MENGEMBALIKAN SEKOLAH KE PELUKAN BUDAYA
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Dunia pendidikan di Papua Tengah saat ini sedang menghadapi tantangan besar. Di balik rendahnya tingkat literasi dan angka kemiskinan yang mencapai 29,45 persen, terdapat masalah yang lebih mendasar, yakni pendidikan kita sedang mengalami krisis kebudayaan.
Hal ini ditegaskan oleh Dr. Albertus Heriyanto dari STFT Fajar Timur Jayapura dalam Lokakarya Pendidikan Keuskupan Timika di otel Swiss Belinn, (15/4/2026. Menurutnya, banyak sekolah di Papua Tengah kini tercerabut dari akar budayanya dan justru menjadi alat yang membuat siswa merasa asing di tanahnya sendiri.
Dr. Albertus mengajak para pendidik untuk mengubah paradigma. Pendidikan tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai layanan sosial biasa, tapi harus menjadi sebuah “gerakan kebudayaan”.
“Sekolah Katolik harus menghidupkan kembali identitas, pengetahuan lokal, dan martabat masyarakat setempat,” ujarnya. Ia mengenang bagaimana misionaris awal bukan hanya datang sebagai pewarta Injil, tetapi juga sebagai antropolog yang membumi, belajar bahasa daerah, dan menjadikan sekolah sebagai bagian integral dari kehidupan sosial masyarakat.
Salah satu masalah kunci yang disoroti adalah “alienasi profesi” guru. Saat ini, guru sering kali terjebak menjadi sekadar pegawai administrasi yang terputus relasi kulturalnya dengan murid dan masyarakat. Akibatnya, sekolah menjadi entitas yang terpisah dari komunitas, di mana orang tua lepas tangan dan anak-anak hidup dalam dua dunia yang berbeda, yakni dunia sekolah dan dunia rumah.
Untuk membenahi krisis ini, Dr. Albertus menawarkan lima pilar rekomendasi bagi pendidikan:
- 1. Ekologi Pengetahuan Lokal
Menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar di jenjang TK hingga awal SD, serta menjadikan lingkungan alam (hutan, sungai, laut) sebagai laboratorium belajar.
- 2. Reformasi Peran Guru
Guru harus kembali menjadi “intelektual kampung” dan mediator budaya yang menghubungkan dunia lokal dengan dunia global.
- 3. Sekolah sebagai Ruang Rekonsiliasi
Terutama di wilayah konflik, sekolah harus menjadi “ruang ketiga” yang netral dan aman bagi pemulihan trauma anak-anak.
- 4. Kurikulum Kontekstual
Bukan sekadar menambal muatan lokal, tapi merombak kurikulum agar kearifan lokal merasuki seluruh proses pembelajaran.
- 5. Sinergi Tiga Ranah
Membangun kerja sama erat antara Gereja, otoritas adat, dan pemerintah.
Visi besar dari gerakan ini adalah memastikan anak-anak Papua tidak perlu meninggalkan identitasnya untuk menjadi cerdas. Sekolah Katolik diharapkan menjadi ruang di mana mereka bisa mencintai budayanya sambil tetap menguasai ilmu pengetahuan modern. (***)




