ANTROPOFAGI DAN TEOLOGI KEHIDUPAN (II)
Meneropong Teologi Pembebasan menurut Engerbert Mveng, SJ
Teologi Kehidupan: Pesan Inti Mveng dalam Karya Seninya
Dalam bagian pertama tulisan ini kita telah melihat dan memahami bersama seputar riwayat singkat Engelbert Mveng, karya-karyanya, arti dan makna karya seninya, dan konsep “antropofagi” dan “kematian antropologis” yang ia gagas. Dalam tulisan kedua ini pembahasan akan kita lanjutkan. Pembahasan akan berkisar seputar konsep teologi kehidupan yang Mveng gagas dan kemudian kita juga akan berusaha mereflesikan dan merelevansikan pemikiran Mveng ke dalam konteks Gereja Papua.
Konsep “teologi kehidupan” Engelbert Mveng merupakan pemikiran inti yang mengkaitkan ajaran Kristen dengan nilai-nilai budaya Afrika, serta berfokus pada pembebasan dan penghormatan terhadap kehidupan dalam segala dimensinya. Mveng melihat bahwa teologi Kristen harus menyoroti kemenangan kehidupan atas segala bentuk kematian, baik secara harfiah maupun simbolis seperti penindasan, kemiskinan, dan hilangnya identitas budaya. Ia berpendapat bahwa Injil membawa pesan kehidupan yang harus diwujudkan dalam realitas masyarakat Afrika. Ia mengintegrasikan nilai-nilai tradisional Afrika yang menghargai kehidupan, kesatuan alam semesta, dan keterkaitan antarmanusia ke dalam teologi. Misalnya, seni liturgi Afrika dianggap sebagai ekspresi perayaan kosmik terhadap kehidupan.
Mveng mendorong pengenalan bentuk-bentuk seni dan liturgi tradisional Afrika ke dalam ibadah Kristen, agar agama dapat lebih dekat dengan kehidupan dan budaya masyarakat Afrika, serta menjadi sarana untuk menyatakan keberadaan dan martabat mereka. Konsep ini juga terkait dengan perjuangan melawan segala bentuk penindasan yang merusak kehidupan, termasuk kemiskinan antropologis yang dirasakan Afrika akibat sejarah kolonial dan dominasi budaya luar. Ia menekankan bahwa teologi harus menjadi kekuatan untuk perubahan sosial dan pembebasan manusia Afrika.
Mveng menggunakan seni sebagai sarana untuk menyampaikan teologi kehidupan. Contohnya, karya seni seperti altar Martir Uganda di Kolej Libermann, Douala, Kamerun, menggabungkan simbol-simbol Afrika (seperti matahari, bulan, bentuk segitiga yang melambangkan kesuburan dan kehidupan) dengan simbolisme Kristen untuk menggambarkan hubungan antara penderitaan, kematian, dan kebangkitan sebagai pemenuhan kehidupan.
Mveng menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai, simbol, dan ekspresi budaya Afrika ke dalam ajaran dan ibadah Kristen. Ia berpendapat bahwa agama Kristen tidak boleh dianggap sebagai budaya asing yang harus menggantikan budaya lokal, melainkan harus “berakar” dalam tanah Afrika agar lebih relevan bagi umatnya. Contohnya, ia menciptakan karya seni agama dengan motif dan warna khas Afrika, seperti mozaik dan lukisan yang menggambarkan tokoh-tokoh Alkitab dengan ciri fisik dan latar belakang budaya Afrika, serta menggunakan simbol-simbol seperti matahari, bulan, dan pola geometris yang memiliki makna dalam tradisi Afrika.
Ia melihat bahwa agama Kristen harus berperan dalam membebaskan umat manusia dari berbagai bentuk penindasan, baik secara sosial, ekonomi, maupun politik. Ini termasuk melawan kesenjangan kemiskinan, diskriminasi rasial, dan dominasi kolonial yang masih berdampak pada kehidupan Afrika. Mveng juga mengemukakan konsep “pembebasan antropologis”, yaitu pembebasan dari segala bentuk penghinaan terhadap martabat manusia dan budaya Afrika yang seringkali disebabkan oleh pandangan kolonial yang merendahkan.
