MAHASISWA STT GKI DAN STFT FAJAR TIMUR GELAR PERJUMPAAN EKUMENE DI AULA ST. YOSEPH
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Mahasiswa/i dari Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kristen Injili (STT GKI) dan Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur menggelar perjumpaan ekumene di Aula St. Yoseph, Rabu (25/3/2026) pukul 13.25 WIB.
Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa STT GKI yang diwakili oleh kelas A dan B Semester 6 dan 8, serta mahasiswa Pascasarjana STFT Fajar Timur Tahun I dan II. Perjumpaan diawali dengan doa dan puji-pujian bersama yang menciptakan suasana penuh sukacita dan persaudaraan.
Perjumpaan ini menjadi momentum penting untuk membangun kembali keakraban yang sempat terhenti selama beberapa tahun terakhir.
Dosen ekumene Pascasarjana STFT Fajar Timur sekaligus Sekretaris Forum Dialog Agama-Agama, RP. Dr. Konstantinus Bahang, OFM, dalam pengantar pembukaannya menyampaikan bahwa pertemuan ini menjadi simbol persatuan kembali.
“Rasanya seperti jalan Yakonde dan jalan Sosiri kembali bersatu dalam rumah ekumene,” ungkapnya.
Dalam sesi materi, RP. Konstantinus Bahang menjelaskan pandangan ekumene dalam ajaran Katolik, dengan menekankan pentingnya kesatuan dalam iman dan kerja sama lintas gereja.


Sementara itu, dosen ekumene STT GKI sekaligus Ketua Forum Dialog Agama-Agama di Papua, Pdt. Sintje Latuputty, D.Th, memaparkan perspektif ekumene dalam Gereja Kristen Injili (GKI).
Ia menegaskan pentingnya komunikasi dan saling mengenal di antara mahasiswa STT dan STFT sejak dini, agar ke depan tidak terjadi konflik dalam pelayanan.
“Di lapangan kita harus objektif, tidak saling menjatuhkan, tetapi membangun kerja sama, termasuk dengan agama-agama lain,” tegasnya.
Menurutnya, kondisi hubungan antaragama di Papua saat ini cukup baik, namun tetap perlu diperkuat melalui keterlibatan generasi muda, khususnya para mahasiswa teologi.
Ia juga menambahkan bahwa persatuan mahasiswa lintas denominasi menjadi kunci untuk menjawab berbagai persoalan bersama, seperti isu Hak Asasi Manusia dan ketidakadilan ekologis di tanah Papua.
“Jika sejak mahasiswa kita sudah bersatu, maka ke depan akan ada peluang untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan secara bersama,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, RP. Konstantinus Bahang kembali menegaskan pentingnya melihat kesamaan daripada perbedaan. Menurutnya, jika masing-masing pihak lebih menonjolkan perbedaan, maka persatuan akan sulit terwujud.
“Jangan fokus pada perbedaan, tetapi temukan hal-hal yang menyatukan, agar kita bisa bersama membangun perdamaian di tanah ini,” pesannya.
Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok yang dibagi dalam 10 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari mahasiswa STT GKI dan STFT Fajar Timur.


Diskusi berlangsung dengan tertib, aman, dan penuh semangat kekeluargaan. Para peserta saling bertukar pikiran, mengenal perbedaan, serta memperkuat persamaan sebagai dasar persatuan dalam iman.
Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama, puji-pujian, serta doa penutup. Lagu “Ku Tak Pandang dari Gereja Mana” dinyanyikan bersama sebagai simbol persatuan dalam keberagaman.
Perjumpaan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mempererat relasi ekumene serta membangun kerja sama yang lebih kuat di masa depan demi menghadirkan damai dan keadilan di tanah Papua. *** SEBEDEUS MOTE






