Manusia dan Pengetahuan tentang Allah
Manusia diciptakan oleh Tuhan menurut gambar Allah ( Bdk Kej 1:27), sehingga mempunyai kemampuan untuk mengetahui dan mengasihi Allah. Walaupun manusia telah berdosa, namun manusia tidaklah rusak secara total, namun masi menjadi gambar Allah, sehingga dengan akal budinya, manusia juga dapat sampai pada pengetahuan tentang keesaan Allah melalui ciptaan, seperti yang juga ditegaskan dalam PL “Sebab orang dapat mengenal Khalik dengan membanding-bandingkan kebesaran dan keindahan ciptaan-ciptaan-Nya.” (Bdk Keb 13:5) dan PB “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” ( Bdk Rm 1:20).
Thomas Aquinas menggabungkan pemikiran Aristoteles dengan Wahyu Kristen. Kebenaran iman dan rasa pengalaman bukan hanya cocok, namun juga saling melengkapi. Beberapa kebenaran, seperti misteri dan inkarnasi dapat diketahui melalui wahyu, sebagaimana pengetahuan dari susunan benda-benda di dunia, dapan diketahui melalui rasa pengalaman; seperti kesadaran manusia akan eksistensi Allah, baik wahyu maupun rasa pengalaman dipakai untuk membentuk persepsi tentang adanya Allah. Thomas Aquinas terkenal dengan lima jalan (dalam Bahasa Latin; quinque viae ad deum) untuk mengetahui bahwa Allah benar-benar ada.
Jalan 1 adalah gerak, bahwa segala sesuatu bergerak, setiap gerakan pasti ada yang menggerakkan, namun pasti ada sesuatu yang menggerakkan sesuatu yang lain, namun tidak digerakkan oleh sesuatu yang lain, Dialah Allah. Jalan 2 adalah sebab akibat, bahwa setiap akibat mempunyai sebabnya, namun ada penyebab yang tidak diakibatkan, Dialah sebab pertaman, Allah. Jalan 3 adalah keniscayaan, bahwa di dunia ini ada hal-hal yang bisa ada dan ada yang bisa tidak ada (contohnya adalah benda-benda yang dahulu ada ternyata ada yang musnah, namun ada juga yang dulu tidak ada ternyata sekarang ada), namun ada yang selalu ada (niscaya) Dialah Allah. Jalan 4 adalah pembuktian berdasarkan derajat atau gradus melalui perbandingan, bahwa dari sifat-sifat yang ada di dunia ( yang baik-baik) ternyata ada yang paling baik yang tidak ada tandingannya (sifat Allah yang serba maha) Dialah Allah. Jalan 5 adalah penyelenggaraan, bahwa segala ciptaan berakal budi mempunyai tujuan yang terarah menuju yang terbaik, semua itu pastilah ada yang mengaturnya, Dialah Allah.
Manusia, Dunia, dan Rahmat Allah
Santo Agustinus percaya bahwa Allah ada dengan melihat sejarah dari drama penciptaan, yang melibatkan Allah dan manusia. Allah menciptakan daratan untuk manusia, menciptakan manusia (Adam) yang berdosa melawan Allah. Lalu Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden. Kemudian setelah manusia berkembang, mereka berdosa lebih lagi dan dihukum dengan air bah dalam sejarah Nuh. Orang-orang Yahudi yang diberikan perjanjian Allah ternyata tidak dapat memeliharanya sehingga dihukum melalui bangsa-bangsa lain. Lalu Allah yang maha kasih menebus manusia melalui Yesus Kristus. Dari sejarah ini Allah dapat selalu ada di tengah-tengah manusia.
Memang Agustinus adalah Bapa gareja, Uskup dari Hippo yang membela eksistensi Allah dari pandangan-pandangan lain yang ingin meruntuhkan paham teisme. Tuhan didefinisikan dari sifat-sifatnya; maha tahu, maha hadir, kekal, pencipta segala sesuatu. Namun lebih lagi, Tuhan bukan ada begitu saja, namun selalu terhubung dalam peristiwa-peristiwa besar manusia. Dunia dan hidup manusia menurut Thomas terbagi atas dua tingkat, yaitu tingkat adikodrati dan kodrati, tingkat atas dan bawah. Tingkat bawah (kodrati) hanya dapat dipahami dengan mempergunakan akal. Hidup kodrati ini kurang sempurna dan ia bisa menjadi sempurna kalau disempurnakan oleh hidup rahmat (adikodrati).“Tabiat kodrati bukan ditiadakan, melainkan disempurnakan oleh rahmat”. Thomas mengajarkan bahwa pada mulanya manusia memunyai hidup kodrati yang sempurna dan diberi rahmat Allah.
Dosa dan Kebutuhan akan Rahmat
Menurut Niko Syukur Dister, dalam terang Kristus dosa dipahami sebagai keterpisahan radikal dari Allah yang hanya dapat dipulihkan oleh rahmat ilahi. Dosa melampaui kesalahan moral; ia adalah situasi keterasingan ontologis. Yesus sendiri menegaskan bahwa dosa berasal dari hati manusia (Bdk Mrk 7:21-23). Dengan demikian, pembaruan yang dibutuhkan bukan hanya reformasi eksternal, melainkan transformasi batin. Maka disini mau menekankan bahwa perlunya perubahan hati yang bersumber dari Allah sendiri. Dalam kerangkah berpikir St. Agustinus terutama dalam perdebatan dengan Plagius ia menekankan rahmat yang efektif menghasilkan pertobatan.