Sebagai sejarawan, ia membantah pandangan yang menyatakan bahwa Afrika memiliki sejarah yang kosong atau tidak penting sebelum kedatangan orang Eropa. Ia menunjukkan bahwa peradaban Afrika telah ada sejak zaman kuno dan memiliki kontak dengan peradaban lain di dunia, seperti Yunani dan Kartago. Ia berusaha membangun identitas sejarah dan budaya Afrika yang kuat sebagai dasar bagi pemulihan martabat bangsa Afrika.
Mveng mengajarkan bahwa meskipun terdapat keberagaman budaya dan agama di dunia, semua manusia memiliki hak yang sama dan harus hidup dalam keharmonisan. Ia melihat bahwa nilai-nilai universal yang terkandung dalam ajaran Kristen dapat menjadi jembatan untuk menyatukan berbagai kelompok manusia tanpa menghilangkan keunikan masing-masing budaya.
Bagaimana dengan Gereja Papua?
Setalah membaca biografi singkat dan pemikiran Pastor Engelbert Mveng, kira-kira apa yang bisa Gereja Papua pelajari dan warisi? Tentu ada banyak hal baik yang bisa Gereja Papua pelajari dan warisi dari kisah perjuangan Mveng membumikan iman kristiani secara kuat dalam tanah dan darah Afrika. Inkulturasi sebagai suatu istilah kata atau terminologi teologi dalam detak jantung kerja pastoral tidak asing bagi Gereja Papua. Kata-kata ini sekalipun belum terdengar nyaring secara intens, sudah menampakkan dayanya dalam rekam jejak pelayanan para misionaris asing. Dalam kiprah pastoral dan praktek misi para misionaris kita menyaksikan betapa mereka berupaya menginkulturasikan nilai-nilai iman kekatolikan dengan nilai-nilai budaya setiap suku yang mereka datangi dan layani di Papua. Mereka mempelajari banyak hal tentang manusia, alam, budaya, sejarah, dan nilai-nilai Papua secara tekun. Budaya Papua mereka jadikan sebagai locus teologocus atau pintu masuk untuk mewartakan injil, salib, dan mulai mengenalkan Yesus, dan ajaran-ajaran-Nya. Memang kita tahu bahwa konsep pewartaan dan pelayanan misi di wilayah misi mesti menggunakan pendekatan inkulturasi agar injil, salib, dan iman benar-benar meresap, mengendap, dan berurat-berakar dalam realitas umat lokal.
Dari Pater Engelbert Mveng Sj ke Bruder Henk Blom Ofm
Kendati pun demikian, kita bisa mulai mengukur sejauh mana Gereja benar-benar sudah menginkulturasikan dirinya dengan nilai-nilai budaya Papua yang otentik? Sejauh ini kita melihat bahwa misi para misionaris hingga kini para penerusnya dalam rangka menginkulturasikan nilai-nilai budaya Papua sudah nampak. Walaupun belum optimial namun upaya merubah wajah Gereja Papua dari wajah Gereja misi menjadi wajah Gereja lokal yang mandiri terus diupayakan. Kita bisa melihat corak bangunan Gereja yang para misionaris dirikan, terutama bangunan-‘bangunan hasil karya tangan Bruder Henk Blom Ofm. Bruder Henk Blom Ofm punya semangat arsitektur inkulturatif yang serupa dengan Mveng. Awal melihat dan menganalisis karya-karya seni Mveng yang ia persembahkan bagi Tuhan di ruang-ruang suci Gereja mengingatkan kami kepada sosok Bruder Henk Blom Ofm. Bruder Henk Blom Ofm memang bukan orang asli Papua, ia orang asli Belanda yang datang bermisi ke tanah Papua, namun karena begitu besar cintanya kepada manusia dan budaya Papua ia merendamkan dirinya dalam balutan internalitas kebudayaan suku-suku di Papua.
