ANTROPOLOGI DAN TEOLOGI KEHIDUPAN (I)
Meneropong Teologi Pembebasan Afrika menurut Engelbert Mveng, SJ
Prolog: Inkulturasi dan Pembebasan
Tema utama teologi Afrika meliputi dua unsur utama, yaitu inkulturasi dan pembebasan. Dua tema ini menjadi begitu penting dalam teologi Afrika sebab konteks Afrika menunjangnya. Afrika adalah sebuah wilayah dengan keragaman budaya, bahasa, sejarah, dan etnis yang luar biasa. Proses evangelisasi di wilayah multikultural semacam ini membutuhkan metode yang khusus, yang tentunya ramah konteks. Untuk itu jalan inkulturasi begitu intens digunakan oleh para sarjana teologi dalam proyek pemikirannya.
Tema utama lainnya dalam teologi Afrika selain inkulturasi, ialah pembebasan. Afrika punya sejarah perbudakan yang panjang di bawah rezim penjajahan Eropa (Prancis). Situasi sosial, politik, dan ekonomi Afrika didominasi oleh praktek rasisme, kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme. Kekerasan, kemiskinan, apartehid, dan penindasan menjadi sajian tontonan harian yang tak terhapuskan. Di tengah konteks sosial semacam demikian, maka evangelisasi membutuhkan metode yang tepat demi menjawab tantangan umat, maka para sarjana teologi Afrika awal-awal mulai memikirkan suatu corak teologi pembebasan yang khas Afrika. Dari dereten nama yang ada, sekurang-kurangnya ada dua nama teolog besar yang menarik untuk kita dalami, yakni Pastor Jean Marc-Ela dan Engelbert Mveng Sj. Keduanya adalah imam Katolik tertahbis yang mendedikasikan usia hidup bagi pembangunan teologi pembebasan Afrika. Dalam tulisan kami yang lain, sosok Jean Marc-Ela sudah kami perkenalkan. Tulisan ini sepenuhnya akan memperkenalkan Engelbert Mveng. Ia merupakan seorang imam jesuit pertama dari kalangan orang asli Afrika. Pemikirannya begitu luas dan mendalam karena mencakup banyak bidang sekaligus: teologi, seni, sastra, sejarah, dan antropologi. Keluasan dan kedalaman pemikiran Mveng terlihat dari kompleksitas karya yang ia hasilkan.
Mengenal Engelbert Mveng Sj: Nabi yang Berteologi lewat karya Seni
Engelbert Mveng (9 Mei 1930 – 22 April 1995) adalah seorang imam Katolik Jesuit Kamerun yang juga dikenal sebagai sejarawan, ahli teologi, antropolog, seniman, dan penyair. Ia lahir di Enam-Ngal, Kamerun, dari keluarga Protestan tetapi dibaptis sebagai Katolik pada tahun 1935. Menempuh pendidikan di sekolah Katolik Efok (1943–1944) dan Seminari Menengah Akono (1944–1949). Ia sempat belajar di Seminari Tinggi Yaounde untuk mendalami bahasa Latin dan Yunani.
Karena belum ada misi Jesuit di Kamerun saat itu, ia bergabung dengan Serikat Yesus (Jesuit) di Djuma, Kongo (Zaire) pada tahun 1951. Ia melanjutkan studi filsafat di Wépion dan Université de Namur di Belgia, serta meraih lisensiat dari Universitas Louvain (Belgia) dan Universitas Katolik Lyon (Prancis). Ia menyelesaikan studi filsafat di Belgia dan Prancis, serta studi teologi di Lyon, dan ditahbiskan sebagai imam Jesuit pada 7 September 1963, menjadi imam Jesuit pertama dari Kamerun.
Pada tahun 1964, ia menyelesaikan tesis ketiga siklus tentang hubungan paganisme dan Kristen berdasarkan surat-surat Santo Agustinus, dan meraih Hadiah Broquette-Gonin. Pada tahun 1972, ia menyelesaikan tesis doktoral tentang sumber Yunani untuk sejarah Afrika Hitam. Ia mengajar sejarah di Universitas Yaoundé dari tahun 1965 hingga 1995, dan juga pernah bekerja di Pusat Linguistik dan Budaya Federal Yaoundé. Pada tahun 1973, ia menjadi anggota asosiasi Akademi Ilmu Pengetahuan Luar Negeri.
Ia aktif dalam gerakan budaya Afrika dan menjadi pendukung utama inkulturasi Kristen di Afrika, yaitu mengintegrasikan nilai-nilai budaya Afrika ke dalam ajaran agama kristiani. Ia mendirikan bengkel seni agama di Yaoundé untuk menciptakan ornamen liturgis yang terinspirasi oleh seni Afrika. Karya seninya antara lain mozaik di Basilika Notre Dame d’Afrique di Nazareth dan Katedral Notre Dame des Victoires di Yaoundé, serta lukisan di kapel Kolej Hekima di Nairobi. Ia juga menjabat sebagai sekretaris Asosiasi Ekumenis Teolog Afrika dan menekankan pentingnya peran pembebasan dalam teologi Afrika.
