Majalah Gaiya

NOKEN “AGIYA”SIMBOL KESELAMATAN DALAM KEHIDUPAN

Sebuah refleksi hidup yang bercermin dari pedoman hidup dari leluhur suku bangsa Mee tinjauan Eko-Teologis dan Filsafati

Prolog

Refleksi sederhana yang muatannya refleksi hidup ini bertujuan untuk memberikan wawasan atau secara umum mau menggambarkan tentang noken yang merupakan sakramen bagi orang asli Papua terlebih khusus suku mee yang hidup dalam pagar kehidupan sejak pencipta segalah sesuatu menciptakan. Secara umum artikel ini juga berisi bahwa pada hakekatnya Noken itu berasal dari yang Ilahi. Noken dipandang sebagai identitas budaya orang Papua yang hidup sejak semula. Manusia papua diciptakan oleh penyelenggara kehidupan yakni Allah, maka itu kita serupa dan secitra dengan-Nya.

Selain itu refleksi hidup ini juga mau memberikan gambaran bahwa noken asli yang kita bawa adalah berasal dari-Nya untuk kita suku bangsa mee. Ada nilai-nilai hidup yang ditawarkan untuk memaknai dalam kehidupan atau eksistensi kita sebagai manusia yang berakal-budi serta ber-hati nurani. Refleksi ini juga mau mengajak supaya kita sadari bersama bahwa noken itu simbol kehidupan bagi suku mee. Noken sebagai simbol keselamatan yang menghidupkan, dalam tradisi hidup dalam kehidupan.  Suku bangsa mee tidak terlepas dari budaya hidup. Noken agiya adalah warisan budaya turun-temurun dari generasi ke generasi.

Hubungan pribadi dengan budaya dalam kehidupan individualitas manusia selalu berhadapan dengan kebudayaan. Kepribadian seorang individu pun disesuaikan dengan system norma yang berlaku dalam masyarakat Kesesuaian kepribadian dan nilai atau norma membutuhkan proses sosialisasi. Sifat kebudayaan yang dinamis juga memerlukan sosialisasi agar sesuai dengan kepribadian masyarakatnya. Saling keterkaitan antara kehidupan tersebut berlangsung terus dalam lingkaran kehidupan. Kebudayaan merupakan karakter masyarakat bukan karakter secara individual. Semua yang dipelajari dalam kehidupan sosial dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya merupakan kebudayaan. Kebudayaan selalu digunakan sebagai pedoman hidup artinya sebagai sarana untuk menyelenggarakan seluruh tata kehidupan warga masyarakat tersebut. Bagi generasi baru kebudayaan akan berfungsi membentuk atau mencetak pola-pola perilaku yang selanjutnya akan membentuk suatu kepribadian bagi warga generasi baru tersebut. Jelas bahwa dalam proses pembentukan kepribadian bagi seseorang, kebudayaan merupakan komponen yang akan menentukan bagaimana corak kepribadian dari warga masyarakat khususnya generasi baru.

Dengan kebudayaan dimaksudkan disini sebagai” keseluruhan yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, kaidah kewajiban-kewajiban tingkah perangai (moral), hukum adat-istiadat dan kejuruan-kejuruan lain mana saja serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat . Dari defenisi antropologi tersebut tampak jelaslah bahwa kebudayaan mencakup semua unsur hidup kemanusiaan manusia yang melampaui kodratnya yang alamiah. Artinya, kebudayaan bukanlah obyek semata, melainkan merupakan subyek dalam mana melalui bahasa, seseorang dibentuk dan hidup, berpikir dan merasa, berbuat dan bertindak seturut alam pemikiran budayanya. Dengan demikian, istilah kepercayaan atau agama dibidang antropologi masuk didalam unsur kebudayaan yang merupakan sesuatu yang hidup, dinamis, berkembang dan dapat berubah seturut perkembangan budi daya manusia. Alam pemikiran, penghayatan dan kehidupan manusia Indonesia dalam berbagai budayanya diliputi dengan kehadiran “roh-roh” yang dipercayai mempunyai pengaruh tertentu dalam kehidupan.

