Majalah Gaiya

“KELEDAI” SEBAGAI MODEL KEPEMIMPINAN SEJATI

Refleksi atas Minggu Palma

Prolog

“Aku cari pemimpin yang naiknya bus kota, aku cari pemimpin yang hidup sederhana, bukan cari pemimpin yang lupakan janjinya. Apakah ada pemimpin yang seperti kami idam-idamkan?”

Demikian sepenggal lirik lagu dengan judul “Cari Pemimpin” karya Iksan Skuter yang dirilis pada tahun 2017. Iksan Skuter adalah seorang penyanyi profesional “pinggiran”, yang banyak menghasilkan karya lagu dengan tema-tema politik, sosial, keadilan, kebebasan, kemanusiaan, dan lain sebagainya di republik. Lagu ini ia buat berdasarkan realitas kepemimpinan di negara ini yang rentan melakukan KKN (korupsi, kolusi, nepotisne), yang mahir munafik dan menipu rakyat.

Fenomena krisis kepemimpinan ini memang masalah klasik yang tak terlesaikan hingga hari. Saya tertegun dengan lirik “pemimpin yang naiknya bus kota” dan “pemimpin yang hidup sederhana”. Sebab per hari ini, pemimpin-pemimpin kita baik di tingkat daerah sampai pusat, baik di lingkaran legislatif maupun eksekutif dan swasta tidak terlepas-bebas dari jaringan kartel dan oligarki. Pemimpin negara maupun pemimpin agama, sukar untuk hidup sederhana per hari ini.

Semuanya berlomba-lomba menjadi saudagar, juragan, dan sultan dalam dan pada posisinya masing-masing. Untuk itu penting bagi kita untuk kembali merenungkan esensi dari pemimpin itu sendiri. Tulisan ini akan sedikit merefleksikan konsep pemimpin ugahari menurut naskah kitab suci (Mrk. 11-1-11)  yang merenungkan peristiwa Yesus disambut oleh orang Yahudi di Yerusalem sebagai raja. Peristiwa tersebut kemudian hingga hari ini Bunda Gereja universal kenang dan peringati sebagai Hari Raya Minggu Palma.

Hari Raya Minggu Palma atau Minggu Daun sendiri adalah Minggu yang membuka pekan suci paskah. Pekan suci artinya selama sepekan umat katolik masuk dalam ziarah iman mulai dari Perjamuan Terakhir (the last supper) di Kamis Putih, lanjut ke Jumat Agung, lanjut lagi ke Sabtu Suci atau Malam Paskah, hingga sampai pada puncak Hari Paskah di hari Minggu.

Satu hal yang menarik menurut saya dari rangkaian Perayaan Hari Minggu Daun atau Minggu Palma ialah kendaraan yang Yesus pilih dan gunakan, yaitu seekor keledai muda. Yesus tidak memilih kendaraan mewah, seperti kereta kencana amas dengan beberapa ekor kuda perkasa yang dilengkapi baju zirah, atau memilih unta gagah ala para sultan teluk Timur Tengah.

Yesus tidak menggunakan kendaraan yang lazim digunakan oleh para raja dan para pembesar waktu itu. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa dalam tradisi yudaisme klasik, kuda jantan perkasa adalah kendaraan para kesatria, saudagar kaya raya, dan raja, Yesus seharusnya memakai kuda jantan yang tangkas.

Adalah sebuah keanehan yang fatal bila terdapat seorang kesatria, saudagar, dan raja (orang besar) memilih seekor keledai sebagai kendaraannya. Soalnya, dalam tradisi masyarakat Yerusalem, dan sebagian besar masyarakat antik di teluk Timur Tengah, keledai menempati posisi yang rendah.

Keledai adalah hewan yang dianggap lemah, tidak tangguh, dan tidak tangkas sebagaimana kuda, kerbau, gajah, dan unta. Keledai tidak mampu mengangkat beban berat, tidak mampu berjalan dengan jarak mil. Ia cepat cape, letih-lesu, dan rentan lumpuh, apalagi di medan jalan yang penuh kerikil, terjal, curam, dan beriklim ekstrem (padang gurun, gunung salju).

