EMPAT BUKU BAGI PAPUA BARU YANG DAMAI
Pengantar
Puji dan syukur tak terhingga saya panjatkan kehadirat Allah Tritunggal Mahakudus, Santa Perawan Suci Mama Maria, Alam, dan Leluhur bangsa Papua karena atas rahmat dan kasih-Nya saya mampu merampungkan “nazar intelektual” saya selama ini hingga melahirkan empat buku: “Ratapan Papuana: Sebuah Mozaik Cerpen” (2025); “Dekolonisasi Rasisme Epistemik: Sebuah Pengantar Filsafat Kritis” (2025); “Maria Mama Noken Kebenaran: Sebuah Refleksi Etno-Mariologis Papua” (2025); dan, “Depapuanisme: Sebuah Etika Dekolonisasi Papua” (2026).
Saya juga turut menghaturkan limpah terimakasih kepada semua oknum dan pihak yang mendukung saya dalam proses penulisan, penyusunan, penerbitan, percetakan, dan pengiriman empat buku ini hingga selesainya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu dalam momen membahagiakan ini. Yang pasti saya selalu memohon kepada Tuhan agar semua amal baiknya akan segera dibalas oleh Tuhan pemilik pintu berkat.
Empat buku ini adalah kelanjutan dari karya-karya saya sebelumnya. Anda tentu sempat melihat beberapa diantaranya dipromosikan secara terbatas oleh kawan-kawan seperjuangan, beberapa dari buku ini pun sudah mulai beredar secara terbatas di Lembah Hijau Kamuu (Dogiyai). Kini ketika empat paket bukunya tersedia, saya selaku penulis hendak membagikan informasi lengkapnya kepada saudara sekalian.
RATAPAN PAPUANA: MOZAIK CERPEN (2025)

Judul: Ratapan Papuana: Sebuah Mozaik Cerpen
Penulis: Siorus Ewainaibi Degei
Penerbit: Edited Press, Yogyakarta
Tahun: 2025 (I)
Desain sampul: Ellyas Maday (Maday Rivaldo)
Tebal: iii+201. 14x 21 cm.
ISBN: 978-7334-2609-4
Buku pertama berjudul “Ratapan Papuana: Sebuab Mozaik Cerpen” (2025). Buku ini berisi 10 cerita pendek yang saya tulis pada paruh tahun 2025.
Alam Papua selalu dipersonifikasi sebagai seorang wanita, orang-orang asli Papua menyapanya dengan sebutan “mama” dalam bahasa ibu suku mereka masing-masing. Layaknya seorang ibu yang empunya cinta dan kasih besar, rahim alam Papua mahaindah dan mahakaya. Kesucian jiwanya pun tak luput dari netsapa pilu ketika meratapi dirinya dan anak-anaknya teraniaya dan terjajah insan-insan tamak.
Cerpen-cerpen yang terkandung dalam buku ini adalah melodi doa ratapan dan kidung prahara seorang “mama Papuana” meratapi lara dan mencicipi air mata darah anak-anaknya.
Penulis menampilkan selumbung gejolak Papua dalam selubung kisah sastra yang menggugah dan menyentak. Layaknya sebuah madah nyanyian ratapan seorang ibu, jeritan dan rintihan nurani sunyi “mama Papuana” ini kami harap mampu mengguncang Raja Langit-Bumi demi semilir embun sejuk keadilan dan perdamaian sejati bagi rahim Papuana yang tercabik kuku dan taring iblis penindasan.
DEKOLONISASI RASISME EPISTEMIK: SEBUAH PEGANTAR FILSAFAT KRITIS (2025)

Judul: Dekolonisasi Rasisme Epistemik: Sebuah Pengantar Filsafat Kritis
Penulis: Siorus Ewainaibi Degei
Penerbit: Edited Press, Yogyakarta
Tahun: November 2025 (I)
Desain Sampul: Elliyas Maday (Rivaldo Maday)
Tebal: ix+196 hal. 14 x 21 cm.
ISBN: 987-0-4356-5678-5
Buku ini berisi cuplikan biografi kehidupan dan pemikiran dari tokoh-tokoh pemikir cemerlang kekinian dunia yang kami gemari dan dalami pemikirannya mulai dari bapak filsafat pembebasan Amerika Latin, Enrique Dussel Ambrossini (1934-2023), “Gandhi ekologi” dari India bunda Vandana Shiva, bapak filsafat pembebasan Afrika, Valentin-Yves Mudimbe (1941-2025), bapak teologi umat Amerika Latin (Argentina) dan mahaguru mendiang Paus Fransiskus (1936-2025), Pastor Juan Carlos Scannone SJ (1931-2019), pemikir teori kritis generasi pertama Mazhab Frankfurt Jerman Theodor Ludwig Wisengrund Adorno (1903-1969), dan terakhir teoritikus politik paling terdepan asal Belgia, Chantal Moffe.
Pemikiran para tokoh ini kami ramu, racik, dan kami sajikan secara kontekstual bagi pembaca Papua sebagai sebuah pengantar ke dalam permenungan filsafat kritis menuju pembongkaran pakem-pakem fix idea-idea palsu dan juga sebagai peletak dasar pijakan sebuah upaya dekolonisasi epistemologi yang relevan.
Enam pemikir yang kami angkat dalam buku ini rasanya adalah rule model bagi para intelektual dan akademisi Papua yang kami rasa relatif relevan untuk mulai menggumpulkan batu wadas bagi pembangunan “laboratorium dekolonisasi epistemik Papua”, sudah saatnya para kaum cerdik-pandai di Papua “gabung jurus” membongkar sarang-sarang bercokolnya “rasisme epistemik” yang sistemik, massif, dan terstruktut itu dari ruang-ruang ilmiah.
MARIA MAMA NOKEN KEBENARAN: SEBUAH REFLEKSI ETNO-MARIOLOGIS PAPUA (2025)