Selama 30 tahun terakhir hidupnya, ia menjabat sebagai profesor di Departemen Sejarah, Universitas Yaoundé, Kamerun. Ia menulis banyak buku tentang sejarah Kamerun dan Afrika. Mveng adalah pelopor seni Kristen Afrika. Ia mendirikan studio seni untuk melatih para seniman lokal dan menggunakan estetika tradisional Afrika untuk mengekspresikan iman Kristen.
Ia adalah pendiri Movement of African Catholic Intellectuals (M.I.C.A.) dan pejuang gigih bagi pembebasan rakyat kecil. Ia banyak mengkritik kolonialisme yang dianggapnya sebagai “pemakan manusia” (antropofagi) yang menghancurkan identitas dan martabat orang Afrika.
Engelbert Mveng ditemukan tewas terbunuh di kediamannya di pinggiran kota Yaoundé pada malam hari antara tanggal 22-23 April 1995. Ia dibunuh secara brutal oleh penyerang yang tidak dikenal, dan hingga hari ini kasus pembunuhan tersebut tetap tidak terpecahkan.
Berikut adalah karya-karya utama Engelbert Mveng yang spesifik, terbagi berdasarkan bidangnya:
Putaka di bidang sejarah: (1) Histoire du Cameroun (1963). Buku ini membahas sejarah Kamerun secara komprehensif, menjadi salah satu referensi penting tentang sejarah negara tersebut; (2) Les sources grecques de l’histoire négro-africaine depuis Homère jusqu’à Strabon (1972). Buku ini merupakan tesis doktoralnya yang menunjukkan adanya konten tentang Afrika Hitam dalam sumber-sumber sejarah Yunani kuno, membantah pandangan bahwa Afrika tidak memiliki sejarah penting sebelum kedatangan orang Eropa;
(3) Paganisme et christianisme: christianisation de la civilisation païenne de l’Afrique romaine d’après la correspondance de saint Augustin (1964). Tesis ketiga siklusnya yang mengeksplorasi hubungan antara paganisme dan agama Kristen berdasarkan surat-surat Santo Agustinus;
(4) Théologie, libération et cultures africaines: dialogue sur l’anthropologie négro-africaine (1996). Mengkaji hubungan antara teologi, pembebasan, dan budaya Afrika, serta mengemukakan gagasan tentang pentingnya pembebasan antropologis.
(5) Spiritualité et libération en Afrique (1987). Membahas tentang spiritualitas dan pembebasan dalam konteks Afrika; (6) Identidad africana y cristianismo: palabras de un creyente (1999). Menjelaskan hubungan antara identitas Afrika dan agama Kristen; (7) Afrique dans l’église: paroles d’un croyant (2000). Mengulas tentang peran Afrika dalam gereja dan integrasi nilai-nilai budaya Afrika ke dalam ajaran Kristen.
Karya pustaka di bidang seni dan budaya: (1) L’art d’Afrique noire: liturgie cosmique et langage religieux (1974). Mengkaji estetika seni Afrika Hitam dan hubungannya dengan liturgi serta bahasa religius.
Karya pustaka di bidang sastra (puisi): (1) Balafon (1972). Kumpulan puisi yang terinspirasi oleh budaya Afrika, dengan menggunakan simbol-simbol khas Afrika; (2) Si quelqu’un… chemin de croix. Karya yang menghubungkan tema jalan salib dengan konteks budaya dan sosial Afrika.
Karya seni terapan: (1) Mozaik di Basilika Notre Dame d’Afrique di Nazareth (Israel) dengan tema “Our Lady of Africa”; (2) Mozaik di Katedral Notre Dame des Victoires di Yaoundé (Kamerun); (3) Lukisan Stasiun Salib dan Pemuktian di kapel Kolej Hekima di Nairobi (Kenya); (4) Mural di Gereja Our Lady of Africa (sebelumnya Gereja Holy Angels) di Chicago (Amerika Serikat), yang menggambarkan momen-momen intervensi malaikat dalam sejarah Alkitab dengan latar belakang dan gaya seni Afrika; (5) Altar Martir Uganda di Kolej Libermann di Douala (Kamerun), yang menggunakan simbol-simbol seperti matahari, bulan, pola segitiga dan belah ketupat, serta warna merah, hitam, dan putih yang memiliki makna khusus dalam budaya Afrika.
 Arti dan Makna Karya Seni Mveng
Karya seni Engelbert Mveng memiliki arti dan makna yang mendalam. Di dalam karya-karyanya, terutama karya seni terapannya, baik itu mural maupun lukisan Mveng berupaya mengintegrasikan simbolisme budaya Afrika dengan ajaran Kristen, serta mengangkat tema-tema kehidupan, pembebasan, dan identitas Afrika.
