“Tanah adalah Mama yang menyusui. Hutan adalah rahim yang melindungi. Ketika kau menyulut api dan membakar hutan adat, sesungguhnya kau sedang menancapkan bara menyala ke dada ibumu sendiri. Ke mana anak-cucumu kelak akan pulang, jika seluruh kampung halaman telah kau tukar menjadi padang abu?”
Kabut Jelaga di Danau Tigi: Pagi Tanpa Embun Pegunungan
Pagi di Waghete, ibu kota Kabupaten Deiyai, mestinya menjadi kidung tenang yang dialunkan oleh hembusan angin dingin Danau Tigi. Selama berabad-abad, kabut putih yang merayapi perbukitan Meepago adalah embun suci—napas kehidupan alam pegunungan yang memberi sejuk pada kulit dan kesegaran pada paru-paru anak-anak suku Mee.
Namun, hari-hari belakangan ini, kabut yang turun bukan lagi berkat surgawi. Langit Deiyai menggantung muram, kusam, dan kelabu pekat. Udara berbau hangus, perih menusuk kelopak mata, dan mencekik kerongkongan. Embun sejuk pegunungan telah berganti menjadi jelaga racun. Asap tebal kiriman dari kebakaran hutan dan lahan di perbatasan Paniai dan Dogiyai merayap ganas, menyeberangi lembah-lembah purba, dan menyandera Deiyai dalam kurungan asap tanpa ampun.
Data BMKG dan pantauan kebencanaan mencatat fakta yang menampar muka: ratusan titik panas (hotspot) mengepung Provinsi Papua Tengah hanya dalam hitungan hari. Dari Paniai melingkar ke Dogiyai hingga merayap ke Deiyai dan mengancam Nabire, api berpesta pora di atas dedaunan kering dan gambut pegunungan. Di jalan-jalan Waghete, petugas kesehatan membagikan masker dengan sorot mata cemas; angka Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mengintai bayi, balita, dan kaum lansia yang tak berdaya.
Pemandangan ini bukan sekadar bencana alam siklus kemarau. Ini adalah tragedi kemanusiaan dan kebangkrutan moral. Danau Tigi yang agung kini menjadi saksi bisu bagaimana tanah pusaka perlahan-lahan dipanggang hidup-hidup—bukan semata karena terik matahari, melainkan karena kobaran api keserakahan manusia.
Otokritik Berdarah: Siapa Sebenarnya Pemegang Korek Api?
Sebagai manusia Papua, kita kerap kali begitu fasih menunjuk jari ke luar. Kita terbiasa berteriak lantang di mimbar-mimbar seminar, di media sosial, dan di jalanan bahwa Papua sedang dieksploitasi oleh korporasi asing, pemodal rakus, atau kebijakan dari Jakarta. Teriakan itu tentu memiliki dasar sejarah. Namun, dalam tragedi asap yang hari ini membuat anak-anak Deiyai terbatuk-batuk menahan sesak, ada satu pertanyaan teramat tajam yang harus kita hunjamkan ke jantung nurani kita sendiri:
“Siapa yang sebenarnya memegang korek api di lapangan? Siapa anak negeri yang tega menjual dan membumihanguskan hutan adatnya sendiri hanya demi segepok uang kertas duniawi?”
Mari kita jujur dan berhenti berpura-pura buta. Api ini tidak turun sendiri dari langit seperti kutukan zaman Sodom. Pemerintah daerah dan investigasi lapangan telah mencium aroma pembakaran hutan yang disengaja, terstruktur, dan didorong oleh motif-motif pragmatis. Ada pembukaan lahan serampangan; ada perburuan satwa dengan cara membakar semak; ada spekulasi penguasaan tanah; dan yang paling memalukan: ada keterlibatan calo-calo tanah berdarah asli Papua yang berselingkuh dengan pemodal bayangan demi uang kompensasi receh.
Demi beberapa lembar uang kertas rupiah—yang habis dibelanjakan dalam hitungan pekan untuk gengsi sewaan, pesta pora, minuman keras, atau meja judi—sebagian orang tega menandatangani pelepasan hutan adat. Demi suapan rupiah fana, kerabat satu klan dikorbankan, saudara sedarah diadu domba, dan hutan belantara yang telah dijaga nenek moyang ribuan tahun disulut api hingga rata dengan tanah.