Judul: Maria Mama Noken Kebenaran: Sebuah Refleksi Etno-Mariologis Mariologis Papua
Penulis: Siorus Ewainaibi Degei
Penerbit: Edited Press, Yogyakarta
Tahun: Desember 2025 (I)
Desain Sampul: Elliyas Maday
Tebal: iv+116 hal. 14 x 21 cm.
ISBN: 978-623-6784-28-0
Buku ini akan menelusuri representasi Bunda Maria dalam humus konteks dan tungku spiritual masyarakat Papua. Kita akan mengeksplorasi bagaimana sosok Maria, sebagai simbol keibuan, kasih sayang, dan harapan, diintepretasikan dan dihayati secara unik dalam budaya Melanesia, khususnua di wilayah Papua.
Pembahasan berfokus pada dua representasj utama: “Maria Mama Fajar Timur” (Mater Orientalis Aurora) dan “Maria Mama Noken Kebenaran” (Mater Noken Veritatis), menganalisis bagaimana kedua representasi ini mencerminkan nilai-nilai, kepercayaan, dan pengalaman hidup masyarakat Papua, serta bagaimana mereka berinteraksi dengan ajaran agama Katolik yang telah lama hadir di wilayah ini. Melalui pisau bedah analisis mariologis kontekstual, buku ini bertujuan untuk memahami bagaimana iman Katolik berakar dan berkembang dalam locus konteks budaya lokal, menghasilkan sintesis unik antara kepercayaan tradisional dan ajaran keagamaan.
Buku ini adalah upaya kami memburu wajah sang bunda ilahi versi Papua atau tepatnya berisi refleksi etno-mariologis kontekstual. Kami melihat bahwa sudah ada banyak risalah-risalah ilmiah di lingkungan disiplin ilmi teologi kristologis khas Papua, renungan ilmiah tentang misiologi, soteriologi, ekklesiologi, dan ekskatologi kontekstual Papua. Sementara refleksi ilmiah yang sistematis, metodis, kohoren, dan logis tentang mariologi masih relatif kurang. Dengan latar pijak seperti itu, kami merasa terpanggil untuk menggali teologi mariologi khas Papua.
DEPAPUANISME: SEBUAH ETIKA DEKOLONISASI PAPUA (2026)

Judul: Depapuanisme: Sebuah Etika Dekolonisasi Papua
Penulis: Siorus Ewainaibi Degei
Penerbit: Edited Press, Yogyakarta
Tahun: Januari 2026 (I)
Desain Sampul: Elliyas Maday
Tebal: xi+316 hal. 14×21 cm.
ISBN: 983-43008-0-8
Upaya mewujudkan dan membumikan paham depapuanisme kami sebut sebagai “depapuanisasi”, yaitu sebuah proses sintesis-dialektis atas upaya konstruksi-papuanisasi dari pihak perintis Belanda dan upaya rekonstruksi-repapuanisasi dari pihak luar, yang hemat kami sama-sama berorientasj pada rasisme, kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme. Untuk itu kami menawarkan satu terapi dekolonisasi kepapuaan yang relatif ampuh, yaitu depapuanisasi atau depapuanisme sebagai roh dekolonisasi yang khas Papua.
Depapuanisasi sendiri adalah sebuah proses dekonstruksi-emansipatif yang kritis dan etis dari dua kiblat hegemoni besar yang mencengkeram Papua selama ini. Denhan bersandar pada filsafat dekonstruksi, spiritual dialog dan rekonsiliasi, juga paham idealisme rekognisi, upaya membebaskan diri dari pakem idea asing dan idea domestik lewat jalan depapuanisme tidaklah mustahil. Kita akan sampai pada sebuah wujud agama kristiani Papua baru, Gereja pribumi Papua baru, dan akhirnya umat beriman kristiani di tanah Papua yang mampu lahir baru sebagai “Yesus-Yesus Papua” yang mampu tampil sebagai rasul dan saksi perdamaian dan pemerdekaan orang-orang secara proto.
Demikianlah potret singkat dari empat buku ini. Selanjutnya buku ini akan segera mungkin dibedah dan mulai diperjual-belikan kepada publik.
Fr. Siorus Ewainaibi Degei
Penulis adalah Alummi Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur Abepura-Papua dan sedang menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki St. Petrus Mauwa, Dogiyai.




