MOMEN PENUH SUKACITA HUT KE-70, BAPA OSEA PETEGE SERAHKAN BANTUAN UNTUK PEMBANGUNAN GEREJA BARU STASI ST. YOHANES PEMBAPTIS DIYOUDIMI
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Diyoudimi, 24 Juni 2026. Suasana sukacita, haru, dan syukur yang begitu mendalam menyelimuti segenap umat Katolik di Stasi St. Yohanes Pembaptis Diyoudimi pada momentum perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 stasi tersebut. Perayaan yang berlangsung pada hari Selasa, 24 Juni 2026 itu menjadi sangat istimewa karena dirangkaikan dengan Pesta Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis, pelindung stasi, serta penerimaan Sakramen Pernikahan bagi pasangan Palpianus Magai dan Yuvenia Gobai.
Di tengah momen penuh berkat itu, kehadiran Bapa Osea Petege menjadi sorotan utama dan menambah semarak perayaan. Kehadirannya bukan sekadar sebagai tamu undangan biasa, melainkan sebagai sosok yang datang membawa perhatian tulus, kepedulian nyata, dan penguatan moral yang sangat dibutuhkan oleh umat. Pada kesempatan bersejarah tersebut, Bapa Osea Petege juga menyerahkan bantuan dana untuk pembangunan gedung gereja baru Stasi St. Yohanes Pembaptis Diyoudimi.
Bagi umat yang selama ini berjuang dalam keterbatasan, kehadiran dan bantuan tersebut merupakan anugerah yang sangat berarti. Di usia stasi yang telah memasuki tujuh dekade, dukungan itu menjadi tanda nyata bahwa perjuangan umat dalam membangun rumah Tuhan tidak berjalan sendiri, tetapi turut diperhatikan dan didukung oleh mereka yang memiliki hati bagi Gereja dan pelayanan umat. Momen ini menggoreskan satu catatan emas dalam perjalanan panjang iman umat Diyoudimi, bahwa di balik setiap perjuangan, Tuhan selalu menghadirkan tangan-tangan penolong yang datang pada waktu yang tepat.
Tiga Perayaan Besar dalam Satu Hari yang Penuh Rahmat
Hari itu menjadi hari yang sangat bersejarah dan tak terlupakan bagi umat Katolik Diyoudimi. Dalam satu rangkaian perayaan yang agung, umat merayakan tiga momentum penting sekaligus, yakni HUT ke-70 Stasi St. Yohanes Pembaptis Diyoudimi, Pesta Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis sebagai pelindung stasi, dan pemberkatan Sakramen Pernikahan bagi pasangan Palpianus Magai dan Yuvenia Gobai.
Tiga peristiwa penting ini menyatu dalam suasana iman yang mendalam dan penuh kekhidmatan. Umat memadati lokasi perayaan dengan penuh antusias, mengenakan pakaian terbaik mereka, membawa persembahan syukur dari hati yang tulus, serta menghadirkan semangat persaudaraan yang begitu kuat dan menghangatkan. Anak-anak, kaum muda, para orang tua, hingga mereka yang telah lanjut usia, semuanya hadir dengan wajah berseri-seri, menyatu dalam satu keluarga besar iman yang merayakan karya Tuhan dalam hidup mereka.
Bagi mereka, hari itu bukan hanya tentang bertambahnya usia stasi sebagai sebuah angka. Lebih dari itu, perayaan tersebut menjadi kesempatan untuk meneguhkan kembali jati diri sebagai umat beriman yang dipanggil untuk terus bertumbuh dalam kasih, pengharapan, dan pengorbanan. Tujuh puluh tahun perjalanan iman bukanlah waktu yang singkat. Di dalamnya tersimpan kisah suka dan duka, tangis dan tawa, perjuangan dan kemenangan, serta kesetiaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam suasana penuh makna inilah, kehadiran Bapa Osea Petege memberikan dimensi yang lebih dalam dan lebih bermakna. Ia hadir pada saat umat merayakan sejarah panjang perjalanan iman mereka, sekaligus pada saat umat sedang bergumul dengan cita-cita besar untuk membangun gereja baru sebagai pusat ibadah, pembinaan iman, dan persatuan umat. Kehadirannya menjadi jawaban doa yang selama ini dipanjatkan oleh umat dengan penuh harap.
Kehadiran yang Berawal dari Sebuah Niat Tulus dan Hati yang Peduli
Kehadiran Bapa Osea Petege ke Stasi Diyoudimi bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Kisah di balik kehadirannya justru menjadi salah satu bagian paling menyentuh dari seluruh rangkaian perayaan ini. Semuanya bermula dari informasi mengenai rencana Misa HUT yang disampaikan oleh Pastor Paroki Kristus Penebus Timeepa, RD Yeskiel Tawakidua Dole Belau, Pr., saat dalam perjalanan pulang dari Megai II.