Sekarang yang menjadi pertanyaan reflektif kita ialah kenapa Yesus yang adalah Anak Allah, Raja di atas segala Raja (King of the King’s) itu mau memilih seekor Keledai muda ketimbang memilih seekor kuda jantan yang perkasa dan tangkas sebagai kendaraan atau tumpangan kebesaran-Nya?  Jawaban Yesus sendiri jelas, “Tuhan memerlukannya”. Bagi saya ini peristiwa yang menarik. Setiap kali mengikuti perayaan Minggu Palma, fenomena inilah yang selalu menggugah dan menantang saya. Kenapa Yesus tidak memakai tumpangan yang lebih selaras dengan posisi dan status sosialnya kala itu yang mentereng dan bukan kaleng-kaleng.  Namun saya pun kemudian menyadari akan nilai-nilai iman yang mau Yesus ajarkan. Bagi saya, Yesus mau mengajarkan dua hal, sekurang-kurangnya, yaitu kerendahan hati dan kesederhaan.

Kerendahan Hati (Sosial, Moral, Intelektual, dan Spiritual)

Kerendahan hati merupakan salah satu keutamaan kristiani yang paling mendasar dan menentukan tingkat kedalaman seseorang dalam menghayati ajaran Yesus. Yesus paling sering menjelaskan hal kerendahan hati ini lewat kesaksian hidup-Nya. Kenapa kerendahan hati menjadi inti pokok  ajaran Yesus? Semua datang dan bersumber dari semangat dan spiritualitas misteri inkarnasi.

Dalam inkarnasi, Allah yang adalah Maha Segala di Singgasana Firdaus itu mau turun ke bumi yang fana, bersolider dengan manusia hina lewat jalan pengosongan diri (knosis) dan masuk ke dalam daging sebagai manusia Yesus yang kecil, lemah, miskin, dan tertindas. Sebagai Anak Allah, bahkan sebagai Allah itu sendiri, Yesus tidak pernah sombong dan pamer kuasa. Ia justru merendahkan hati-Nya, menyembunyikan diri-Nya termasuk segala macam kebolehan ilahi dalam diri-Nya.

Yesus memilih jalan hidup kemurnian-kesucian, kesederhanaan-kemiskinan, dan ketaatan-kesetiaan secara par excellence. Sebagai yang Diurapi (Mesias), Yesus menjaga kesucian dan kemurnian diri-Nya lewat kehadiran, ajaran, dan kesaksian hidup di tengah umat banyak. Yesus pun menjalani napak-tilas hidup kemiskinan dan kesederhanaan yang puritan, sekalipun Ia adalah Raja di atas segala Raja Yesus sama sekali tidak menghiasi hidup dengan ragam harta kekayaan yang menggiurkan bak raja kebanyakan pada jaman-Nya, Herodes dan Pilatus misalnya.

Terakhir, Yesus selalu taat, patuh, dan setia dengan dan dalam titah dari Bapa-Nya, Yesus tidak pernah menyimpang dari rencana dan kehendak Bapa-Nya. Bila Yesus mau Ia dapat menolak untuk tidak meminum Cawan Salib, namun demi kehendak Bapa-Nya yang mau menyelamatkan dunia, Yesus taat meminum Cawan Salib sampai mengalami penderitaan, penyiksaan, pembunuhan, dan penyaliban secara keji di bukit tengkorak (Golgota-Kalvari).

Tiga jalan inilah yang kemudian ditafsirkan sebagai tiga kaul hidup beriman bagi mereka yang mau mengikuti Yesus secara istimewa dalam panggilan khusus.  Tujuannya supaya orang-orang yang mau mengikuti Yesus dapat mewarisi sikap kerendahan hati Kristus sendiri. Yesus sengaja memilih keledai muda sebagai tumpangannya, untuk mengajarkan nilai: bahwa Ia bukanlah raja seperti yang dunia pahami, Ia adalah raja surga yang membawa semangat kesetaraan, keadilan, dan perdamaian. Ia adalah simbol pemimpin yang membumi, yang hadir bagi semua, raja alam semesta. Ia memilih keledai sebab Ia bukan pemimpin yang mau menunjukkan kegagahan, keperkasaan, kebolehan, dan kepongghan, sebaliknya Ia justru mau menampilkan kerendahan hati, keugaharian, kesederhanaan, bahkan kemiskinan-Nya, bahwa Ia adalah raja pertama-tama bagi orang-orang kecil, lemah, miskin, sakit, dan tertindas. Di sinilah terlihat kerendahan hati rangkap empat, yaitu kerendahan hati sosial, moral, intelektual, dan spiritual:

