Majalah Gaiya

YESUS SEBAGAI MEDIATOR TUNGKU API BAGI ORANG PAPUA

Oleh: Fr. Fincen Yogi

Yesus menjadi teladan dan media pembelajaran bagi setiap manusia dalam menjalani kehidupan agar tercipta kedamaian dalam keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, marilah kita belajar dan terus merenungkan tentang tungku api kehidupan yang ditawarkan oleh Yesus, agar hidup kita semakin damai—baik dengan sesama maupun dengan alam.

Masyarakat Papua masa kini sangat merindukan kehangatan dalam kehidupan. Untuk itu, apa peran Gereja dan pemerintah dalam memberikan kehangatan dan keselamatan tersebut? Kapan keduanya hadir secara nyata di tengah masyarakat untuk membawa kasih dan damai? Saat ini, Gereja terus berupaya menghadirkan dan menghidupkan tungku api tersebut agar setiap orang bisa mengalami kehangatan rohani dan keselamatan sejati.

Pengertian Tungku Api

Secara harfiah, istilah tungku api terdiri atas dua kata yang saling berkaitan, yaitu tungku dan api. Tungku adalah tempat untuk menyalakan api, sementara api adalah energi panas dan cahaya yang dihasilkan dari pembakaran.

Dalam kehidupan sehari-hari, tungku api digunakan untuk memasak atau menghangatkan tubuh. Namun, dalam makna simbolis dan rohani, tungku api melambangkan kehangatan, sukacita, cinta kasih, dan kehadiran Tuhan. Yesus pernah berkata:

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi, dan betapa Aku harapkan api itu telah menyala!” (Luk 12:49–50).

Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran-Nya membawa semangat dan cinta kasih yang menghangatkan. Sabda Allah adalah api yang menyala, yang memampukan manusia untuk tumbuh dalam iman. Melalui perantaraan para rasul, sabda itu kita dengar dan hayati dalam hidup sehari-hari.

Yesus Kristus adalah tungku api yang hidup, dan karena itu kita pun dipanggil untuk memiliki tungku api dalam diri kita agar kehidupan rohani terus menyala dan semangat Injil tetap hidup dalam tindakan nyata.

Tungku Api dalam Kehidupan Orang Papua

Setiap orang membutuhkan kehangatan dari tungku api, terutama dalam konteks budaya Papua. Konsep tungku api dalam tradisi Papua dapat dipahami melalui pengalaman hidup masyarakat Mee, seperti dalam istilah edaaowada.

Ini adalah simbol harapan dan pusat kehidupan dalam keluarga dan masyarakat. Namun, dalam realitas zaman sekarang, banyak keluarga kehilangan kehangatan tersebut—tungku api mereka padam.

Hal ini ditandai dengan konflik dalam keluarga, perceraian, kekerasan, dan hilangnya kedamaian. Itu terjadi karena keluarga tidak lagi menanamkan nilai-nilai iman dan sabda Allah dalam kehidupan mereka.

Menjadi murid Yesus berarti menerima undangan untuk menjadi anggota keluarga Allah dan hidup menurut kehendak-Nya. Seperti dikatakan dalam Matius 12:50:

“Sebab siapa yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku, perempuan maupun laki-laki.” (lih. KGK 2233)

Injil: Kabar Baik dari Tungku Api

Injil adalah kabar sukacita yang berasal dari tungku api Kristus. Dalam bahasa Mee, tempat ini disebut tota mana, rumah tempat ajaran Kristus dihidupi.

Para rasul adalah orang pertama yang menikmati ajaran ini. Mereka dipilih dan dipersiapkan secara khusus untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah. Tungku api hidup ketika kita mengimani dan menghayati Yesus dalam kehidupan sehari-hari.

Allah mengutus Yesus melalui perantaraan Bunda Maria yang setia dan rendah hati. Jika bukan karena kesetiaan dan ketaatan Maria, ia tidak akan dipilih menjadi Bunda Allah. Begitu pula para murid: Yesus memberikan kepada mereka “tungku api” agar mereka dapat menghangatkan dunia dengan pewartaan kasih dan kebenaran.

Yesus sebagai Media dan Jaringan dalam Tungku Api

Yesus adalah Anak Allah yang diutus karena Kerajaan Allah telah menjadi dingin dan kehilangan kehangatan. Ia datang untuk menyulut kembali api kasih Allah melalui pengajaran dan pewartaan.

Seperti tertulis dalam Lukas 19:10:

“Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Yesus juga adalah media yang hidup, yang membentuk jaringan pewartaan dalam Kerajaan Allah. Jaringan pertama yang Ia bangun adalah para murid, lalu dilanjutkan oleh Paus, para uskup, imam, katekis, guru agama, dan umat beriman.

Masing-masing dipanggil untuk menjadi bagian dari tungku api itu dan meneruskan kehangatan ajaran Kristus kepada sesama.

Yesus sebagai Tungku Api Kehidupan

Yesus membentuk dan mengajar para murid untuk menjadi saksi Kerajaan Allah. Dari situ, kita pun dapat merasakan kehangatan sabda Allah. Ia menyelamatkan manusia melalui mukjizat, ajaran, dan akhirnya melalui kematian-Nya di kayu salib—sebuah tindakan kasih yang mengungkapkan rencana keselamatan Allah (lih. Ef 1:9; DV 2).

Keselamatan ini terjadi karena kesetiaan Yesus kepada Bapa, menebus dosa umat manusia. Inilah kasih Allah yang membakar dan menghangatkan hati manusia—membuka jalan menuju hidup kekal (DV 3).

Peran Gereja dan Roh Kudus

Yesus berkata:

“Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk 4:43; EN 6).

Pewartaan ini dilanjutkan oleh para rasul dan Gereja sampai saat ini. Pewartaan Kerajaan Allah menjadi prioritas utama, dan segala hal lainnya hanyalah tambahan (lih. Mat 6:33; EN 8).

Roh Kudus menjadi kekuatan tungku api tersebut. Saat Yesus naik ke surga, Roh Kudus turun atas para murid seperti tiupan angin keras (Kis 2:2). Sejak itu, mereka penuh kuasa dan mewartakan Injil dengan berani dan penuh semangat.

Tungku api adalah tempat istimewa bagi manusia, karena di sanalah kita menemukan kekayaan surgawi—yaitu ajaran dan kasih Kristus. Ajaran ini adalah inti dari tungku api yang Yesus sendiri nyalakan agar seluruh dunia mengenal, menghidupi, dan mewartakan Injil.

Yesus sebagai mediator tungku api menyelenggarakan berbagai aspek kehidupan: mengajar, mempersiapkan, dan memanggil orang untuk menjadi murid serta saksi kasih-Nya. Gereja pun menjadi perpanjangan tangan-Nya, mewartakan keselamatan dan kebenaran kepada semua bangsa (LG 8).

Seperti Santo Paulus berkata:

“Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor 9:16; EN 14).

Gereja adalah komunitas yang percaya, berharap, dan saling mengasihi. Di tengah dunia yang penuh tantangan, Gereja harus terus mendengarkan dan mewartakan “karya-karya agung dari Allah” (EN 15).

Penutup

Dengan demikian, tungku api adalah pusat kehidupan manusia karena dari sanalah lahir makna hidup, kekuatan iman, dan sukacita sejati. Yesus adalah mediator tungku api—melalui-Nya kita mengenal kasih Allah, mengalami keselamatan, dan diundang untuk menghidupi Injil dalam kehidupan sehari-hari menuju kebahagiaan kekal.

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button