Ketika mendengar rencana perayaan tersebut, Bapa Osea Petege tidak menunda-nunda. Ia langsung menyampaikan kesediaannya untuk hadir bersama umat. Kesediaan itu menunjukkan perhatian dan rasa hormat yang sangat besar terhadap kehidupan umat di wilayah tersebut. Ia tidak memandang jarak yang jauh, ia tidak menghitung kerumitan perjalanan, dan ia tidak mempertimbangkan kenyamanan dirinya sendiri. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana ia bisa hadir dan memberikan sesuatu yang berarti bagi umat.
Bahkan, sehari sebelum acara dilaksanakan, melalui pesan WhatsApp, beliau kembali memastikan bahwa dirinya akan datang. Hal itu menjadi tanda yang sangat jelas bahwa komitmen tersebut bukan sekadar janji kosong atau basa-basi belaka, tetapi sebuah niat yang sungguh-sungguh lahir dari hati yang peduli. Konfirmasi ulang tersebut juga memberikan ketenangan dan kebahagiaan bagi umat yang sedang mempersiapkan perayaan.
Pada hari pelaksanaan, tepat sejak subuh, ketika langit masih gelap dan udara pagi masih dingin menyelimuti bumi, Bapa Osea Petege sudah memulai perjalanan dari Nabire menuju Diyoudimi. Menurut rencana, beliau dijadwalkan tiba sekitar pukul 08.00 WIT. Namun, dalam perjalanan, rombongan menghadapi kendala yang tidak terduga akibat kondisi jalan yang macet dan sulit dilalui.
Meski mengalami hambatan yang cukup berat, semangat Bapa Osea Petege untuk hadir sama sekali tidak surut. Tekad dan ketulusannya tetap kokoh. Akhirnya, beliau tiba di Diyoudimi sekitar pukul 09.00 WIT. Satu jam keterlambatan dari jadwal semula, namun keterlambatan itu justru menambah kekaguman umat terhadap sosok yang rela berjuang melewati segala rintangan demi hadir bersama mereka.
Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi lambang nyata dari ketulusan hati seseorang yang rela menempuh kesulitan dan ketidaknyamanan demi hadir bagi sesama. Dalam konteks kehidupan umat di pedalaman, di mana akses jalan sering kali menjadi tantangan besar, tindakan sederhana seperti datang dan menyapa secara langsung sering kali memiliki arti yang jauh lebih dalam dan lebih bermakna dibandingkan ribuan kata-kata indah yang hanya terucap tanpa tindakan.
Disambut Meriah dengan Tarian Adat dan Nyanyian Penuh Makna yang Menyentuh Hati
Setibanya di Diyoudimi, Bapa Osea Petege langsung disambut dengan penuh sukacita oleh seluruh umat yang telah menanti sejak pagi. Sambutan itu dilakukan dengan tarian adat yang megah, nyanyian pujian yang merdu, dan suasana kegembiraan yang luar biasa, menggambarkan betapa besar cinta dan penghormatan umat kepada tamu kehormatan mereka.
Dalam prosesi penyambutan yang sarat nilai budaya dan penuh kekhidmatan, Bapa Osea Petege digotong dari jalan masuk menuju kompleks stasi di atas tandu adat, diiringi gerakan tarian tradisional yang penuh makna dan nyanyian umat yang mengalun dengan penuh perasaan. Suasana itu begitu magis dan mengharukan. Setiap langkah prosesi, setiap gerakan tarian, dan setiap nada lagu yang dilantunkan menyiratkan rasa syukur yang tak terukur.
Salah satu lagu yang dinyanyikan dalam bahasa Mee mengandung ungkapan yang sangat menyentuh hati dan membuat banyak orang yang hadir tidak kuasa menahan air mata, yakni:
“Selamat datang penolong kami, yang mau membantu memikul salib kami.”
Ungkapan itu bukan sekadar bentuk penyambutan seremonial atau tradisi biasa. Di dalamnya ada curahan hati yang paling dalam dari umat yang selama ini memikul berbagai tantangan berat dalam kehidupan beriman dan pembangunan gereja. Lagu itu menjadi simbol harapan yang selama ini mereka simpan dalam doa, bahwa suatu hari akan datang seorang saudara yang membawa kepedulian, yang mampu meringankan beban dan menguatkan langkah mereka yang sering kali terasa berat.
Penyambutan adat tersebut sekaligus memperlihatkan dengan sangat indah bahwa iman Kristiani dan budaya lokal hidup berdampingan secara harmonis di tengah masyarakat Diyoudimi. Nilai penghormatan terhadap tamu, semangat persaudaraan yang tulus, dan rasa syukur yang mendalam diwujudkan secara nyata dalam cara umat menerima sosok yang mereka kasihi dan hormati.