Pertama, kerendahan hati sosial. Yesus menunjukkan sikap option of the poor-nya, yaitu keberpihakan pada merena yang tereksklusi dalam inklusifitasnya. Yesus yang maha tinggi, maha kuasa, maha beser, dan maha segala itu mau bersolider dengan sesamanha yang serba terbatas, serba berkekurangan, serba terkucilkan, dan serba terkecualikan dari dan dalam sistem penjajahan bangsa Roma atas bangsa Israel waktu itu.

Kedua, kerendahan hati moral. Yesus mau menunjukkan disposisi batinnya lewat sikap keprihatinan, kepedulian, dan rasa kemanusiaan-Nya dengan para korban, kaum pinggiran di Yerusalem. Jalan terbaik bagi-Nya adalah jalan salib, Ia memang dielu-elukan sebagai raja orang Yahudi, namun tidak berselang lama dari mulut yang sama Ia akan diolok-olok sebagai pemberontak. Namun itulah harga yang harus Yesus ambil, itulah CAWAN yang harus Ia minum.

Ketiga, kerendahan hati intelektual. Yesus maha tahu dan maha bijaksana, Ia tahu bahwa seorang raja besar tidak layak menggunakan seekor keledai sebagai tumpangan kebesarannya, namun Yesus menyimpang dari norma dan tata nilai ini, Yesus menunjukkan satu hal yang berbeda dan lain. Ia memilih seekor keledai muda sebagai tumpangan, inilah adalah suatu bentuk penjungkirbalikan paradigmatis, Yesus mau merombak cara pandang orang Yahudi yang keliru tentang  raja dan atau pemimpin.

Keempat, kerendahan hati spiritual. Kerendahan hati spiritual adalah sebuah sikap rohani yang memilih hening dan tenang di kala badai tantangan hidup datang menerjang silih berganti, tidak berisik dan ribut. Yesus adalah Anak Allah, secara rohani Ia memiliki kekuatan yang besar untuk merampungkan misi Allah tanpa berlumuran darah dan kehilangan nyawa di palang penghinaan, kayu salib. Ia bisa melakukan apa saja. Tapi rupanya bukan seperti yang Ia kehendaki yang terjadi, melainkan yang dikehendaki oleh Bapa-Nya yang terjadi.

Kesederhanaan-Keugaharian

Nilai berikut yang mau Yesus tunjukkan dalam perayaan Minggu Palma lewat niat memilih Keledai sebagai tumpangan adalah kesederhanaan. Yesus menampilkan sesuatu yang berada di luar dari nalar kelaziman tradisi kebudayaan bangsa Yahudi, yaitu menjadikan Keledai sebagai tumpangan raja.

Raja atau para pembesar tidak pernah memilih keledai sebagai tumpangan, bagi mereka keledai hanya akan mengerdilkan dan menjatuhkan harga dirinya, status quo mereka akan tercabik-cabik begitu mereka menumpangi keledai, sebab bagi mereka keledai itu tumpangan bagi kaum jelata, kaum pinggiran, hanya orang-orang miskin dan kecil yang menggunakan keledai sebagai sarana transportasinya. Raja harus selalu menggunakan kuda yang khusus, kuda yang sudah terlatih, kuda yang kuat, tangguh, gagah, tangkas, cekatan, dan berani sesuai status sosialnya yang tersohor.