Allah “Ugatame” Sebagai Dasar Hubungan Manusia Mee 

Allah sebagai Penciptalah yang memungkinkan adanya segala ciptaan. Ia pun sekaligus membentuk batas dan hukum, yang berisi perintah dan larangan bagi persekutuan makhluk ciptaan. Kebenaran pertama, bahwa adanya segala ciptaan dimungkinkan oleh Allah menghantarkan kita kepada suatu gagasan persekutuan, di mana Allah merupakan dasar bagi segalanya: Ia menciptakan segalanya dengan daya kreatif-Nya.

Hubungan antara manusia dan alam ciptaan berasal dari berkat dan perintah Allah dalam Kejadian 1:28 untuk “menaklukkan” bumi dan “berkuasa” atas semua makhluk hidup. Ayat ini sangat bermakna karena segera mengikuti pernyataan Allah tentang manusia; bahwasannya mereka, laki dan perempuan, adalah segambar dan secitra dengan Allah. Pernyataan Allah ini kadang salah diartikan oleh kedua pihak,  laki-laki dan perempuan, sebagai bentuk legitimasi atas perintah untuk “menakklukkan” dan “berkuasa”;  mengeksploitasi ciptaan lainnya secara semena-mena[1].

Setelah mencipta, Allah hadir dan tinggal bersama mereka di taman eden. Mereka membangun suatu hubungan harmonis dan damai. Dalam kedamaian persekutuan di antara ciptaan dan antara ciptaan dan Pencipta, Allah pun beristirahat, merasa tenang dan damai (bdk. Kej 2:1-3). Kebenaran kedua, bahwa ia membentuk batas dan hukum yang berisi perintah dan larangan bagi persekutuan makhluk ciptaan. Hal ini sebenarnya sudah sedari awal mula ditetapkan oleh Sang Pencipta sendiri, dan secara simbolis diungkapkan oleh larangan agar “jangan makan buah pohon itu” (Kej. 2:16-17). Batasan dan hukum itu lebih dalam bermaksud agar makhluk ciptaan selalu berada di bawah kekuasaan Allah. Berada di bawah kekuasaan dan persekutuan dengan Allah maka segala ciptaan akan memperoleh ketenangan dan kedamaian. Oleh karena itu, batasan dan hukum yang berisi perintah dan larangan bagi persekutuan ciptaan menegaskan kondisi persekutuan yang tetap utuh bersama Allah.

Kebenaran-kebenaran inilah yang menyatakan dasar hubungan manusia dan alam. Hubungan manusia secara essensial dan eksistensial selalu merujuk kepada Allah. Allah menjadi rujukan utama untuk mengadakan relasi[2]. Sebagai gambar dan citra Allah sendiri, manusia mewujudkan kebersamannya dengan Allah melalui keikutsertaannya dalam menata, menjaga dan memelihara dan mengembangkan bumi dan segala isinya demi kemakmuran dan kesejahteraan bersama dan keberlangsungan keutuhan ciptaan. Manusia juga memiliki martabat sebagai pribadi yang mampu mengenali dirinya sendiri, menyadari kebersamaan dirinya dengan orang lain, dan bertanggung jawab atas makhluk ciptaan lainnya[3].

Allah yang berkarya dalam Noken “Agiyaa”

Noken “agiyaa” adalah sumber kehidupan yang meng-hidupkan bagi orang asli Papua terlebih khusus bagi suku mee. Sumber cipta noken adalah Allah pencipta segalah sesuatu termasuk sumber dan bahan dari noken itu sendiri. Pada umumnya orang papua dalam kehidupannya memaknai Allah sebagai sumber kehidupan. Tanah papua itu sumber kehidupan yang adalah taman hidup, yang berada di dalam pagar hidup, yang dipagari oleh Allah sendiri dengan mencipta dan melindungi anak-anak-Nya, yakni manusia Papua suku mee di mepagoo di tanah Papua. Di dalam pagar hidup tersebut, tumbuh berbagai bentuk dan jenis ciptaan yang hidup secara harmoni. Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, Dia memberikan kepada alam semesta keberadaan dan kebaikan dan hikmat-Nya dan melakukan ini dengan maksud menunjukan kemuliaan-Nya. Ini adalah untuk pertama kalinya Allah memberi dari diri-Nya kepada sesuatu yang berada diluar diri-Nya, dan itu sungguh mulia. Di dalam kitab (Mazmur 19:2) dengan jelas mengatakan “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya”.

