Majalah Gaiya

JEJAK EKOLOGIS SANTO FRANSISKUS DARI ASISI

Oleh: Saul Paulo Wanimbo

Santo Fransiskus dari Asisi adalah salah satu tokoh Gereja yang meninggalkan jejak ekologis paling kuat dalam sejarah Kekristenan. Ia hidup pada abad ke-12 dan ke-13, jauh sebelum manusia mengenal istilah krisis iklim, pemanasan global, deforestasi, atau ekosida. Namun, cara hidup dan spiritualitasnya menunjukkan sesuatu yang sangat relevan bagi dunia kita sekarang: bumi bukan sekadar tempat manusia hidup, melainkan rumah bersama yang harus dihormati, dirawat, dan dikasihi.

Fransiskus tidak memandang alam sebagai benda mati yang hanya tersedia untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ia melihat seluruh ciptaan sebagai saudara dan saudari. Matahari adalah “Saudara Matahari”, bulan adalah “Saudari Bulan”, angin adalah saudara, air adalah saudari, api adalah saudara, dan bumi adalah “Ibu Bumi”. Cara pandang ini sangat jelas dalam Kidung Saudara Matahari (Canticle of the Creatures).

Di sinilah letak jejak ekologis Fransiskus: ia mengubah cara manusia memandang ciptaan. Alam tidak pertama-tama dilihat dari berapa banyak keuntungan yang dapat diambil darinya, tetapi dari nilai dan martabatnya sebagai ciptaan Allah.

Fransiskus hidup sederhana. Ia tidak mengejar kekayaan, kemewahan, atau kekuasaan. Ia memilih kemiskinan sukarela sebagai jalan untuk membebaskan dirinya dari keserakahan. Kesederhanaan hidupnya sebenarnya mempunyai pesan ekologis yang sangat kuat: semakin manusia dikuasai oleh keinginan untuk memiliki dan mengonsumsi tanpa batas, semakin besar tekanan terhadap alam.

Karena itu, spiritualitas Fransiskus dapat diringkas dalam sebuah pertanyaan sederhana: berapa banyak yang sebenarnya kita perlukan untuk hidup?

Pertanyaan ini sangat penting di tengah dunia yang terus mendorong manusia untuk membeli, menggunakan, membuang, dan membeli lagi. Hutan ditebang karena kebutuhan ekonomi. Tanah dieksploitasi demi investasi. Sungai tercemar oleh limbah. Laut dipenuhi sampah. Gunung dibelah untuk mengambil mineral. Dalam situasi seperti ini, Fransiskus mengajak manusia berhenti sejenak dan bertanya: Apakah pembangunan yang menghancurkan rumah kehidupan masih dapat disebut sebagai kemajuan?

Jejak ekologis Fransiskus juga terlihat dalam relasinya dengan makhluk hidup. Ia tidak menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak atas alam, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar ciptaan. Kisah-kisah tentang persahabatannya dengan burung, serigala, dan berbagai makhluk lainnya memperlihatkan sebuah spiritualitas yang penuh penghormatan terhadap kehidupan.

Tentu, Fransiskus tidak memberikan teori ekologi modern. Ia tidak berbicara tentang emisi karbon atau perubahan iklim sebagaimana kita membicarakannya sekarang. Namun, ia memberikan fondasi spiritual dan moral yang sangat penting: manusia harus berdamai dengan ciptaan.

Karena itu, tidak mengherankan apabila Santo Fransiskus menjadi inspirasi kuat bagi refleksi ekologis Gereja pada zaman modern. Paus Fransiskus bahkan memilih nama “Fransiskus” dan kemudian menerbitkan ensiklik Laudato Si’, yang mengajak dunia merawat bumi sebagai rumah bersama.

Pesan tersebut sangat relevan bagi Papua.

Papua bukan sekadar wilayah yang memiliki hutan luas, gunung, sungai, laut, dan berbagai kekayaan alam. Bagi banyak masyarakat adat Papua, tanah adalah bagian dari identitas, sejarah, kehidupan, dan relasi sosial. Hutan bukan hanya kumpulan pohon. Sungai bukan sekadar sumber air. Gunung bukan hanya bentang alam. Tanah mempunyai hubungan dengan kehidupan manusia, leluhur, budaya, dan masa depan generasi berikutnya.

Karena itu, ketika hutan dihancurkan, yang hilang bukan hanya pohon. Ketika sungai tercemar, yang rusak bukan hanya air. Ketika tanah kehilangan kesuburannya, yang terancam bukan hanya ekonomi. Yang terluka adalah seluruh jaringan kehidupan.

Dalam konteks Papua yang menghadapi berbagai tekanan pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam, spiritualitas Fransiskus mengajak kita mengembangkan cara pandang baru. Pembangunan tidak boleh hanya bertanya: Apa yang dapat kita ambil dari alam? Tetapi harus bertanya: Apa yang harus kita jaga agar kehidupan tetap berlangsung?

Fransiskus mengajarkan bahwa kemiskinan bukan berarti membenci kekayaan alam. Sebaliknya, ia mengajarkan bagaimana menerima ciptaan tanpa keserakahan. Air diminum secukupnya. Tanah digunakan dengan hormat. Hutan dimanfaatkan tanpa menghancurkan seluruh kehidupan di dalamnya. Alam diperlakukan sebagai sahabat, bukan sebagai korban.

Di sinilah relevansi ekologis Fransiskus bagi Papua menjadi sangat nyata. Kita membutuhkan pembangunan, tetapi pembangunan yang menghormati kehidupan. Kita membutuhkan ekonomi, tetapi ekonomi yang tidak mengorbankan manusia dan alam. Kita membutuhkan investasi, tetapi investasi yang tidak menjadikan masyarakat adat sebagai penonton di atas tanah mereka sendiri.

Jejak ekologis Santo Fransiskus akhirnya bukan hanya tentang mencintai burung, pohon, sungai, atau hutan. Jejak itu adalah panggilan untuk mengubah hati manusia dari “pemilik” menjadi “penjaga”.

Kita tidak mewarisi bumi hanya untuk diri kita sendiri. Kita menerimanya sebagai titipan untuk generasi yang akan datang.

Karena itu, merawat alam bukan pekerjaan tambahan. Ia adalah bagian dari tanggung jawab moral, iman, dan kemanusiaan.

Dan mungkin, di tengah hutan Papua yang terus menghadapi berbagai ancaman, suara Fransiskus masih bergema:

“Saudara dan saudari, mari kita berdamai dengan seluruh ciptaan.”

Perdamaian dengan manusia tidak akan lengkap apabila kita terus berperang dengan alam.

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button