Bagi siapa pun yang menyaksikan prosesi penyambutan tersebut, sulit untuk tidak terharu. Ada sesuatu yang sangat murni dan tulus dalam cara umat Diyoudimi mengekspresikan rasa terima kasih mereka. Tidak ada kemewahan, tidak ada dekorasi yang mahal, tetapi yang ada adalah ketulusan yang tidak bisa dibeli dan kasih persaudaraan yang tidak bisa ditiru.
Pastor Paroki: Kehadiran dan Bantuan Ini Adalah Kado Terindah HUT ke-70
Dari kompleks stasi, umat kemudian dengan penuh sukacita mengantar Bapa Osea Petege menuju pastoran. Di tempat itu, dalam suasana yang hangat dan penuh rasa kekeluargaan, Pastor Paroki Kristus Penebus Timeepa, RD Yeskiel Tawakidua Dole Belau, Pr., mewakili seluruh umat menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih yang sangat mendalam.
Dalam sambutannya yang penuh haru, Pastor Paroki mengungkapkan bahwa kehadiran Bapa Osea Petege pada momen bersejarah ini merupakan sesuatu yang sangat luar biasa dan membahagiakan bagi seluruh umat tanpa terkecuali.
“Ini sungguh luar biasa. Kehadiran Bapa yang datang mengunjungi kami, terlebih lagi dengan bantuan yang diberikan, merupakan kado terindah bagi HUT Stasi kami yang ke-70 ini. Kami hanya bisa mendoakan dan berharap agar Tuhan senantiasa melimpahkan berkat-Nya yang berkelimpahan kepada Bapa dan seluruh karya serta usaha Bapa,”* ujar Pastor Yeskiel dengan suara yang penuh rasa syukur.
Pernyataan itu mewakili suara hati setiap umat yang merasa diperhatikan, dihargai, dan dicintai. Di tengah perjuangan membangun gereja baru yang sering kali terasa berat dan penuh tantangan, kunjungan seperti ini menjadi penghiburan yang sangat besar dan tak ternilai harganya. Bapa Osea Petege tidak hanya memberi bantuan secara materi, tetapi yang lebih penting, ia juga menyuntikkan semangat dan keyakinan bahwa jerih payah umat diketahui, dihargai, dan didukung oleh sesama saudara seiman.
Banyak umat yang hadir tampak terharu mendengar sambutan Pastor Paroki. Beberapa di antara mereka tampak mengusap air mata, bukan karena kesedihan, tetapi karena kebahagiaan yang sangat besar. Mereka merasakan bahwa Tuhan benar-benar hadir dan bekerja melalui orang-orang baik yang diutus-Nya.
Umat Menyampaikan Rasa Syukur yang Mendalam dan Tak Terhingga
Rasa syukur serupa juga disampaikan oleh Felix Iyai, pewarta umat, dalam sambutannya yang penuh emosi. Dengan suara yang bergetar karena haru, ia mengungkapkan bahwa kehadiran Bapa Osea Petege telah membawa kebahagiaan, kekuatan, dan harapan baru bagi seluruh umat Stasi Diyoudimi.
“Saya bersama seluruh umat sangat bersukacita atas kehadiran Bapa Osea. Bapa datang dan mau membantu memikul salib kami, umat Stasi Diyoudimi. Kami tidak pernah menyangka, bahkan tidak pernah membayangkan, bahwa Bapa dapat datang mengunjungi kami di sini, di tempat yang jauh dan penuh keterbatasan ini. Kehadiran Bapa adalah berkat Tuhan yang nyata bagi kami. Terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam, dan Tuhan memberkati,” ungkap Felix Iyai.
Ucapan itu menggambarkan betapa besar arti kehadiran seorang tokoh di tengah umat yang hidup dalam kesederhanaan dan perjuangan sehari-hari. Bagi mereka, kunjungan seperti ini bukan hanya peristiwa sosial belaka, tetapi sebuah pengalaman rohani yang sangat mendalam, yang menghidupkan harapan dan mempertebal keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya dan selalu bekerja melalui orang-orang yang memiliki hati yang peduli.
Kata-kata Felix Iyai menggema di hati setiap orang yang hadir. Mereka mengangguk dalam diam, membenarkan setiap kalimat yang diucapkan, karena apa yang disampaikan pewarta itu adalah juga isi hati mereka yang selama ini tersimpan dalam doa dan harapan.
Bantuan untuk Pembangunan Gereja Baru Diserahkan dengan Kerendahan Hati yang Luar Biasa
Pada kesempatan yang penuh makna tersebut, Bapa Osea Petege juga menyampaikan beberapa pesan singkat namun bermakna kepada umat. Salah satu momen yang paling mengharukan dan paling dinantikan umat adalah ketika beliau menyerahkan bantuan dana untuk pembangunan gedung gereja baru Stasi St. Yohanes Pembaptis Diyoudimi.
