DARI GURU “MANGKIR” HINGGA MIMPI MEMBANGUN DARI PESISIR
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Hari pertama Lokakarya Pendidikan di Timika, Selasa (14/4/2026), dibuka dengan sebuah kenyataan pahit pendidikan di Papua. Melalui sesi “Potret Faktual Pendidikan”, para tokoh pendidikan membedah kondisi riil di lapangan, mulai dari ruang kelas yang kosong hingga persoalan administrasi yang “amburadul”.
Diskusi hangat ini dipandu oleh Pastor Febronius Angelo, PR, seorang imam yang sehari-hari bergelut dengan pelbagai tantangan pendidikan di wilayah konflik, Ilaga.
Pastor Andreas Madya Ariyanti, SCJ, dari Dekanat Mimika Agimuga, mengawali dengan sebuah ironi. Di saat sekolah-sekolah di Kota Timika berjalan sesuai harapan, pemandangan berbeda justru terjadi di wilayah pesisir dan pedalaman.
“Di daerah seperti Kokonao, keberlangsungan sekolah sering terancam. Bayangkan, ada SD yang gurunya cuma satu, tapi dia harus mengajar dari kelas 1 sampai kelas 6 sendirian,” ungkap Pastor Andreas. Kekurangan tenaga pendidik ini menjadi momok utama yang membuat pendidikan di pinggiran seolah berjalan di tempat.
Mewakili Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah dan Pokja Papua Cerdas (BP3OKP), Yulianus Kuayo memaparkan data yang cukup mengejutkan mengenai klasifikasi kondisi anak-anak saat ini:
- Ada anak, tapi sekolahnya tidak ada. Terjadi di pelosok karena rasio siswa yang tidak memenuhi syarat.
- Anak putus sekolah. Akibat konflik, kurangnya perhatian orang tua, hingga jeratan miras dan narkoba.
- Ada sekolah, tapi gurunya tidak ada. Karena guru sering mangkir, sibuk berpolitik, atau menjadikan profesi guru hanya sebagai batu loncatan menjadi PNS.
- Guru ada secara kuantitas, tapi kualitas kurang. Fokus hanya pada literasi dasar tanpa kedalaman kompetensi.
- Guru lengkap dan berkualitas. Hanya terpusat di wilayah perkotaan.

Kabar baiknya, Pemprov Papua Tengah baru saja menetapkan Perda Nomor 9 Tahun 2026 tentang Pemberdayaan Lembaga Pelopor Pendidikan dan Sekolah Swasta. Selain itu, ada kebijakan redistribusi guru ASN ke sekolah swasta guna memeratakan kualitas pendidikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).
“Kami ingin guru-guru di Papua tidak hanya profesional secara administratif, tapi juga punya panggilan hati,” tegas Yulianus.
Di tengah pembahasan teknis soal regulasi, Yulianus melontarkan kalimat yang cukup menghentak, “Kader Katolik hilang, nggak ada lagi.” Pernyataan ini seolah menjadi alarm bagi Gereja dan yayasan pendidikan
Sikap kritis juga datang dari Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika. Antonius Welerubun secara blak-blakan menyoroti tata kelola dinas yang selama ini kurang maksimal.
“Data kita masih amburadul. Ada sekolah yang staf pengajarnya menumpuk sampai 53 orang padahal ruang kelasnya sedikit, sementara sekolah swasta justru kekurangan guru,” tuturnya.

Lebih berani lagi, Antonius mengungkap adanya praktik “main mata” antara pihak dinas dan sekolah di masa lalu, termasuk isu pemotongan dana BOS sebesar 10-15 persen. “Saya pastikan, ke depan tidak ada lagi pemotongan. Ini tanggung jawab moral untuk mencerdaskan anak Papua. Kami akan fokus membantu sekolah swasta dan wilayah pesisir tanpa membedakan status inpres atau negeri,” tambahnya.

Menutup sesi, tim ahli lokakarya, Prof Dr. yustinus Budi Hermanto dari yayasan Widya mandala Surabaya merumuskan lima poin penting untuk masa depan pendidikan di Keuskupan Timika. Respons Cepat. Yakni Menyiapkan guru profesional khusus untuk daerah konflik. Pendampingan Guru. Model pelatihan yang menyentuh aspek pedagogik dan sosial- budaya. Sinergi Lintas Sektor. Yakni Kerja sama erat antara YPPK, Pemda, dan Pemprov. Program Inovatif. Yaitu Penerapan Sekolah Sepanjang Hari (SSH) dan Boarding School (sekolah asrama) untuk wilayah 3T. Lantas, Kurikulum Kontekstual. Menyelipkan kearifan lokal dan nilai Katolik tanpa menabrak standar nasional.
Lokakarya ini menjadi pengingat bahwa memperbaiki pendidikan di Papua poinnya menyoal membenahi manajemen dan mengembalikan sosok guru ke dalam ruang kelas.***




