Gaya HidupMajalah Gaiya

TANTANGAN DIALEKTIKA PRIBADI DAN SOSIAL LEWAT TILIKAN NIETZSCHE DAN HEGEL

KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Roda kehidupan bergulir dalam kompromi, revolusi, transformasi, inovasi, dan penciptaan baru. Nietzsche kerap hanya dilihat sebagai singa yang melawan. Ia lupa dipahami sebagai anak yang polos, tak terbebani masa lalu, dan menciptakan sendiri dunianya berdasarkan gairah-gairahnya sendiri.

Hegel yang kerap dipandang sebagai pendukung totaliter, kerap dianggap sebagai wujud kompromi terhadap realitas sosial. Padahal ia adalah sebuah dialektika demi sebuah pelampauan (Aufheben). Darinya ditemukan singa dan anak Nietzsche. Namun, penumpukan semua pada kekuatan rasio melupakan posisi sentral kehendak yang tak bisa dikompromikan dengan akal. Ia lupa kehendak yang menjadi sentra gerakan manusia baru.

Pada Nietzsche dan Hegel, kita menemukan sebuah dinamika. Ia tak terima sebuah stabilitas. Sejarah pribadi berjumpa dengan sejarah sosial. Kesatuan menjadi ufuk yang digerakan secara internal dari keberanian untuk berdialektika di dalam diri dan di tengah realitas sosial.

Tulisan ini hanya menampilkan sebuah refleksi pribadi dan sosial atas cara berpikir Nietzsche dan Hegel. Saya bertumpu pada tulisan Nietzsche tentang Zarathustra dan Hegel tentang Fenomenologi Roh.

Dengan kacamata filsafati yang analitis dan kritis, tulisan ini hanya merupakan sebuah ajakan untuk melakukan otokritik terutama dan kritik institusional yang kedua. Kami akan memulainya dari cara berpikir Nietzsche dan kemudian pada Hegel.

Apa yang hendak kami tegaskan adalah bahwa pemajuan hidup harus merupakan pemajuan individual. Pemajuan individual tidak terjadi di dalam ruang pribadi, tetapi yang merambat masuk dan menjadi berisi di dalam pemajuan sosial. Gairah pribadi tanpa akal, akal tanpa semangat, penciptaan sebuah kehidupan baru pribadi dan sosial tak akan terjadi.

 

HIDUP BARU ALA ZARATHUSTRA

Di dalam bukunya ini, Nietzsche membuka dengan cerita seorang lelaki yang jatuh dari tali yang digunakan di dalam sirkus dan mati. Darinya muncul pertanyaan: seberapa berartinya hidup sehingga risiko dan pengorbanan harus dijalani? Kehidupan macam apa yang mengandaikan pengorbanan demikian? Dalam kacamata Nietzsche, kehidupan yang sesungguhnya difigurkan di dalam tiga metafora: keledai, singa, dan anak kecil. Kita menjadi keledai, manusia menjalani hidup sebagai beban yang harus dipikul. Dalam skema ini, beban itu diberikan tampil baik secara eksternal dan internal. Masa lalu dengan segala kekuasaan dan perasaan tak jarang menyandera kehidupan kini yang berisi potensi yang menanti jamahan vitalitas seseorang. Namun, beban itu seakan menyeret kita ke masa lalu dan kekinian sebagai painkiller atau balas dendam terhadap masa lalu. Penjara keledai oleh siapa saja dari masa lalu, termasuk harapan dan sakit hati kita. Manusia kemudian menyadari kebebasannya bak singa. Ia adalah orang dengan kemampuan untuk tidak mau dideterminasi ala keledai. Paksaan bak naga yang mengurungnya bak keledai dilawan dengan cengkeraman singa yang bernama TIDAK untuk segala beban itu. Rupanya singa hanya bisa menegaskan kebebasan negatifnya, namun kebebasan untuk menentukan arah kebebasannya tak dimilikinya. Di sini terjadi kekosongan nilai (nihilisme). Hal ini direspons dengan roh bebas manusia dengan gampang melarikan diri ke mistisisme dan askese Timur. Ego dan hasrat dilepaskan demi sebuah ketenangan batin (ataraxia). Pada titik ini, Nietzsche memasukan metafora anak. Anak yang polos, tak peduli dengan segala nilai masa lalu, menciptakan nilai sendiri untuk permainannya di tengah hidup yang fana, tragis, dan penuh penderitaan. Ia merangkulnya dengan mode merengkuh kehidupan dengan gembira (amor fati).

