Majalah Gaiya

FILM PESTA BABI DI MERAUKE SEBAGAI CERMIN MELIHAT KEEROM MASA DEPAN

Membaca Secara Kritis Film Pesta Babi

Film pesta babi menuai pro-kontra setelah ditayang di seluruh Indonesia. Sebagian besar kalangan akademisi, LSM, dan masyarakat umum di Indonesia sadar bahwa ada masalah di Papua. Ada pula yang mengkritisi Film Pesat Babi  sebagai alat untuk mengadu domba masyarakat Papua dan pemerintah. Juga mengritisi film pesta babi sebagai salah satu karya seni yang di salah satu sisi memiliki kekurangan, tetapi di sisi lain sebagai media masyarakat adat Marind dan Muyu menyampaikan protes terhadap kebijakan pemerintah membangun Papua dengan narasi pembangunan tetapi merugian masyarakat lokal dan alam.

Dari sejumlah kritik dan tanggapan itu, ada dua hal yang musti disadari oleh masyarakat umum. Pertama, Film Pesta Babi sebagai cermin untuk melihat kopleksitas masalah di Papua. Masalah Papua tidak hanya tentang ekologi. Kehidupan di Papua seperti rantai makanan, ketika salah satu dari ekosistem kehidupan terganggu, semua jaringan hidup masyarakat Papua terganggu. Masyarakat papua hidup dalam “jejaring hidup” yang saling menguntungkan. Jaringan ini yang memberi identitas, mengikat dan mempertahankan hidup masyarakat Papua. Jaringan hidup ini disebut dengan relasi harmonis antara manusia, alam, dan leluhur. Salah satu dari jaringan relasi itu dirusak, semuanya akan kacau. Film Pesta Babi memperlihatkan upaya nyata pemutusan jaringan hidup manusia Papua dan seluruh eksistensinya. Kedua, Film Pesata Babi memperlihatkan kolonialisme dan imperialisme masa sekarang. Kolonialisme dan imperialisme masa sekarang  adalah penjajahan terhadap pemikiran dan cara hidup. Jaman dulu orang menjajah bangsa lain dengan penguasaan tanah dan kekuatan fisik, sekarang dengan kolonisasi pemikiran dan imperialisasi cara hidup. Bentuk penjajahan seperti itu tercermin dalam narasi pembangunan nasional, ketahanan pangan, pendekatan keamanan, swasembada pangan hingga narasi campur tangan negara asing.

Film Pesat Babi sebagai narasi tandingan terhadap  narasi-narasi penguasa dan para elit. Ia sebagai soft-dialogue namun sebagai alat visual yang kuat menyentuh perasaan manusia. Film Pesta Babi memuat cuplikan-cuplikan video pendek yang memperlihatkan Pembangunan Strategi Nasional (PSN) di Merauke, pengungsian di sejumlah tempat seperti di Maybrat, konflik bersenjata antara TNI dan OPM di Nduga, serta perlawanan masyarakat Marind terhadap pemerintah untuk mempertahankan hak wilayah tanah adat dan pesta babi masyarakat Muyu sebagai tanda relasi harmonis antara klen, alam dan leluhur. Dialog visual seperti ini lebih kuat menggugah hati semua kalangan di jaman tiktok dan istragram dibanding dialog teks dan audio.

Masyarakat Keerom Sedang dalam Bayang-Bayang Pengungsian Masa Lalu (thn 80-an)

Patut diapresiasi bahwa pemerintah Keerom sudah mencabut izin usaha perusahaan sawit yang beroperasi di Arso Timur dan mengembalikan 4. 855 hektare lahan kepada masyarakat adat. Disamping prestasi itu rupanya pemerintah pusat dan daerah sedang mencanangkan food estate di Kabupaten Keerom. Kabupaten Keerom sebagai salah satu dari sejumlah program strategi pembangunan nasional. Pemerintah Kabupaten Keerom telah mempetakan tanah di Keerom sebagai lumbung pangan nasional dengan kebun jagung di Kampugn Wambes, Distrik Manem sekita 10.000 hektare, cetak sawa sekitar 30.000 hektare.