Seluruh ciptaan Allah didunia termasuk sumber dari noken merupakan amat sangat luar biasa karena, diberikan kepada suku mee agar hidup, bertumbuh bersama-sama untuk mengisi segalah-sesuatu demi keselamatan kini dan nanti. Maka dari itu, manusia bersama alam Papua bertumbuh dan hidup dalam kesatuan ciptaan.  Sejak manusia dan tanah papua diciptakan oleh Sang Pencipta, tanaman yang menjadi sumber noken merupakan perhiasan sakral yang bersifat abadi dan kekal yang patut dihormati, mengapa demikian? Karena mengelilingi kehidupan manusia suku bangsa mee, supaya memiliki rasa ketertarikan dan sekaligus menemukan jati diri, identitas diri, yang ada di dalamnya. Dengan demikian, suku mee sekaligus manusia Papua memuliakan Allah Pencipta tanah dan melalui itu pula suku mee memasuki dan memupuk keselamatan kekal.

Setiap manusia adalah ciptaan Allah Ugatamee yang secitra dengan Dia sendiri. Dan untuk menjaga kecitraan itu, maka manusia mee memiliki kebijaksanaan hidup yang luhur dan mulia, yang pada dasarnya berasal dari Allah sendiri.Manusia mee menjaga dan mempertahankan nilai luhur dan sekaligus mengaplikasikannya dalam Tindakan konkret[4]. Dengan dmeikian manusia mee dapat bernapas, dapat berkembang, semakin menjaga kecitraan manusia sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Dengan kenyataan ini bagaimana usaha kita sebagai manusia yang sejatih terhadap budaya dan ajaran touyemana melalui noken yang adalah sumber keselamatan.

Arti dan Makna Noken Agiya sebagai simbol keselamatan dalam kehidupan suku mee

Noken Pada bagian ini penulis mau menuliskan arti dan makna dari noken sebagai simbol atau tanda yang menghidupkan. Noken sebagai simbol kehidupan, itu sangat berkaitan erat dalam menghayati serta refleksi terus-menerus dalam kebudayaan orang asli papua yang memelihara, menjaga dan merawat sebagai simbol kesatuan dengan pencipta-Nya. Noken agiyaa adalah suatu daya kreasi seni orang Mee yang dibuat dari serat kayu yang dipintal.

Noken menurut makna antropologis, bahwa tidak bisa terlepas dari antropologisnya. Kebisaan membuat dan menganyam noken itu diteruskan sampai saat ini oleh mama-mama suku mee. Cara membuat dan menganyam noken itu memberi makna tersendiri, mengapa demikian? Karena seluruh perasaan serta penghayatan itu mengikat dan lahir dari noken akal-budi dan noken suarahati. Noken menurut makna filosofis adalah simbol identitas yang melekat dari suku sejak penciptaan oleh Ugatame. Mama-mama suku mee dan suku mee umumnya memaknai kebijaksanaan hidup yaitu dou, gai, dan ekowai, dengan ini mau memberikan nilai bahwa sebelum melakukan sesuatu hendaknya melihat, berpikir dan mengerjakan dengan sepenuh hati. Noken juga mengandung makna politis dikalangan masyarakat maupun dalam kalangan lain yang tujuannya membangun dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan setempat. Noken dalam makna kesejahteraannya, masyarakat mee sebagai manusia yang berakal budi juga pekerja keras dalam kehidupan, mereka menganyam juga untuk memperoleh kepenuhan hidup yaitu harapan akan keselamatan kini dan disini, artinya manusia mee mengikuti ataumelakukan Tindakan refleksi atas pedoman hidup atau kebijaksanaan. Dan yang terakhir noken menurut makna teologisnya adalah merupakan simbol seperti yang dibahas sebelumnya bahwa sejak awal dunia ini diciptakan oleh Allah hadir juga sumber dan bahan noken yang kemudian menjadi noken. Maka dalam kehidupan sehari-hari para pengguna noken yang benar-benar menghayati noken merasa bahwa Allah dekat dalam pikiran maupun hati Nurani[5].