Dengan menggunakan kuda yang khusus tentu harga diri seorang raja tersebut menjadi melejit kilau-kemilau, namanya menjadi naik dan harum, ia akan merasa berharga dan terhormat. Dengan menunggangi kuda, seorang raja akan merasakan sensai kebermaknaan yang sangat hangat, nikmat dan memuaskan, ia akan menjadi begitu angkuh dan sombong seakan-akan dunia adalah miliknya, dunia berada di bawah telapak kakinya, tiada kuasa yang besar selain kuasanya atas bumi ini. Kuda akhirnya menjadi simbol kekuasaan, keperkasaan, nama baik, popularitas, dan prestise.

Cara pandang semacam inilah yang berusaha Yesus tolak, bongkar, dan bangun ulang. Yesus menolak konsep raja sebagai yang dilayani, raja sebagai yang dihargai, dihormati, disanjung-sanjung, dipuja-puji, dan sebagainya. Sebaliknya, raja bagi Yesus adalah Ia yang siap mengabdi dan melayani, yang siap dikritik, dihina, dicaci-maki, diludahi, disangkal, dan sebagainya. Itulah mengapa ia memilih keledai sebagai simbol kerendahan hati, keugaharian, kebajikan, keberpihakan, dan kesetaraan.

Refleksi bagi Gereja Masa Kini

Lantas apakah nilai rendah hati, sederhana, dan keberpihakan pada yang rentan masih terasa dalam kehidupan menggereja, terutama dalam diri para pemimpin umat? Apakah para pemimpin dan pemuka agama Kristen menghadirkan wajah dan sosok Yesus yang renda hati dan sederhana dalam gaya hidup (life style) mereka sehari-hari? Masih adakah para pemuka agama kristiani yang menjaga spiritualitas hidup rendah hati, hidup sederhana, dan hidup kenabian secara autentik di bumi yang terluka ini?

Tentu jawabannya bisa beragam, namun ada satu garis besar yang sama yang bisa kita jadikan sebagai barometer penilaian. Para pemimpin jemaat kita dewasa ini belum begitu cukup menampilkan gaya hidup kristus yang bersumber dari tiga kaul (kaul kemiskinan, kaul ketaatan, dan kaul kemurnian) mereka secara tulen, masih ada yang bolong-bolong, bahkan ompong dan kosong blompong. Tiga kaul ini saling terkait, ketiganya tidak bisa kita nilai secara terpisah. Ketika seseorang sudah tidak murni atau sudah tidak suci karena penyimpangan atas rahmat tahbisannya, maka otomatis kedua kaul lainnya rentan ternodai.

Sama juga ketika seseorang sudah terjangkit hidup hedonis yang akut, bukan saja kaul kemiskinan-kesederhanaan yang ternodai, melainkan juga potensial berdampak pada kedua kaul lainnya. Terakhir,  ketiga seseorang sudah tidak mau lagi untuk taat dan setia dengan aturan, ajaran, dan nasehat-nasehat Injili, maka tentu selain kaul ketaatan-kesetiaan yang tercemar, dua kaul lainnya pun itu terancam goyah. Jadi, ketiga kaul ini memilih nyawa yang satu dan sama. Tentu, bukan hanya pada para pemuka agama yang dituntut hidup miskin, taat, dan suci, tetapi hal ini pun berlaku bagi semua insan yang beriman kepada Yesus Kristus di dalam Roh Kudus.

Tumpangan Iman Kita, Kuda atau Keledai?

Dalam konteks kehidupan kita dewasa ini, kuda dan keledai merujuk pada alat atau kendaraan transportasi, semisal mobil, motor, kapal, pesawat, kereta api, dan lain sebagainya. Kuda di masa kini bisa kita maknai sebagai kendaraan yang canggih, mewah, mahal, dan sebagainya. Sementara keledai adalah kendaraan yang relatif sederhana, murah, tidak mencolok mata, biasa-biasa saja, tidak bersih, mesinya tidak kuat, tidak mampu menempuh jarak mil, tidak mampu menampun beban yang berat, besar, dan banyak.

Dalam konteks motor, kuda itu umpamanya motor besar, sementara keledai adalah motor kecil. Dalam konteks mobil, kuda itu umpamanya mobil besar, mahal, dan mewah, sementara keledai adalah mobil pas-pasan dan murah. Dalam konteks penerbangan, kuda itu umpamanya pesawat jet pribadi, sementara keledai adalah pesawat komersial dengan banyak kelas ekonomi dan terbuka bagi umum. Dalam konteks pelayaran, kuda itu umpamanya kapal pesiar yang bagus, mahal, dan mewah. Sementara keledai adalah kapal komersial yang diperuntukkan bagi penumpang umum.