Tidakkah nurani kita bergetar melihat kebiadaban ini? Membakar hutan alam Papua sama saja dengan membakar jati diri orang Papua itu sendiri. Orang Papua tanpa hutannya bukanlah siapa-siapa. Kita bukan lagi manusia berdaulat, melainkan debu tak bertuan yang tersapu angin peradaban.
Pengkhianatan terhadap Kosmologi Adat: Merobek Rahim ‘Mama’
Dalam falsafah hidup suku Mee dan seluruh entitas adat di Tanah Papua, alam bukanlah komoditas mati yang bisa ditransaksikan dan dibakar sesuka nafsu perut. Masyarakat adat memandang ekosistem tanah ulayat sebagai kesatuan integral martabat manusia:
Pertama, hutan adalah penyedia hidup. Di sanalah tanaman ubi jalar (nota) dirawat di tanah yang lembap, kuskus dan babi hutan bertumbuh, rotan dan kayu rumah diambil seperlunya, serta tanaman obat dipetik saat anggota keluarga terserang penyakit.
Kedua, hutan adalah rahim spiritual. Di sanalah roh para leluhur bersemayam, menjaga mata air pegunungan, serta menjaga keseimbangan kosmos antara air Papua, Danau Tigi, Danau Paniai, dan lainya puncak bebatuan kapur.
Ketika hutan di Papua, Paniai dan Deiyai dibakar hingga hangus, siklus kehidupan ikut mati. Mata air pegunungan yang jernih akan surut dan mengering. Saat musim kemarau, kekeringan melanda; saat hujan lebat tiba, bukit-bukit tanpa akar pohon akan runtuh menjadi longsor yang mengubur perkampungan warga.
Membakar hutan adat sama halnya dengan menancapkan obor ke dada seorang Mama yang sedang menyusui bayinya. Menjual tanah demi keuntungan pribadi adalah bentuk penistaan tertinggi terhadap hukum adat leluhur (Dou Enaa, Gai Enaa, Mana Enaa—melihat yang baik, berpikir yang baik, berbicara yang baik). Anda yang membakar hutan bukan sedang ‘mencari makan’; Anda sedang menggali liang lahat bagi masa depan keturunan Anda sendiri!
Dosa Sakrilegi Ekologis: Di Mana Rasa Takutmu pada Sang Pencipta?
Masyarakat di Papua dikenal sebagai masyarakat yang religius. Setiap hari Minggu, gereja-gereja penuh sesak. Nyanyian mazmur dan kidung pujian membahana membelah bukit-bukit Paniai dan Deiyai. Alkitab dibawa di dada dengan rasa bangga dan khidmat.
Tetapi, di manakah letak iman itu ketika tangan kanan memegang firman Tuhan, sementara tangan kiri menggoreskan korek api ke rimbunnya hutan belantara ciptaan-Nya?
Bukankah firman Tuhan tertulis dengan benderang: “TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya” (Mazmur 24:1)?
Tidak satu pun manusia di dunia ini yang pernah menciptakan sehelai daun cemara gunung, sebiji lumut di pohon hutan, atau seekor cenderawasih di dahan ranting Meepago. Tuhanlah sang Arsitek Agung yang menenun keindahan rimba Papua. Ketika Anda dengan sengaja menyulut api demi lembaran uang kertas kotor, Anda bukan hanya melanggar hukum negara; Anda sedang menantang Allah Sang Khalik secara terang-terangan.
Ini adalah dosa sakrilegi ekologis—penistaan terhadap mahakarya Sang Pencipta. Apakah para pelaku pembakaran dan para calo tanah itu mengira uang kertas hasil membakar tanah bisa dibawa menghadap takhta pengadilan Ilahi untuk menyogok malaikat?
Camkan ini baik-baik: Jika hari ini kau membakar rumah Tuhan di muka bumi demi kenikmatan duniawi yang fana, tidakkah kau takut bahwa kelak di akhirat, Tuhan Sang Pencipta yang murka akan membakar jiwamu dengan api yang jauh lebih abadi? Api di perbukitan Paniai dan Deiyai mungkin akan padam oleh siraman hujan, tetapi jelaga dosa dari keserakahanmu akan membekas abadi di hadapan pengadilan Tuhan!
Ratapan Masa Depan: Ke Mana Anak Cucu Akan Pulang?
Mari kita pandang dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan.