Bantuan itu diserahkan secara langsung kepada Bendahara Pembangunan, Stefanus Iyai, yang juga menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP YPPK St. Fransiskus Asisi Mapia. Penyerahan dilakukan dengan sederhana, tanpa kemegahan, namun sarat dengan ketulusan dan iman yang mendalam.
Dalam penyerahan bantuan tersebut, Bapa Osea Petege menunjukkan sikap yang sangat rendah hati, sebuah sikap yang membuat semua orang yang hadir terdiam penuh kekaguman. Ia tidak ingin menonjolkan nilai bantuan yang diberikan, tidak ingin namanya dipuji-puji, dan tidak ingin bantuan itu menjadi bahan perbincangan tentang angka atau jumlah. Ia hanya ingin menegaskan satu hal: bahwa persembahan tersebut adalah untuk Tuhan.
“Saya berikan kepada Tuhan. Jadi, saya tidak mau menyampaikan berapa jumlah yang saya berikan. Bendahara saja yang nanti memberitahukan,” kata Bapa Osea Petege dengan nada tenang dan penuh keikhlasan.
Pernyataan sederhana itu menyimpan pesan yang sangat dalam dan sangat kuat. Di tengah kehidupan dunia yang sering kali dipenuhi keinginan untuk dilihat, dipuji, dan diakui, Bapa Osea Petege justru menunjukkan bahwa ketulusan memberi tidak memerlukan pengumuman yang berlebihan. Apa yang diberikan untuk Tuhan hendaknya lahir dari iman yang murni dan keikhlasan yang total, bukan dari keinginan mencari pengakuan atau pujian manusia.
Sikap ini menjadi teladan yang sangat kuat dan sangat relevan bagi umat, bahwa dalam membantu sesama dan mendukung pekerjaan Tuhan, kerendahan hati adalah nilai yang paling mulia. Memberi dalam diam, tanpa mengharapkan balasan atau pengakuan, itulah bentuk kasih yang paling tinggi dan paling berkesan.
Dalam momen yang sama, keluarga Iyai Hoka juga turut menunjukkan kepedulian yang luar biasa terhadap pembangunan gereja. Melalui Ibu Rosa Butu, keluarga tersebut menyumbangkan dana sejumlah Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) yang diserahkan langsung kepada Bendahara Pembangunan. Sumbangan ini semakin melengkapi sukacita perayaan dan menjadi bukti nyata bahwa semangat membangun rumah Tuhan adalah semangat bersama yang hidup di hati umat Diyoudimi.
Kedua sumbangan tersebut, baik dari Bapa Osea Petege maupun dari keluarga Iyai Hoka melalui Ibu Rosa Butu, menjadi tanda bahwa Tuhan menggerakkan banyak hati untuk turut ambil bagian dalam karya pembangunan ini. Setiap rupiah yang disumbangkan bukan sekadar uang, melainkan wujud iman, kasih, dan harapan akan rumah Tuhan yang kelak berdiri kokoh di Diyoudimi.
Bendahara Pembangunan: Bantuan Ini Menjadi Peneguh Langkah Kami yang Sering Kali Goyah
Menerima bantuan tersebut dengan tangan yang bergetar karena haru, Stefanus Iyai, selaku Bendahara Pembangunan, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepedulian Bapa Osea Petege dan seluruh pihak yang telah mendukung pembangunan gereja baru serta masa depan umat Diyoudimi.
Ia menjelaskan dengan terbuka bahwa perjuangan membangun gedung gereja dan sekolah selama ini bukan hal yang mudah dan bukan perjalanan yang mulus. Umat telah melewati berbagai tahapan yang panjang, menghadapi tantangan yang berat, dan mengalami keterbatasan yang sering kali membuat langkah mereka terasa goyah. Namun, mereka terus berupaya melangkah maju dengan kekuatan doa, kebersamaan, dan keyakinan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan mereka.
“Kami sungguh berterima kasih atas kepedulian Bapa Osea Petege dan semua pihak yang telah membantu. Dalam proses pembangunan ini, kami akan tetap berkomunikasi apabila mengalami kesulitan. Karena itu, kami mohon dengan sangat agar Bapa tidak bosan-bosan untuk terus membantu dan mendampingi kami,” ujar Stefanus Iyai dengan penuh harap.
Ungkapan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan gereja bukan hanya soal fisik bangunan semata, melainkan soal keberlanjutan harapan, soal keberlangsungan iman, dan soal masa depan generasi yang akan datang. Setiap bantuan yang datang, sekecil apa pun, menjadi peneguh bahwa perjuangan umat tidak sia-sia. Setiap langkah kecil yang ditempuh bersama, meskipun terasa lambat, akan membawa mereka semakin dekat pada terwujudnya rumah ibadah yang layak, kokoh, dan menjadi kebanggaan umat.