Kemana pun Orang Mee pergi, agiya perlu menyelendanginya di bahu, sebagaimana tas/agiya terinspirasi sebagai kekuatan. Biasanya dalam tas/agiya, mengisi barang bawahan atau barang apa saja yang dianggap perlu mengisinya. Tanpa membawa tas (agiya) dianggap kurang percaya diri dan merasa ganjil tak lengkap. Meneropong Papua memiliki keragaman keunikan khas daerah tentang tas/noken yang disebut dalam bahasa Mee “Agiya” ini. Orang Mee sudah mengenal bentuk dan cara membuatnya beberapa jenis agiya, yakni: goyake agiya, tikine agiya, hakpen agiya, toya agiya, kagamapa agiya, pugi agiya, yatoo agiya, utee agiya, dan paute.

Agiya-agiya dapat digunakan sesuai bentuk dan fungsi masing-masing. Model hakpen agiya mulai dikenal setelah mengenal benang nilon/manila, benang wool dan jarum untuk anyam noken/agiya kalau model yang lain-lain alami. Agiya ini bagi perempuan orang Mee biasa digunakan menyimpan barang, mengendong anak, bayi, mengisi babi, umbi-umbian, sayur-mayur, pakaian, kayu bakar dan lain-lain. Hal demikian, tidak mesti isi semua barang dalam satu tas/agiya tetapi akan disesuaikan dengan bentuk agiya – cocok untuk mengisi barang,ternak (babi), mengendong anak dan lain-lain. Selalu menyesuaikan dengan aktivitas harian yang hendak lakukan, kalau ke kebun akan membaya ute agiya, mengendong anak berarti tikine agiya, noken yang sangat besar dipakai untuk menutup badan waktu tidur dan disebut yato agiya, atau ikut pentas tarian-budaya akan mengenakan yato agiya, atau saat mengisi kayu bakar goyake agiya, dan lain-lain[6].

Noken secara umum diartikan sebagai warisan budaya takbenda untuk mengisi segala-sesuatu. Di dalam noken pada dasarnya kosong tak ada sesuatu. Begitupula dengan Allah, bahwa Dia menciptakan segalah-sesuatu mulai dari kosong. Penuliskan merefleksikan noken sebagai pusat jiwa manusia yang diekspresikan melalui gerak tangan manusia papua terlebih mama-mama suku mee. Noken juga adalah tempat menyimpan keselamatan kehidupan jasmani. Menurut penulis juga sejauh yang direfleksikan, dihayati selama ini noken juga merupakan tempat menyimpan sabda Allah yang hadir melalui Yesus hostoris yang ada didalam masing-masing suku di Papua dan sampai pada Yesus orang Nazaret yang kita kenal sampai saat ini.

Agiyaa diartikan sebagai tanda rahmat keselamatan yang terlihat dan kehadiran Allah dalam kehidupan manusia[7]. Manusia tidak bisa melepaskan diri dari apa yang disebut simbol dan juga tanda. Manusia bahkan senantiasa mengekspresikan atau mengungkapkan diri melalui tanda ataupun simbol[8]. Segala sesuatu yang ada pada manusia dan disekitar manusia dapat menjadi ungkapan diri manusia.  Segala benda dan makhluk di dunia ini memang dapat menjadi tanda, lambang, atau simbol kita.  Akan tetapi, diri manusia sebenarnya merupakan simbol itu sendiri. Segala benda dan makhluk di dunia ini memang dapat menjadi tanda, lambang, atau simbol kita.  Akan tetapi, diri manusia sebenarnya merupakan simbol itu sendiri.

