Majalah Gaiya

IRI HATI ADALAH AKAR KEBENCIAN, DAN JALAN MENUJU KEBINASAAN MANUSIA

Sebuah refleksi Kitab Suci sebagai “perpustakaan Iman”

Prolog

Iri hati itu membawa manusia pada dosa, yang merusak hati, persaudaraan dan komunitas yang hidup. Iri hati juga merupakan salah satu persoalan moral yang sejak dahulu merusak kehidupan manusia. Iri hati muncul ketika seseorang tidak mampu menerima kebaikan, keberhasilan, kedudukan, atau kebahagiaan yang dimiliki orang lain. Hati yang dikuasai iri hati sulit bersyukur atas apa yang dimiliki dan sulit bergembira atas keberhasilan sesamanya. Sebaliknya, orang yang iri hati cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain, merasa terancam oleh kelebihan sesama, dan berusaha menjatuhkan orang yang dianggap sebagai saingan. Dalam kehidupan zaman ini, sikap iri hati dapat ditemukan dalam keluarga, lingkungan masyarakat, kehidupan politik, pekerjaan, bahkan dalam kehidupan beragama. Ada orang yang tidak senang melihat sesamanya berhasil. Ada yang menyebarkan fitnah untuk merusak nama baik orang lain. Ada pula yang menggunakan kekuasaan, kekerasan, atau ancaman demi mempertahankan kedudukan dan kepentingannya sendiri. Ketika iri hati dibiarkan bertumbuh, manusia dapat kehilangan kemampuan untuk melihat sesamanya sebagai saudara yang memiliki martabat dan hak yang sama.

Melalui refleksi ini saya mengajak, supaya kita menelaah kedalam berdasarkan perpustakaan Iman menuju keselmatan yaitu Kitab Suci. Kitab Suci memberikan peringatan yang tegas tentang bahaya iri hati. Dalam (Bdk Yakobus 3:16) tertulis: “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Sabda ini memperlihatkan bahwa iri hati bukan sekadar perasaan tidak senang yang tidak berbahaya. Apabila dipelihara, iri hati dapat menjadi sumber kekacauan, permusuhan, dan berbagai tindakan yang melukai sesama. Iri hati sering kali bermula dari sesuatu yang tampaknya kecil, misalnya rasa tidak puas, keinginan untuk menjadi lebih unggul, atau ketidakmampuan menerima keberhasilan orang lain. Namun, apabila tidak dikendalikan, perasaan tersebut dapat berkembang menjadi kebencian. Kebencian kemudian mendorong manusia untuk membalas, mengancam, menyakiti, bahkan membunuh. Dengan demikian, dosa yang bermula di dalam hati dapat berkembang menjadi tindakan nyata yang menghancurkan kehidupan. Manusia perlu menjaga hati dan memeriksa motivasi di balik setiap tindakannya. Tidak semua persaingan merupakan iri hati, sebab manusia dapat berusaha maju secara sehat dan saling mendukung. Persoalannya muncul ketika seseorang menginginkan kehancuran orang lain demi keuntungan dirinya sendiri. Pada saat itulah keberhasilan sesama tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang patut disyukuri, melainkan sebagai ancaman yang harus disingkirkan.

Dari Iri Hati Menuju Pembunuhan

Kisah Kain dan Habel dalam Kitab Kejadian merupakan salah satu gambaran paling jelas tentang bagaimana iri hati dapat berkembang menjadi kekerasan. Kain dan Habel sama-sama mempersembahkan persembahan kepada Tuhan. Namun, ketika persembahan Habel mendapat perhatian Tuhan, Kain menjadi sangat marah dan mukanya muram. Tuhan kemudian memperingatkan Kain (Bdk Kejadian 4:7) “Tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Peringatan tersebut berbicara tentang dosa yang telah mengintai dan hendak menguasai manusia. Kain sebenarnya mendapat kesempatan untuk mengendalikan kemarahannya. Ia dapat memilih untuk memperbaiki dirinya, berdamai dengan keadaan, dan tetap menghormati saudaranya. Akan tetapi, ia membiarkan kemarahan menguasai hatinya. Akhirnya, Kain membunuh Habel, saudaranya sendiri.

Kisah ini bukan hanya cerita tentang dua saudara pada zaman dahulu. Kisah tersebut merupakan cermin bagi kehidupan manusia sepanjang zaman. Manusia dapat mengulangi kesalahan Kain ketika ia tidak mampu menerima kelebihan orang lain, merasa terancam oleh keberhasilan sesamanya, lalu memilih kekerasan sebagai jalan keluar. Pembunuhan terhadap saudara sendiri memperlihatkan betapa jauh manusia dapat tersesat ketika hati tidak lagi dibimbing oleh kasih dan penghormatan terhadap kehidupan.