Pemimpin yang baik akan menjadikan kaki-nya pertama-tama sebagai alat transportasi, ia akan lebih banyak berjalan kaki untuk menjangkau wilayah-wilayah pelayanannya yang dekat. Sebaliknya bila wilayah yang hendak ia tuju itu jauh, terisolir, maka ia akan menggunakan jasa transportasi, misalnya kalau yang ia butuhkan adalah kendaraan roda dua, maka ia akan memilih motor yang sederhana, yang biasa-biasa saja, ia akan memilih motor sebagaimana yang kebanyakan orang kecil, miskin, dan lemah gunakan. Pemimpin yang baik akan berusaha menghindari penggunaan kendaraan roda dua yang besar, mahal, dan mewah layaknya milik para pembesar.

Selain motor biasa, ia pun akan memilih menggunakan taksi, duduk membaur dengan umatnya di kursi penumpang alih-alih menggunakan mobil pribadi yang mewah. Bila ia harus menempuh jalur laut, maka ia akan berlayar menggunakan kapal komersial, kapal penumpang, di dalam kapal ia akan membaur bersama umat kecil di kelas ekonomi, ia tidak akan menyewa kamar khusus dengan pelayanan ekstra ekslusif (full service), ia pun tidak mungkin menggunakan kapal pesiar khusus yang kaya.  Bila harus menempuh jalur  udara, maka seperti kebanyakan orang kecil, ia akan antre membeli tiket pesawat komersial, duduk di kelas ekonomi, ia tidak mungkin menempati posisi nyaman di kelas ekslusif. Inilah model pemimpin yang rendah hati, sederhana, dan pro dengan umat (rakyat). Apakah ada pemimpin yang demikian?

Tentu ada, namun jumlahnya yang belum seberapa dari total pemimpin kita yang ada. Dalam tubuh Gereja Katolik, setelah sosok ugahari, rendah hati, bijak, dan sederhana, Yesus Kristus, tentu ada 12 Rasul-Nya dan para kudus.

Salah satu contoh orang kudus yang menghidupi semangat kehina-dinaan Kristus secara militan, tentu adalah Santo Fransiskus dari Asisi. Santo Fransiskus menghidupi spiritualitas kemiskinan yang radikal, ia menolak segala bentuk kenyamanan pragmatis dan kemelekatan material, dan merangkul luka kemiskinan Kristus. Selain Santo Fransiskus, teladan kita yang paling kontemporer adalah Santa Bunda Teresa dari Kalkuta dan Paus Fransiskus. Santa Teresa dari Kalkuta menghabiskan masa hidupnya bersama orang paling miskin di antara orang paling miskin di India. Corak yang sama pun kita lihat dalam diri Paus Fransiskus  (alm).

Paus Fransiskus yang bernama asli Joerge Mario Bergolio itu sekalipun adalah seorang jesuit, sebuah ordo yang terkesan elitis, beliau terbilang cukup sukses menampilkan wajah “alter Santo Fransiskus” dalam rekam jejak kehidupan dan rekam jejak pelayanannya. Sewaktu berstatus sebagai Pastor, Uskup, dan Kardinal, ia sudah menunjukkan jiwa ke-fransiskanan-nya yang ulung dalam seluruh pelayanan pastoralnya. Ia hampir selalu berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan angkutan umum, ia banyak mengunjungi tempat-tempat kumuh di pusat maupun di pinggiran kota Buenos Aires, Argentina untuk merayakan Misa Suci bersama para pengemis, anak jalanan, kaum pinggiran, dan lainnya. Kelak kebiasaan ini pun ia bawa ketika terpilih sebagai Paus dengan nama Fransiskus di Basilika Roma.

