayah perkotaan, pesisir, maupun pegunungan.
“Kami telah menyiapkan sistem untuk memastikan sekolah-sekolah tetap berjalan. Persoalan kualitas akan berkembang secara bertahap apabila sekolah-sekolah tersebut dapat beroperasi dengan baik dan berkelanjutan,” jelasnya.
Menurut Pastor Johanes, penguatan kapasitas Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) juga menjadi agenda penting agar mampu menggerakkan dan mendampingi sekolah-sekolah Katolik secara lebih efektif.
Ia menambahkan bahwa PT Freeport Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Mimika telah menyatakan komitmennya untuk mendukung program-program yang akan dijalankan Keuskupan Timika.
“Kami melihat adanya semangat kolaborasi yang sangat baik. Saat ini para mitra menunggu kebutuhan-kebutuhan konkret yang akan kami ajukan dalam kerja sama ke depan,” katanya.
Bangun Kembali Pendidikan Katolik di Papua
Sebelumnya, Keuskupan Timika menyelenggarakan Lokakarya Pendidikan Dasar dan Menengah pada 14–16 April 2026 dengan mengangkat tema “Membangun Kembali Pendidikan Katolik di Tanah Papua: Menemukan Terobosan di Tengah Krisis.”
Lokakarya tersebut menghasilkan berbagai rekomendasi strategis untuk memperkuat pendidikan Katolik di wilayah Papua, mulai dari peningkatan kualitas sekolah, pengembangan pendidikan berasrama, program beasiswa, hingga penguatan tata kelola lembaga pendidikan. Hasil-hasil tersebut kini memasuki tahap implementasi melalui kolaborasi antara Keuskupan Timika, pemerintah, PT Freeport Indonesia, YPMAK, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. (JIMMY RAHADAT)