Lebih jauh Menurut Thomas Aquinas adalah ketika manusia jatuh ke dalam dosa, rahmat Allah (rahmat adikodrati) itu hilang dan tabiat kodrati manusia menjadi kurang sempurna. Manusia tidak dapat lagi memenuhi hukum kasih tanpa bantuan rahmat adikodrati. Rahmat adikodrati itu ditawarkan kepada manusia lewat gereja. Dengan bantuan rahmat adikodrati itu manusia dikuatkan untuk mengerjakan keselamatannya dan memungkinkan manusia dimenangkan oleh Kristus.
Sakramen sebagai Jalan Keselamatan
Sakramen berasal dari kata ‘mysterion’ (Yunani), yang dijabarkan dengan kata ‘mysterium’ dan ‘sacramentum’ (Latin). Sacramentum dipakai untuk menjelaskan tanda yang kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tak kelihatan yang disebut sebagai ‘mysterium‘. Kitab Suci menyampaikan dasar pengertian sakramen sebagai misteri/ ‘mysterium‘ kasih Allah, yang diterjemahkan sebagai “rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad… tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya” (Bdk Kol 1: 26, Rom 16:25). Rahasia atau ‘misteri’ keselamatan ini tak lain dan tak bukan adalah Kristus (Bdk Kol 2:2; 4:3; Ef 3:3) yang hadir di tengah-tengah kita (Bdk Kol 1:27). Katekismus mengutip perkataan St. Leo Agung mengajarkan, “apa yang tampak pada Penebus kita, sudah dialihkan ke dalam misteri-misteri-Nya” sakramen-sakramen-Nya.
Jadi sakramen-sakramen Gereja merupakan tanda yang kelihatan dari rahasia atau misteri Kristus yang tak kelihatan- yang bekerja di dalam Gereja-Nya oleh kuasa Roh Kudus. Betapa nyatanya ‘rahasia’ ini diungkapkan di dalam sakramen-sakramen Gereja, terutama di dalam Ekaristi.Mengacu pada pengertian ini, maka Gereja sendiri adalah “Sakramen Keselamatan” yang menjadi tanda rahmat Allah dan sarana yang mempersatukan Allah dan manusia. Sebagaimana Yesus yang mengambil rupa manusia menjadi “Sakramen” dari Allah sendiri, maka Gereja sebagai Tubuh Kristus menjadi “Sakramen” Kristus. Artinya, di dalam Gereja, kuasa ilahi yang membawa kita kepada keselamatan bekerja melalui tanda yang kelihatan.
Di dalam perannya sebagai “Sakramen Keselamatan” inilah, Gereja dipercaya oleh Kristus untuk membagikan rahmat Tuhan di dalam ketujuh sakramen. Jadi sakramen tidaklah hanya sebagai tanda atau lambang, tetapi juga sebagai pemenuhan makna dari tanda itu sendiri, yaitu rahmat pengudusan untuk keselamatan kita sehingga Gereja mengajarkan bahwa dengan mengambil bagian di dalam sakramen, kita diselamatkan, karena melalui Kristus, kita dipersatukan dengan Allah sendiri. Sejak gereja pertama, umat kristen telah mengaku ketritunggalan Allah, dan Yesus adalah Tuhan dan Kristus sebagai jalan keselamatan yang membebaskan mereka dari dosa, ini pertama menghadapi pertentangan dari orang-orang Yahudi yang menekankan keselamatan melalui Taurat dan amal baik.
Pada abad ke IV, Pelagius mengajarkan Pelagianisme yang menekankan bahwa manusia memiliki kehendak bebas dan tidak dipengaruhi oleh dosa dan manusia bisa menerima atau menolak jalan keselamatan Allah. Pandangan Pelegianisme ditolak oleh Agustinus yang menekankan bahwa manusia tidak mungkin menyelamatkan dirinya sendiri karena sudah terikat oleh dosa dan membutuhkan anugerah Allah untuk menyelamatkan orang-orang yang sudah ditentukan. Pandangan Pelagianisme dalam bentuk yang lebih moderat diteruskan oleh Gereja Katolik yang mengikuti pandangan Thomas Aquinas beranggapan bahwa dalam kejatuhan dalam dosa, manusia tidak sepenuhnya jatuh karena inteleknya masih selamat, karena itu dengan usaha hikmat intelektualnya manusia masih bisa menyelamatkan diri melalui gereja dan sakramen (disebut semi-pelagian).