Stefanus juga menekankan bahwa transparansi dan komunikasi akan tetap dijaga dalam seluruh proses pembangunan, agar setiap pihak yang berkontribusi dapat mengetahui perkembangan dan merasa menjadi bagian dari perjuangan bersama ini.
Misa Syukur Berlangsung Khidmat, Penuh Haru, dan Sarat Makna Rohani
Usai sambutan di pastoran yang berlangsung hangat dan penuh rasa kekeluargaan, seluruh rangkaian perayaan dilanjutkan dengan Misa Syukur HUT ke-70 Stasi St. Yohanes Pembaptis Diyoudimi. Misa berlangsung dalam suasana yang sangat khidmat, penuh syukur, dan sarat makna rohani yang mendalam. Seluruh umat mengikuti rangkaian liturgi dengan hati yang terbuka lebar, jiwa yang dipenuhi rasa syukur, dan mata yang berkaca-kaca karena bahagia.
Suasana perayaan Ekaristi dipenuhi doa-doa yang tulus, nyanyian-nyanyian yang merdu dan menyentuh hati, serta kebersamaan yang begitu kuat terasa di setiap sudut tempat perayaan. Tidak sedikit umat yang tampak terharu sepanjang Misa berlangsung, sebab bagi mereka, perayaan ini adalah bukti nyata bahwa Tuhan terus menyertai perjalanan stasi dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, tanpa pernah berhenti.
Tujuh puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Itu adalah perjalanan yang sangat panjang, penuh lika-liku, dan penuh warna. Di dalamnya tersimpan kisah perjuangan para pendahulu yang menanam benih iman dengan penuh keberanian, air mata para orang tua yang mendoakan anak-anak mereka dengan penuh kasih, kerja keras para pelayan Gereja yang melayani tanpa pamrih, dan kesetiaan umat sederhana yang menjaga iman tetap menyala meski dalam keadaan yang paling sulit sekalipun.
Misa kali ini terasa sangat istimewa karena merangkum tiga sukacita besar dalam satu perayaan agung: HUT ke-70 Stasi, Pesta Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis, dan pemberkatan Sakramen Pernikahan. Ketiga momen itu menyatu dalam harmoni iman yang indah, mengingatkan umat bahwa kehidupan menggereja, kehidupan berkeluarga, dan kehidupan bermasyarakat semuanya adalah panggilan suci yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab dan kasih.
Pastor Mengajak Umat Menghidupi Iman dalam Keluarga dengan Penuh Kesetiaan
Dalam homilinya yang penuh semangat dan menyentuh hati, RD Yeskiel Tawakidua Dole Belau, Pr., mengajak seluruh umat untuk sungguh-sungguh menghidupi iman, bukan hanya di dalam tembok gereja, tetapi terutama di dalam kehidupan keluarga sehari-hari. Pastor menekankan dengan tegas bahwa kehidupan menggereja dan kehidupan berkeluarga adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya harus berjalan bersama, saling menopang, dan saling menguatkan sebagai wujud kesetiaan kepada Tuhan yang telah memanggil setiap orang dalam panggilan hidupnya masing-masing.
Ia mengajak umat untuk selalu merenungkan satu pertanyaan penting yang harus terus hidup di dalam hati setiap orang: “Bagaimana saya menghidupi keluarga saya?” Pertanyaan sederhana ini, menurut Pastor, adalah cermin yang harus selalu dihadapi oleh setiap suami, setiap istri, dan setiap orang tua. Karena di situlah iman diuji dan dibuktikan, bukan di tempat yang jauh, tetapi di rumah sendiri, di hadapan pasangan hidup dan anak-anak yang dipercayakan Tuhan.
Pastor mengingatkan bahwa janji pernikahan yang telah diucapkan di hadapan Tuhan dan di hadapan Gereja harus terus diingat, dihayati, dan dihidupi setiap hari. Janji itu bukan sekadar kata-kata indah yang diucapkan pada hari pernikahan lalu dilupakan, melainkan komitmen seumur hidup yang menuntut kesetiaan, pengorbanan, kesabaran, dan kasih yang tidak pernah padam.
Menjadi kepala keluarga, baik sebagai suami maupun istri dalam perannya masing-masing, adalah tugas yang berat namun sangat mulia. Tanggung jawab itu tidak hanya terbatas pada memenuhi kebutuhan makan dan minum sehari-hari, tetapi juga mencakup tanggung jawab untuk memastikan anak-anak bertumbuh dalam kasih, mendapat pendidikan yang layak, dididik dalam iman, dan dipersiapkan untuk menjadi manusia yang berguna bagi sesama dan bagi Gereja.
