GERTAK: UPAYA MENEMUKAN NILAI PERDAMAIAN MELALUI TRANSFORMASI DIRI
REFLEKSI MINGGUAN PARA FRATER WISMA TIGA RAJA KEUSKUPAN TIMIKA
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Para Frater dari Wisma Tiga Raja, Keuskupan Timika, kembali berkumpul dalam forum diskusi mingguan untuk membahas tema GERTAK: Upaya Menemukan Nilai Perdamaian melalui Transformasi Diri. Pada kesempatan ini, materi disampaikan oleh Fr. Yuvensius Belau. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali lebih dalam nilai-nilai Tungku Api Kehidupan, khususnya bagi para Frater calon Imam di Keuskupan Timika.
Diskusi yang berlangsung pada Selasa, 18 Maret 2025, di Mausoleum Pater Neles, diawali dengan doa pembuka oleh Fr. Papua Yawan, dan resmi dibuka oleh Ketua Komunitas Konfrater Wisma Tiga Raja, Fr. Martinus Tenouye.
Dalam pemaparannya, Fr. Yuvensius Belau menyampaikan bahwa perdamaian sejati dapat dicapai melalui proses transformasi diri yang mendalam. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam semua aspek kehidupan: pendidikan, kesehatan, politik, keluarga, komunitas, hingga pastoral demi mewujudkan kesejahteraan dan perdamaian holistik bagi umat manusia dan seluruh ciptaan Allah.
Tungku Api Kehidupan untuk Menemukan Nilai Perdamaian melalui Transformasi Diri
Tungku Api Kehidupan melambangkan kekuatan batin, semangat yang membara dalam diri manusia, yang memengaruhi cara pandang, sikap, dan tindakan dalam menjalani kehidupan. Dalam perjalanan hidup, setiap orang menghadapi tantangan dan pergulatan batin yang menuntut perubahan diri.
Pastor Marthin E. Kuayo (2019) menyampaikan bahwa,
“Gerakan Tungku Api adalah gerakan menyelamatkan umat dan masyarakat secara keseluruhan, dengan memanfaatkan potensi alam demi keberlanjutan hidup. Kami mengajak umat Katolik untuk terus melanjutkan gerakan Tungku Api Kehidupan yang dirintis oleh Bapak Uskup John Saklil.”
Ajakan ini menjadi seruan bagi seluruh masyarakat Papua untuk melanjutkan Gerakan Tungku Api sebagai jalan menuju kedamaian sejati.
Transformasi Diri sebagai Proses Kehidupan
Pastor Ricky Carol Yeuyanan (2019) menegaskan bahwa,
“Kehidupan manusia selalu dihadapkan pada berbagai macam perubahan yang membawa dampak besar dalam semua aspek kehidupan.”
Transformasi diri menjadi kunci penting, baik dalam ranah pribadi maupun sosial, melalui kekuatan batin yang dimiliki setiap individu.
Aspek-aspek Transformasi dalam Kehidupan
Berikut beberapa bidang kehidupan yang dijelaskan Fr. Yuvensius Belau, di mana Tungku Api Kehidupan berperan penting dalam menciptakan perdamaian melalui transformasi diri:
- Aspek Pendidikan
Pendidikan adalah sarana utama untuk membangun dan mengembangkan potensi manusia. Uskup John Saklil (2021) mengingatkan bahwa,
“Pendidikan adalah Tungku Api yang harus selalu menyala, terutama bagi masyarakat lokal.”
Dalam dunia pendidikan, ketekunan dan disiplin sering kali menjadi ujian berat, namun hasilnya adalah kedamaian sejati, sebagaimana tertulis dalam Ibrani 12:11:
“Segala didikan pada waktu itu tidak menyenangkan, tetapi kemudian menghasilkan damai dan kebenaran.”
Paus Fransiskus melalui Evangelii Gaudium (EG 13) menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, melainkan juga tentang nilai-nilai kemanusiaan, yang membentuk karakter, empati, dan mendorong terciptanya kedamaian sosial.