Model singa yang berani menegasi berbagai nilai lama menyembul secara paling kentara dalam kalimat terkenalnya: Tuhan sudah mati. Kita semua telah membunuhnya. Ini ditertawakan banyak orang sebagai sebuah kegilaan. Namun, lentera yang dibawa siang hanya untuk mengumumkan pembunuhan Tuhan oleh banyak orang, tak dilihat mereka sebagai sindiran tentang matinya Tuhan sebagai ufuk dari arah dinamika hidup manusia. Tuhan telah dibunuh di berbagai dimensi kehidupan manusia. Ia hanya tinggal kemasan tak lagi berbentuk karena diremas oleh berbagai pembiasaan nilai-nilai yang irelevan secara religius. Inilah manusia terakhir (the last man). Manusia kekinian yang tak punya cita-cita besar, hidup di zona nyaman, takut menderita, serta merasa puas dengan pencapaian yang setengah-setengah. Ia menawarkan Übermensch yang mengatasi semua nilai lama dan membentuk nilai baru yang diciptakan sendiri bagi hidupnya sebagaimana digambarkan tentang anak kecil di atas. Namun rupanya hal itu tak menjumpai orang yang bergeming tentangnya. Nietzsche menyadari bahwa dia bukanlah mulut untuk telinga-telinga ini.

Übermensch memiliki karakter-karakter khusus. Ia adalah pencipta nilai dari kehendaknya untuk menguasai diri dan keadaan. Ia adalah orang yang mencintai kehidupan di bumi dengan segala tragedi dan komedi. Ia tak mengungsi terpaksa ke surga, agama, dan idea abstrak. Ia adalah penakluk diri dan yang tak mau menjadi manusia kawanan sosial, trend, dan kecenderungan umum.

Karena jebakan kawanan, Zarathustra tak menemukan mereka yang keteguhan hati meresonansi wartanya. Namun, ia memberikan sebuah gagasan revolusioner bagi hidup kita. Zarathustra mengedepankan kemanusiaan yang menjadi tuan atas diri. Tuan adalah pencipta diri dengan bersandar pada kehendaknya bukan pada kehendak dari institusi, kebiasaan, dan naluri. Kita kerap berkorban dan mengambil risiko atas apa yang tampak asing dari dinamika hati yang ingin sebuah dunia yang bebas dan berani mengambil risiko atas pilihan-pilihan yang menjawab ya terhadap vitalitas hidup. Ataukah kita mengkompromikan kata hati terdalam dari sebuah keluhuran diri dengan kenyamanan sosial dan psikologis? Banyak yang terbeban karena semuanya itu. Akibatnya, kita sungguh tidak menjadi diri kita dengan vitalitas yang selalu mengguncang kita untuk bisa melakukan pelampauan terhadap kenyataan dan kualitas hidup kita kini.

Kehidupan kita di tanah Papua kerap menjadikan kita seekor keledai. Keledai-keledai ini memikul beban yang tidak didasari sebuah harmoni diri dan keberagaman nilai. Kita dibebani secara kultural, politik dan agama serta yang terkini secara ekologis. Kita hanya pemangku-pemangku stempel dari semua itu, tanpa perlawanan singa dan kemerdekaan total seorang anak. Kebudayaan tinggal menjadi fakta material ekonomi. Agama tinggal menjadi perlawanan sang singa ompong di dalam menghadapi sekularisasi kehidupan. Politik tinggal menjadi rengekan tanpa sebuah pijakan pada pembebasan internal kemanusiaan. Teriakan-teriakan seakan sebagai solusi. Solusi pun dimimpikan pada hal-hal artifisial dan ketidaksudian untuk bertempur secara eksistensial dengan diri dan keterbatasan diri, serta penyambutan tuntuan ideal diri dan kemanusiaan. Pada kedalaman yang menyapa, kita tak jarang menertawakan hanya karena ketidaksadaran diri yang telah menginternalisasi semangat kawanan.