Dalam homilinya, Pastor menegaskan dengan penuh keyakinan bahwa jika orang tua sungguh-sungguh menjaga, mendidik, dan memperhatikan anak-anak mereka dengan baik, maka mereka sedang menjalankan tugas dan tanggung jawab terbesar mereka di hadapan Tuhan. Mereka sedang melaksanakan panggilan suci sebagai orang tua yang telah dipercayakan Tuhan untuk menjadi gembala pertama bagi anak-anak mereka.
Sebaliknya, Pastor juga mengingatkan dengan tegas namun penuh kasih, bahwa jika anak-anak dibiarkan tanpa perhatian, tanpa pendidikan, tanpa bimbingan, dan tanpa masa depan yang jelas, maka hal itu merupakan kelalaian besar terhadap panggilan hidup berkeluarga. Membiarkan anak tidak bersekolah, mengabaikan pertumbuhan rohani dan intelektual mereka, atau tidak memperjuangkan masa depan mereka adalah bentuk dosa terhadap tanggung jawab yang telah disanggupi melalui ikatan suci pernikahan.
Pesan ini disampaikan bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyadarkan dan menguatkan. Pastor memahami bahwa kehidupan umat di Diyoudimi penuh dengan tantangan dan keterbatasan. Namun justru di situlah iman diuji. Justru di tengah keterbatasan itulah, orang tua dipanggil untuk tetap berjuang bagi anak-anak mereka, karena anak-anak adalah harta yang paling berharga yang dipercayakan Tuhan.
Lebih jauh, Pastor mengajak seluruh umat untuk menjadi “senter kecil” atau terang kecil bagi sesama. Pesan ini sangat kuat dan sangat relevan. Maksudnya, setiap orang, tanpa terkecuali, dipanggil untuk menjadi cahaya yang menerangi kehidupan orang lain, mulai dari lingkup terkecil yaitu keluarga, kemudian meluas ke komunitas, dan akhirnya menerangi seluruh Gereja.
“Kita semua dipanggil untuk menjadi senter kecil. Terang itu mungkin kecil, tetapi jika setiap keluarga menjaga terangnya tetap menyala, maka seluruh komunitas akan terang. Dan jika seluruh komunitas terang, maka Gereja pun akan bersinar terang,” demikian inti pesan Pastor dalam homilinya.
Pesan itu menggema di hati umat dan menjadi pengingat yang sangat kuat bahwa menjadi terang tidak harus dengan cara yang besar dan megah. Cukup dengan setia dalam hal-hal kecil: setia menjaga keluarga, setia mendidik anak, setia berdoa, setia melayani, dan setia hadir di tengah sesama. Itulah cara umat Diyoudimi dipanggil untuk menerangi dunia mereka.
Sukacita Berlanjut dalam Pemotongan Kue Ulang Tahun ke-70 yang Meriah dan Penuh Kehangatan
Setelah Misa Syukur yang berlangsung khidmat dan penuh makna, rangkaian acara dilanjutkan dengan doa bersama, nyanyian syukur, dan jamuan kasih yang diikuti oleh seluruh umat tanpa terkecuali. Semangat kebersamaan dan gotong royong tampak sangat nyata dalam setiap bagian acara, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan.
Suasana sukacita semakin memuncak dan tak terbendung saat dilakukan pemotongan kue ulang tahun Gereja St. Yohanes Pembaptis Diyoudimi yang ke-70. Acara ini dipimpin oleh Ibu Elisabeth Magai dan Ibu Rosa Butu yang mendapat kehormatan untuk memotong kue, sementara seksi acara pemotongan kue dibawakan oleh Bapak Boas Iyai yang memandu acara dengan penuh semangat dan keceriaan.
Momen pemotongan kue berlangsung sangat meriah, penuh kehangatan, dan dipenuhi tawa bahagia. Setelah doa dan ucapan syukur dipanjatkan, kue ulang tahun yang telah dipersiapkan dengan penuh kasih itu pun dipotong dan dibagikan kepada seluruh umat yang hadir. Suasana pun semakin hidup dan berwarna dengan tradisi saling menyuapi kue, berbagi potongan kue kepada sesama, dan mengoleskan krim kue di wajah satu sama lain sebagai ekspresi kegembiraan dan keakraban.
Canda tawa menggema di seluruh lokasi perayaan. Anak-anak berlarian dengan riang, kaum muda tertawa lepas, para orang tua tersenyum bahagia, dan bahkan mereka yang telah berusia lanjut pun ikut larut dalam sukacita bersama. Tidak ada sekat, tidak ada jarak, yang ada hanyalah kebersamaan yang tulus dan persaudaraan yang hangat.