Noken sebagai simbol kehidupan

Setiap suku bangsa didunia ini Allah memberikan nilai-nilai hidup seperti cinta kasih dalam kebangsaan masing-masing. Allah juga tidak melupakan bangsa Papua. Manusia dituntut untuk menyimpan nilai cinta kasih. Khusus bangsa papua noken menjadi salah-satunya untuk menyimpan nilai-nilai luhur tersebut. Bagi penulis hati dan pikiran adalah noken hidup. Manusia mee cepat atau lambat akan kehilangan harapan keselamatan atau harapan hidup kalau jiwa dan pikiran kosong. Setiap suku di papua memiliki suatu pedoman hidup dalam suku-suku, klien, atau marga. Misalnya dalam suku mee di Papua.

Suku Mee memiliki suatu pedoman hidup supaya manusia mee selamat. Allah memberikan pedoman hidup yang berasal dari Dia berupa nasehat hidup yang turun temurun yang disebut dengan filsafat suku mee. Dalam filsafat suku mee memiliki  suatu ajaran yang berisi tentang perintah dan larang yang mesti dihidupi[9]. Disini penulis menulis beberapa hal yang penting untuk dihidupi dan dan disimpan dalam noken akal-budi “dimii agiya” dan noken hati Nurani “kegepa agiya”. Menurut konteks refleksi ini bahwa Agiya juga sebagai simbol yang berwujud nyata dan tidak berwujud[10]. Yang dimaksud dengan berwujud nyata adalah sumber dan bahan dari noken itu sendiri. Sedangkan noken sebagai bentuk yang tidak berwujud adalah petuah, wejangan-wejangan yang disampaikan secara verbal dan turun temurun yang dapat berupa perintah dan larangan yang mengandung nilai-nilai ajaran tradisional Touyemanaa.

Manusia Mee dituntut untuk memiliki “Dimii-Agiyaa dan Kegepaa Agiya” sebagai Simbol keselamatan

Konon sebelum agama kristen masuk menyentuh daerah orang Mee di Meeuwodide pun dalam kehidupan sehari-hari sudah membathin dan meyakini betul bahwa Tuhan Pencipta “Ugatame”  itu ada. Hal demikian dapat terwujud dalam kehadiran Mee Tuma dengan mengakui Makodo Mee yang ada dan sedang hidup dalam arti lebih dari itu, yakni memberi napas hidup dan mengakhiri napas hidup manusia mee dan pada umumnya. Dalam penghayatannya dalam seluruh kehidupan suku mee, selalu menyebut, membesarkan dan meluhurkan nama Ugatame yang tidak kelihatan namun mereka yakini sebagai penyelenggara hidup dari dan dalam kehidupan nenek moyang leluhur bangsa manusia Mee.

Maka Agiyaa menjjadi simbol atau tanda keselamatan yang berasal dari Allah dan diturunkan dalam kehidupan budaya mee melalui napas hidup itu sendiri. Sebab itu manusia mee adalah manusia yang memiliki noken akal budi dan noken hati Nurani, yang berkehendak bebas serta berroh, dan itulah manusia Mee yang utuh. Manusia adalah bangsa yang berakal budi, hanya manusia saja yang berakal budi dan berpikir. Manusia itu berpikir dalam pikiran manusia untuk mewujudkan karya-karya melalui tanda dan simbol.

Tidak lain Hanya manusia yang berpikir mengenai hidup dalam kehidupan manusia. Mari kita belajar dari pemikiran ini supaya semakin giat membangun Akal Budi dari ketidurannya untuk selanjutnya ber-Filsafat bersama para leluhur mengenai manusia dan Akal budinya. “berpikirlah dengan noken akal budimu (dimii agiyaa) mengenai budaya dan gunakanlah batinmu (kegepaa agiyaa) untuk mencintai sepenuhnya dalam seluruh karya Allah didalam pagar kehidupan manusia mee.