Mengenai sakramen, ia berpendapat bahwa terdapat tujuh sakramen yang diperintahkan oleh Kristus, dan sakramen yang terpenting adalah Ekaristi (sacramentum sacramentorum). Rahmat adikodrati itu disalurkan kepada orang percaya lewat sakramen. Dengan menerima sakramen, orang mulai berjalan menuju kepada suatu kehidupan yang baru dan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang menjadikan ia berkenan kepada Allah. Dengan demikian, rahmat adikodrati sangat penting karena manusia tidak bisa berbuat apa-apa yang baik tanpa rahmat yang dikaruniakan oleh Allah.
Prinsip ‘tubuh dan jiwa’ ini yang mendasari adanya sakramen di dalam Gereja. Gereja yang dijiwai oleh Roh Kristus, juga terdiri dari ‘Tubuh’ yang kelihatan, yaitu umat yang dipimpin oleh para pemimpin Gereja. Selanjutnya, rahmat Tuhan yang dicurahkan di dalam Gereja dapat juga dirasakan secara jasmani di dalam sakramen-sakramen. Karenanya Gereja mempunyai aspek Ilahi dan manusiawi, rohani dan jasmani, yang tak kelihatan dan yang kelihatan, dan semuanya itu dipersatukan di dalam misteri Kristus. Di dalam Kristuslah segala sesuatu diperdamaikan, dipersatukan dan disempurnakan (Bdk Kol 1:19-22).
Maka itu Allah tidak mungkin merendahkan tubuh, namun menyempurnakan dan memuliakannya untuk dipersatukan dengan jiwa, sebab Ia-lah yang menjadikan keduanya pada awal mula penciptaan dengan sangat baik adanya ( Bdk Kej 1:31). “Rahmat tidak menghancurkan segala yang bersifat material atau lahiriah, melainkan menyempurnakannya,” Menurut St. Thomas Aquinas, walaupun dosa memang telah ‘mencemari’ tubuh, namun tidak menjadikannya sama sekali tidak bernilai, karena kuasa dosa tidak mungkin lebih besar dari kuasa Allah. Allah mencurahkan rahmat-Nya untuk mengembalikan tubuh kepada keadaan asalnya. Karena itu, sudah menjadi kehendak Allah bahwa segala rahmat ilahi dapat dialami dan dirasakan oleh tubuh, supaya oleh rahmat-Nya kita dipulihkan dari akibat dosa, dan tubuh kita ‘diangkat’ sehingga bernilai ilahi. Walaupun rahmat Allah itu pertama-tama bersifat rohani, namun rahmat itu tidak mengabaikan segala yang bersifat lahiriah. Jangan kita lupa, Allah adalah Tuhan atas segala sesuatu dan adalah hak Tuhan untuk menyampaikan rahmatNya melalui perantaraan benda-benda ciptaanNya untuk menyembuhkan, menguduskan dan membentuk kita menjadi tempat kediaman dan Bait Kudus-Nya ( Bdk 1 Kor 3:16).
Kristus, Rahmat, dan Keselamatan Manusia
Janganlah kita lupa, bahwa karena akibat dosa asal, terdapat jurang yang tak terpisahkan antara Tuhan Pencipta dan manusia yang diciptakanNya. Kita manusia hanya dapat ‘terangkat’ dari jurang melalui jasa Kristus Penyelamat kita. Jasa Kristus itu secara nyata kita peroleh lewat sakramen-sakramen, yang memang disediakan Tuhan untuk mengangkat kita agar dapat mengambil bagian dalam kehidupan Ilahi seperti yang menjadi rencana-Nya sejak semula. Maka jika Tuhan menghendaki agar kita hidup kudus, dan bertumbuh dalam kasih, hal itu bukannya ‘asal perintah’ saja, sebab, Tuhan sendiri menyediakan jalan untuk menuju ke sana.
Allah mengetahui bahwa dengan mengandalkan kemampuan sendiri, kita tidak akan dapat menjadi kudus dan memiliki kasih sejati. Oleh karena itu, Ia memberikan rahmat-Nya, melalui sakramen-sakramen, sebagai suatu tanda sederhana yang dapat kita rasakan melalui tubuh kita, namun menghasilkan efek luar biasa di dalam jiwa kita. Kita dibentuk oleh Allah untuk menjadi bagian dari Diri-Nya sendiri. Diberikan-Nya pada kita kehidupan Ilahi-Nya, supaya kita dapat bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih. Oleh rahmat ini kita dapat menjalin persahabatan dengan Tuhan, dan sedikit demi sedikit, kita juga ikut dan bertumbuh sebagai gambaran Allah sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Dister, Niko Syukur. 2004. Teologi Sistematika II. Yogyakarta: Kanisius.
Groenen, C. 1992. Soteriologi Alkitabiah: Keselamatan yang Diberitakan Alkitab. Yogyakarta: Kanisius.
Katekismus Gereja Katolik. 1995. Ende: Nusa Indah.
Konsili Vatikan II. 1993. Dei Verbum: Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.
Konsili Vatikan II. 1993. Lumen Gentium: Konstitusi Dogmatis tentang Gereja. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.
Lembaga Alkitab Indonesia. 2019. Jakarta.
Magis-Suseno, Franz. 2010. Menalar Tuhan. Yogyakarta: Kanisius.
Ohoitimur, Johanis. 2006. Metafisika sebagai Hermeneutika. Jakarta: Obor.