Dalam masyarakat yang dilanda konflik, kita dapat menyaksikan bagaimana kebencian dan rasa saling curiga menghancurkan hubungan antarmanusia. Orang mulai melihat sesamanya bukan sebagai saudara, melainkan sebagai musuh yang harus dikalahkan. Setiap pihak berusaha membenarkan tindakannya sendiri, sedangkan penderitaan pihak lain dianggap tidak penting. Akibatnya, kekerasan terus berulang dan korban-korban baru terus berjatuhan. Dalam konteks seperti ini, kisah Kain dan Habel mengajukan pertanyaan moral yang sangat mendasar, apakah manusia masih merasa bertanggung jawab terhadap kehidupan saudaranya? Setelah Kain membunuh Habel, Tuhan bertanya, “Di mana Habel, adikmu itu?” ( Bdk. Kej. 4:9).

Hal ini mau mengingatkan manusia bahwa kehidupan sesama bukanlah persoalan yang boleh diabaikan. Kain menjawab, “Apakah aku penjaga adikku?” ( Bdk. Kej. 4:9). Jawaban ini mencerminkan sikap manusia yang menolak tanggung jawab terhadap penderitaan orang lain. Sikap serupa muncul ketika seseorang berkata bahwa kematian orang lain bukan urusannya, bahwa penderitaan warga sipil merupakan akibat yang tidak perlu dipedulikan, atau bahwa keselamatan kelompoknya lebih penting daripada nyawa manusia lainnya. Padahal, dalam terang iman, manusia tidak dipanggil untuk hidup hanya demi dirinya sendiri. Setiap orang mempunyai tanggung jawab moral untuk menghormati kehidupan, melindungi yang lemah, dan mengusahakan perdamaian. Kita tidak dapat mengaku mencintai Tuhan sambil bersikap acuh tak acuh terhadap penderitaan sesama.

Mementingkan Diri Sendiri dan Hilangnya Kasih Persaudaraan

Salah satu persoalan besar manusia zaman ini adalah kecenderungan untuk mempertahankan kepentingan diri sendiri tanpa memperhatikan keselamatan dan martabat orang lain. Ada orang yang ingin mempertahankan kekuasaan, harta benda, kedudukan, pengaruh, atau kehormatan dengan segala cara. Dalam situasi tertentu, keinginan tersebut dapat membuat manusia menghalalkan tindakan yang bertentangan dengan hati nurani. Sikap mempertahankan diri tidak selalu salah. Setiap manusia memiliki hak untuk melindungi dirinya dari ancaman, mencari keadilan, dan membela kehidupan. Namun, membela diri berbeda dengan membalas dendam, menganiaya orang yang tidak bersalah, atau menghilangkan nyawa orang lain demi kepentingan sendiri. Pembelaan yang benar harus tetap menghormati martabat manusia dan tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan yang tidak dapat dibenarkan.

Manusia tidak boleh mengukur segala sesuatu berdasarkan keuntungan pribadi, sebab kehidupan bersama membutuhkan kepedulian, tanggung jawab, dan kesediaan untuk menghormati orang lain. Yesus sendiri memberikan perintah yang menjadi dasar kehidupan kristiani “Kasihilah seorang akan yang lain, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Bdk.Yoh. 15:12). Kasih yang diajarkan Yesus bukan sekadar kata-kata atau perasaan yang menyenangkan. Kasih menuntut tindakan nyata, termasuk kesediaan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melindungi orang yang terancam, mendengarkan mereka yang menderita, serta mencari jalan penyelesaian konflik tanpa mengorbankan kehidupan manusia.

Yesus Kristus pernah mengajarkan  kepada para murid-Nya agar senantiasa mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya. Ajaran ini tidak berarti bahwa ketidakadilan harus diterima begitu saja atau bahwa korban harus diam terhadap kekerasan. Sebaliknya, kasih kepada musuh menantang manusia untuk melawan kejahatan tanpa kehilangan kemanusiaannya sendiri. Kebenaran harus tetap diperjuangkan, pelanggaran harus ditangani secara adil, dan korban harus dilindungi, tetapi kebencian tidak boleh menjadi dasar bagi perjuangan tersebut. Ketika manusia kehilangan kasih persaudaraan, kehidupan bersama berubah menjadi medan persaingan yang penuh kecurigaan. Setiap orang hanya memikirkan keselamatannya sendiri. Mereka yang kuat dapat menindas yang lemah, sedangkan mereka yang memiliki kekuasaan dapat menggunakan kedudukannya untuk kepentingan kelompok tertentu. Dalam keadaan demikian, masyarakat kehilangan dasar moral yang diperlukan untuk membangun keadilan dan perdamaian.