Pokok sorotan dimulai dengan suatu pertanyaan yaitu “Menurut pemikiran manusia mee apakah nooken akal-budi itu dan peranan-peranan serta fungsinya?”. Untuk membahas lebih lanjut pada mulanya disoroti pertanyaan “Siapakah manusia mee yang ber-noken dan Ber-Akal Budi itu dan manakah letak perbedaannya bila dibandingkan dengan hewan?. Manusia adalah mahkluk yang berakal budi dan itulah keistimewaannya dari hewan. Secara jasmaniah manusia bila dibandingkan dengan hewan maka perbedaannya gradual, tak asasi. Tetapi dari aspek rohani perbedaannya prinsipil, azasi dan fundamental, mengapa demikian? Karena manusia itu berakal budi.

  1. Manusia Mee dan Konsep tentang Akal budi

Pandangan manusia Mee akal budi merupakan potensi dalam diri manusia harus digunakan untuk berpikir sebelum bicara, bekerja, berjalan, makan-minum dan singkatnya sebelum melakukan kegiatan insani manapun. Akal budi itu penuntun hidup manusia Mee, sehingga dapat disapa sebagai kakak. Pemikiran ini termuat dalam kalimat “dimiko akauwai awi” jadikan akal budi sebagai kakak.

Salah satu aspek yang dipikirkan oleh akal budi adalah mengenai “hidup”. Hidup bagi orang Mee adalah suatu perjuangan yang harus dihadapi, dialami selama hidup akhirnya menang atasnya. Agar dapat menang dalam hidup orang Mee berkata “Umitou duba dimiko akauwai awi”. Dalam lika-liku hidup Akal budi mesti dijadikan sebagai kakak.

  1. Manusia Mee yang berpikir tentang Kerja

Hidup berarti bekerja (ekowaii). Konsep kerja bagi manusia Mee berarti kerja tangan dan bekerja akal pikiran. Kerja bagi manusia Mee adalah suatu kewajiban sebagai manusia yang hidup. Tanda bahwa manusia masih hidup adalah bekerja. Untuk melakukan suatu pekerjaan yang berhasil akal budi mesti diaktifkan. Karena peranan Akal budi dan hal ini adalah sebagai penuntun. Orang Mee mengatakan “ Ekowai duba dimiko adaku tetikumi,dimiko akauwai awi”. Dalam hal kerja-melakukan hal apapun, Akal budi tidak boleh dilupakan dan jadikan Akal budi sebagai kakak.

  1. Manusia Mee Memikirkan “Yang Ilahi”

Ia juga memikirkan pandangan dan pemikiran orang mee mengenai “Yang Ilahi”. Dalam pengertian dan kesadaran orang Mee mengakui ada SESUATU YANG MENGATASI  diri manusia yang disebut UGATAME atau UGATA IBO yang berarti pribadi Yang Mencipta atau Pencipta Yang Besar. Selain itu diakui pula bahwa ada banyak roh entah yang baik maupun yang jahat. Namun Azas dan asal dari segalahnya itu adalah Pencipta atau UGATAME itu.

