Majalah Gaiya

MASA DEPAN MULIA DARI BUKIT PUTAGEMAKIDA

Oleh: Mudestus Dogomo

Prolog

Pendidikan itu seperti jembatan emas untuk masa depan. Tapi, bagi kami yang sekolah di kaki Bukit Putagemakida, tanah Mapiha, jembatan itu tidak gampang untuk kami lewati. Di tempat ini, masa depan itu tidak datang jatuh begitu saja dari langit, tapi lahir dari doa-doa kami di dalam ruang kelas yang sepi.

Waktu kami dengar hasil kelulusan di SMA Negeri 1 Dogiyai, itu bukan cuma soal angka di kertas ijazah saja. Itu adalah tanda kemenangan dari perjuangan yang berat sekali. Kami mau kasih tunjuk,  kalau biar kami ini anak dari pedalaman, tapi mimpi kami tetap tinggi dan harga diri kami tetap kuat seperti gunung-gunung yang kelilingi tanah Dogiyai.

Realitas Sekolah di Bukit Putagemakida

Jujur saja, tiga tahun kami sekolah di sini itu bukan perjalanan yang mudah. Dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas, kami lebih banyak belajar tentang apa artinya bersabar. Kami datang ke sekolah dengan semangat besar, tapi sampai di sekolah kami hanya bisa duduk diam lihat papan tulis yang kosong karena guru tidak ada datang untuk mengajar kami.

Hati kami sering merasa hancur kalau ingat bapak dan mama di kampung yang kerja keras di kebun setiap hari. Mereka kena hujan, matahari, dan dingin demi kami saja. Sore pulang rumah, mereka masih urus dan kasih makan kami. Kami lihat bapak mama punya kulit sudah jadi keriput, tangan mereka sudah bungkus tulang karena kerja banting tulang. Mereka cari uang supaya kami bisa sekolah. Kadang mereka tanya: “Di sekolah tadi bagaimana?”. Kami jawab: “Sekolah baik-baik saja”, karena kami tidak mau bapak mama kecewa. Tapi terkadang kami jujur kalau tidak ada guru jadi kami pulang cepat. Bapak mama sudah korban segala hal, tapi kami di sekolah kehilangan waktu belajar. Masa depan kami rasanya tertutup kabut gelap.

Situasi di Dogiyai ini memang sering ada masalah keamanan. Tapi, yang bikin kami lebih sedih, waktu situasi sedang aman pun, tetap saja guru tidak ada di kelas. Akhirnya kami banyak bertanya kepada Tuhan dalam doa: “Mengapa kelas ini kosong terus? Apakah Tuhan tidak lihat kami punya perjuangan? Apakah guru-guru sudah tidak sayang kami lagi? Atau pemerintah memang sudah tidak perhatikan kami di sini?” Pertanyaan itu terus bunyi di dalam kami punya hati.

Guru Honorer Menjadi Pelita Harapan

Pada akhirnya, doa kami melalui pertanyaan-pertanyaan jujur itu dijawab oleh Tuhan sendiri di awal bulan Oktober. Tuhan dengar kami punya suara hati yang menangis di ruang kelas yang kosong itu. Jawaban itu datang lewat kehadiran guru-guru honorer yang datang kasih diri untuk mengabdi di SMA Negeri 1 Dogiyai.

Mereka hadir bukan untuk cari kekayaan atau nama besar. Tapi, karena panggilan hati untuk kasih pintar kami anak-anak daerah. Di saat sistem mungkin lupa sama kami, guru-guru honorer ini justru datang isi kelas-kelas yang sudah lama sepi. Mereka bawa cahaya baru yang bikin kami semangat lagi untuk datang ke sekolah.

Mereka bawa cara mengajar yang kena di hati dan mereka sabar sekali hadapi kami yang sudah banyak tertinggal pelajaran. Kami bertakata: “Guru honorer ini adalah lampu di tengah kegelapan”. Mereka kasih bimbingan waktu kami rasa tidak punya masa depan lagi. Karena mereka punya ketulusan, kelas yang tadinya sunyi sekarang sudah ramai lagi dengan suara belajar.

Kami belajar dari mereka kalau kekurangan itu bukan alasan untuk berhenti mengabdi. Mereka sudah kasih tunjuk kalau kasih sayang seorang guru itu lebih besar dari soal gaji. Kehadiran mereka benar-benar jadi penyelamat dan penyemangat untuk kami yang hampir menyerah karena situasi yang tidak menentu. Tuhan betul-betul jawab kami punya pertanyaan lewat mereka.

