Majalah Gaiya

PERDAMAIAN SEBAGAI BUAH KASIH YANG DIRINDUKAN DI TENGAH PENDERITAAN

Refleksi Kontekstual

Perkembangan dunia saat ini membutuhkan perdamaian dan kasih di tengah penderitaan. Penderitaan membawa perubahan dramatis bagi kehidupan manusia, di mana masyarakat dihadapkan pada berbagai tantangan dan penyimpangan sosial yang membuat nilai kasih serta perdamaian berada di ambang kehancuran. Kemiskinan, kelaparan, kekerasan, politik yang tidak sehat, serta kurangnya keberpihakan kepada kaum miskin dan rentan menjadi pemicu perubahan di berbagai aspek kehidupan. Fenomena tersebut terjadi karena sistem kekerasan dan ketidakadilan terus menggerogoti aspek sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan politik, sehingga buah kasih dan perdamaian sulit menghadirkan perubahan secara nyata dalam kehidupan manusia. Hal tersebut terjadi karena semuanya memberikan penekanan pada persoalan hak-hak sosial yang menyangkut ketidakadilan, korupsi, penindasan hak, dan sebagainya, yang berlawanan dengan kebenaran, keadilan, kebebasan, dan cinta kasih (Jose, 2011-2012: 22).

Realitas dunia saat ini dihadapkan pada berbagai penderitaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penderitaan langsung terjadi akibat pembunuhan, konflik bersenjata, konflik sosial, kekerasan, pencurian, dan perampokan. Penderitaan tidak langsung terjadi akibat ketimpangan sosial, ekonomi, dan politik, serta luka batin, kelaparan, keterpinggiran, permusuhan, pengasingan, ketakutan, kecemasan, dan kemiskinan. Aspek-aspek ini membawa penderitaan bagi masyarakat sehingga mereka kesulitan menciptakan perdamaian dalam kerangka kasih yang dirindukan. Di tengah situasi ini, kasih menuntut pengorbanan dan kerelaan menderita, sebagaimana ditegaskan dalam Injil Yohanes 15:13. Yesus menegaskan pentingnya memaknai penderitaan-Nya sebagai perwujudan kasih terbesar bagi manusia yang disebut-Nya sebagai sahabat. Dengan kata lain, kasih selalu berarti pengorbanan atau kerelaan menderita bagi orang lain (Hidayat, 2016: 295). Manusia perlu menyadari diri sebagai tanda kasih Allah bagi dunia, yang hanya bisa diwujudkan secara nyata melalui perbuatan konkret kepada semua orang dengan berbagi belas kasih di tengah penderitaan dan penindasan. Sebab, belas kasih sejati sebagai tindakan menderita bersama sebagai saudara dan sahabat berarti menderita bersama orang lain, bukan sekadar perasaan sentimental terhadap penderitaan sesama (Adon & Firmanto, 2022: 221).

Di tengah penderitaan dan penindasan, prinsip kasih hadir untuk memecahkan belenggu kebencian dan permusuhan dalam masyarakat guna menciptakan perdamaian serta buah kasih melalui pengalaman hidup sehari-hari. Kasih dapat merobohkan kebencian dan permusuhan (Adon & Budi, 2021: 142). Penderitaan dapat dipandang sebagai suatu proses eksistensial yang mendewasakan iman, mendidik karakter, dan melahirkan keinginan mendalam untuk berdamai di jalan menuju kedamaian hidup bersama. Artinya, setiap manusia dipanggil untuk mengasihi sesama tanpa syarat sebagai bentuk pengakuan martabat ciptaan, karena mengasihi sesama seperti diri sendiri berarti mengusahakan apa yang baik dan berguna bagi mereka. Patutlah kita mengasihi sesama tanpa membedakan apakah ia simpatik atau tidak, melainkan hanya karena ia adalah ciptaan Tuhan (Tarigan dkk., 2022: 153). Di samping itu, kasih sejati (agape) menjadi fondasi utama yang mengubah penderitaan menjadi sukacita. Dimensi nilai kasih sejati menuntut keterlibatan aktif, bela rasa yang mendalam, dan kesiapan untuk berkorban demi sesama tanpa memandang batas perbedaan suku, budaya, ras, dan latar belakang. Oleh karena itu, setiap orang dipanggil untuk menghadirkan Kerajaan Allah sebagai keselamatan bagi seluruh dunia. Gereja, sebagai sakramen keselamatan, harus terlibat dalam penderitaan dan perjuangan sesama; kegembiraan serta harapan mereka perlu diwujudkan dalam tindakan sejarah umat manusia (Bisei, 2013: 32).