Bagi umat Diyoudimi, momen-momen sederhana seperti itu justru memiliki makna yang sangat besar dan sangat berharga. Di sana ada keakraban yang tidak dibuat-buat, ada kasih persaudaraan yang mengalir begitu alami, ada kebersamaan yang lahir dari hati yang saling mengasihi, dan ada kegembiraan tulus yang hanya bisa muncul dari jiwa yang benar-benar bersyukur. Bahkan dalam kesederhanaan yang mereka miliki, umat Diyoudimi mampu menunjukkan keindahan hidup menggereja yang sejati, yang tidak diukur dari kemewahan, tetapi dari ketulusan hati.
Bukti Nyata Iman dan Budaya yang Hidup Berdampingan secara Harmonis
Seluruh rangkaian perayaan HUT ke-70 ini memperlihatkan satu hal yang sangat jelas dan sangat menggembirakan, yakni bahwa iman Kristiani dan budaya masyarakat Diyoudimi hidup berdampingan secara harmonis, saling melengkapi, dan saling memperkaya. Tarian adat yang megah, sambutan penuh hormat yang tulus, kebersamaan dalam liturgi yang khidmat, semangat gotong royong yang menggerakkan, hingga jamuan kasih bersama yang penuh kehangatan, semuanya menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai luhur masyarakat tetap terpelihara dengan baik dalam terang iman Kristiani.
Di tengah zaman yang terus berubah dengan cepat, di mana modernisasi sering kali mengikis tradisi dan nilai budaya, umat Diyoudimi menunjukkan bahwa tradisi, budaya, dan iman bukanlah hal yang saling bertentangan atau saling meniadakan. Justru sebaliknya, ketika ketiganya berjalan bersama dalam harmoni, lahirlah kekuatan sosial dan rohani yang luar biasa. Itulah yang menjadi fondasi kuat dalam perjalanan umat selama tujuh puluh tahun ini, dan itulah yang akan terus menjadi kekuatan mereka di masa yang akan datang.
Perayaan tersebut bukan hanya seremoni tahunan yang datang dan pergi begitu saja, melainkan cermin dari kehidupan umat yang tetap teguh memelihara iman, menghormati budaya leluhur, dan menjaga persatuan di tengah berbagai tantangan zaman. Semangat gotong royong yang tampak begitu kuat dalam seluruh rangkaian acara ini juga menjadi pesan yang sangat penting bagi generasi muda, bahwa masa depan Gereja dan masyarakat dibangun dengan kerja bersama, bukan dengan berjalan sendiri-sendiri. Bahwa kekuatan sejati terletak pada persatuan, bukan pada kehebatan individu.
Kehadiran Bapa Osea Petege Membawa Harapan Baru yang Menyala Terang
Kehadiran Bapa Osea Petege dan dukungan nyata yang ia berikan bagi pembangunan gereja baru telah menyalakan harapan baru yang sangat terang di hati umat Stasi St. Yohanes Pembaptis Diyoudimi. Bantuan itu bukan hanya bernilai secara materi dan bukan hanya mempercepat proses pembangunan secara fisik, tetapi yang jauh lebih penting, bantuan itu bernilai secara rohani dan moral. Ia menjadi simbol kuat bahwa perjuangan umat mendapat perhatian, dukungan, dan pengakuan dari sesama saudara seiman.
Bagi umat Diyoudimi, rumah Tuhan bukan sekadar bangunan yang terdiri dari batu, semen, kayu, dan seng. Gereja adalah tempat yang sangat sakral dan sangat berarti, tempat di mana mereka datang membawa sukacita dan air mata, tempat mereka berlutut untuk berdoa dan memohon pertolongan Tuhan, tempat mereka bersyukur atas berkat yang telah diterima, tempat mereka merayakan sakramen-sakramen suci, dan tempat mereka menyerahkan masa depan anak-anak serta cucu-cucu mereka ke dalam tangan Tuhan yang penuh kasih.
Karena itu, pembangunan gereja baru bukan sekadar proyek pembangunan biasa. Ia adalah cita-cita bersama yang sangat mulia, sebuah impian kolektif yang telah lama dipelihara dalam hati umat. Setiap batu yang akan diletakkan, setiap tiang yang akan didirikan, setiap atap yang akan dipasang, dan setiap rupiah yang disumbangkan adalah bagian dari iman yang hidup dan kasih yang nyata.
Di momen HUT ke-70 ini, umat Diyoudimi kembali diteguhkan dalam keyakinan mereka bahwa setiap langkah kecil yang diambil dengan iman, meskipun terasa lambat dan berat, akan menghasilkan buah yang besar pada waktunya. Mereka percaya dengan sepenuh hati bahwa jika Tuhan telah memulai karya baik di tengah mereka, maka Tuhan pula yang akan menyempurnakannya menurut kehendak-Nya yang sempurna.