Guru sebagai Penjaga Nyawa Peradaban

Di saat kami sudah hampir putus asa, kami baru mengerti kalau guru itu adalah penjaga nyawa untuk peradaban. Tanpa guru, maka peradaban di tanah ini akan mati dan kami akan terus tinggal dalam kegelapan. Guru bagi kami adalah jaminan supaya mimpi-mimpi anak daerah tidak mati di tengah jalan.

Biar pun jumlah mereka cuma sedikit sekali, tapi kehadiran mereka yang bikin api ilmu pengetahuan di Papua ini tetap menyala. Mereka jaga supaya kami punya harga diri sebagai manusia tetap ada. Guru adalah sosok yang pegang kunci untuk buka pintu masa depan yang lebih baik bagi tanah Mapiha.

Filosofi Dou, Gaii, dan Ekowai sebagai Kompas

Supaya kami tidak hilang arah waktu sudah lulus, kami pegang kuat filosofi Dou, Gaii, dan Ekowai sebagai kompas hidup. Ini bukan cuma kata-kata biasa, tapi ini adalah jati diri yang kami harus bawa ke mana saja kami pergi. Ilmu dari sekolah harus menyatu dengan nilai budaya yang orang tua sudah kasih tinggal untuk kami.

Dou itu artinya melihat. Kami belajar untuk lihat jauh ke depan, harus punya pandangan yang jelas tentang masa depan. Kami tidak boleh lihat apa yang ada sekarang saja, tapi harus bisa lihat potensi besar yang ada di dalam diri dan kekayaan alam di tanah Papua ini.

Gaii itu artinya berpikir. Sebelum kami bikin sesuatu, kami harus pikir baik-baik pakai akal sehat dan hati nurani. Seperti pesan leluhur kami: “Dimi kouko akiha amai – akiha ete awi”. Artinya, menjadi tuan atas pikiranmu sendiri. Pesan ini selalu dibilang, diingatkan dan ditekankan oleh para guru, terutama Pak Guru Ernest Pugiye. Kami diajar untuk tidak asal bertindak supaya keputusan yang kami ambil tidak kasih rugi perjuangan bapa dan mama atau wali orang tua serta orang lain atau tanah kelahiran kami.

Ekowai itu artinya bekerja atau melakukan. Punya mimpi besar tapi tidak kerja keras itu tidak ada gunanya. Kami harus turun tangan, harus kerja keras untuk bangun apa yang kami sudah mimpikan. Sukses itu hanya untuk orang yang mau kerja berat.

Kalau ketiga nilai ini bersatu, kami akan jadi manusia yang utuh. Kami mau jadi anak daerah yang bangga dengan asal-usul. Kompas ini yang akan mengarahkan kami punya hidup, supaya kalau kami sudah sukses nanti, kami tidak sombong, tapi tetap ingat untuk pulang bangun tanah Mapiha.

Filosofi ini yang bikin kami kuat. Kami sadar kalau pendidikan yang betul itu adalah pendidikan yang tidak kasih tinggal kami punya adat dan budaya. Dou, Gaii, dan Ekowai akan jadi napas dalam setiap langkah yang kami ambil di luar sana nanti.

Ipadimi Sebagai Kurikulum Kasih yang Hidup

Selain nilai budaya di atas, kami juga punya nilai dan moral budaya semangat Ipadimi. Ini adalah semangat kasih yang kami rasa setiap hari di sekolah. Ipadimi itu bukan pelajaran yang tulis di buku, tapi itu adalah kasih sayang yang ikat doa, air mata, dan harapan kami semua jadi satu. Untuk kami kasihi kami orang tua seperti mereka mengasihi kami. Kasih kami tunjukan kepada Tuhan, kami punya tanah dan kami punya sekolah, serta kami punya mimpi. Kasih ini yang bikin kami tetap baku perhatikan satu sama lain di tengah kekurangan sekolah. Kalau guru tidak ada, semangat Ipadimi bikin kami yang tahu harus mengajar teman yang belum tahu.

Semangat hidup yang tidak pernah padam ini adalah kami punya kekuatan utama. Ipadimi kasih ajar kami kalau pendidikan yang paling betul itu adalah bagaimana kita saling sayang dan berjuang sama-sama untuk keluar dari kesusahan. Inilah pelajaran hidup yang paling mahal yang kami bawa.

