Majalah Gaiya

70 LANSIA IKUTI PUNCAK PERAYAAN HARI DOA KAKEK-NENEK DAN LANSIA SEDUNIA DI DEKENAT MIMIKA-AGIMUGA

KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Sekitar 70 lansia dari empat paroki di Kota Timika mengikuti puncak perayaan Hari Doa Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia ke-6 yang diselenggarakan Dekenat Mimika-Agimuga di Rumah Retret Loresa SP3, Sabtu (25/7/2026). Kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian safari yang sebelumnya telah dilaksanakan di empat paroki dalam wilayah Dekenat Mimika-Agimuga.

Tahun ini, Gereja Katolik di seluruh dunia memperingati Hari Doa Kakek-Nenek dan Lansia pada Minggu, 26 Juli 2026, bertepatan dengan pesta Santa Anna dan Santo Yoakim, orang tua Santa Perawan Maria yang dihormati sebagai pelindung para kakek, nenek, dan lansia. Perayaan tahun keenam ini mengusung tema “Aku Tidak Pernah Melupakanmu” (Yesaya 49:15).

Sejak pagi, para peserta tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang dikemas secara edukatif, rekreatif, dan spiritual. Suasana penuh kehangatan dan persaudaraan terasa ketika para lansia dari berbagai paroki saling berjumpa, berbagi pengalaman, dan mempererat tali persaudaraan.

Membuka kegiatan, Pastor Dekan Dekenat Mimika Agimuga, P. Andreas Madya, SCJ, menyampaikan apresiasi atas dedikasi para lansia yang selama ini telah memberikan banyak kontribusi bagi Gereja dan masyarakat.

“Banyak hal telah dilakukan oleh para lansia bagi Gereja dan sesama. Namun, tugas pelayanan belum selesai. Para lansia tetap dipanggil untuk terus ambil bagian dalam kehidupan menggereja sesuai dengan karunia dan kemampuan yang dimiliki. Mereka dapat menjadi pendoa bagi banyak orang, menjadi saksi iman, dan teladan kesetiaan dalam kehidupan Kristiani,” ungkap P. Andreas Madya, SCJ.

Ia juga mengingatkan bahwa baik Bapa Suci maupun Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) mendorong seluruh Gereja agar terus memperhatikan, mendampingi, dan memotivasi para lansia supaya tetap aktif dalam kehidupan menggereja.

Kegiatan diawali dengan berbagai permainan dan rekreasi yang membangun suasana akrab. Panitia mengajukan sejumlah pertanyaan sederhana kepada peserta, seperti siapa yang memiliki anak bekerja atau bersekolah paling jauh, hingga siapa yang telah berusia di atas 75 tahun. Peserta yang berhasil menjawab memperoleh hadiah berupa rosario maupun cendera mata.

Keceriaan semakin terasa melalui senam lansia yang diikuti seluruh peserta sebelum memasuki sesi seminar kesehatan.

Pada sesi seminar, panitia menghadirkan dr. Lana Erawati, M.S., yang memberikan materi mengenai pola makan sehat dan cara memasak yang baik bagi lansia.

Mengawali pemaparannya, dr. Lana mengutip Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma:

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Itulah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)

Melalui ayat tersebut, ia mengajak para lansia untuk menjaga kesehatan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.

Dalam pemaparannya, dr. Lana juga meluruskan sejumlah anggapan yang selama ini berkembang di masyarakat, salah satunya mengenai makanan yang digoreng.

Menurutnya, tubuh tetap memerlukan lemak atau minyak dalam jumlah yang cukup untuk membantu proses metabolisme. Karena itu, makanan yang digoreng tetap dapat dikonsumsi selama diolah dengan cara yang benar dan tidak berlebihan.

Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan minuman sehat berupa infused water, yaitu air rendaman buah dan sayuran. Contoh minuman tersebut diperagakan langsung oleh Ibu Lase, sementara manfaat kesehatannya dijelaskan lebih lanjut oleh dr. Bernardus Sugoro.

Dalam sesi berbagi pengalaman, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Mereka mendiskusikan lima pertanyaan yang telah disiapkan panitia, salah satunya mengenai pentingnya keberadaan komunitas lansia.

Mayoritas peserta menyatakan bahwa komunitas lansia sangat diperlukan, baik di tingkat paroki maupun dekenat.

Melalui komunitas tersebut, para lansia berharap dapat saling mendukung dalam berbagai kegiatan, seperti senam bersama, rekreasi, pendalaman iman, pemeriksaan kesehatan, hingga menjadi ruang berbagi pengalaman hidup.

Seluruh rangkaian kegiatan mencapai puncaknya dalam Perayaan Ekaristi yang dilanjutkan dengan penerimaan Sakramen Pengurapan Orang Sakit bagi para lansia yang memenuhi syarat.

Pada Perayaan Ekaristi, sepuluh perwakilan kelompok membawakan doa umat yang disusun berdasarkan hasil refleksi dan sharing selama kegiatan berlangsung. Doa-doa tersebut menjadi ungkapan harapan para lansia agar tetap diberi kesehatan, kekuatan iman, serta kesempatan untuk terus berkarya di tengah Gereja dan masyarakat.

Usai Perayaan Ekaristi, seluruh peserta mengikuti sesi foto bersama sebelum menikmati makan siang dalam suasana penuh keakraban.

Masing-masing peserta juga membawa pulang sebuah mangkuk kenang-kenangan bertuliskan Hari Doa Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia 2026 sebagai simbol kebersamaan dan penghargaan atas kehadiran mereka.

Perayaan ini tidak hanya menjadi momentum untuk menghormati para lansia, tetapi juga menjadi pengingat bahwa mereka tetap memiliki tempat yang penting dalam kehidupan Gereja. Sebagaimana tema yang diangkat tahun ini, “Aku Tidak Pernah Melupakanmu” (Yes. 49:15), Gereja terus mengajak seluruh umat untuk menghargai, mendampingi, dan melibatkan para lansia sebagai saksi iman yang hidup, sumber kebijaksanaan, serta penjaga nilai-nilai kehidupan Kristiani dari generasi ke generasi. *** Y. HARYOTO, SCJ (disunting)

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button