Pertobatan Hati sebagai Jalan Menuju Perdamaian

Kitab Suci tidak hanya memperingatkan manusia tentang dosa, tetapi juga membuka jalan menuju pertobatan. Dalam ( Bdk. Galatia 5:22-23) Santo Paulus menyebut kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan hati, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri sebagai buah Roh. Nilai-nilai tersebut merupakan lawan dari iri hati, kebencian, kesombongan, dan keinginan untuk menghancurkan sesama. Pertobatan dimulai ketika manusia berani memeriksa dirinya sendiri. Sebelum menyalahkan orang lain, setiap orang perlu bertanya: apakah saya pernah iri terhadap keberhasilan sesama? Apakah saya lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada keselamatan orang yang tidak bersalah? Kedua pertanyaan refleksi iman ini bukan dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa bersalah tanpa harapan, melainkan untuk membuka hati terhadap perubahan. Manusia dapat memperbaiki diri apabila bersedia mengakui kesalahannya, meminta maaf, memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkan, dan berusaha tidak mengulangi perbuatannya.

Pertobatan sejati harus tampak dalam perubahan sikap dan tindakan. Kita dituntut untuk kalahkan kejahatan dengan kebaikan. Membalas kebencian dengan kebencian hanya memperpanjang rantai permusuhan. Sebaliknya, keberanian untuk menegakkan kebenaran, melindungi korban, mengupayakan keadilan, dan membuka ruang dialog dapat menjadi langkah untuk memutus lingkaran kekerasan. Perdamaian tidak berarti menutup mata terhadap pelanggaran atau membiarkan pelaku kekerasan bebas dari tanggung jawab. Perdamaian yang sejati membutuhkan keadilan, pengakuan atas penderitaan korban, penghormatan terhadap hak setiap orang, serta penyelesaian persoalan secara bertanggung jawab. Tanpa keadilan, perdamaian mudah berubah menjadi keadaan diam yang menyembunyikan luka dan ketakutan. Oleh sebab itu, keluarga, masyarakat, pemimpin, dan Gereja memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan budaya kasih dan penghormatan terhadap kehidupan.

Epilog

Menurut hemat penulis, Iri hati yang dibiarkan bertumbuh dapat merusak hati manusia, menghancurkan persaudaraan, dan membuka jalan bagi kebencian serta kekerasan. Kisah Kain dan Habel dalam refleksi diatas memperlihatkan bahwa manusia dapat melakukan kejahatan besar ketika ia menolak mengendalikan kemarahan dan tidak lagi menghormati kehidupan saudaranya. Sementara itu, ajaran Yesus dan nasihat para rasul mengingatkan bahwa manusia dipanggil untuk hidup dalam kasih, kerendahan hati, penguasaan diri, dan tanggung jawab terhadap sesama. Karena itu, manusia zaman ini perlu kembali kepada nilai-nilai Kitab Suci.

Kita tidak dapat membangun kehidupan yang damai apabila iri hati dipelihara, kebencian diwariskan, dan kekerasan dibenarkan demi kepentingan kelompok. Setiap orang perlu memulai perubahan dari dalam dirinya, dari cara berpikir, berbicara, dan memperlakukan sesama. Pada akhirnya, ukuran kemanusiaan bukanlah seberapa kuat seseorang mengalahkan orang lain, melainkan seberapa besar ia mampu menghormati kehidupan dan memperjuangkan kebaikan bersama. Orang yang sungguh hidup dalam kasih tidak menjadikan kehancuran sesamanya sebagai jalan menuju keberhasilan dirinya. Sebaliknya, ia berusaha agar keadilan ditegakkan, orang yang lemah dilindungi, korban mendapatkan perhatian, dan setiap manusia diperlakukan sesuai martabatnya.

Dengan demikian, melawan iri hati bukan hanya tugas pribadi, melainkan juga bagian dari perjuangan membangun masyarakat yang adil dan damai. Selama manusia masih mau bertobat, mengampuni tanpa mengabaikan keadilan, dan memilih kebaikan daripada kebencian, harapan untuk memulihkan persaudaraan tetap terbuka. Kita tidak dipanggil untuk menjadi penjaga kebencian, melainkan penjaga kehidupan dan saudara bagi sesama.

Penulis: Fr. Sebedeus Mote, Calon Imam Keuskupan Timika

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button