Manusia Mee juga berpikir mengenai diri sendiri dan mengenai manusia pada umumnya. Orang Meemengakui bahwa manusia itu adalah mahluk yang berakal budi dan hal ini terungkap dalam kalimat “Mee ko dimi yago tuma”, “Manusia adalah bangsa yang berakal budi”. Selain itu disadari pula bahwa manusia itu mahluk yang berhati Nurani dan berkehendak bebas. Tentang hal ini dikatakan”Mee kokegepa Yago Tuma”. “Manusia adalah bangsa yang berhati”. Dengan akal budi manusia berpikir dan dengan hatinya manusia merasa dan menimbang serta memilih dan mengambil keputusan. Dalam diri manusia ada pula Roh yang bertindak selaku prinsip hidup. Prinsip hidup ini dinamakan “Aya”. “Tene” dan dia inilah yang melajutkan hidup didunia orang mati[11]. Masyarakat mee tidak bisa terlepas dari roh-roh leluhur yang sudah ada dalam kehidupan manusia mee itu sendiri. Keperayaan mereka selalu terarah ke roh-roh leluhur lewat perkataan maupun perbuatan, mengapa? Karena pandangan suku mee terhadap para leluhur sangat dominan dan sangat berfokus bahwa keberhasilan dalam usaha dan keselamatan itu akan tercapai apabila relasi dengan para leluhur terjalin dalam kehidupan[12]. Sebab itu penghyatan kita yang dengan Ilahi dan leluhur  membawa kita pada keselamatan. Dalam hal ini perempuan mee jantung kemanusiaan maka dituntut untuk menyatakan keselamatan bukan hidup sembarangan seperti burung terutama perempuan mudah mee masa kini. Melalui noken sebagai tanda kehadiran Allah dalam kehidupan harus mampu membawa keselamatan untuk sesama suku yang lain di Papua, dengan demikian manusia mee akan menjadi manusia yang sejatih.

Epilog

Menuliskan atau membicarakan soal suku mee sebagai manusia yang ber-noken dalam kebudayaan amat sulit karena menuntut kajian ilmiah, tenaga, waktu, dana, sarana, keseriusan, ketekunan, kesabaran, baik yang lebih jauh. Manusia mee memandang, mengakui dan menyadari dirinya sebagai manusia kalau memiliki noken akal-budi dan noken hati Nurani “menyimpan segalah-sesuatu dalam dimi agiyaida dan kegepa agiyaida”. Manusia mee sebagai manusia ber-noken maka dituntut untuk mengisi, dan mengolah supaya tetap memiliki noken yang kelihatan maupun yang tak kelihatan. Manusia mee itu disebut manusia kalau memiliki suatu kesadaran yang tinggi. Manusia mee itu manusia ber-noken karena menunjuk keberadaan atau eksistensi dirinya sebagai manusia.

Mama-mama suku Mee yang membuat noken pakai kulit kayu yang Allah hadirkan ditanah meuwodide, itu adalah suatu bukti bahwa manusia mee megakui dan menyadari bahwa manusia itu mahkluk yang berakal budi dalam noken akal-budi itu sendiri. Allah memberikan akal-budi untuk mama-mama pengrajin atau yang biasa anyam noken, dengan pikiran itu mama-mama suku mee memikirkan bagaimana cara membuat noken supaya bisa mengisi segalah-sesuatu yang menghidupkan bukan mematikan. Maka selama manusia mee jadikan akal-budi sebagai noken kehidupan maka akan selamat dari bahaya atau tantangan zaman.

Noken hadir sebagai sarana atau simbol keselamatan yang ugatamee berikan kepada manusia mee. Noken akal-budi juga adalah potensi insani bila digunakan semestinya untuk menemukan dan mencapai kesuksesan atau keselamatan dalam hidup. Suku mee dituntut untuk bertobat dari kebiasaan mengisi pikiran buruk dalam noken. Mari kita menyadari kembali bahwa yang seharusnya isi didalam noken adalah sesuatu yang mendatang keselamatan bukan kematian.

Dalam hal ini manusia mee harus menata kehidupan supaya dimii agiyaa dan kegepaa agiyaa kembali menjadi kudus “yimubeu”. Manusia mee dituntut juga kembali merawat sumber alat dan bahan sumber noken supaya tetap lestari. Supaya Allah juga tetap mengasihi kita maka perlu membangun dialog dalam kehidupan sosial dan keagamaan kita dengan penuh kesabaran. Negosiasi damai[13] atas keretakan hubungan pribadi kita atas ciptaan-Nya dengan  Allah sendiri, harus dilakukan agar dimii agiyaa dan kegepaa agiyaa yang sudah dikotori karena berbagai perkembangan di meuwodide ini supaya bisa pulih kembali. Kembalikanlah dan hidupkanlah dimii agiyaa dan kegepaa agiyaa sebagai sakramen kehidupan.