Karya-karyanya menjadi wadah untuk menyampaikan konsep “teologi kehidupan” yang beliau usung, yaitu menghargai kehidupan dalam segala dimensinya dan menyoroti kemenangan kehidupan atas kematian serta berbagai bentuk penindasan.
Mveng berusaha menyatukan agama Kristen dengan budaya Afrika, sehingga agama dapat lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Afrika dan menjadi sarana untuk menyatakan keberadaan serta martabat mereka. Melalui karya seni, beliau mengkritik proses “antropofagi budaya” yang terjadi akibat kolonialisme dan dominasi Barat, serta mengajak untuk mengembalikan martabat dan nilai-nilai tradisional Afrika.
Ada beberapa warna mencolok yang selalu hadir dalam sebagian besar karya Mveng dan tentu itu menjadi ciri khasnya, warna-warna tersebut antara lain: Merah (melambangkan kehidupan); Hitam (mengacu pada penderitaan dan pengalaman pahit sejarah Afrika); Putih (mewakili kematian, namun juga harapan kebangkitan). Selain warna, terdapat juga simbol-simbol yang selalu muncul dalam setiap karya seni Mveng, seperti: motif matahari, bulan, dan bentuk segitiga serta belah ketupat. Simbol ini melambangkan kesuburan dan kehidupan dalam budaya Afrika.
Berikut, Pola salib yang melambangkan empat arah mata angin menyiratkan kesatuan alam semesta dan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Dalam tulisan ini tidak semua karya seni Mveng akan kita telusuri arti dan makna teologinya bagi inkulturasi dan pembebasan Afrika, hanya beberapa karya seni Mveng sebagai contoh kasus.
Pertama, Altar Martir Uganda di Kolej Libermann, Douala, Kamerun. Karya ini menampilkan Kristus yang megah di atas altar dengan latar belakang kosmik yang menggabungkan simbol-simbol Afrika dan Kristen. Martir Uganda di kaki salib menjadi representasi orang Afrika yang menyatukan pengorbanan hidup mereka dengan Kristus. Karya ini mengungkapkan bahwa penderitaan dan kematian dapat bertransformasi menjadi kemenangan kehidupan melalui kebangkitan.

Kedua, “Resurrection” di Hekima College, Nairobi, Kenya. Karya ini menggambarkan kebangkitan dengan simbolisme yang kaya, yang menunjukkan harapan dan pembebasan dari segala bentuk belenggu.

Ketiga, “Our Lady of Africa” di Basilika Pengumuman di Nazareth, Israel: Menggambarkan sosok Bunda Maria dengan ciri-ciri budaya Afrika, yang menunjukkan bahwa keberadaan ilahi juga hadir dan relevan dalam konteks budaya Afrika.

Selain itu, karya seni Mveng juga memiliki makna sebagai sarana untuk memperkuat dialog antarbudaya, karena simbol-simbol yang beliau gunakan seringkali memiliki interpretasi yang konsisten di berbagai budaya Afrika Tengah dan Barat, serta dapat dipahami oleh masyarakat di seluruh dunia.
Antropofagi: Sasaran Tembak Kritikan Mveng
Dalam pemikiran Engelbert Mveng, “Antropofagi” bukanlah merujuk pada tindakan memakan daging manusia secara harfiah, melainkan sebuah konsep simbolis yang menggambarkan bagaimana budaya dan identitas Afrika telah “ditelan” atau dirusak oleh kekuasaan kolonial dan dominasi budaya Barat.
Ia melihat bahwa selama masa kolonial dan pasca-kolonial, nilai-nilai, seni, agama, serta cara berpikir tradisional Afrika sering dianggap rendah atau kuno, sehingga digantikan oleh sistem budaya dan politik Barat. Proses ini seperti “antropofagi budaya”, di mana Afrika kehilangan bagian penting dari dirinya sendiri dan dipaksa untuk menyerap nilai-nilai asing yang tidak sesuai dengan konteksnya.
Selain itu, konsep ini juga terkait dengan apa yang disebutnya “kemiskinan antropologis”—suatu kondisi di mana manusia Afrika dirampas haknya untuk mengembangkan identitas dan potensi diri secara mandiri, akibat dari sejarah penindasan, penjajahan, dan marginalisasi. Mveng berpendapat bahwa untuk mengatasi hal ini, perlu dilakukan proses “pembebasan budaya” yang mengembalikan martabat dan keberadaan Afrika serta mengintegrasikan ajaran Kristen dengan nilai-nilai tradisional Afrika. BERSAMBUNG (*).
PENULIS: FR. SIORUS EWAINAIBI DEGEI




