PATER BENYAMIN MAGAI AJAK SEMUA PIHAK MENAHAN DIRI: JANGAN BIARKAN DUGAAN KEKERASAN TERHADAP MAHASISWA PAPUA PICU KONFLIK BARU
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Menanggapi dugaan penganiayaan terhadap mahasiswa Papua yang sedang menempuh pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT), Pater Benyamin Magai, Pr, selaku tokoh Gereja, intelektual, dan pemerhati kemanusiaan Papua, mengimbau seluruh pihak untuk menahan diri serta tidak memperluas persoalan yang dapat memicu konflik baru.
Menurutnya, situasi di Papua memiliki kompleksitas tersendiri karena berbagai konflik dan persoalan sosial telah berlangsung dalam waktu yang panjang. Karena itu, setiap peristiwa yang terjadi di Papua perlu dipahami secara utuh dan tidak serta-merta dibawa ke kota-kota studi atau dikaitkan dengan mahasiswa Papua yang sedang menjalankan pendidikan. Persoalan di Papua tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan kekerasan terhadap mahasiswa di daerah lain.
“Saya mengajak masyarakat Papua maupun non-Papua, khususnya yang berada di NTT, untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Jika terjadi persoalan, hendaknya terlebih dahulu dicari tahu latar belakang, penyebab, dan konteks kejadian melalui sumber yang dapat dipercaya,” ujar Pater Benyamin.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat mempertimbangkan keterangan dari pihak-pihak yang mengetahui langsung situasi di lapangan, termasuk masyarakat yang berada di tempat kejadian serta warga NTT yang hidup dan berkarya di Papua. Langkah tersebut penting agar persoalan tidak berkembang akibat informasi yang keliru atau tidak lengkap.
Pater Benny menegaskan bahwa tindakan individu atau oknum tertentu tidak boleh berkembang menjadi konflik antarsuku maupun antarkelompok yang lebih luas. Setiap persoalan, katanya, harus diselesaikan secara manusiawi melalui dialog, komunikasi, dan mekanisme hukum.
“Tidak boleh ada pembalasan yang justru menghasilkan korban baru. Kita harus mengedepankan cara-cara yang manusiawi dalam menyelesaikan setiap persoalan,” tegasnya.
Kepada masyarakat dan mahasiswa Papua di berbagai kota studi, Pater Benny mengajak agar tetap tenang, menjaga keamanan, serta tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Pada saat yang sama, ia berharap masyarakat NTT dan semua pihak yang berada di sekitar mahasiswa Papua turut menghormati dan menjamin hak mereka untuk memperoleh pendidikan serta hidup secara aman.
“Kita tidak menginginkan persoalan ini berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Karena itu, setiap dugaan tindakan kekerasan hendaknya diserahkan kepada pihak yang berwenang untuk diselidiki secara objektif dan diproses sesuai hukum,” katanya.
Pater Benny juga menegaskan bahwa kebenaran harus dicari berdasarkan fakta, bukan melalui prasangka, provokasi, maupun tindakan main hakim sendiri. Ia mengingatkan bahwa Papua dan NTT merupakan bagian dari keluarga besar Indonesia yang harus terus membangun persaudaraan.
“Perbedaan daerah, suku, dan latar belakang tidak boleh menjadi alasan untuk saling menyakiti. Mari hentikan kekerasan, jaga mahasiswa di kota studi, dan selesaikan setiap persoalan dengan cara-cara yang manusiawi, damai, dan bermartabat,” pungkasnya. *** P. BENNY MAGAI, PR