Hari itu, umat pulang ke rumah masing-masing bukan hanya dengan hati yang senang karena perayaan berlangsung dengan meriah dan lancar, tetapi juga dengan semangat baru yang berkobar untuk terus melanjutkan pembangunan rumah Tuhan. Mereka tahu bahwa jalan di depan mungkin masih panjang dan penuh tantangan. Tetapi mereka juga tahu bahwa mereka tidak berjalan sendiri. Ada Tuhan yang menyertai, ada saudara-saudara yang mendukung, dan ada harapan yang tidak pernah padam.
Penutup: Dari Diyoudimi, Iman, Persaudaraan, dan Harapan Terus Menyala bagi Generasi yang Akan Datang
Perayaan HUT ke-70 Stasi St. Yohanes Pembaptis Diyoudimi pada Selasa, 24 Juni 2026, telah menjadi momentum bersejarah yang akan selalu dikenang dan diceritakan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Hari itu menyatukan begitu banyak hal indah dalam satu peristiwa yang sangat berkesan: syukur atas perjalanan tujuh dekade, iman yang terus bertumbuh, budaya yang tetap terpelihara, sukacita pernikahan, kepedulian seorang saudara, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Kehadiran Bapa Osea Petege beserta bantuan yang diserahkannya telah menjadi bagian penting dan tak terpisahkan dari sejarah sukacita umat pada tahun ini. Namanya akan selalu diingat sebagai sosok yang datang bukan untuk dihormati, tetapi untuk melayani; bukan untuk dilihat, tetapi untuk memberi; bukan untuk dipuji, tetapi untuk memikul salib bersama umat.
Demikian pula bantuan dari keluarga Iyai Hoka melalui Ibu Rosa Butu, yang turut menunjukkan bahwa semangat gotong royong dalam membangun rumah Tuhan hidup dan bernyala di hati setiap anggota umat. Setiap sumbangan, besar maupun kecil, adalah persembahan kasih yang sangat berharga di mata Tuhan.
Dengan hati yang penuh syukur dan mata yang menatap ke depan dengan penuh harapan, umat Stasi St. Yohanes Pembaptis Diyoudimi kini melangkah maju melanjutkan pembangunan rumah Tuhan. Mereka sadar sepenuhnya bahwa jalan yang ditempuh mungkin tidak selalu mudah, bahwa akan ada hari-hari yang terasa berat, bahwa akan ada tantangan yang menguji kesabaran. Tetapi dengan kebersamaan yang kokoh, doa yang tidak pernah putus, dan dukungan dari berbagai pihak yang Tuhan gerakkan, harapan itu tetap hidup, tetap menyala, dan semakin kuat.
Dari Diyoudimi, tersampaikan satu pesan yang sangat mendalam dan sangat universal: bahwa Gereja dibangun bukan hanya dengan batu dan semen, tetapi juga dengan iman yang teguh, pengorbanan yang tulus, kasih yang tidak bersyarat, dan persaudaraan yang sejati. Ketika hati umat tetap bersatu dalam satu tujuan, ketika setiap keluarga tetap menjaga terang iman di rumah masing-masing, ketika ada tangan-tangan yang rela membantu tanpa mengharapkan balasan, dan ketika doa terus dipanjatkan dengan penuh kepercayaan, maka masa depan Gereja akan terus bertumbuh dengan indah dan penuh berkat.
Semoga berkat Tuhan yang berkelimpahan senantiasa menyertai Bapa Osea Petege dan seluruh keluarga, pasangan pengantin baru Palpianus Magai dan Yuvenia Gobai, Pastor Paroki RD Yeskiel Tawakidua Dole Belau, Pr., para pewarta dan katekis, seluruh pelayan Gereja, keluarga Iyai Hoka, serta segenap umat Stasi St. Yohanes Pembaptis Diyoudimi.
Di tengah segala keterbatasan yang ada, harapan itu tetap menyala terang. Dan dari rumah-rumah sederhana umat Diyoudimi, dari doa-doa yang dipanjatkan dalam keheningan malam, dari tangan-tangan kecil anak-anak yang belajar membuat tanda salib, cahaya iman itu akan terus bersinar, terus menerangi, dan terus memancarkan kasih Tuhan bagi generasi yang akan datang. Karena Tuhan tidak pernah berhenti bekerja di tengah umat-Nya, dan Diyoudimi adalah salah satu bukti yang paling indah dari kesetiaan-Nya yang kekal.
Laporan ini dihimpun saat wartawan melakukan mediasi dan peliputan bersama media Papuaibo.com.
Nicolaus Butu (Umat Stasi St. Yohanes Pembaptis Diyoudimi)
Penulis: Fr. Siorus Degei