Manusia dan tanah ini adalah manusia merdeka dengan cerita unik perjalanan yang tak terjebak tuntutan nilai kawanan dunia. Modernisasi, digitalisasi, dan pembangunan telah lama menemukan cangkang keras cerita hidup yang amat independen. Manusia dengan kesamaderajatan, sakralitas, dan relasi khas telah terjebak dengan silau pembangunan modern, penyambutan epistemologi kolonial serta budaya materialis konsumtif. Namun pascakolonial dan dekolonisasi secara eksistensial merupakan pintu masuk. Namun pintu masuk ini bukan sekadar seekor singa yang mengaum dan mencakarkan penolakan dengan antipon berulang TIDAK atau LAWAN. Model pascakolonial harus diskemakan dalam semangat anak yang tak lagi terbebani nilai masa lalu tetapi yang terpanggil untuk mencipta kemanusiaan sejati. Inilah model yang membuat kita berakar pada kemanusiaan dan kehidupan di dunia ini di tanah ini.

 

FENOMENOLOGI ROH/BUDI HEGEL

Hegel dengan filsafat ideal absolutnya menyadari keberadaan kesadaran. Kesadaran diulas dengan bergerak dari tataran indra hingga ke level sains. Namun kesadaran ini tetap tidak menghasilkan keutuhan karena keterbelahan subyek dengan obyek tetap menjadi jurang tak terjembatani. Misalnya, garam bagi kebanyakan orang adalah garam ini seperti yang dialami dengan wujud, warna, rasa, dan aroma. Namun sains menyajikan kepada kita dengan NaCl. Antara apa yang terlihat dan hal supersensibel tetap tak terdamaikan.

Lalu Hegel bergerak masuk ke dalam diri. Di sini yang ditemui bukan kesadaran tetapi kesadaran diri. Diri disadari sebagai yang bebas dengan berbagai hasrat. Diri berusaha untuk mewujudkan kebebasannya. Namun ia dibatasi oleh kebebasan orang lain. Di dalam keterbatasan itu, Hegel membuat menarik tentang dialektika tuan dan hamba. Tuan mengekspresikan kebebasannya dengan menaklukan yang lain dan menjadikan mereka sebagai hamba. Hamba yang berjuang antara hidup dan mati menerima penaklukan. Tuan lama kelamaan hidup dan menikmati hasil kerja hamba. Hamba menerima perbudakan dan secara perlahan menjadi disiplin di dalam kerja. Ia menjadi produktif. Ia menemukan diri di dalam karyanya. Tuan yang menjadi pasif dan konsumtif merasa penaklukan itu kosong. Tentu tak setara mendapat pengakuan dari hambanya.

Kesadaran hamba meningkat. Kekuasaan dan perbudakan itu adalah ilusi. Kebebasan hanya diperoleh lewat pengakuan kebebasan timbal balik. Namun kekecewaan timbul karena wujud kebebasan tak terealisasi secara konsisten. Orang lalu lari dalam kebebasan internal, mengontrol apa yang bisa dan membiarkan apa yang tak bisa dikontrol. Kemudian muncul skeptisisme terhadap hal-hal yang berada di luar. Akhirnya muncul kesadaran yang tak bahagia. Ia merasa diri fana di satu sisi, tetapi menyadari hasratnya akan yang absolut. Pendamaian antara kefanaan dan keabadian ditempuh lewat berbagai aktivitas spiritual. Namun ini abstrak karena terwujud di dalam perasaan saja. Lalu manusia masuk ke dalam dunia material dan bekerja. Kerja bukan hasil karya sendiri tetapi karunia dari yang absolut. Karena diri tetap fana, manusia melakukan berbagai askese, kebebasan individu dilepas.