Untuk wilayah Gereja Indonesia, kita memiliki sosok ugahari, sederhana, bijak, dan rendah hati seperti Romo Y.B. Manggung Wijaya Pr. Romo Manggun memiliki corak hidup yang khas, ia sukses menampilkan wajah dan sosok Yesus sebagai pemimpin yang beraroma umat, gembala beraroma domba, gembala yang baik bagi umat di pinggiran Kali Code. Kita juga punya sosok pemimpin yang sangat sederhana dan rendah hati saat ini, semisal Uskup Paulus Budi Kleden SVD, Uskup Keuskupan Agung Ende. Uskup Budi terkenal sebagai sosok yang sederhana, ramah, murah senyum, rendah hati, dan sangat jenius. Selain itu di Papua, kita dulu memiliki Pastot Dr. Neles Kebadabi Tebay Pr. Tentu selain mereka ini masih ada lagi, namun yang jelas jumlahnya mereka sangat minim, karena yang lainnya sudah, sedang, dan senantiasa dibayang-bayangi oleh mamon.

Epilog: Bagaimana dengan Papua?

Banyak pemimpin di tanah Papua. Sebagian besar pemimpin ini adalah anak-anak Tuhan. Tidak jarang dari mulut mereka keluar Nama Tuhan. Tidak jarang dalam banyak kesempatan mereka menyebut Nama Tuhan, atau berbalas-balasan pantun sambil mengutip ayat Kita Suci. Mereka menghafal sebagian besar ayat suci dalam kitab suci di luar kepala.  Mereka selalu secara terbuka, umum, dan tanpa takut memproklamirkan diri sebagai anak, hamba, dan murid Tuhan Yesus Kristus. Gereja menjadi tempat bagi mereka untuk melancarkan segala macam kepentingan praktisnya.

Jadi, banyak pemimpin Papua baik yang ada di dalam sistem negara Indonesia, maupun yang berada di luar sistem negara Indonesia, yaitu para pemimpin politik perjuangan kemerdekaan bangsa Papua. Hanya saja baik juga kita bertanya kepada para pemimpin ini, kira-kira sejauh mana mereka sudah, sedang, dan selalu menampilkan dirinya sebagai pemimpin yang rendah hati, sederhana, bijaksana, dan berpihak pada kaum rentan di atas tanah Papua yang tidak baik-baik saja ini sesuai teladan Yesus Kristus?  Untuk menilai apakah para pemimpin ini murni atau suci? Apakah para pemimpin ini taat dan setia? Juga apakah para pemimpin ini sederhana atau miskin?

Bisa kita cek dan pastikan secara gamblang, bukan dari mulut manisnya, bukan dari retorika ompongnya, bukan dari politik gimmick dan poliitik elektoral yang mereka mainkan, bukan dari survei dan pooling abal-abal, bukan dari media sosial maupun media cetak, bukan dari buku biografi pesudo-intelektualnya, bukan dari postingan facebook, bukan dari potcads youtube, bukan dari reels atau live tiktok ala buzzer dan influencer banal, bukan dari cerita orang dalam, intinya bukan dari topeng-topeng tersebut. Lantas dari mana?

Pertama, cek rekening dan aset-asetnya; kedua, cek kediaman pribadinya; ketiga, cek kendaraan pribadinya; keempat, cek harta miliknya; kelima, cek busananya; keenam, cek pola makannya; ketujuh, cek skema jadwal aktivitas dan rutinitas harian, mingguan, bulanan, dan tahunannya; kedelapan, cek baik pekerjaan dan jaringan kerjasamanya; dan lain-lain. Bila yang ada padanya adalah “KUDA, UNTA, DAN GAJAH”, dan bukan “KELEDAI”, maka tentu ia atau mereka adalah pemimpin yang jahat, buruk, kotor, dan berdosa, sebaliknya bila yang ada padanya adalah “KELEDAI”, bukan “KUDA”, maka ia atau mereka adalah para pemimpin yang baik, gembala yang baik, minimal mereka sudah seinci sama seperti Yesus Kristus sendiri.

Terakhir, pertanyaan reflektif bagi kita, apakah yang ada pada kita saat ini dan di sini baik itu di luar diri maupun di dalam diri adalah “KUDA” atau “KELEDAI”?

PENULIS: FR. SIORUS EWAINAIBI DEGEI

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button