Ipadimi yang nyata kami alami itu pertama datang dari kedua orang tua, baru kedua dari sekolah melalui guru-guru, terutama guru honorer yang bangkitkan semangat hidup di saat kami putus asa. Ipadimi inilah yang kami belajar betul dari sekolah maupun dari rumah. Tanpa kasih ini, mungkin kami sudah berhenti sekolah sejak lama.

Kami Janji dan Harapan Kami Menjadi Penerus Peradaban

Hari ini, kami sadar bahwa masa depan kami mulai dari sini. Maka, kami berjanji kalau masa depan kami itu betul-betul mulai dari sini. Kami bukan lagi siswa yang cuma bisa menunggu, tapi kami adalah orang yang siap untuk bangun Papua. Bukit Putagemakida jadi saksi untuk kami punya janji supaya jadi manusia yang berguna untuk keluarga dan masyarakat.

Kami mimpi nanti ada dari kami yang jadi Guru yang hebat, supaya tidak ada lagi adik-adik di Dogiyai – di Mapiha yang rasa kelas kosong. Kami mau jadi cahaya untuk mereka yang nanti sekolah setelah kami.

Kami juga harap ada yang jadi Dokter atau Perawat supaya bisa kasih sembuh bapak dan mama serta kami punya orang tua lain di kampung-kampung. Kami mau ada yang jadi pengusaha yang jujur dan pemimpin yang betul-betul sayang rakyat. Kami mau bangun tanah ini dengan kedamaian dan keadilan yang betul.

Janji ini adalah tugas yang mulia sekali. Kami tidak mau cuma jadi penonton di tanah sendiri. Kami mau jadi orang yang kasih tunjuk, kalau anak-anak dari SMA Negeri 1 Dogiyai bisa bawa perubahan besar untuk peradaban di tanah Papua.

Rekonsiliasi dengan Para Guru dan Orang Tua Sebelum Melangkah

Sebelum kami pergi dari sekolah ini, kami mau bersihkan hati dulu. Untuk Bapak dan Ibu Guru, kami minta maaf banyak kalau selama tiga tahun ini ada kami punya nakal atau kata-kata yang bikin hati Bapak dan Ibu sakit. Terima kasih karena sudah dengan sabar mengasuh, mengasih, mengasih  kami biar pun fasilitas sekolah kurang sekali.

Untuk bapak dan mama, orang tua yang kami cintai, kelulusan ini adalah bapak dan mama punya kemenangan. Terima kasih karena sudah kerja keras untuk kami punya masa depan. Setiap uang yang bapak mama kirim dan bayar itu adalah napas untuk kami bisa sekolah. Dan, kami janji tidak akan kasih sia-sia pengorbanan bapak mama punya kulit yang keriput itu.

Kami mau melangkah dengan doa restu yang penuh. Doa orang tua dan guru itu yang jadi kekuatan untuk kami hadapi dunia di luar sana. Dengan hati yang tenang, kami siap melangkah untuk kejar kami punya cita-cita.

Epilog

Masa depan mungkin masih kelihatan seperti tertutup kabut, tapi kami yang sudah dididik di Bukit Putagemakida tidak takut lagi. Kami sudah belajar cara untuk bertahan dan berjuang di tengah kesusahan. Tempat ini sudah ajar kami kalau masa depan itu milik orang berjuang dan kerja keras yang tidak takut untuk gagal.

Selamat tinggal masa sekolah, selamat tinggal SMA Negeri 1 Dogiyai. Semua kenangan di sekolah ini kami akan simpan baik-baik di dalam hati. Kami pergi untuk cari ilmu yang lebih tinggi lagi, tapi kami akan selalu ingat jalan pulang ke tanah Mapiha.

Nelson Mandela pernah bilang bahwa: “pendidikan itu adalah senjata yang paling kuat untuk ubah dunia”. Dan kami, lulusan SMA Negeri 1 Dogiyai, siap pakai itu senjata untuk ubah kami punya hidup jadi lebih baik. Masa depan kami mulai dari sini, dan itu adalah masa depan yang mulia. Tuhan memberkati kita semua. Syalom.

Penulis Adalah alumni SMA NEGERI 1 DOGIYAI baru tamat tahun ini

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button