Persis dengan melepaskan ego, manusia ternyata dapat menyatukan dirinya dengan yang absolut, yang universal. Karena itu, yang absolut bukan sesuatu yang jauh di sana tetapi kini dan di sini. Realitas, alam, dan Tuhan bukan sesuatu yang asing. Derita pemisahan subyek dan obyek terjembatani. Logika diri kemudian bertemu dengan logika alam dan yang Ilahi. Jadilah yang rasional itu real dan yang real itu rasional.

Namun kesadaran ini kemudian bergerak di dalam realitas empiris. Di hadapan realitas ini, pertama manusia hendak menikmati, tetapi kerasnya realitas dan hukum menghancurkannya. Kemudian dunia hendak diperbaiki dengan idealisme pribadi. Idealisme ini melahirkan fanatisme yang kerap berbenturan dengan realitas sosial dari tiap pribadi yang berkesadaran. Namun muncul kesadaran baru bahwa dunia sebenarnya sedang bekerja menurut rasionalitasnya yang objektif daripada utopi pribadi. Lewat kerja, individu mencoba mewujudkan diri di dalam kenyataan sosial. Namun kompetisi dan manipulasi serta prestise tampil lagi. Lalu dibuatlah hukum universal yang rasional. Namun hukum ala Kant ini adalah hasil satu individu dari kepalanya sendiri yang tak memiliki daya ikat sosial.

Ternyata hukum, kebebasan, dan rasionalitas harus dihidupi di dalam tatanan sosial. Ia berada di dalam tradisi, institusi, dan negara. Aku mewujudkan diriku dalam realitas sosial yang telah hadir juga dengan dinamikanya sebagai wujud yang baku. Integrasi diri rasio dan moral pribadi mendapat penyelarasan di dalam hukum publik. Hukum publik yang rasional diintegrasikan sebagai hukum yang pribadi. Inilah Sittlichkeit. Aku adalah kita dan kita adalah aku.

Dialektika pengembaraan pikiran ternyata adalah sebuah realitas ideal yang menelusuri jalan sejarah di alam semesta dan manusia. Dialektikanya bukan tesis, antitesis, dan sintesis. Ini gagasan Fichte yang tampaknya lebih bersifat eksternal. Dialektikanya bersifat internal yang dinamai Aufheben (pelampuan). Ia berproses dari pembatalan, perawatan, dan pengangkatan pada level yang lebih tinggi. Ia bak biji yang eksis secara berproses disangkal agar dapat bertumbuh. Tanaman kecil disangkal pohon menjadi kenyataan yang total berbeda dari setitik biji. Realita pohon kemudian balik menjadi biji, tunas, dan pohon. Dan dalam kehidupan, pohon pun hilang di dalam berbagai produk kayu.

Roh tersebut menjadi sebuah kesadaran diri pada manusia. Ini bukan kesadaran individual, tetapi sebuah kesadaran universal yang berdialektika dengan diri, dengan masyarakat, dan dengan negara. Di titik inilah orang menemukan perwujudan sejauh, rasionalitas institusi ini diintegrasikan menjadi rasionalitas diri dalam wujud yang objektif.

Tampak bahwa Hegel bisa menjadi ufuk pencarian diri. Namun konsepsi Hegel sepertinya jatuh pada skema kematian Tuhan. Negara dalam pengertian Hegel sebenarnya tinggal tulang belulang. Banyak dari kita sudah membunuh negara yang manusiawi, adil, penuh permusyawaratan. Negara dibajak oligarki. Oposisi mencari panggung kuasa dengan memfokuskan diri pada isu-isu non substantif. Rakyat beranggapan bahwa negara adalah sekuriti. Negara adalah miliknya yang harus dijauhkan dari rakyat.