Penulis : Fr. Sebedeus Mote, Pr

 

Daftar Pustaka

  • Drummond, Celia-Deane. 2001. Teologi dan Ekologi. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
  • Yulianus Vincentius Mote. Dasar Firman Dan Penghayatannya Dalam Hidup Moral Orang Mee: STFT “Fajar Timur”1995.
  • Jehuru, John. 2012. Diktat Mata Kuliah Filsafat Budaya. Abepura: STFT “Fajar Timur”.
  • Noerhadi Heraty Toeti. 2013. (AKU dalam BUDAYA, Telaah Teori & Metodologi Filsafat Budaya). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  • Majalah Gaiya Keuskupan Timika, Th XV/No 58. ed Januari-Maret 2019.
  • Titus Pekei, Manusia Mee Papua” Proteksi Kondisi Masa Dahulu, Sekarang dan Masa Depan diatas Pedoman Hidup”: LPMAK, Galangpress Yogyakarta, 2005.
  • Silvester Bobi. 2015; Agiya (simbol) Dan Makna Dalam Budaya Orang Mee. STFT Fajar Timur.
  • Bdk, Negotiation “Dialog as Noken for Peaceful Papua”: Forum Akademi Untuk Papua Damai: Imparsial, Jakarta, 2012.
  • Manfret Mote, Akal Budi Dalam Konsep Pemikiran Manusia Ekagi, STFT Fajar Timur, 1987.
  • DISTER, Nico Syukur Dr, OFM., Teologi Sistematika 2. Ekonomi Keselamatan (Kompendium sepuluh cabang, berakar biblika dan berbatang patriistika),Pustaka Teologi, Kanisius, Yogyakarta 2004.
  • Refina You. Peranan Perempuan Mee Dalam Ritus Yuwoo: STFT Fajar Timur.2000.

 

[1] Bdk, Drummond, Celia-Deane. Teologi dan Ekologi. Jakarta: BPK Gunung Mulia., 2001: 19.

[2] Dister, Niko Sykur. Teologi Sistematika II. Yogyakarta: Kanisisus. Dister, 2004: 73.

[3] Majalah Gaiya Keuskupan Timika, Th XV/No 58. ed Januari-Maret 2019., 2019: 3.

[4] Bdk, Yulianus Vincentius Mote. Dasar Firman Dan Penghayatannya Dalam Hidup Moral Orang Mee: STFT “Fajar Timur”1995.,151.

[5]Bdk, Silvester Bobi. Agiya (simbol) Dan Makna Dalam Budaya Orang Mee. STFT Fajar Timur. 2015.,55-67.

[6] Diktip dari Titus Krist Pekei.,Manusia MEE di Papua, 2005, 145-146.

[7] Bdk, DISTER, Nico Syukur Dr, OFM., Teologi Sistematika 2. Ekonomi Keselamatan (Kompendium sepuluh cabang, berakar biblika dan berbatang patriistika),Pustaka Teologi, Kanisius, Yogyakarta 2004,315.

[8]Bdk, DISTER, Nico Syukur Dr, OFM., Teologi Sistematika 2, 316.

[9] Bdk, Titus Krist Pekei.,Manusia MEE di Papua, 2005.,159-165.

[10]Jehuru, John. Diktat Mata Kuliah Filsafat Budaya. Abepura: STFT “Fajar Timur”., 2012: 15.

[11] Bdk., Manfret Mote, Akal Budi Dalam Konsep Pemikiran Manusia Ekagi, STFT Fajar Timur, 1987,34-90.

[12] Bdk, Refina You. Peranan Perempuan Mee Dalam Ritus Yuwoo: STFT Fajar Timur.2000.,67-69.

[13] Negotiation “Dialog as Noken for Peaceful Papua”: Forum Akademi Untuk Papua Damai: Imparsial, Jakarta, 2012, 33.

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button