NOBAR DAN DISKUSI FILM “PESTA BABI” DI WISMA TIGA RAJA, PARA FRATER DIAJAK REFLEKSIKAN REALITAS PAPUA
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Para frater asal Keuskupan Timika bersama frater dari beberapa keuskupan lain di Papua serta simpatisan atau umat awam Katolik mengikuti kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film “Pesta Babi” yang berlangsung pada hari Sabtu 02/05/2026 di Aula Wisma Tiga Raja, Padang Bulan, Jayapura.
Kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WIT ini bertujuan membangun kesadaran kritis dan refleksi iman atas realitas sosial yang dihadapi masyarakat Papua, khususnya terkait persoalan lingkungan hidup dan hak-hak masyarakat adat. Acara didukung oleh para formator dari Wisma Tiga Raja, Keuskupan Timika.
Kegiatan diawali dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Frater Yulianus Dou, dilanjutkan dengan pengantar umum oleh moderator, Frater Yoseph Yatipai, sebelum peserta menyaksikan film bersama.
Dalam sesi diskusi, para peserta mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap berbagai persoalan yang diangkat dalam film, seperti perampasan tanah adat, kerusakan lingkungan, serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat lokal.
Salah satu peserta menilai bahwa realitas dalam film tersebut mencerminkan situasi yang juga terjadi di berbagai daerah, di mana masyarakat adat menjadi korban kepentingan ekonomi dan eksploitasi sumber daya alam.
Peserta lain menyoroti bahwa masyarakat Papua sangat bergantung pada alam sebagai sumber kehidupan dan spiritualitas. Karena itu, kerusakan alam dinilai tidak hanya berdampak secara ekonomi, tetapi juga melukai nilai-nilai budaya dan iman.
“Kekerasan tidak akan melahirkan kedamaian. Yang kita butuhkan adalah dialog dan keseriusan semua pihak untuk mencari solusi bersama,” ungkap salah satu peserta diskusi.
Selain itu, muncul pula seruan agar Gereja terus memainkan peran profetis dalam menyuarakan keadilan, sekaligus mengajak semua pihak untuk mengedepankan dialog sebagai jalan penyelesaian konflik.
Dalam refleksi yang berkembang, peserta diajak melihat penderitaan masyarakat sebagai bagian dari panggilan iman untuk menghadirkan kasih dan keadilan. Sosok Yesus Kristus dipandang sebagai teladan yang berpihak pada mereka yang tertindas serta menjadi pembawa keselamatan dan damai.
Para frater juga diingatkan bahwa dalam pelayanan pastoral ke depan, mereka dipanggil untuk membawa semangat kasih, keberanian, dan kepekaan terhadap realitas sosial umat.
Diskusi ditutup dengan penegasan bahwa prinsip utama dalam pelayanan Gereja adalah kasih dan cinta kasih. Pelayanan pastoral di tanah Papua diharapkan selalu berakar pada semangat tersebut, demi menghadirkan damai dan keadilan bagi semua.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi reflektif oleh Frater Yoseph Yatipai, aksi simbolis berupa penyampaian pesan kepedulian terhadap alam dan kemanusiaan, serta ditutup dengan makan malam bersama sebagai wujud kebersamaan dan solidaritas. *** FR. ZEBEDEUS MOTE