Namun rumusan rasional negara Hegel merupakan sebuah upaya untuk menyatukan subyek-subyek dengan realitas objektif yang tak terhindarkan yakni negara. Negara mesti merupakan perwujudan kehendak bersama. Pada negara demikian, Sittlichkeit bisa terwujud. Namun pada konteks kita rupanya negara itu adalah idealisme.

Di hadapan PSN, diselimuti kabut, negara dengan usaha tidak memanusiawikan dan membebaskan kita. Roh negara rupanya bukan roh rakyat. Roh rakyat rupanya juga bukan roh dialektis. Roh rakyat adalah roh konsumtif. Roh rakyat adalah roh sibuk. Apakah berhala-hala ini akan mencapai masa senjanya (twilight of the idols)? Apa artinya segala keberanian berisiko di hadapan segala kesulitan pribadi dan pengorbanan kehidupan bersama? Apakah hidup ini dengan segala rasionalitas diri dan perwujudannya, layak untuk membuatku berani mengambil risiko demi sebuah kebernilaian yang lebih tinggi?

 

AKU ADALAH KITA, KITA ADALAH AKU

Aku yang ideal hanya mendapat perwujudan di dalam ruang dan waktu. Rupanya ruang dan waktu adalah bentuk nyata dari perwujudan diri. Namun ruang dan waktu sebagai bentuk abstrak dari segala bentuk sosial, keluarga, agama, masyarakat, dan negara hanya lahir dari subyek-subyek rasional yang melakukan dialektika pribadi dan bersama.

Namun ruang dialektika dihimpit tradisi, feodalisme, MBG, beras raskin, tunjangan ini dan itu. Ruang dialektika dihimpit CCTV dan kekerasan (Gewalt) dan penindasan. Di hadapan negara kita hanya warga lapar, bukan jaringan-jaringan pikiran yang bisa melakukan sublimasi ke tingkat kehidupan yang lebih baik. Di hadapan negara, dialektik adalah aktor subversif yang harus dijinakkan dengan jabatan.

Hegel menyajikan revolusi pribadi. Kita perlu merumuskan diri kita agar kita tidak menjadi manusia stagnan di dalam tradisi, agama dan politik, serta kebudayaan lama. Kita perlu mengafirmasi vitalitas hidup kita. Seperti hamba yang bersentuhan dengan realitas lewat kerja. Ia berpotensi untuk menjadi pemegang kunci perubahan sejarah. Kita bukan tuan yang teralienasi dari kenyataan dunia dengan keangkuhan kekayaan.

Tampak bahwa kita tak bisa ‘bersittilickeit’ ala Hegel. Kita perlu memaksakan negara yang rasional sebagaimana subyek rakyat dan objek negara berjumpa sebagai konsekuensi logis dari perjalanan dialektika mahluk rasional. Dengan kerja sebagai penentu sejarah, kita perlu tetap percaya pada potensi dinamika roh rasional di dalam diri dan sejarah. Keserakahan oligarki adalah jebakan dari kelicikan budi (List der Vernunft) yang akan menghancurkan diri sendiri. Ia secara tidak langsung mematangkan kekuatan rakyat pencipta dan penentu sejarah.

Sebagai singa kita perlu menolak godaan dan paksaan naga-naga penguasa. Kita perlu menjadi singa yang melawan kompromi terhadap yang pseudo-rasional tampak bersuara sebagai sebuah kebenaran. Kebenaran yang tersesat sebagai post-truth, menjebak kita dalam bisingan buzzer. Revolusi subyek yang mencintai kehidupan ini dengan segala tragedi dan komedi perlu dipeluk. Kita memerlukan sebuah solidaritas kerja dan menuntut sebuah perubahan negara sebagai representasi kehendak umum yang menjadi landasan penemuan kebebasan dan kesejahteraan pribadi. Darinya diri kita layak mempertaruhkan hidup, waktu, dan tenaga. Kita perlu melawan dan mencipta. Kita perlu melawan irasionalitas negara yang menjadikan Pancasila hanya sekadar sebagai rentetan retorika.

