PUTUS RANTAI KEBENCIAN, UMAT PAROKI MAUWA DIAJAK MENGASIHI MUSUH
MAUWA, KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Umat Paroki Santo Petrus Mauwa diajak untuk memutus rantai kebencian dan membangun persaudaraan melalui kasih, pengampunan, dan belas kasih. Ajakan itu mengemuka dalam Ibadah Komunitas Basis (Kombas) kelima yang digelar di Kombas Santa Theresia Putapa, Kamis (10/9/2026).
Ibadah tersebut dipimpin anggota Tim Pastoral (Timpas), Diakon Markus Auwe, didampingi para pewarta dan kader pewarta. Dalam ibadah itu, umat merenungkan Injil Lukas 6:27–38 dengan tema “Kasihilah Musuhmu.”
Sabda Yesus dalam Injil tersebut memberikan tantangan yang tidak mudah bagi para pengikut-Nya. Yesus tidak hanya mengajarkan agar manusia mengasihi orang yang berbuat baik kepadanya, tetapi juga mengasihi musuh, berbuat baik kepada mereka yang membenci, memberkati mereka yang mengutuk, serta mengampuni mereka yang berbuat salah.
Pesan tersebut menjadi penting dalam kehidupan komunitas karena relasi antarmanusia tidak selalu berjalan tanpa konflik. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, luka, dan pengalaman masa lalu dapat menjadi sumber jarak bahkan permusuhan apabila tidak diselesaikan dengan kasih dan pengampunan.
Dalam permenungan bersama, umat diajak menyadari bahwa menjadi murid Kristus berarti berani mengambil jalan yang berbeda dari logika dunia. Ketika kebencian dibalas dengan kebencian, konflik akan terus berlanjut. Sebaliknya, kasih dan pengampunan dapat menjadi jalan untuk memulihkan hubungan dan membangun kembali persaudaraan.
Pesan Injil juga mengingatkan umat bahwa kasih bukan hanya perasaan, melainkan tindakan nyata. Mengasihi berarti berani mengampuni, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, serta tetap membuka ruang bagi rekonsiliasi.
“Kasihilah musuhmu” karena itu bukan sekadar ajakan untuk bersikap baik, tetapi panggilan untuk meneladani Allah yang terlebih dahulu menunjukkan kasih dan belas kasih kepada manusia.
Melalui Ibadah Kombas kelima tersebut, umat Santa Theresia Putapa diharapkan tidak berhenti pada permenungan selama ibadah. Nilai-nilai Injil perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam keluarga, komunitas basis, lingkungan kerja, dan masyarakat.
Kasih dan pengampunan juga menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan menggereja yang semakin dewasa. Komunitas umat dipanggil bukan hanya menjadi tempat berkumpul untuk berdoa, tetapi juga menjadi ruang untuk saling menerima, menyembuhkan luka, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan wajah belas kasih Allah.
Ibadah Kombas kelima ini sekaligus menjadi kesempatan bagi umat Paroki Santo Petrus Mauwa untuk semakin menghidupi panggilan sebagai murid Kristus. Di tengah berbagai tantangan kehidupan, umat diajak untuk menjadikan kasih bukan sekadar kata-kata, melainkan cara hidup.
Dengan demikian, pesan “Kasihilah Musuhmu” diharapkan menjadi kekuatan bagi umat untuk berani memutus rantai kebencian, mengampuni dengan tulus, dan menghadirkan damai mulai dari komunitas paling kecil, yakni keluarga dan komunitas basis.*** (D.MARKUS AUWE)