Sebelum membangun sebuah Gereja ia akan mengambil waktu berbulan-bulan untuk melakukan riset antropologis terhadap nilai-nilai sakral yang diyakini oleh umat setempat. Ia akan mengamati konsep arsitektur lokal yang ada, ia akan mendatangi para tetuah-tetuah adat guna menanyakan nilai-nilai filosofis tapi juga teologis yang terkandung dalam simbol-simbol kebudayaan umat setempat. Setelah melakukan riset yang cukup serius dan mendalam, ia akan mulai membangun Gereja dengan menggunakan bahan-bahan lokal, ia akan membuat desain atau denah bangunan Gereja yang selaras dengan ontologi, kosmologi, dan epistemologi kearifan lokal umat setempat. Setelah bangunan tersebut jadi, ia akan meminta seorang asistennya yang tekun menemani kerja-kerjanya, seorang tukang dan seniman yang adalah puta asli Papua asal Merauke, yakni bapa Yosep Moiwend untuk melukis atau mengukir gambar-gambar rohani seperti salib, para malaikat, maria, kita suci, bintang, langit, matahari, simbol keempat penginjil, roh kudus, dan lain-lainnya. Lukisan dan ukiran bapa Yosep Moiwend pun memiliki corak yang khas dan tentu mengandung banyak nilai teologis dan filosofis yang mahal.
Ciri khas bangunan Gereja buah tangan Bruder Henk Blom Ofm begitu khas, sangat sederhana (barangkali karena pembuatnya adalah seorang fransiskan, saudara hina-dina), kaya akan nilai, dan yang paling utama ialah selalu memiliki daya sakral yang menakjubkan. Kesan dan corak dasar yang sama juga kami saksikan dalam karya-karya seni Mveng. Ia benar-benar menerjemahkan spiritualitas teologi inkulturasi dalam karya-karya seninya, begitu pun dengan bruder Henk Blom Ofm. Selain bruder Henk Blom nama seperti Pastor Frans Lieshout Ofm (pun tidak bisa kita lupakan. Ia membawa semangat inkulturasi sebagai metode berpastoralnya. Ia paham betul konsep pastoral yang bernadikan pada spirit inkulturasi sebagai pijar-pijar utama Konsili Vatikan II, sehingga dalam pelayanan dan pewartaannya ia terhitung sebagai salah satu misionaris unggul yang berhasil dan sukses mengawinkan iman Katolik dan budaya lokal masyarakat adat Papua secara par excellence, semisal di Wamena dan Intan Jaya. Ia banyak menulis tentang budaya orang Hubulal di Wamena, ia juga menerjamahkan Alkitab, menulis sejarah masuknya gereja Katolik, ia menerjamahkan lagu-lagu, doa-doa, tata ibadah Gereja ke dalam bahasa lokal, ia pun menciptakan banyak nyanyian-nyanyian rohani dalam bahasa daerah masyarakat adat. Ada banyak hal baik yang Pastor Frans Lieshout Ofm buat dan wariskan bagi Gereja Katolik Papua yang tentu tidak dapat kita tuliskan dalam kesempatan sesingkat ini. Nama lainnya yang tidak bisa kita lupakan lainnya, ialah Uskup Alfonsus Sowada juga tidak bisa kita pungkiri upayanya dalam mengangkat harkat dan martabat budaya lokal umat Katolik Papua di Asmat, ia mendirikan museum yang berusaha mengabadikan karya-karya seni dari manusia sejati Asmat. Ada banyak misionaris di Papua yang berusaha menginkulturasikan nilai-nilai dan simbol-simbol budaya dengan ajaran iman kristiani.