Bertolak dari pandangan di atas, semua penderitaan membutuhkan nilai keutamaan solidaritas Kristiani dalam menopang hidup damai di dunia, supaya Kerajaan Allah yang diwartakan mulai tampak dalam seluruh solidaritas hidup harian masyarakat. Solidaritas Kristiani tampak dalam kemurahan hati, pengampunan, dan rekonsiliasi. Keutamaan-keutamaan itu memberi daya positif yang menopang perkembangan sejati dan hidup damai (Mulyatno, 2015: 122). Dalam situasi kehidupan yang dipenuhi oleh kekerasan, penderitaan, penindasan, dan kecemasan, setiap manusia dipanggil untuk menatap wajah Yesus dalam suasana aktual di tengah masyarakat yang menderita untuk menghadirkan sukacita dan kebahagiaan sejati yang berlandaskan pada nilai perdamaian dan buah kasih yang menyelamatkan atas dasar cinta kasih, kebebasan, keadilan, dan kebenaran sejati bagi masyarakat. Sehubungan dengan itu, penting adanya pembaruan hati yang bersifat personal karena menyangkut perubahan paradigma mentalitas seseorang, serta perbaikan struktur yang menyangkut pembaruan sistem sosial, struktur kemasyarakatan, dan nilai-nilai yang mendasarinya dengan memberikan arahan yang jelas bagi semua orang (Tebay, 2008: 49).

Oleh karena itu, perdamaian adalah buah konkret dari kasih dan solidaritas. Kasih yang diwujudkan dalam aksi solidaritas di tengah penderitaan secara alami akan menghasilkan buah perdamaian sejati. Sebab, perdamaian bukanlah sekadar ketiadaan perang, melainkan tercapainya keselarasan hidup yang didasarkan pada kebenaran, keadilan, dan kasih persaudaraan. Dalam konteks ini, sejalan dengan pandangan Paus Benediktus XVI dalam khotbah doa Angelus pada 18 Februari 2007, dapat ditegaskan bahwa sikap damai nonkekerasan yang berlandaskan “senjata cinta” dan kebenaran bagi orang Kristen bukanlah perilaku taktis belaka, melainkan cara bersikap bagi pribadi yang begitu yakin akan kasih Allah dan kuasa-Nya sehingga ia tidak takut menghadapi kejahatan hanya dengan senjata cinta dan kebenaran. Oleh sebab itu, dengan kasih, ketegangan dan jarak melebur sehingga cakrawala baru akan muncul. Inilah tujuan hidup Kristiani, yakni hidup dalam persahabatan yang bernapaskan kasih yang selalu mendorong orang untuk bersikap solider dengan sesama (Adon & Budi, 2021: 138).

Perdamaian dan buah kasih yang dirindukan di tengah penderitaan merupakan ujian iman yang melahirkan ketekunan dan kesempurnaan jiwa dalam hidup panggilan. “Biarlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh serta tak kekurangan suatu apa pun” (Yak 1:3-4). Maka dari itu, setiap orang dipanggil untuk berdamai dengan Allah sebagai prasyarat utama damai sejati dalam hidup berkomunitas demi nilai kebaikan bersama (bonum commune). Untuk berdamai dengan diri sendiri, manusia harus terlebih dahulu diperdamaikan dengan Allah, karena kehadiran Yesus di dunia merupakan jalan pendamaian bagi manusia (Darmawan, 2019: 60-61).

Dengan demikian, setiap orang dipanggil untuk menghadirkan perdamaian di tengah penderitaan serta menjadi saksi kasih yang membawa kedamaian sejati di tengah ketidakadilan, penindasan, dan ketimpangan sosial. Kedamaian tercipta ketika semua orang membangun persekutuan dan solidaritas secara nyata dalam hidup bersama sebagai satu persaudaraan sejati di tengah perkembangan dunia modern.

Penulis: Fr. Yuven Migani Belau

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button