- Aspek Kesehatan
Kesehatan adalah dasar bagi kehidupan yang damai. Dalam menghadapi tantangan kesehatan, umat diajak untuk tetap teguh, seperti disampaikan dalam 2 Korintus 4:8-9:
“Dalam segala hal kami ditindas, tetapi tidak terjepit…”
Paus Fransiskus (EG 217) menambahkan,
“Kesehatan adalah anugerah yang harus kita rawat dengan kasih dan perhatian, sebagai jalan menuju kedamaian dan hidup penuh berkat.”
- Aspek Politik
Di bidang politik, semangat Tungku Api dalam diri seorang pemimpin adalah kunci untuk menciptakan kebijakan yang inklusif, adil, dan berpihak pada kebaikan bersama. Pemimpin yang membangun solidaritas sosial akan mampu menghadirkan perdamaian di tengah perbedaan kepentingan dan ideologi.
- Aspek Keluarga
Keluarga adalah tempat pertama untuk belajar tentang kasih dan kedamaian. Dengan komunikasi terbuka dan penuh kasih, keluarga dapat menjadi komunitas yang harmonis, membentuk pribadi-pribadi yang siap membawa kedamaian dalam masyarakat luas.
- Aspek Komunitas
Di komunitas, semangat Tungku Api mendorong anggotanya untuk hidup berdampingan secara damai, saling menghargai, dan mengatasi perbedaan budaya atau agama secara inklusif.
- Aspek Pastoral
Dalam pelayanan pastoral, gereja menjadi tempat menyalakan Tungku Api spiritual umat. Pendalaman iman dan pelayanan berbasis kasih memampukan setiap pribadi menemukan kedamaian sejati dalam relasi dengan Tuhan dan sesama.
Kesimpulan
Tungku Api Kehidupan adalah simbol kekuatan batin yang menggerakkan setiap orang untuk bertransformasi dan membawa kedamaian, baik secara pribadi maupun sosial. Dengan menyalakan semangat ini dalam berbagai aspek kehidupan—pendidikan, kesehatan, politik, keluarga, komunitas, dan pastoral—setiap pribadi diharapkan mampu menghadirkan damai bagi diri sendiri dan orang lain.
Diskusi dan Refleksi
Beberapa Frater memberikan tanggapan atas materi yang disampaikan:
- Fr. Martinus Tenouye: Transformasi diri sangat penting sebelum kita turun ke medan pelayanan.
- Fr. Ferdinan Mote: Refleksi ini menjadi bekal menghadapi situasi pastoral, dan hidup doa adalah fondasinya.
- Fr. Martinus Gobai: Kita perlu “cross-check” apakah api itu tetap menyala, demi memperjuangkan perdamaian sejati.
- Fr. Siorus Degei: Kita diajak menjaga tanah, dengan cara dan gaya masing-masing.
- Fr. Firson Maisini: Kesehatan fisik dan jiwa adalah modal utama pelayanan.
- Fr. Yohanes Paramokani: Semua aspek ini perlu dihayati agar bisa diwujudkan di lapangan.
- Fr. Papua Yawan: Mawas diri itu penting, mengingat kompleksitas situasi di Keuskupan Timika.
- Fr. Fabianus May: GERTAK adalah jawaban atas kebutuhan umat di Timika, bukan untuk orang lain.
Fr. Yuvensius Belau menutup dengan ajakan,
“Mari kita bergandeng tangan, saling mendukung. Kita adalah generasi pendobrak di Keuskupan Timika!”
Penutup
Pater Agus Tebay menyimpulkan bahwa Tungku Api adalah kekuatan batin manusia yang harus terus menyala. Dalam pandangan Aristoteles, potensi melekat dalam diri manusia dan menunggu untuk menjadi kenyataan melalui proses transformasi. Tuhan memanggil, dan kita mesti menanggapi panggilan itu.
Diskusi diakhiri dengan doa oleh Fr. Laurensius Didimus Was, dilanjutkan dengan kegiatan pribadi para Frater. *** SEBEDEUS MOTE (DEKAN STIYB REGIO-PAPUA)