Pemerintah dengan pencanangan itu seakan lupa sejarah masa kelam masyarak Keerom pada tahun 1980-an. Bukan hanya sejarah yang menjadi bayang-bayang masa lalu kelam, Masyarakat Arso kehilangan tanah adat karena Perkebunan kelapa sawit dan transmigrasi. Selain itu, pemerintah seakan tak melihat banjir yang selalu meluap di sejumlah tempat di Arso seperti di Workwana, Arso 14, Arso 7 dan Pir III Bagia. Berdasarkan sejarah dan fakta itu, pemerintah musti pertimbangkan Keerom sebagai lumbung pangan nasional. Jika pemerintah tetap melanjutkannya, masyarakat Keerom sudah dipastikan bahwa akan kedua kalinya mengungsi ke Papua Neugunea.

Pada Masa Orde Baru dibawa kepemimpinan presiden Soeharto yang otoriter dan militeristis serta pembentukan markas Viktoria di Waris mengharuskan masyarakat Keerom menyeberang ke negara tetangga (PNG). Soeharto melancarkan operasi militer di sejumlah tempat termasuk di Kabupaten Keerom waktu itu masih bagian dari Kabupaten Jayapura. Sebagai bentuk perlawanan di waris dibentuklah markas Viktoria yang merupakan cikal bakal terbentuknya OPM di wilayah MAMTA/TABI. Di bawa kepemimpinan Yokob Pray dan Seth Jafeth Roemkorem masyarakat Papua melakukan perlawanan terhadap militerisme pemerintah Indonesia pada masa orde baru. Peristiwa itu  berdampak sebagian besar masyarakat Keerom mengungsi ke PNG dan beberapa yang tinggal bersembunyi di hutan-hutan hingga tahun 90-an. Dampak itu membuat masyarakaat takut terhadap militer dan segala sesuatu yang berbau asing hingga SDM Keerom pun sangat tertinggal jauh dari daerah-daerah Papua lain.

Solusi dan Catatan Kritis Berdasarkan Contoh PSN di Merauke dan Sejarah Keerom Masa Lalu

Kebijakan pemerintah Kabupaten Keerom dalam mendukung proyek strategi pembangunan nasional harus berdasarkan analisis dampak lingkungan (AMDAL) dan pengakuan suara masyarakat dalam penentuan kebijakan. Setiap proyek entah dalam mengeruk  sumberdaya alam dan proyek pembangunan ketahanan pangan selalu menggunakan AMDAL. PSN di Merauke menjadi masalah karena tidak berdasarkan AMDAL dan ketidakterlibatan masyarakat adat dalam mengambil keputusan.

Pemerintah Kabupaten Keerom harus memetahkan fungusi kerja sipil dan militer. Di Kabupaten Keerom tidak kekurangan tenaga kerja sipil. Tenaga kerja sipil baik di bidang pertanian, bidang kesehatan, bidang pendidikan serta bidang-bidang terkait yang menjadi rana kerja sipil. Banyak masyarakat Keerom tamatan SMA sampai yang perguruan tinggi sedang menganggur karena minim lapangan pekerjaan, dan tentunya mereka yang tidak lulus CPNS formasi 2024.

Pemerintah Keerom sebelum membuka lahan pertanian harus mensosialisasikan dan memberi pelatihan pertanian kepada masyarakat asli Keerom. Pemerintah tidak berlasan dengan pengetahuan orang asli tentang pertanian. Orang Keerom mempunyai imajinasi pertaniannya sendiri, dan karena itu musti dilatih untuk menjadikan mereka petani modern.

Selain sejumlah hal itu, dukungan pemerintah dan setiap investor yang masuk di kabupaten Keerom wajib mendukung sumberdaya manusia Keerom dengan memberi biyasiswa penuh kepada putra-putri orang asli Keerom. Selama ini pemerintah tidak begitu serius mengejar misinya, melahirkan 1000 doktor di kabupaten Keerom. Pemerintah lebih fokus perlombaan dan pesta pora dan mengabaikan misis utamanya. ***FT

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button