Jangan Abaikan Teologi Pembebasan
Ada satu hal penting, yang belum Gereja Papua buat, yaitu membangun teologi pembebasan yang khas Papua. Teologi inkulturasi sudah mulai berakar dan terlihat, sekalipun di Gereja-Gereja yang berada di kota-kota metropolitan terkadang mengalami sedikit goncangan dan kesulitan. Namun salah satu poin penting yang tidak boleh absen dari sebuah proses panjang bergerak menjadi Gereja Papua ialah melahirkan teologi pembebasan. Saudara kembar teologi inkulturasi ialah teologi pembebasan. Realitas umat Afrika dan umat Papua tidak begitu berbeda jauh. Ada realitas penjajahan dan penindasan yang didalangi oleh sikap rasisme, kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme. Di Gereja Papua, sikap rasis, kapitalis, kolonialis, dan imperialis juga ada. Tantangan Gereja Papua adalah membebaskan umat Allah yang masih terjajah dan tertindas di atas tanah ulayaknya sendiri. Kekerasan dan kemiskinan menjadi lingkaran setan drakula yang menghisap habis darah manusia dan alam Papua hingga berada di titik nadir dan persimpangan jalan. Sistem pemerintahan yang beroperasional di Papua adalah diktator. Tidak ada ruang bagi kehidupan aman, adil, dan damai di Papua. Budaya warisan kolonial yang membunuh budaya, manusia, dan alam masih begitu kuat. Di Papua tidak ada kehidupan yang layak selagi bau busuk dari bangkai kepicikan dan kelicikan penindas di balik negara masih eksis. Di tengah situasi semacam inilah Gereja dipanggil dan diutus untuk membangun suatu panduan teologi yang mampu membebaskan dan menyelamatkan umatnya dari belenggu penjajahan. Teologi kehidupan yang muncul dalam pemikiran Mveng bisa menjadi rujukan yang baik. Gereja Papua mesti berani membongkar konsep “kamatian antropologis” yang disebabkan oleh budaya “antropofagi” yang budaya asing dan domestik bawa ke Papua. Budaya non Papua yang datang hanya mau membunuh budaya, identitas etnis, bahasa lokal, sejarah, dan nilai-nilai luhur lainnya. Gereja Papua berada dalam pusaran “kematian antropologis” yang mencekam. Eksistensi dan esensi kepapuaan dari hari ke hari semakin keropos dan merosot. Dengan memeluk budaya kehidupan yang kembali menghidupkan tubuh, jiwa, dan roh Gereja Papua lewat ekspresi budaya: nyanyian lokal, tarian-tarian lokal, musik lokal, budaya lokal, aksesoris lokal, dan dekorasi lokal di dalam rumah-rumah ibadah orang Kristen, kami kira dengan begini akan sedikit demi sedikit menyalakan api iman, harapan, dan kasih dalam sanubari umat kristiani Papua. Budaya mesti menjadi jalan bagi umat Allah di Papua untuk berjumpa dan berbicara (berdoa, beribadah) dengan Tuhan, budaya mesti menjadi jalan menuju Allah. Budaya mesti menjadi cara umat Allah di Tanah Papua untuk mengada bersama Allah dalam kasih dan kemurahan-Nya.
Epilog: Teologi Inkulturasi sebagai Jalan Pembebasan Iman dan Sosial
Pastor Engelbert Mveng Sj menggunakan semangat inkulturasi Gereja sebagaimana amanah konsili Vatikan II sebagai siasat untuk melakukan pembebasan yang universal dan komprehensif di Afrika. Bagi Mveng inkulturasi berarti melahirkan Gereja yang beraroma Afrika. Bukan saja nama yang sifatnya administratif, melainkan seluruh jiwa, raga, dan roh Gereja itu sendiri mesti menampilkan wajah Afrika. Wajah Afrika yang dimaksud ialah bahwa Gereja menjadikan Afrika sebagai bagian integral dan fundamental dalam dirinya. Realitas Afrika tidak menjadi asing dan berjarak dari Gereja, sebaliknya Gereja dan Afrika menjadi satu dan membentuk wajah Gereja Afrika, bukan hanya Gereja yang secara teritori dan administratif bermukim di Afrika, melainkan Gereja yang sudah sungguh-sungguh “terinkarnasi” menjadi Afrika, Gereja yang masuk ke dalam “daging” manusia, alam, dan masalah Afrika kemudian tinggal, hidup, dan menetap bersama Afrika.
PENULIS: FR. SIORUS EWAINAIBI DEGEI
Daftar Pustaka:
Engelbert Mveng dan Jean Marc Éla: Menjembatani kesenjangan antara pembebasan dan inkulturasi https://share.google/PV0TREFFjtsJSL7EG.
Engelbert Mveng dan Historiografi Kamerun – Institut Sejarah Jesuit di Afrika (JHIA) https://share.google/lPAliqIGPPv02oKQx.
Engelbert Mveng: Arsitek Historiografi Kamerun yang Dibungkam – Konferensi Jesuit Afrika dan Madagaskar: JCAM https://share.google/oYxFezntUWm0Cbeq0.
Engelbert Mveng: Altar Martir Uganda | Engelbert Mveng https://share.google/fw9KtU24ac9nAd2vo.
Potret Dari Bruder Henk Blom, OFM Ketika Bertugas Di Kokonau – Mimika Pada Tahun 1959 Sampai 1965 – Katolik Indonesia https://katolikindonesia.org/?p=52769.