Nietzsche memberikan kita vitalitas untuk sebuah penghargaan pada realitas hidup yang keras. Kita tak boleh lari dan sekadar melawan. Kita perlu masuk hingga penciptaan sebuah nilai baru yang senada dengan kata hati yang menjawab ya pada kehidupan ini.

Nietzsche mungkin tidak tepat karena dia hanya mendirikan subyek. Subyek seolah berumah di ruang hampa. Inilah yang dijawab oleh Hegel dengan resonansi subyek dengan obyek. Jembatannya adalah pergerakan roh rasional yang sadar dan sadar diri. Diri yang berkembang di dalam realitas material, sosial kemasyarakatan, sosial keagamaan, dan sosial politik. Kita tak bisa menyangkal bahwa subyek diri hanya hidup dalam membatalkan, merawat, dan mengangkat diri dan realitas sosial ke sebuah tingkat yang lebih tinggi. Percaya pada rasio adalah kunci kemajuan, karena ia menyatukan keterserakan diri dan realitas sebagai sebuah kenyataan menyeluruh dari pergerakan akal budi subyektif, objektif dalam dinamika sejarah pribadi dan dunia.

Namun optimisme Hegel ini perlu dilawan dengan kehendak. Reduksi realitas subyektif dan obyektif pada akal mengerdilkan subyek maupun obyek. Subyek yang dinamis dalam realitas objektif yang dinamis hanya terjadi ketika kehendak diberi ruang setara. Ketidaksetaraan itu hanya akan menghasilkan retorika dan logika, yang kosong. Retorika bisa benar karena logika dan bukti empiris. Namun semua itu hanyalah sebuah ada (being) yang tidak bisa mengharuskan (ought). Meminjam gagasan Kant mungkin dapat menyatukan keduanya: pikiran tanpa isi adalah kosong. Intuisi tanpa konsep adalah buta (Gedanken ohne Inhalt sind leer, Anschauungen ohne Begriffe sind blind). Ini perlu ditambahkan bahwa betapapun akal menginformasikan kehendak, kehendak itu mandiri dan bebas. Namun adakah kehendak dan akal adalah dua hal yang terpisah dari manusia? Rupanya keduanya adalah sebab parsial (causa partialis) yang bukan hanya untuk mewujudkan hasrat egois (affectio commodi) tetapi akal membantu kehendak untuk berafeksi pada keadilan (affectio justitiae). Kehendak yang sehat selalu akan memilih rekomendasi akal untuk mengikuti pertimbangan praktis (prudentia). Kebaikan tertinggi adalah persatuan cinta antara akal dan kehendak.

Kelemahan Hegel pada kehendak dan prioritas kehendak pada Nietzsche memberikan kita sebuah kesadaran tentang kesatuan manusia dan kenyataannya. Manusia perlu bersemangat untuk menciptakan kehidupan yang bernilai baginya. Nilai baginya adalah nilai yang dipertimbangkan secara mendalam untuk mencapai sebuah kebenaran tertinggi. Kebenaran tertinggi itu adalah kebenaran semua orang. Ia bukan sebuah kehendak berkuasa individual, yang mampu menerobos individu-individu yang lain. Hegel berujar, aku adalah kita, kita adalah aku. Ini bukan kompromi murahan tetapi sebuah Aufheben, pelampuan. Ia bukan sebuah nilai lama ala keledai yang mengintegrasikan beban atau sebuah protes nilai lama ala singa. Ia adalah nilai tertinggi yang diciptakan dengan gairah dan semangat.

Dunia kita dan realitas kita di Papua dirangkul dan digeluti bukan demi sebuah kompromi dari cerita superhero yang membuat kita bermimpi tanpa pijakan. Ia adalah dunia yang didekonstruksi dan dicipta baru. Ia memenuhi semua kriteria yang membuat pengorbanan dan keberanian mengambil risiko bermakna.

Oleh : Dr. Ino Ngari, OFM

Komsos timika
Author: Komsos timika

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button