Kala itu, generasi cucu kita lahir di Papua, Waghete dan Enarotali. Mereka tidak lagi merasakan segarnya udara pegunungan karena iklim mikro telah rusak dan memanas. Mereka tidak lagi mendengar gemericik air jernih dari celah batu padas, karena mata air telah mati bersama pepohonan purba yang dibakar habis. Mereka berdiri di tepian Danau Tigi yang dangkal dan keruh, menatap bukit-bukit tandus berwarna hitam berkarang, atau tanah-tanah berpagar seng kawat berduri milik korporasi pemodal.
Lalu, anak-cucu itu akan menatap makam kita dengan air mata pedih dan bertanya:
“Bapa, Mama, Kakek… ke mana perginya hutan hijau yang kalian ceritakan dulu? Siapa yang membakarnya? Ke mana kami harus mencari makan saat kami lapar? Ke mana kami harus pulang saat dunia luar mengusir dan menindas kami?”
Apakah kita kelak punya muka untuk menjawab dari alam baka:
“Maafkan kami, anakku… Hutanmu dulu kami bakar habis demi uang beberapa juta rupiah yang sudah lama habis jadi tinja. Kami menukar masa depanmu demi kesenangan perut sesaat.”
Alangkah terkutuknya generasi yang mewariskan abu, jelaga, dan penyakit paru-paru kepada anak kandungnya sendiri. Menjadikan anak cucu pengemis, gelandangan, dan kuli upahan di atas tanah yang dulunya adalah istana pusaka milik para leluhur.
Seruan Pertobatan: Padamkan Api, Usir Para Pengkhianat Tanah!
Kabut jelaga yang hari ini mencekik Deiyai harus menjadi lonceng kematian bagi sikap abai kita. Cukup sudah basa-basi dan pembiaran. Harus ada gerakan tobat massal dan tindakan nyata:
Pertama, tobat ekologis dan hukum adat tanpa ampun. Para pemangku adat (tonowi), dewan gereja, dan tetua marga harus duduk bersama. Jatuhkan sanksi adat terberat (hukum sosial dan pengucilan) bagi siapa saja anggota klan yang terbukti menjadi pelaku pembakaran atau calo tanah ulayat. Jangan beri mimbar terhormat di gereja atau pesta adat bagi orang-orang yang tangannya berlumur uang hasil menjual dan membakar hutan!
Kedua, aparat dan pemda harus berhenti sekadar bagi masker. Pemerintah Kabupaten Deiyai, Paniai, Dogiyai, serta Pemprov Papua Tengah tidak boleh hanya bersolek dengan program pembagian masker atau pembentukan satgas seremonial. Kejar, tangkap, dan adili para pelaku pembakaran terencana serta cukong yang mendanainya di balik layar. Jangan sampai hukum tumpul kepada para mafia tanah namun tajam kepada rakyat jelata!
Ketiga, bangkitkan kembali martabat manusia mee. Generasi muda Papua di seantero Lembah Meepago harus bersatu. Martabat seorang ksatria Papua tidak dinilai dari tebalnya dompet hasil menggadaikan tanah pusaka, melainkan dari keberaniannya menjaga hutan, tanah, dan air agar tetap lestari sampai ujung zaman.
Sebelum Segala Sesuatu Menjadi Padang Abu
Hari ini, Deiyai sedang merintih di balik kabut asap yang menyesakkan dada. Danau Tigi dan Paniai sedang menjerit menyaksikan punggung perbukitan mereka terbakar merah. Bumi Cenderawasih sedang berteriak meminta tolong kepada anak-anak kandungnya sendiri.
Dengarlah jeritan tanah itu sebelum semuanya terlambat. Padamkan api itu sekarang juga. Padamkan api yang membakar hutan di gunung-gunungmu, dan yang terpenting: padamkan api keserakahan di dalam lubuk hatimu sendiri!
Uang kertas duniawi akan lusuh dan hancur, tetapi kutukan dari tanah yang dikhianati dan air mata anak cucu yang kehilangan masa depan akan mengejarmu hingga ke liang lahat. Ingatlah, jika rimba Papua telah musnah menjadi abu, tidak ada lagi surga dunia tempatmu bernaung. Dan pada saat hari akhir itu tiba, jangankan anak cucu yang kehilangan jalan pulang—bahkan di hadapan Tuhan Sang Khalik pun, kau takkan pernah memiliki muka untuk memohon ampun. ***
(*) Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik Touye Paapa (STPK TP), Deiyai.




