BERSYUKUR DAN BERBAGI: INSPIRASI MENYONGSONG PASKAH DAN IDULFITRI 2026
Oleh: RD. Benyamin Sugiyatanggu Magay
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Setiap manusia hidup dengan berbagai kebutuhan dasar, yakni sandang, pangan, dan papan. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, setiap orang bekerja dan berusaha sesuai dengan panggilan hidupnya. Namun, setiap orang juga menerima rezeki yang berbeda-beda. Semua itu terjadi karena kehidupan manusia berada dalam penyelenggaraan Sang Sumber Hidup, yaitu Tuhan sendiri.
Dalam perjalanan hidup, manusia dipanggil untuk bekerja demi menghidupi diri sendiri, keluarga, dan juga sesama yang membutuhkan pertolongan. Namun tidak jarang orang merasa tidak puas atau mengeluh atas pekerjaan dan rezeki yang dimilikinya. Bahkan, ada yang tergoda mencari rezeki melalui cara-cara yang tidak benar atau tidak halal.
Padahal, mencari rezeki dengan cara yang tidak benar akan membawa banyak dampak buruk, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Karena itu, setiap pribadi dipanggil untuk bersyukur atas pekerjaan dan rezeki yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Kita tidak boleh mengorbankan sesama demi kepentingan pribadi.
Saat ini umat Kristiani dan umat Islam sedang menjalani masa puasa dan pantang dalam rangka mempersiapkan diri menyambut hari raya besar, yakni Paskah bagi umat Kristiani dan Idulfitri bagi umat Islam. Masa ini menjadi kesempatan bagi setiap orang untuk merenungkan kembali panggilan hidup dan rezeki yang Tuhan titipkan kepada masing-masing pribadi.
Paskah mengajak umat Kristiani untuk menguburkan kelemahan dan dosa, lalu bangkit bersama Kristus menuju kehidupan yang baru. Sementara Idulfitri mengajak umat Islam untuk menahan diri dari segala hal yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dan kembali kepada jalan yang benar.
Dalam semangat persiapan menuju dua perayaan besar ini, ada beberapa sikap hidup yang dapat kita renungkan bersama.
Pertama, menjalankan puasa dan pantang bukan sekadar seremonial keagamaan, melainkan kesempatan untuk memperbarui diri dan mengarahkan hidup kepada Tuhan.
Kedua, masa puasa menjadi waktu untuk memperbanyak rasa syukur atas rezeki yang Tuhan berikan dalam hidup kita.
Ketiga, setiap orang dipanggil untuk setia pada pekerjaan yang dijalankannya, karena di sanalah Tuhan menyediakan rezeki bagi kehidupan kita.
Keempat, daripada terus mengeluh tentang pekerjaan atau keadaan hidup, kita diajak untuk tetap tekun dan bersyukur atas apa yang dimiliki.
Kelima, kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang peduli dan mau berbagi. Rezeki yang Tuhan berikan, baik dalam kekurangan maupun kelimpahan, hendaknya menjadi berkat bagi sesama yang membutuhkan.
Dengan demikian, masa puasa menjelang Paskah dan Idulfitri menjadi kesempatan untuk memperdalam iman, menumbuhkan rasa syukur, dan menghidupi semangat berbagi. Ketika manusia mampu bersyukur dan berbagi, di situlah tercipta kehidupan yang damai, penuh kasih, dan berkenan di hadapan Tuhan.
Semoga semangat ini menuntun kita semua untuk menjadi pribadi yang lebih beriman, bersyukur atas rezeki yang ada, serta menjadi berkat bagi sesama di mana pun kita berada. *** P. BENNY MAGAY




